
' Aku benar-benar tak berdaya, karna sejak kita bersama, begitu banyak rasa yang muncul tiba-tiba, dari rasa bahagia dan juga tawa, hingga rasa cemas yang mulai sering melanda'
____________________________________________
" Baiklah, Ehm… Aku rasa Mika pasti sangat senang jika dia ada di sini, di sini banyak sekali bunga kesukaannya, bunga mawar merah adalah bunga kesukaannya kan? " kata Bella tersenyum manis pada Daihan.
Daihan mengerutkan dahinya sambil tetap menatap Bella, Bella dapat melihat wajah Daihan yang sedikit berubah.
" Ada apa kak? " kata Bella.
" Hanya Sedikit bingung, dari mana kau tahu Mika menyukai bunga mawar?, " kata Daihan penasaran.
" Dari berkas tentang Mika yang di berikan oleh Angga padaku, di sana tertulis apa yang disukai dan tidak disukai oleh Mika, aku harus mempelajari semuanya, " kata Bella.
Daihan tampak sedikit tersenyum, lalu kembali melihat air terjun bunga itu lagi, wajahnya tampak susah ditebak.
" Karena setahuku, bunga kesukaan Mika adalah bunga anyelir merah, " kata Daihan, matanya tampak sedikit suram melihat ke bunga-bunga itu tanpa tujuan.
Bella mengerutkan dahinya, kenapa yang dikatakan oleh Angga dan Daihan tidak pernah ada yang sama, kemarin Angga bilang bahwa Mika menyukai stawberry, tapi Daihan bilang Mika suka coklat mint, di berkas yang dibaca oleh Bella, Bunga kesukaan Mika adalah mawar merah, namun Daihan bilang dia menyukai bunga anyelir merah, Bella jadi bingung, dan kemarin Dorland mengatakan bahwa Daihan dan Mika sangat dekat, apa mungkin semua yang dikatakan oleh Daihan lah yang benar? Bella benar-benar jadi penasaran dengan hubungan Mika dengan Daihan. Benarkah mereka hanya sebatas teman dekat?
" Jadi yang disukai oleh Mika adalah bunga anyelir merah, bukan mawar merah? " kata Bella lagi, membuat perhatian Daihan kembali kearahnya.
" Angga mungkin tidak salah karena memang Angga sering memberikan Mika bunga mawar merah dan Mika senang menerimanya, tapi bukan berarti dia suka, " kata Daihan lagi, sekarang Bella makin yakin, apa yang di katakan Daihan memang benar, Bella merasa, Daihan adalah tempat Mika mencurahkan seluruh masalahnya, apa lagi mereka sudah dekat sejak kecil, sehingga Mika dapat menceritakan apapun pada Daihan.
" Kalian pasti sangat dekat ya kak? " kata Bella lagi menatap Daihan yang masih membuang pandangannya, seolah tidak ingin menunjukkan ekspresinya.
" Ya, begitulah, " kata Daihan tersenyum namun wajahnya suram.
" Apa kakak tahu kenapa Mika sampai melakukan jalan pintas itu?, " kata Bella yang makin penasaran dengan hubungan mereka bertiga. Daihan menatap Bella dengan sendu, lalu tersenyum kecut.
" Tidak… aku tidak tahu, " kata Daihan sambil membuang wajahnya kembali melihat ke bunga-bunga itu.
Bella tak berani lagi menanyakan lebih jauh, karena kalau di teruskan pasti suasana menjadi lebih canggung, Daihan mengizinkan Bella masuk agar Bella merasa senang, tapi Bella malah membuat suasana menjadi sedih, Bella merasa tidak enak pada Daihan sekarang.
" Lalu, apa bunga kesukaanmu? " kata Daihan tiba-tiba membuat Bella menatapnya, belum ada yang pernah menanyakan padanya apa yang dia sukai, Bella benar-benar tersentuh hanya karena ini, Daihan pasti pria yang bisa dengan mudah membuat wanita jatuh cinta, karena dia pengertian dan sepertinya tahu apa yang harus dilakukannya pada wanita.
Daihan menatap Bella sudah kembali dengan senyuman manisnya.
" Owh, aku tidak punya bunga kesukaan sebenarnya, tapi dulu aku ingat ibuku menyukai bunga peony, tapi sampai sekarang aku juga tidak tahu bentuknya bagaimana, " kata Bella.
