Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
143



Daihan tampak menatap Bella dengan sangat kebingungan, dia tak tahu harus bicara apa dengan Bella.


"Aku tahu dia pasti bukan Mika, karena Mika sudah meninggal, " kata Daihan terdengar pelan


"Dia bisa berenang dengan baik, pasti ada kemungkinan dia selamat dan terdampar di sini," kata Bella lagi menatap Daihan yang tampak suram.


"Bukan, dia tidak meninggal karena bunuh diri, Mika meninggal 2 hari setelah melahirkan anaknya," kata Daihan lirih.


Bella terdiam, Apa lagi ini? bagaimana bisa? Mika meninggal karena melahirkan anak? Anak Aksa?.


"Ba ... bagaimana itu bisa terjadi?" kata Bella tak tepercaya.


" 1minggu setelah dia bunuh diri, aku menemukannya dia di salah satu rumah sakit, keadaannya sangat tertekan, dan dia mengancam akan bunuh diri lagi jika aku memberitahu tentangnya pada Angga, karena itu aku menutupi semuanya, mengurus Mika, tapi keadaanya tak seperti yang dulu, dia terserang depresi, apa lagi saat itu dia hamil dan keadaan jiwanya juga sangat labil, bisa tiba-tiba dia senang namun detik berikutnya dia marah, karena itu dia di jaga dengan baik dan aku putuskan memindahkannya ke luar negeri." kata Daihan tampak menerawang, tapi juga berhati-hati dalam berbicara.


"Lalu?" kata Bella


"Saat dia melahirkan semua berjalan dengan baik, tapi depresinya makin menjadi, kami takut dia akan membunuh anaknya karena dia sama sekali tidak ingin menyentuh anaknya, dia sangat membencinya, sampai detik di mana Angga mengatakan itu anak Aksa, aku masih berpikir Archie adalah anak Angga, karena itu aku menjaganya bagai anakku sendiri, Tapi beberapa hari yang lalu aku baru tahu Archie anak Aksa."


Bella terdiam, bisakah hidup lebih rumit dari ini? bagaimana jika Angga tahu, kalau Mika sempat hidup namun tak ingin menemuinya dan sempat melahirkan anak Aksa.


"2 hari setelah melahirkan, Mika ingin membuang Archie dari Jendela lantai 5 ruangannya, tapi saat itu aku datang dan aku mencoba membujuknnya, dia tidak mau, tapi aku terus membujuknya, akhirnya dia menyerahkan Archie padaku, saat aku ingin memberikan Archie pada dokter, Mika melompat dari jendela itu, dia meninggal seketika." kata Daihan yang masih bisa mengingat semua detail yang terjadi, bahkan keadaan tubuh Mika yang remuk di depan matanya, dia memeluk tubuh Mika dengan lumuran darah, kali ini dia tidak bisa lagi menyelamatkannya. Hanya bisa memeluknya, menangis bahkan berteriak keras, bagaimana pun dia sudah mencoba menerima Mika, menjaganya dengan sepenuh hati, namun ... dia harus pergi lagi dengan lebih mengenaskan.


Bella menatap wajah Daihan yang suram dan matanya yang tampak memancarkan kegerian dan trauma mendalam, di sisi-sisinya terlihat basah, pasti sangat membekas, melihat keadaan itu 2 kali, dan akhirnya juga sia-sia.


"Lalu anak Mika?" kata Bella sedikit tercekat, atmosfir di sana terasa suram dan penuh kesedihan seketika.


"Ada di luar negeri, itu kenapa aku harus pergi terus ke sana, umurnya hampir 2 tahun, namanya Archie, sangat lucu dan pintar, saat ini dia di asuh oleh sepupuku," kata Daihan menyodorkan sebuah foto balita yang cukup montok, tersenyum sangat lepas, Bella menatapnya miris, anak selucu ini harus kehilangan ibunya di usia 2 hari, jika nantinya dia tahu ibunya meninggal karna bunuh diri dan sebelumnya ibunya ingin membuangnya, entah bagaimana perasaannya, tiba-tiba perasaan Bella menjadi sangat sedih.


"Kalau benar Mika sudah meninggal, lalu siapa Nakesha?" kata Bella ingat dengan Nakesha, wajahnya sangat-sangat mirip.


