Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
47



Aku dulu pernah memujamu, memujamu hingga seperti orang gila, namun kau yang merubah segalanya, hinga cinta pun berubah menjadi luka, dan luka membuat aku mati rasa.


____________________________________________


" Ehm, Judy, apa jadwal saya setelah ini?” kata Bella lagi


"Tidak ada Nona, Anda bebas setelah ini,"kata Judy


"Baiklah, sepertinya saya bisa makan siang dengan Anda, tapi saya akan pergi sendiri ke tempat makan yang Anda inginkan,"kata Bella.


"Baguslah, mari makan di Emperial Palace, saya akan menunggu Anda di sana,"kata Aksa lagi.


"Baiklah,"kata Bella sedikit tersenyum sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Aksa. Aksa kembali memperhatikan Bella yang pergi menjauh.


Aksa segera berjalan menuju mobilnya, setelah dia duduk,  Asistennya segera menyerahkan data-data yang di minta oleh Aksa tadi, Aksa memperhatikannya dengan seksama, tidak ada yang mencurigakan, semuanya benar-benar seperti yang di katakan banyak orang tadi, gadis itu bernama Mika terbukti dengan dokumen-dokumennya, fotonya juga adalah dirinya, ikut orang tua Angga dari umur 5 tahun, umur yang sama saat Bella datang ke kerajaan, Aksa jadi semakin ragu bahwa wanita itu adalah Bella, tapi karena terlalu mirip, di belum bisa menerimanya.


Bella segera masuk ke dalam mobilnya, dia segera menghembuskan napasnya, dia harus berurusan dengan Aksa lagi setelah ini, walaupun terlihat mudah, mengontrol emosi dan perasaan itu sebenarnya sangat melelahkan, dan Bella merasakan itu semua.


" Saya sudah melaporkan keadaan kepada Tuan Angga Nona,  Asisten Jang sudah mengirimkan beberapa penjaga yang akan menyamar di sana, jadi Anda tidak perlu khawatir,"kata Judy.


" Baiklah,"kata Bella lagi, dia menatap ke arah jalanan.


Tak lama mobil mereka sampai di restauran Emparial Palace, tempat itu besar dan megah dengan pilar-pilar khas romawi, dan ukiran-ukiran bercat emas, Bella keluar dengan anggunnya, berjalan menuju pintu masuk yang begitu besarnya, memang restauran itu bergaya romawi kuno, terlihat dari banyak patung-patung yang menjadi dekorasinya.


Pelayan segera menyambutnya, Judy segera memberitahukan tentang Mika, Mika langsung di persilahkan masuk ke dalam, di antar hingga ke ruangan khusus di dalam, pelayan membukakan pintu, tampak Aksa sudah duduk dengan santainya di sana, begitu melihat Bella, dia lalu berdiri menyambut, senyuman ciri khasnya tampak mewarnai.


" Selamat datang Nona Mika Deya,"kata Aksa tersenyum


" Terima Kasih,"kata Bella tersenyum namun mengerutkan dahinya, Bella tidak pernah memperkenalkan nama lengkap Mika pada Aksa, pria ini pasti mencari tahu tentang dirinya.


"Silahkan duduk,"kata Aksa menarik salah satu kursi di ruangan itu untuk Bella. Bella duduk, dan Aksa duduk di sampingnya, Bella cukup terkesan dengan cara Aksa memperlakukan wanita, jika dia tidak kenal bagaimana Aksa, dia juga pasti akan tertarik padanya.


Pelayan segera melayani mereka, Bella segera melihat ke buku menu yang di berikan oleh pelayan itu.


" Steak sapi di sini paling enak, tidak ingin mencoba itu Nona Mika?,"kata Aksa, dia ingat dulu betapa Bella menyukai daging sapi.


"Oh, begitu, tapi aku tidak menyukai daging sapi, aku akan memesan Simple samlmon seared with baby arugula saja, "kata Bella dengan senyuman manis, Aksa menatap wanita itu.


" Baiklah, Charbroiletd kobe steak,"kata Aksa


" Untuk minumannya saya Jus strawberry saja,"kata Bella dengan senyuman, Aksa mengerutkan dahi, strawberry adalah makanan yang paling tidak di sukai oleh Bella, namun wanita ini malah memesan minuman itu, Aksa ingat jika makan strawberry, Bella akan terlihat keasaman, walaupun sebenarnnya buah itu tidak masam.