" kalau begitu, ayo kita cari bunga peony di sini, mungkin ada di taman ini, " kata Daihan.
" Iya kakak, " kata Bella jadi semangat, dia lalu memakai kacamata dan maskernya lagi, lalu mereka segera berjalan mengitari taman itu kembali sembari mencari bunga peony.
Angga baru saja memimpin rapatnya, dia melihat jam tangannya, sudah pukul 09.00 pagi, pasti Bella sudah bangun, pikirnya, tiba-tiba dia ingat apa yang terjadi malam saat Bella menyebut tentang ibunya, dia langsung menuju ke kantornya, Asisten Jang setia mengikutinya.
" Baiklah, masukan saja dalam jadwalku, " kata Angga.
" Baik Tuan "
" Asisten Jang, bisakah kau mencari tahu tentang asal usul Nona Mika?, " kata Angga.
" Nona Mika? Nona Mika yang mana Tuan? " kata Asisten Jang memperjelas.
" Maksudku Bella, aku ingin kau mencari info terutama tentang ibunya, cari dengan baik, jika mendapat informasi langsung beritahu aku, " kata Angga.
" Siap Tuan, saya akan melakukannya, " kata Asisten Jang.
" Sekarang coba tanya Judy, apa yang sedang dilakukan Nona Mika?, " kata Angga lagi, entah kenapa dia jadi penasaran wanita itu sekarang sedang apa?.
Asisten Jang mengangguk, dia lalu mengambil handphonenya, lalu mulai menghubungi Judy. Setelah menadapat kabar, Asisten Jang datang langsung untuk melaporkannya.
" Tuan, Nona Mika sedang keluar dengan Judy, lalu mereka bertemu dengan Tuan Daihan di peresmian festival bunga di Central Park Tuan, " kata Asisten Jang.
Mendengar itu Angga menghentikan pekerjaannya, wajahnya berkerut, pergi ke festival bunga? Kenapa dia tidak izin padanya dulu? ,pikir Angga.
Angga mencoba untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi dia malah susah untuk berkonsentrasi, pikirannya terbang ke Bella, bagaimana wanita itu bisa pergi tanpa meminta izin dulu padanya?, dia memang tidak mengatakan padanya jika ingin pergi harus izin, namun seharusnya dia mengerti itu, bukan?. Mika saja setiap kali pergi akan memberitahukannya, lalu di mana dia sekarang? Itu semua terngiang-ngiang di kepalanya.
" Tuan, ada satu hal lagi, " kata Asisten Jang, membuat perhatian Angga teralihkan, dia menatap Asisten Jang dengan penasaran.
" Apa? " kata Angga.
" Aku rasa Tuan Aksa ada di sana juga, tadi saya mencoba mencari siapa saja yang ada di sana, dan nama Tuan Aksa ada di daftar kunjungan, " kata Asisten Jang menjelaskan.
Angga terkejut, tentu saja, itu adalah acara nasional dan pasti utusan kerajaan akan datang kesana, dan tidak menutup kemungkinan Aksa lah yang datang ke sana, dasar, wanita bodoh itu, apa tidak memikirkan hal seperti itu.
" Apa kita tidak punya undangan untuk ke sana? " kata Angga dengan wajah cemas.
" Ada, namun Anda tidak pernah menghadirinya, karena itu saya menolaknya, " kata Asisten Jang.
" Sekarang hubungi panitia di sana, katakan aku akan datang, dan siapkan mobil segera, " kata Angga berdiri, lalu meninggalkan pekerjaannya.
Asisten Jang terkejut, Angga tak pernah tertarik untuk datang ke acara-acara seperti ini karena dia benci dengan keramaian, dan lagi, ini waktunya bekerja, jadwalnya hari ini padat, tapi dia malah ingin pergi kesana.
" Tapi Tuan, jadwal Anda padat hari ini, " kata Asisten Jang mengingatkan.
" Pindahkan semua jadwalku pada malam ini, kau urus semuanya, itulah gunanya aku mengajimu, " kata Angga tanpa peduli.
" Baik Tuan, " kata Asisten Jang mulai merasa stress, jadwal hari ini benar-benar padat, jika di pindahkan pada malam ini, yang ada dia akan lebur hingga tengah malam.