Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
59



Bolehkah aku meminta sesuatu darimu? Tolong jangan terlalu membuatku terlena, aku takut terluka, karnamu cinta.


____________________________________________


Bella terbangun karena ketukan di pintu kamarnya, dia melihat kearah jam yang ada di samping tempat tidurnya, masih pukul 4.45 pagi, siapa yang membangunkannya begitu pagi?.


Dia lalu turun dari ranjangnya, sedikit menguap, lalu membuka pintunya, Bella kaget hingga matanya sedikit membesar, melihat Angga sudah berdiri di depan pintunya, dia lalu menutup kembali pintunya, tidak mungkin menunjukkan muka baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan itu pada Angga. namun ternyata pintunya di tahan oleh Angga.


"Kenapa? " kata Angga.


"Aku belum sikat gigi," kata Bella mencari alasan, mendengan alasan itu Angga sedikit tersenyum, kelakuan wanita ini ada-ada saja.


"Keluarlah secepatnya agar bisa melihat matahari terbit," kata Angga.


"Baiklah, aku akan segera ke deck nanti,"kata Bella lagi.


Angga tidak menjawab, dia hanya langsung pergi, Bella menghembuskan napas panjangnya, pagi-pagi saja dia sudah deg-degan begini.


Dia segera mencuci muka, menyikat gigi, lalu membenarkan sedikit penampilannya, lalu di segera keluar, suasana di sana masih cukup gelap, hanya tampak sedikit mulai menerang. Angga berdiri di tempatnya kemarin, menatap ke arah atas, Bella berjalan ke arahnya.


Angin yang menerpa cukup kencang, menerbangkan rambut Bella yang dia ikat, Angga menatap wajah putih Bella dengan bibirnya yang merah, bahkan baru tidur dan tanpa riasan apapun dia tampak begitu manis, Bella seharusnya mengunakan jaket yang lebih tebal, karena walaupun tidak terlalu dingin, tapi anginnya kencang menghantam tubuhnya, dia sampai harus memeluk dirinya sendiri.


Angga berjalan mendekatinya, dia lalu membuka jacket bomber hitam yang di pakainya, memakaikannya pada tubuh Bella, Bella yang mendapat perlakuan itu hanya bisa memandangi wajah Angga, wajah Angga tampak lebih lembut dari biasanya.


"Mataharinya tidak akan terlihat, tapi aku suka suasana di mana langit gelap menjadi terang," kata Angga pada Bella, Bella yang masih terpana dengan kelakuan Angga hanya bisa mengangguk.


Angga lalu mengamati sekitarnya, di sana mereka menunggu, dalam diam memperhatikan perlahan-lahan sinar matahari yang mulai muncul, membuat langitnya yang tampak gelap dan hitam, berangsur-angsur berubah menjadi biru, menampilkan awan-awan putih,  sinar matahari yang masih terasa hangat itu akhirnya menyinari mereka, permukaan laut yang tadinya kelam dan tampak menakutkan itu menjadi biru cerah kembali, sangat indah.


"Menyenangkan bukan?" kata Angga.


"Iya, sangat menyenangkan," kata Bella.


"Baiklah, aku ingin berolahraga dulu, ingin masuk atau di sini dulu?" kata Angga lagi


"Aku di sini dulu, nanti akan menyusul masuk," kata Bella tersenyum.


Angga tak menjawab, hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya, dia lalu berlalu, saat ingin masuk ke dalam, dia berhenti sebentar, melihat kembali ke arah Bella.


"Mika… " kata Angga memanggil Bella, dia tidak tahu kenapa bisa memanggil Bella dengan nama itu, tapi bukannya memang sekarang Bella menjadi Mika. dan semua hal yang ada di sana memang mengingatkannya pada Mika.


Bella mendengar itu berpaling, menatap Angga. Angga jarang memanggil Bella dengan sebuah nama, namun sekalinya memanggil dia, malah memanggilnya Mika.


Bella mengangguk, tersenyum tipis, melihat Angga yang meninggalkannya masuk, seketika itu senyumannya hilang, ternyata tetap saja yang di ingat Angga hanya Mika, di sinilah dia yakin dia hanya penganti, lagi pula memang salah Bella, kenapa dia malah mengajak Angga berlibur seperti biasanya dia dengan Mika, tentu saja semua hal ini membangkitkan kenaganannya dengan Mika.


Bella tersenyum tipis untuk dirinya sendiri, tak apalah, asalkan Angga bahagia, lagi pula sejak kemarin, Angga begitu menikmati liburan ini, hanya itu yang bisa Bella lakukan kan?. Di detik itu akhirnya dia sadar, dia memang tak bisa melanjutkan perasaannya pada Angga.


