
"Kau menyuruh Bella menukar hidupnya denganmu, bukan? Kalau begitu berapa yang kau inginkan?" Kata Angga mengambil cek di samping meja itu, membukanya lalu menatap Nakesha.
"Kau pikir aku wanita apa? Aku tak mau uangmu, uang tidak bisa menuntaskan semua masalah," kata Nakesha merasa dilecehkan.
"Tapi semua masalah membutuhkan uang, sebenarmya cuma 1 masalahnya, cukupkah uang yang kau miliki untuk menuntaskannya?" Kata Angga lagi tenang dengan gayanya yang angkuh, Angga benar-benar bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan jika bertemu lawannya.
"Aku tak butuh uangmu! Aku hanya butuh ibuku! Bella kau harus memberikanku ibuku, sejak kecil aku hanya punya ibuku!" Kata Nakesha ingin mendekati Bella, namun Angga langsung memerintahkan penjaga sehingga mereka menahan Nakesha.
"Bella jangan begitu kejam, aku sudah merawat ibumu dari dulu," kata Nakesha lagi berontak, Bella menatap Angga yang seolah tak peduli, bahkan tak menatap Nakesha yang sedang berontak di bawa keluar dari sana. Rasa kasihan Bella muncul.
"Tunggu," kata Bella berdiri, membuat semua perhatian menjadi teralih padanya, Nakesha pun berhenti berontak.
"Aku akan mengizinkan kau tetap bersama ibuku dan merawatnya, tapi ... Kau tak boleh melarangku untuk juga merawatnya, karena itu, tinggalah bersamaku," kata Bella lembut, dia tahu perasaan Nakesha, dia juga pasti sangat menyanyangi ibunya bahkan mungkin lebih dari Bella, lagi pula jika tidak ada Nakesha, mungkin ibunya tak bisa seperti ini, pasti keadaanya lebih parah dari ini.
Mendengar itu, Nakesha tak percaya? Benarkah? dari dulu Nakesha sangat takut di pisahkan oleh Ibunya, karena itu dia sangat membenci Bella, dia tak mau Bella berdekatan dengan ibunya, dia berpikir Bella pasti akan menyingkirkannya, tapi benarkah Bella mengizinkannya?.
"Dia bisa ikut kita kan?" Kata Bella pada Angga dengan lembut.
"Jika kau memintanya, akan aku lakukan," kata Angga tenang.
"Ikut lah dengan kami, di sana kau tidak akan kesusahan, ibu juga akan mendapatkan perawatan yang lebih layak, mudah-mudahan dengan begitu dia akan sembuh," kata Bella lagi mendekati Nakesha.
"Kau sedang tidak main-mainkan? Menanggung hidup seseorang itu susah," kata Nakesha yang di besarkan hidup dengan keras, mencari nafkah sendiri sedari kecil, rasanya hidup seperti itu hanya seperti di film saja.
"Asisten Jang, siapkan 1 apartemen di dekat rumah sakit, apakah 30.000.000 per bulan cukup untukmu?" Kata Angga menatap Nakesha, menuliskan cek itu, lalu menyodorkan nya pada Nakesha, Asisten Jang membantu untuk menyerahkan cek itu pada Nakesha.
Nakesha menatap cek itu, benar sudah tertulis di sana nominal yang di sebutkan Angga. Dia menatapnya terus seolah tak percaya, baru kali ini dia mendapatkan uang sebanyak ini. Tangannnya saja sampai gemetar.
Bella yang menangkap momen polos dan lugu Nakesha ini tersenyum manis, wanita ini sebenarnya baik, hanya insting bertahan hidup membuatnya jadi pribadi yang seperti ini.
"Nona Nakesha, bersiaplah, kita akan pulang sore nanti, jangan terlambat, aku tidak suka menunggu." Kata Angga dingin,
"Baik, aku rasa aku tak punya apapun untuk di bawa," kata Nakesha polos, Bella tersenyum mendengarnya.
"Baiklah, bersiaplah, kami akan menunggu," kata Bella tersenyum manis, membuat hati Nakesha luluh, kenapa dia bisa sangat membencinya ya?.
Nakesha menyimpan cek itu hati-hati, Judy mengantarnya keluar, saat pintu terbuka, dia kaget, menemukan sosok Daihan yang tampan ada di sana.
