Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
64



Ayo bermain denganku, aku akan berpura-pura tak tahu, kita lihat siapa yang akan terjebak dalam permainan semu.


____________________________________________


" Masuklah  Asisten Jang, sini aku yang bawakan," kata Bella tampak salah tingkah,dia lalu mengambil meja kecil yang biasa di gunakan Angga untuk makan di ranjangnya.


Angga melihat reaksi Bella hanya menikmatinya, dia tersenyum, sangat suka melihat Bella salah tingkah. Bella meletakkan makanann itu di depan Bella, ada bubur, sup dan susu.


"Nona Bella, Anda juga makan,"kata  Asisten Jang yang ternyata menyuruh pelayan juga membawa makanan untuk Bella. Bella lalu mengambil makanannya.


"Kau belum makan? "kata Angga.


"Iya, belum lapar," kata Bella seadanya.


"Makan lah, nanti kau akan sakit," kata Angga.


"Aku akan makan, asal kau makan bubur dan sup mu," kata Bella menatap Angga, Angga memiringkan sedikit kepalanya.


"Baiklah, tapi kau juga makan di depanku," kata Angga.


Bella duduk kembali di ranjang Angga, dia lalu mengambil sedikit makanannya, lalu memakannya. Angga juga mengambil buburnya, buburnya terasa hambar, karena memang tidak di beri apapun, Angga tidak menyukainya.


"Kemarikan makananmu, bubur ini tidak enak," kata Angga mengeluh.


"Tidak, ini makananku, makanlah makananmu," kata Bella, wajah Angga tampak masam, tapi dia menurut. Perlahan-lahan menghabiskan buburnya.


Tiba-tiba pintu di ketuk lagi, Angga menatap pintu itu dengan dahi berkerut.


"Masuk," kata Angga.


Asisten Jang masuk dengan wajah yang tampak agak cemas, Angga makin penasaran.


" Ada apa? " kata Angga.


"Tuan, Tuan Aksa ada di sini. "kata  Asisten Jang.


"Bagaimana dia bisa ke sini? "kata Angga bingung, Bella juga kaget mendengarnya.


"Saya rasa dia memang sengaja mencari keberadaan Anda atau Nona Bella, kapal mereka sudah mendekat,"kata  Asisten Jang.


"Baiklah, biarkan saja mereka mendekat, Bella kau harus bersiap-siap, pakai kontak lens mu,"kata Angga.


"Tapi kau masih sakit, biar aku saja yang mengurus mereka,"kata Bella.


Angga diam, tampak berpikir, tubuhnya memang masih panas, Angga menatap Bella dengan cemas. Bella memegang tangan Angga, kelembutan tangan itu menenangkan Angga.


" Tidak apa-apa, tenanglah, aku hanya akan mengalihkan mereka, lagi pula kau kan ada di sini, hanya butuh sedikit istirahat. "kata Bella lagi.


" Baiklah,  Asisten Jang suruh Andrew menjaga Nona Bella selama di sana, berikan laporan padaku, " kata Angga sebenarnya tidak bisa merelakan.


Bella lalu keluar dari kamar Angga, berjalan ke kamarnya, dan mulai bersiap-siap, dia segera mengunakan kontak lensnya. Pintu kamarnya lalu di ketuk, Bella lalu membukakan pintunya. Judy berdiri di sana.


" Nona, ada yang bisa saya bantu? "kata Judy.


"Masuklah," kata Bella, Judy lalu mengikuti perintah Bella.


"Bagaimana keadaannya? "tanya Bella.


"Kapal pribadi Tuan Angga sudah berhenti di dekat kita, tadi saya melihat sekilas Nona Sania juga ikut dengan Tuan Aksa," kata Judy melaporkan keadaan, Aksa masih saja mengajak wanita itu, dia pasti sangat menyukainya, pikir Bella tersenyum sinis.


"Apa yang dia gunakan? "kata Bella, dia tidak mau kalah bersaing dengan Sania, tujuannya sekarang adalah membuat Aksa tergoda padanya.


" Dia memakai two piece bikini berwarna coral, sedangkan Aksa hanya bertelanjang dada, " kata Judy yang mengerti apa yang di maksud oleh Bella.


