
Bella duduk bermalas-malasan di dalam kamarnya, dan setiap beberapa menit dia melihat jam yang ada di sampingnya, terasa jam itu berdetak lebih lama rasanya, kenapa Angga harus pergi lagi sekarang? padahal mereka saja baru bertemu, apa Angga tidak kangen dengannya?, nanti jika kamu laki-laki, semoga tidak sekaku papamu, kata Bella dalam hati sambil mengelus-ngelus perutnya yang sekarang sudah menjadi kebiasaannya.
Tak lama pintu kamarnya di ketuk seseorang, Bella langsung bangkit dan membukakan pintunya, dia melihat Shella berdiri dengan nampan berisi air minum dan pil, Bella mengerutkan dahi, bukannya dia baru saja minum vitaminnya yang biasa.
"Selamat siang Nyonya, ini saya membawakan vitamin untuk Anda," kata Shella dengan senyuman manisnya.
"Ehm, bukannya aku baru saja minum vitamin, cukup sekali sehari bukan? " kata Bella yang memperhatikan vitaminnya, sedikit berbeda dengan vitamin yang biasa dia minum, entah kenapa perasan Bella mengatakan ini sedikit aneh.
"Ya, karena kemarin Anda tidak memakannya, kata dokter obat ini boleh di minum untuk mengisi kekosongan kemarin," kata Shella lagi dengan ramah.
"Benarkah? aku ingin bicara dengan dokternya," kata Bella ingin keluar dari kamarnya.
"Dokternya sedang pergi Nona, dia harus membantu proses melahirkan pasien yang lain, dia izin dan menitipkan ini untuk Anda. "
Bella masih mengerutkan dahinya, perasaannya mengatakan untuk tidak meminum obat yang dibawa oleh Shella ini.
"Baiklah, nanti aku minum,"kata Bella.
"Nona, lebih baik Anda meminumnya sekarang, karena semenjak Anda hamil, bukannya Anda bilang Anda jadi lebih pelupa, dari pada lupa, saya ingin melihat Anda meminumnya," kata Shella lagi memaksa.
"Ehm … " kata Bella mengambil pil itu, Shella dengan semangat menyodorkan air minum pada Bella, Bella lalu memasukkan pil itu dalam mulutnya sambil terus mengamati Shella, dia segera meminum minumannya. Shella tersenyum senang.
"Kalau begini saya jadi tenang, selamat istirahat Nyonya," kata Shella lagi, Bella hanya mengangguk dengan kerutan di dahinya, Bella langsung menutup pintu, dia bergegas ke kamar mandinya, dan memuntahkan obat itu, terasa pahit, untungnya dia tidak menelannya, hanya menyelipkannya dia bawah lidah, obat apa seperti itu, pikir Bella yang makin curiga.
Bella memeriksa alat kejut listrik yang tadi di simpannya, untungnya masih di celananya, dia mencoba tetap menyalakan TVnya seperti biasa, namun dia mengintip dan mencoba mendengar suara-suara di luar.
Cukup lama dia mendengar tidak ada apa-apa, mungkin hanya perasaannya saja yang merasa curiga karena kejadian-kejadian yang terjadi padanya, dia jadi lebih waspada dengan segala hal yang menurutnya tidak biasa, namun, baru saja dia ingin menyakinkan diri bahwa tidak ada apa pun, tiba-tiba terdengar suara seorang pria.
"Bagaimana?" kata Suara itu sedikit berat.
"Sudah, Bella sudah meminum obatnya di depanku, aku rasa sebentar lagi dia akan tidur lelap, bagaimana yang lain?" terdengar suara Shella.
"Sudah ku urus, mereka sudah mulai terkena efek dari obat tidur yang aku berikan di minuman dan makanan mereka, kita tunggu sebentar lagi," kata Pria itu.