"Kau?" Kata Nakesha kaget.
"Nakhesa? Kenapa bisa ada di sini?" Kata Daihan pun tak kalah kaget.
"Selamat siang Tuan Daihan, Tuan Angga mengatakan kita akan pulang sore ini," kata Judy menyapa dan memberikan info pada Daihan.
"Terima kasih Judy," kata Daihan dengan senyum manisnya.
"Kau kenal Angga?" Kata Nakesha kaget, dunia mereka kecil sekali?.
"Ya, dia sahabatku dari kecil, dia mantan tunangan kakakmu," kata Daihan dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
"Ya, ada apa kau ke sini?" Kata Daihan.
"Mengurus sesuatu, Bella mengajakku pindah ke ibu kota agar aku bisa merawat ibuku di sana, aku tak menyangka ternyata dia wanita yang baik," kata Nakesha.
"Benarkah? Dia memang wanita yang baik," kata Daihan, namun ada kesuraman di wajahnya, dan Nakesha menangkap itu.
"Jangan-jangan dia wanita ... Ya, ampun, hubungan kalian memusingkan sekali, bukannya dia wanita Angga sekarang?" kata Nakesha berspekulasi sendiri.
"Bersiaplah, Angga bukan orang yang suka menunggu," kata Daihan yang tidak mau melanjutkan pembicaraan ini, merasa terlalu dini menceritakan kisahnya pada Nakesha.
"Oh, iya, dia sudah memperingatkanku tadi, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu," kata Nakesha.
"Baiklah, hati-hati di jalan," kata Daihan tersenyum manis, membuat Nakesha sedikit terpaku, entah kenapa jantungnya sekarang ingin copot rasanya.
"Ya, ya ... Sampai jumpa lagi," kata Nakesha salah tingkah berlalu dari sana, Daihan yang melihat itu hanya tersenyum memperhatikan Nekesha.
---***---
Bella menatap Angga dari belakang yang sedang duduk di tepian ranjang, menatap layar handphonenya dengan serius, mereka sudah pindah ke kamar.
"Istirahatlah, aku sudah menyuruh Judy mengurus semua keperluanmu, masih ada beberapa jam untuk istirahat," kata Angga yang tak berpaling sama sekali dari hpnya, namun tahu Bella ada di belakangnya.
"Kapan dan di mana kau memindahkan ibuku?" kata Bella
"Baru beberapa jam yang lalu, saat Nakesha di jemput, orang suruhanku juga menjemput ibumu, untuk sementara ada di rumah sakit terdekat, sore ini juga akan dibawa ke rumah sakit di ibu kota." kata Angga masih fokus sambil sesekali melirik Bella.
"Tentang Nakesha, aku yang mengundangnya, biar saja dia tinggal di apartemenku, atau bersama kita, menyiapkan rumah akan membuat bebanmu makin bertambah," kata Bella lembut seolah merayu.
Mendengar itu Angga melirik sedikit pada Bella, lalu sedikit menaikan sudut bibirnya.
"Kau bilang kau tidak akan mentolelir kesalahan walau sebesar pasir, aku tak mau nantinya dia jadi pasir itu di matamu, lebih baik dia tinggal jauh dari kita," kata Angga sekilas melihat Bella lalu kembali fokus pada Handphonenya.
Deg ...
Tiba-tiba jantung Bella rasanya terhantam oleh kata-kata Angga, sebegitu memikirkannya kah dia tentang semua omongan Bella, dari mana lagi dia harus ragu oleh Angga? Di mana lagi dia harus mencari hal yang bisa membuatnya tak percaya oleh Angga?.
Bella menatap punggung bidang Angga, tanpa peringatan, dia mendekat, lalu memeluk Angga dari Belakang.
Angga yang di perlakukan begitu tentu kaget, ada apa dengan Bella? sehari ini dia penuh dengan insiatif yang membuat Angga terkejut.
"Angga ..." Kata Bella manja.
"Ya, Ada apa denganmu?" Kata Angga sedikit tersenyum dengan kelakuan Bella, dia suka Bella sepeti ini.
"Mari menikah," kata Bella malu-malu mengatakannya.
Angga mendengar itu langsung menengang, dia kaget? Apa? Apa yang baru di katakan oleh Bella? Apakah dia salah mendengarnya.