" Ok, kalau begitu aku juga pakai Bikini,"kata Bella.


"Ehm… Nona, Tuan Angga berpesan, katanya jika ingin mengunakan pakaian renang, tolong jangan keterlaluan," kata Judy agak canggung menyampaikannya.


Bella menatap Judy, dahinya sedikit mengkerut, heran, bagaimana yang jangan keterlaluan itu?  Kalau dia kalah dengan Sania, ya mana mungkin Aksa akan meliriknya, pria itu kan pencinta wanita, buaya darat yang sebenarnya.


Dia mencari bikininya, untung saja dia membeli agak banyak, kalau tidak dia akan bertemu dengan Aksa hanya mengunakan baju biasa atau parahnya malah baju tidur, dia mengambil bikini yang menurutnya tidak keterlaluan, namun juga tak kalah dengan Sania.


Dia lalu memakainya, sebuah double shoulder ruffle bikini berkerah v rendah berwarna hitam, dengan celana high waist putih dengan bergaris hitam, karena aksen rufflenya, Bella jadi tidak mungkin memakai kimononya, jadi ya sudah begitu saja, dia  melihat dirinya di kaca, bikini itu membuat tulang selangka yang ada di dekat lehernya itu telihat, kerah v rendah itu menunjukkan betapa indahnya dada Bella yang putih bersih, siapa pun yang melihatnya tak akan berkedip karena takut akan kehilangan pemandangann indah. Dia mengikat rambutnya ke atas, membuat lehernya yang jenjang itu terlihat, punggunya pun sangat mengoda. Judy saja yang seorang wanita melihat Bella merasa sangat kagum, apa lagi para pria nanti.


"Ini Nona, rasanya akan lebih bagus pakai kacamata," kata Judy menyerahkan kacamata Ray-Ban Pink berpinggir emas. Bella langsung memakainya.


"Begini? "kata Bella


"Ya, Anda sudah siap," kata Judy sangat puas dengan penampilan Bella.


Bella lalu keluar, dia berjalan menuju deck belakang, karena menurut Judy di sana lebih cocok untuk dapat di lihat dari kapal pribadi Aksa.


Saat dia berjalan ke sana, Andrew ternyata baru keluar dari kamar Angga, melihat Bella yang berjalan, dia terdiam.


"Wow, Nona Mika, Anda… " kata Andrew bahkan tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan Bella, Bella hanya tersenyum manis.


" Ehem, karena Angga sedang sakit, aku di perintahkan untuk menjagamu selama kau dekat dengan Aksa, " kata Andrew berdehem sebentar agar suaranya tidak serak, ingin tidak melihat Bella, namun tetap saja tertarik, Di mana Angga mendapat malaikat seperti Bella?, beruntung sekali dia, punya wanita selalu saja cantik, tapi yang kali ini cantiknya kebangetan, jika bisa di katakan sempurna.


" Baiklah, merepotkanmu Tuan Andrew, tapi Angga sudah menjelaskan keadaannya kan? " kata Bella ramah.


"Ya, sudah, dia sedang istirahat setelah di beri obat, bagaimana kalau kita hari ini bermain jet ski? "kata Andrew lagi.


"Oh, Iya, pasti menyenangkan, ajarkan aku ya, aku belum pernah menaiki itu."


"Aku yang akan membawanya karena Angga pasti tidak akan mengijinkannya, kalau dia tahu Anda membawanya, aku bisa di bunuh olehnya," kata Andrew bercanda.


"Haha, baiklah, jangan terlalu sungkan, aku harus ke sana dulu, " kata Bella pamit.


" Baiklah, aku akan menyiapkan jet skinya dulu."


Bella tidak menjawab, hanya tersenyum, dia lalu kembali berjalan ke arah deck belakang, dia bisa melihat kapal pribadi Aksa yang berhenti tak jauh dari kapalnya. Dia melihat sekilas, menangkap sosok Aksa yang sedang bersantai di deck samping sambil melihat laut, Bella berjalan ke pinggir, menyandarkan tangannya ke pagar kapal itu, seolah hanya menikmati laut, dan tidak tahu bahwa ada Aksa di sana, untung dia mengunakan kacamata, dia bisa bebas melihat ke arah Aksa, dia lalu berdiri dengan pose yang sedikit mengoda.