Bella lalu teringat dengan alat kejut listrik itu, dia lalu memegangnya, dia pikir dia harus berpura- pura tidur hingga mendapatkan waktu yang tepat untuk menyerang Shella dan pria itu. Bella segera berbaring di tempat tidurnya, berpura-pura untuk tidur, dia tidur menyamping membelakangi pintu, di tangannya sudah bersiap alat kejut listrik itu.
Bella terus menunggu, dia terus berdoa dalam hati, jantungnya berdegup keras, entah kenapa selalu saja ada hal seperti ini, kenapa sih dia tidak bisa hidup tenang saja? Angga kapan kamu pulang? pikir Bella yang tangannya gemetar sambil mengenggam alat kejut listrik itu.
Tiba-tiba terdengar suara pintunya di tendang, cukup keras hingga membuat Bella terkejut, namun sebisa mungkin dia tenang untuk membuat mereka percaya Bella sudah tertidur. Pintu itu terbuka.
"Bagaimana?" Kata Shella.
"Ya, sepertinya dia sudah tertidur, dia tidak bergerak saat aku menendang pintunya," kata Pria itu.
"Ya, uruslah, Pangeran Aksa sudah menunggu, aku akan mengurus keperluan yang lain," kata Shella terdengar pergi dari sana.
Bella langsung kaget, Aksa? lagi-lagi dia, kenapa hidupnya tidak bisa lepas dari pria itu, selama Aksa masih hidup, sepertinya dia tidak akan membiarkan Bella hidup tenang. tangan Bella meremas alat itu dengan erat.
Suara derap kaki pria itu terdengar, semakin keras suara itu semakin gugup Bella, tangannya sudah bersiap di tombol yang ada di alat kejut listrik itu, ketika suara langkah itu berhenti, dan Bella bisa merasakan aurannya di belakang Bella.
Baru saja pria yang tubuhnya cukup besar itu ingin mengendong tubuh Bella, Bella dengan cepat berbalik dan segera mengarahkan alat kejut listrik itu ke paha pria itu, membuat Pria itu segera kejang-kejang menerima 800.000 Volt listrik ke dalam tubuhnya, untungnya dia belum sempat memengang Bella, kalau tidak, Bella pun akan kena sengatan listrik itu, tak butuh waktu lama, pria itu segera rubuh dan pingsan, Bella melihat pria itu pingsan langsung mengamati tubuhnya, mencari alat yang bisa di gunakannya untuk bertahan, kali ini dia tidak ingin dengan mudah dapat di culik, tidak lagi.
Dia meraba tubh pria itu, lalu membalikkan tubuhnya yang tadinya telungkup menjadi terlentang, dia lalu melihat pistol di tubuh pria itu, dia segera mengambilnya.
"Ada apa? " kata Shella yang terdengar sebelum dia tampak di ambang pintu karena mendengar suara erangan dari kamar Bella, Bella walau pun panik, dia dengan cepat mengacungkan pistol itu ke arah pintu, begitu Shella melihat Bella dengan pistol yang tepat mengarah ke arahnya, dia segera mengangkat tangannya.
"Nyonya, ya ampun, apa yang terjadi? apa dia menyerang Anda? Syukurlah nyonya tidak apa-apa," kata Shella ingin mendekat ke arah Bella dengan gayanya yang berpura-pura kaget dan cemas.
"Berhenti di sana, aku bilang kau berhenti di sana," teriak Bella dengan wajah emosi, cemas, takut, gemetar, semua jadi satu, dia lalu mundur tiga langkah, Shella yang melihat itu langsung berhenti.
"Nona, saya di sini ingin menolong Anda, saya tidak kenal dia siapa?" kata Shella membela diri masih dengan wajah polosnya.
"Kau diam, aku sudah tahu dan mendengar percakapan kalian tadi, apa salahku padamu?, aku percaya padamu tapi kau malah melakukan hal ini, jadi selama ini kau adalah mata-mata," kata Bella dengan suara gemetar namun juga keras, tegas.
Shella menatap Bella, wajah lugu dan polosnya berubah menjadi kejam dan tajam, dia menatap Bella dengan angkuh, menurunkan tangannya namun tetap berdiri dengan diam.