" Tidak ingin mencoba wine di sini? "kata Aksa menawarkan


" Masih terlalu pagi untuk minum wine, aku minum jus saja, " kata Bella menatap Aksa.


" Baiklah, berikan aku minuman yang biasa, dan hidangkan dessert yang tadi sudah ku pesan,"kata Aksa menatap pelayan itu, lalu kembali ke arah Bella. Pelayan segera undur diri setelah menerima pesanan dari mereka.


" Ada apa Tuan Aksa melihat saya seperti itu? " kata Bella menatap dengan lembut, bahkan saat dia memalingkan wajahnya, dia mencoba selembut mungkin, membuat Aksa sungguh terpesona oleh kelakuan Bella.


" Saya ingin tanya, apakah Anda memiliki kembaran?," kata Aksa


" Ya, "kata Aksa seadanya namun masih menunjukkan sikap waspadanya.


" Sepertinya Anda begitu penasaran dengan saya karena Nona Bella, memangnya ke mana Nona Bella yang sering Anda tanyakan itu? "


" Dia sudah meninggal,"kata Aksa dengan sorot mata tajam pada Bella, mencoba menganalisa perubahan wajah dan mata dari Bella, namun tidak ada sama sekali, wanita di depannya itu seolah sangat tenang, setenang lautan pada malam yang gelap,  Bella bahkan tidak menunjukkan perubahan ekspresi apapun.


"Oh, kalau begitu maafkan saya Tuan Aksa, saya tidak tahu soal itu," kata Bella berusaha setenang mungkin walaupun saat mendengarkannya, dia sangat ingin melampiaskan emosinya, bagaimana Aksa dengan mudahnya mengatakan Bella sudah meninggal?, padahal Aksalah yang membunuh Bella!.


" Tidak apa-apa," kata Aksa seadanya.


" Apakah Anda memiliki punya fotonya? Saya ingin lihat seberapa miripkah dia dengan saya," kata Mika lagi.


Aksa memperhatikan lagi wajah Bella, dia lalu mengambil handphonenya, setelah mencari beberapa saat, dia menyerahkan handphone itu pada Bella, Bella melihatnya sedikit menunjukkan wajah terkejutnya saat melihat fotonya sendiri di handphone Aksa, dia sebenarnya memang terkejut, dia tidak menyangka Aksa masih menyimpan fotonya, bukannya Aksa membencinya? kenapa masih menyimpan fotonya di dalam handphonenya?, apakah untuk kenang-kenangan karena dia sudah berhasil membunuhnya? emosi Bella langsung naik lagi, namun tentu saja dia tidak menunjukkannya.


Di foto itu Bella sedang terdiam, tampak begitu suram dan tertekan, semenyedihkan itukah dirinya dulu?, pantas saja dulu Aksa sangat muak dengannya, siapa yang menyukai wanita menyedihkan seperti dirinya dulu?.


" Wah, tak aku sangka dia benar-benar mirip denganku, aku akui, aku sedikit terkejut, dan kenapa dengan matanya? " kata Bella, dia selalu ingat bagaimana reaksi orang pertama kali melihat dirinya, dan matanya adalah sebuah keanehan bagi banyak orang.


"Ya, dia punya masalah dengan matanya sejak lahir, matanya berbeda sejak kecil," kata Aksa mengamati mata Bella dalam-dalam, untungnya kontak lens dari dokter itu terlihat sangat natural, hingga walaupun Aksa memperhatikannya dengan seksama, tidak akan terlihat perbedaannya.


Aksa terus memandangi wajah Bella, dia memang benar-benar berbeda dengan Bella, jadi memang benar kalau Bella sudah meninggal, Mika ini hanya mirip dengannya, mungkin memang mereka dulunya kembar, atau bagaimana lah? Yang pasti sepertinya Mika ini bukan Bella, pikir Aksa.


" Untunglah aku tidak memiliki mata seperti itu, akan terlihat sangat mencolok jika dilihat orang,"kata Bella menyerahkan kembali handphone itu pada Aksa, Aksa memperhatikan foto Bella yang terpampang di layarnya.


