Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
239



Daihan langsung melihat Nakesha yang tampak gemetar, tangannya masih mengacungkan pecahan botol itu, sedangkan tangan Nakesha yanh terlihat melindungi Archie dengan cara memeluknya dengan satu tangan. Daihan tahu pasti sekuat apapun wanita tidak akan tahan terlibat dengan keadaan seperti ini, walau pun Nakesha wanita yang kuat dan berani, dia tetap saja seorang wanita, setidaknya akan ada rasa syok walau pun sedikit.


Para tentara yang melihat Aksa sudah terkapar dengan simbahan darah langsung menariknya pergi untuk diamankan. Nakesha yang melihat itu membuang pecahan botol itu, membuatnya kembali pecah berkeping-keping ketika mengenai lantai.


Daihan mendekati Nakesha, tanpa dia sadari,  dia langsung memeluk tubuh gemetar Nakesha, Nakesha yang mendapat perlakuan itu langsung kaget, tubuhnya yang tadi gemetar langsung tenang, kehangatan dan rasa nyaman seketika menyelimuti tubuhnya, baru kali ini Daihan memeluknya, ternyata rasanya sangat menyenangkan, bahkan wangi khas tubuh Daihan yang biasanya hanya diam-diam bisa dia cium, sekarang benar-benar bisa dihirupnya dalam-dalam.


"Bagiamana keadaanmu? " kata Daihan masih memeluk Nakesha dengan erat, seolah tak ingin melepaskan wanita ini lagi, dia membayangkan apa yang di lakukan oleh Nakesha malam  ini, hatinya benar-benar tersentuh sangat dalam, wanita ini menjaga Archie dengan sangat baik, dia juga tidak pernah membantah perkataan Daihan yang dengan kejam menyuruhnya untuk tidak menyukainya, dia benar-benar tulus, hanya bisa memendam perasaanya, mencintai Daihan dalam diam, Daihan tahu rasanya, dan sekarang mengetahui perasaan Nakesha padanya yang ternyata begitu dalam, Daihan bisa merasakan hatinya luluh karenanya.


"Archie tidak apa-apa, dia sepertinya sedang tidur," kata Nakesha menjawab seadanya.


"Aku bertanya tentang keadaanmu, bukan keadaan Archie," kata Daihan melepaskan pelukannya, menatap lembut pada mata Nakesha yang terpaut dengan matanya, Nakesha kaget dengan perkataan Daihan, Daihan bertanya tentang kabarnya? Bukannya selama ini dia selalu bertanya tentang Archie?.


"Aku …  aku tidak apa-apa," kata Nakesha yang saking terkejutnya ditanya seperti itu oleh Daihan, menjadi terbata-bata, gugup.


Daihan tersenyum melihat wajah Nakesha yang mulai berubah warna, bersemu merah, karena sejak dia peluk oleh Daihan tadi, wajahnya menjadi panas, napasnya sesak, dan jantungnya serasa ingin melompat keluar dari dadanya, dia berharap detak jantungnya tidak akan sampai membangunkan Archie yang tampak sangat lelap, mungkin karena terlalu lelah menangis terus tadi.


"Ayo kita keluar dari sini," kata Daihan mengenggam tangan Nakesha, lagi-lagi kali ini Daihan membuat Nakesha langsung terdiam, dia hanya menatap wajah Daihan, genggaman tangan hangat Daihan menjalar keseluruh tubuh Nakesha, membuatnya hanya menurut ke mana Daihan membawanya.


"Tuan, Tuan Presiden memerintahkan Anda untuk melakukan suatu hal, yaitu keluar dengan dramatis, agar penyelamatan ini menjadi perhatian dan sorotan masyarakat, karena di luar sudah banyak sekali wartawan yang akan menyoroti Anda," kata tentara itu sebelum keluar dari istana Aksa.


Daihan mengerti apa yang di inginkan oleh Jofan, dia lalu meminta Archie dari gendongan Nakesha, memposisikan Archie tertidur nyaman di pundaknya dan dengan sendirinya Archir memeluk leher Daihan, seolah tahu yang dipeluknya sekarang adalah Daihan, sedangkan tangan Daihan yang satunya merangkul Nakesha, dan lagi-lagi hal ini membuat Nakesha hanya terpana.


Melihat hal itu para tentara membukakan pintu untuk Daihan dan Nakesha, dengan langkah tegas dan wajah yang lurus ke depan, mereka menuruni tangga untuk sampai ke mobil yang akan membawa mereka keluar, blitz lampu wartawan tampak meriah, beberapa orang bahkan sampai bertepuk tangan, para tentara yang terlibat mengikuti mereka, sampai di bawah, tentara itu membukakan pintu, Nakesha masuk lalu diikuti oleh Daihan, dan mereka segera pergi dari sana.


Daihan membawa Nakesha ke rumahnya, menimbang Aksa sudah ditahan, jadi mereka tidak perlu untuk di sembunyikan di markas militer seperti Angga dan Bella dulu, setelah membiarkan Archie tidur dan membersihkan diri, Nakesha keluar sebentar melihat keadaan Daihan, Daihan sedang duduk termenung di ruang tengahnya, entah apa yang dia pikirkan.


"Kakak! Sudah malam, kau tidak tidur? " kata Nakesha mendekatinya, berusaha kembali bersikap biasa saja pada Daihan, walau pun malam ini sebenarnya luar biasa bagi Nakesha.