"Nakesha?"


"Dia benar-benar mirip dengan Mika, bahkan Angga saja mengakuinya." kata Bella lagi.


Daihan memandang Bella dengan kerutan di dahinya, apa benar semirip itu?.


"Ayo, aku rasa kakak akan terkejut melihatnya," kata Bella, dia berdiri dan segera keluar dari ruangan itu, mencari Judy, Daihan mengikutinya dari belakang.


"Judy, bisakah kita keluar sekarang, ada yang ingin aku lakukan." kata Bella dengan serius.


"Baik Nona, sebelumnya, ini handphone baru Anda, sebentar saya akan melaporkan pada Tuan Angga," kata Judy.


"Judy, bisakah tak mengatakannya pada Angga?" kata Bella mengenggam tangan Judy, Judy mendengar dan merasakan genggaman Bella menjadi merasa serba salah, apa yang harus di lakukannya sekarang?.


"Aku mohon ya, kita akan bawa pasukan, dan lagi, ini sangat penting untuk aku dan kak Daihan," kata Bella, dia tahu percis Angga akan melarangnya pergi jika seperti ini.


Setelah turun ke bawah dan menuju lobby hotel, Bella dan Daihan segera pergi dari sana. Mereka menuju rumah sakit tempat ibu Bella.


"Aku dengar kau dan Angga akan segera menikah," kata Daihan memecah kesunyian lagi.


"Eh? apa dia mengatakan itu tadi?"


"Ya." kata Daihan suram


"Dia sudah memintanya." kata Bella tersenyum canggung.


"Oh."


Daihan tak lagi mau melanjutkan pembicaraan ini, takut terlalu sakit hingga nantinya membuat dia dan Bella sendiri tak nyaman.


"Jika nanti, aku tidak tahu apakah masih ada kesempatan atau tidak, Jika nanti ada yang membuatmu sakit, dan kau butuh seseorang, Aku masih ada untukmu, perasaanku padamu tak main-main, jadi bagaimana pun keadaanmu, akan ku terima." kata Daihan dengan suara serak, menatap lurus ke depan, namun di akhir kata, dia menatap Bella dengan dalam, membuat Bella yang mendengar itu hatinya tersentuh, sedalam itu kah Daihan mencintainya?.


"Ehm, ya," kata Bella tak tahu harus menjawab apa dengan Daihan, jadi dia segera menunduk, tak ingin terlalu terbuai dengan mata indah Daihan yang tampak sayu menatapnya, bagaikan senja yang meminta tolong agar tak cepat terselimuti kegelapan.


Bella menatap keluar jendela, menatap jalan yang sebenarnya sangat indah, penuh dengan gaya pesisir yang menyenangkan.


Tak lama matanya menatap sosok yang di kenalnya, Nakhesa, sedang berdiri di kerumi 4 pria yang sepertinya preman.


"Stop! " kata Bella tiba-tiba membuat mobil itu berhenti mendadak, semua yang di dalamnya juga hampir terhuyung ke depan.


"Ada apa? kau tidak apa-apa kan?" kata Daihan kaget.


"Aku tidak apa-apa, Nakesha, dia sepertinya butuh bantuan," kata Bella hendak keluar, namun Daihan langsung melarangnya.


"Biar aku saja, di sana banyak pria, kau tidak akan membantu apa pun nantinya."


Bella berpikir, benar juga, kalau dia ke sana yang ada malah Bella makin membuat repot semuanya, Bella cepat mengangguk.


"Tunggu saja di sini." kata Daihan yang memelihat seorang wanita dan 4 orang pria ada di pinggir jalan yang sepi itu, pria-pria itu terlihat mengintimidasi wanita itu.


Daihan keluar dengan cepat, berjalan dengan langkah mantap ke arah mereka, setelah cukup dekat dia berhenti.


"Maaf, tapi ada apa ini?" kata Daihan yang membuat perhatian mereka semua tertuju pada Daihan.


Daihan lalu menatap wajah wanita itu, tadi dia tidak dapat melihatnya dengan jelas karena terhalang beberapa pria, sekarang dia bisa melihatnya dengan jelas.


Matanya membesar, tidak mungkin ... pikirnya