"Namun, matanyalah yang sangat aku rindukan, mata yang begitu indah, berbeda dengan orang lain,"kata Aksa begitu lembut masih menatap foto Bella, seolah dia benar-benar merindukan sosok yang ada di layar handphonenya itu.


Deg… hati Bella terasa nyeri, seolah ada yang memukulnya, bagaimana dia bisa menunjukkan ekspresi begitu?, begitu penuh kepalsuan, bagaimana dia bisa merindukannya kalau yang melenyapkan Bella dari dunia ini adalah dirinya?, sungguh munafik, pikir Bella menatap Aksa dengan penuh kebencian, namun tatapan itu langsung di buangnya.


"Yah, yang sudah tidak ada, lebih baik di ikhlaskan, bukannya Anda sudah punya wanita lain,"kata Bella seolah acuh dengan perasaan yang di tunjukan oleh Aksa, Aksa menatap wanita itu, dia benar-benar tidak perduli?.


"Oh, Sania, dia bukan wanitaku, hanya seorang teman,"kata Aksa lagi tersenyum indah.


Teman namun begitu mesra? Bagaimana teman bisa tidur dan bercumbu di depan Bella? Teman apa yang seperti itu? Pikir Bella, namun dia hanya tersenyum tenang.


"Oh, aku kira Anda dan dia adalah pasangan,"kata Bella seadanya saja.


" Tidak, bagaimana dengan Anda, sudah berapa lama bersama Angga?, bagaimana Anda suka dengan pria yang begitu dingin?"kata Aksa


"Hahaha, dia dingin di luar, tapi yang tahu dia sebenarnya hanya saya Tuan Aksa, jadi ya menurut saya, saya tidak perlu memberitahukan pada Anda apa alasan saya memilih dia, lagi pula kami sudah bersama sejak kecil, bukankah hal biasa jika kami jadi sepasang kekasih? Dan untungnya dia tidak tergoda dengan wanita lain,"kata Bella memberikan tatapan sinisnya pada Aksa. Aksa bisa menangkap itu, dia merasa Bella menyinggungnya.


"Apa maksud Anda? "kata Aksa


" Tidak ada, yang saya katakan benar bukan? Jika dia tergoda dengan wanita lain, saya akan sangat sedih, seseorang yang sudah begitu dekat dengan saya dari kecil, tiba-tiba bersama wanita lain, saya akan sangat cemburu,"kata Bella meminum jus stawberrynya sedikit, terasa cukup asam, namun dia mencoba menahannya, kenapa ya Mika yang asli suka minuman seperti  ini? Pikir Bella.


" Apa yang akan Anda lakukan jika hal itu terjadi? "kata Aksa ingin tahu reaksi Bella.


"Aku? Mungkin hanya akan bertanya pada Angga siapa yang akan dia pilih?, aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk merebutnya kembali, karena jika seseorang sudah pernah terpikat dengan orang lain, dia akan selalu melakukannya lagi dan lagi, aku rasa nasibku jika seperti itu sudah cukup menyedihkan, untuk apa lagi membuang waktu untuk pria yang tidak menyukaiku, dan aku rasa aku cukup menarik untuk mendapatkan pria lain, bukan kah seperti itu Tuan Aksa? "kata Bella tersenyum manis.


Aksa terdiam, dulu saat Bella mengetahui dirinya bersama dengan Sania, Bella sangat sedih, dia terus memohon dan memberikan segalanya agar Aksa kembali padanya, dulu Aksa berpikir gadis itu sungguh menyedihkan, Aksa bukan tak menyukai Bella, dia dulunya begitu menyukai gadis itu, mengetahui gadis semanis Bella akan menjadi istrinya, tentu sangat membahagiakan, namun dunianya cukup berubah, pergaulannya pun juga, terlalu banyak wanita yang lebih mempesona menghampiri hingga baginya Bella bukan apa-apa, hanya gadis manis yang terlalu ketinggalan zaman, tak lagi menarik, cara hidupnya pun berbeda dengan kesenangan Aksa sekarang, jika dia terus membawa Bella dalam lingkungannya, yang ada pamornya akan turun. Namun mendengar kata-kata yang di ucapkan Mika tadi, dia sedikit merindukan kepolosan wanita itu, gadis-gadis seperti Mika ini terlalu mementingkan ego mereka.