Aksa menatap lautan, sebenarnya tujuan utamanya adalah kapal yang ada di dekatnya, dia menunggu, namun tak ada siapapun yang keluar, angin menerpa tubuhnya yang tegap dan atletis itu, dengan celana pendek creamnya dia biarkan tubuhnya bermandikan cahaya matahari, mungkin karena tubuhnya yang putih, tubuhnya tampak berkilau, pemandangan yang cukup menyilaukan mata.


Dia menunggu cukup sabar, dan akhirnya dia menangkap sosok yang di carinya, sedang berdiri menatap lautan, Aksa tak bisa melepaskan pandanngannya, gadis itu sangat menarik perhatian, Bella tampak mengambil minuman yang di suguhkan oleh seorang pelayan, memperlihatkan seluruh lekuk badannya, Aksa tak bisa berpaling. Jika dari jauh saja begitu indah, bagaimana jika dekat? Jiwa kejantanannya terasa meronta, ingin melihat lebih dekat, bahkan menyentuhnya.


" Kau melihat apa? "kata Sania mendekat, lalu dia terlihat mengertakkan gigi, menangkap sosok yang mencuri perhatian Aksa. ternyata Aksa memilih liburan ke sini bukan karena memang liburan, tapi menemui wanita itu, pantas saja, Angga tak pernah suka lautan, tapi wanita itu sudah membuatnya menjadi menyukai lautan.


Andrew segera datang mengunakan jet skinya, Bella sedikit kaget, dia baru kali ini melihat Jet ski, terlihat menyenangkan.


" Nona, sudah siap? "kata Andrew.


" Sebentar lagi, aku yakin kita akan kedatangan tamu," kata Bella.


"Baiklah, aku akan sedikit memancingnya, " kata Andrew menjalankan jet ski nya, Bella tampak seolah senang melihatnya, dia lalu turun ke tepian kapal yang langsung berbatasan dengan  air,  duduk di sana, mencelupkan kakinya di dalam air, dan tampak senang melihat Andrew yang meliuk-liuk menaiki jet ski nya, sedikit pamer untuk mengesankan Bella.


Aksa yang menatap itu langsung memanggil  Asistennya.


" Siapkan Jet ski untukku,"kata Aksa.


"Aku ikut,"kata Sania.


" Kau tunggu saja di sini,"kata Aksa dengan tajam melihat Sania, Sania tampak cemberut, dasar! Wanita itu benar-benar pengoda.


Jet ski Aksa siap dengan cepat, dia lalu menaikinya, dia lalu menuju ke tempat Bella, Bella yang awalnya pura-pura tidak tahu jadi harus melihat kedatangan Aksa yang cukup dramatis itu.


" Wah, senang bertemu denganmu Nona Mika,"kata Aksa dengan gayanya yang bisa melelehkan semua wanita, tapi tentu saja Bella tidak termasuk.


"Tuan Aksa, aku terkejut Anda juga ada di sini? "kata Bella pura-pura memasang wajah terkejutnya.


Angga memperhatikan Bella yang sekarang sudah cukup dekat dengannya, benar pemikiran Aksa, dia jauh mengoda jika di lihat dari dekat, dia bahkan tak bisa tak tergoda pada wanita ini.


" Di mana Angga? "kata Aksa menatap Bella lagi.


" Sedang tidak enak badan," kata Bella seadanya seolah tidak terlalu tertarik berbicara dengan Aksa, hal itu akan membuat Aksa makin penasaran.


" Wah, sayang sekali, dia melewatkan momen yang sangat indah," kata Aksa dengan senyum mengodanya, Bella hanya membalasnya dengan senyuman manis.


" Apa yang ingin kau lakukan? "kata Aksa lagi.


" Oh, ingin bermain jet ski."


" Bagaimana jika denganku? "


" Tidak perlu, aku sudah punya, lagi pula nanti wanita Anda yang sedang memperhatikan itu akan marah," kata Bella melihat ke arah Sania yang tampak kesal memperhatikan mereka, Aksa juga melihat Senia disana, dia kesal, kenapa dia tidak mengurung Sania di kamar saja.