"Tidak, kau sendiri bagaimana? Apa tidak lelah? Hari ini kau mengalami hal yang sangat berat," kata Daihan dengan penuh perhatian, sorot mata lembut, senyuman manis itu sudah kembali menghiasi wajahnya, Nakesha sedikit tersipu dengan senyuman itu.


"Kau benar-benar menjaganya dengan baik, terima kasih," kata Daihan dengan sorot mata lembut itu, Nakesha hanya tersenyum, lalu matanya teralih pada tangan Daihan yang tampak lembam, mungkin karena habis memukuli Aksa tadi.


"Kakak, tanganmu kenapa?" kata Nakesha kaget.


"Oh, ini tidak apa-apa, tidak sakit lagi," kata Daihan memeperhatikan tangannya yang tampak memang lebam.


"Aku punya obat olesnya, sebentar aku ambil ya," kata Nakesha dengan semangatnya, Daihan ingin mencegahnya, tapi karena melihat semangat dari Nakesha dia urung melakukannya, hanya tersenyum sedikit melihat kepergian gadis itu, tak lama Nakesha datang dengan sebuah salep di tangannya. "Kemari, akan ku bantu untuk mengeloskannya,"kata Nekesha. Daihan hanya mengikuti maunya Nakesha.


"Kakak, aku sudah memukul kepalanya hingga berdarah, kau seharusnya cukup memukulnya sekali, tidak perlu memukulnya berkali-kali seperti itu, lihatlah tanganmu sampai lebam begini, kau seharusnya lebih sayang pada tubuhmu sendiri, jika seperti ini, pasti tanganmu sangat sakit, untungnya aku punya obatnya," kata Nakesha terus saja bicara sambil mengoleskan salep itu pada tangan Daihan dengan sangat hati-hati, tak ingin Daihan merasa kesakitan.


Tanpa Nakesha sadar, Daihan hanya menatapnya dengan sendu, dari suara dan tingkahnya, Daihan dapat menangkap perhatian dan ketulusan Nekesha. Hati Daihan tersentuh, dan kenapa dia baru sadar, gadis ini begitu mengemaskan, perhatiannya benar-benar membuat pertahanan Daihan runtuh.


"Apa kau melakukan hal ini pada semua pria? Celotehan dan perhatianmu ini? " kata Daihan lembut, tatapan mata sendunya itu tidak berubah, membuat Nakesha yang menatap tatapan mata itu langsung salah tingkah, apa lagi sekarang wajah mereka cukup dekat, bahkan mata coklat Daihan itu terlihat sangat indah.


"Oh, tidak, aku hanya melakukanya dengan pria yang aku sukai, ehm  … maksudku, hanya dengan pria yang dekat … ya, yang dekat dan aku sukai," kata Nakesha bingung, ketika dia mengatakan kata suka, dia takut Daihan berpikir yang aneh-aneh, dia takut ketika Daihan tahu bahwa sebenarnya dia menyukai Daihan, Daihan akan menjauh, karena dari awal mereka bertemu, Daihan sudah dengan tegas mengatakan batas antara mereka berdua, Nakesha tidak boleh menyukainya.


Daihan yang melihat kegugupan dari Nakesha merasa gadis ini benar-benar sudah mengoda dirinya, membuat dirinya merasa senang, selama ini dia hanya berusaha membuat gadis-gadis yang dekat dengannya senang, kali ini dia merasa begitu tersentuh, karena ternyata ada gadis yang selama ini dia hindari, malah berusaha membuatnya selalu senang.


Entah bagaimana, namun kejadiaan itu terjadi begitu cepat, Daihan mengarahkan bibirnya ke bibir Nakesha, seketika bibir mereka bertemu, mata Nakesha membesar, kaget dengan apa yang di lakukan oleh Daihan, Daihan sediri pun kaget dengan apa yang di lakukannya, namun dia bukannya melepaskan dirinya, dia malah memegang kedua sisi kepala Nakesha, mencium bibir Nakesha lebih dalam.


Baik Daihan maupun Nakesha belum pernah di cium atau mencium siapa pun, ini pengalaman pertama mereka  berdua, ternyata perasaan yang di sampaikan oleh ciuman ini membuat mereka merasa nyaman bahkan ada sedikit rasa ketagihan, hingga baik Nakesha maupun Daihan tak ingin melepaskan diri mereka.


Mereka bergerak perlahan untuk lebih bisa merasakan ciuman itu, namun karena memang ciuman ini adalah pengalaman pertama mereka, hal ini tidak berlangsung lama, Daihan melepaskan dirinya, menatap Nakesha yang tampak tersipu, membuat Daihan tersenyum senang, dan segera menarik tubuh Nakesha dalam pelukannya sekali lagi, kali ini Nakesha memberanikan diri untuk membalas pelukannya, terasa pelukan ini lebih intim, karena tidak ada Archie di antara mereka.


Cukup lama mereka berpelukan, hingga saling melepaskan, Daihan kembali tersenyum melihat wajah Nakesha yang benar-benar memerah sekarang, Nakesha yakin Daihan bisa mendengarkan suara degub jantungnya tadi. Daihan mengecup kening Nakesha sebentar.


"Sudah malam, ayo kita tidur," kata Daihan, menatap Nakesha, Nakesha hanya mengangguk, Daihan segera menarik tangan Nakesha dan membawanya ke kamar, tak lama saling berbaring di ranjang dan tertidur dengan Archie di antara mereka, namun tangan mereka saling berpautan, mengenggam.