____________________________________________


Angga berdiri di deck belakang kapalnya, tampak menikmati minuman yang di siapkan oleh pelayan, dia tampak santai dengan kemeja putih yang kancingnya sedikit di buka lebih lebar memperlihatkan dadanya yang bidang dan lengannya di gulung sesiku, celana berwarna khaki, sederhana namun itulah yang membuatnya mempesona.


Bella yang sudah di beritahu mereka akan bermain di air keluar dan berjalan ke arah deck belakang dengan bikininya berwarna hijau tosca yang seksi, bagian atas hanya menutupi bagian dadanya, di bagian perut terbalut seperti pita yang saling menyilang dan bersatu dengan celana bikinnya yang tampak begitu sexy di gunakannya, menunjukkan lekukan tubuh Bella dengan begitu sempurna, kakinya yang panjang dan mulus putih bersih itu terlihat begitu mempesona, dia juga mengunakan kimono putih berbahan lace tembus pandang yang panjang, dia sengaja untuk tidak mengikat tali yang ada di bagian pinggangnya, membiarkannya terbuka, agar tubuhnya terlihat.


Angga yang tadinya sedang mengamati air laut yang biru bening itu langsung teralihkan oleh kedatangan Bella yang bagaikan model Victorian secret itu, membuatnya terperangah.


" Kapan kita berenang?" kata Bella tampak tak sabaran melihat kapten dan awak kapal yang sedang mempersiapkan peralatan.


Angga yang masih tidak bisa lepas menatap penampilan Bella melihatnya dari atas hingga bawah, terlalu sexy untuk di abaikan, kapten dan awak kapal yang mendengar Bella lalu melihat dirinya, mereka pun terdiam, pantas  saja wanita ini bisa mengantikan posisi Nona Mika, wanita ini benar-benar sempurna.


Angga yang memperhatikan itu langsung menutup pandangan mereka dengan berdiri di depan Bella, Bella yang tadi sedang melihat kapten dan awak itu bekerja langsung kaget, kenapa tiba-tiba Angga berdiri di depannya?, menutup arah pandangannya pada mereka.


" Ada apa?" kata Bella bingung.


"Kenapa memakai pakaian begitu terbuka?" kata Angga yang masih sesekali curi-curi pandang pada Bella, tulang leher Bella yang  menonjol sangat mengoda, hingga dia tidak bisa melepaskan pandangannya, apa lagi bagian sedikit ke bawah dari leher itu juga tampak sangat mengoda.


" Masa aku harus memakai pakaian tidur untuk berenang," kata Bella aneh mendengar itu.


"Mika tidak pernah memakai pakaian begini walaupun berenang," kata Angga lagi, dia lalu mengambil tali yang ada di pinggang Bella, mengikatnya agar tubuh Bella sedikit tertutup.


Bella yang mendengar itu kesal, dia Bella, dan mereka sedang liburan, dia tidak ingin disamakan dengan Mika saat ini, jika Mika tidak mengunakan baju seperti ini, apa salahnya jika Bella memakainya?, kan mereka tidak lagi di depan Aksa atau Sania.


" Aku kan bukan Mika, aku Bella, "kata Bella kesal, dia lalu membuka lagi ikatan yang sudah di buat Angga, bahkan membuka kimononya lebih lebar, Angga menatap Bella dengan kesal, gadis ini keras kepala sekali.


"Mau kau Bella atau Mika, kalau mau membukanya hanya boleh di dalam air, di sini tidak boleh, sekali lagi kau membukanya di sini, aku akan menciummu," kata Angga kembali mengikat tali itu dengan cepat, dia lalu memandang Bella dengan sangat serius, seolah kata-katanya benar-benar tidak bisa di bantah.


Bella mendengar itu jadi kaget, dia tidak bisa menebak apa yang di katakan Angga itu hanya candaan atau memang serius, karena wajahnya begitu serius, dia jadi tak bisa menjawabnya, kesal dan bingung, dia lalu duduk di kursi pantai yang ada di deck itu, mencoba untuk bersantai dengan berbaring di sana, dia menutup matanya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang gara-gara kata-kata Angga tadi, namun karena Bella menaikkan salah satu kakinya kimono itu terbuka, memperlihatkan kakinya yang jenjang itu.


Kembali Kapten dan awak itu tampak terpana, pemandangannya sangat indah, mereka jadi lupa harus melakukan apa, Angga yang baru sadar setelah melihat tatapan kapten itu lalu dengan kesal menaikkan kimono Bella, hingga menutupi kakinya.


"Ada apa lagi? " kata Bella bingung.


" Kau ini, mau mencoba membuatku tergoda ya? "kata Angga kesal. Bella melihat Angga bingung, memangnya apa yang di lakukannya. Angga lalu duduk di dekat kaki Bella, memperhatikan kapten dan awak itu dengan tatapan tajam, seolah memperingatkan mereka jangan sekali-kali berani menatap Bella.