
Bella sedang duduk dengan tenang di ruang tengahnya, dia sebenarnya ingin tidur atau menonton film drama, tapi entah kenapa suasana di kamar tidurnya malah sedikit membuatnya kurang nyaman, entahlah malam ini entah kenapa dia merasa ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan Angga, rasanya rasa rindunya sangat memuncak hari ini, apa karena 1 hari ini Angga bersikap begitu manis padanya? Atau ada hal lain yang membuatnya seperti ini?.
Di ruang tengah itu dia juga tidak biasanya merasa tidak nyaman, gemericik air di sungai kecil itu pun tak bisa menenangkannya, bahkan langit yang begitu tenang dan indah pun tak bisa mengalihkan hatinya dari Angga, berulang kali dia melihat jam, namun rasanya detik itu berubah menjadi jam, sangat-sangat lambat berjalannya, Bella yang tadinya memperhatikan tumbuhan yang ada di dinding itu jadi melihat Judy yang setia menunggunya.
"Judy, apa Asisten Jang tidak memberitahukan kapan mereka akan pulang? "kata Bella mulai putus asa, dia tidak suka dengan perasaannya sekarang, terlalu sepi hingga dia tidak tahan.
"Tidak Nyonya, " kata Judy seadanya.
"Ah, aku kenapa bisa begini cemas ya? ehm, Judy, aku ingin bermain game, apa boleh meminjam tablet mu? " kata Bella berdiri, dia berpikir mungkin bermain game akan mengalihkan pikirannya yang sekarang kacau ini.
"Tentu Nyonya, "kata Judy mengambil sebuah tablet, dia langsung menyerahkannya pada Bella.
Bella segera mengambil tablet dari tangan Judy, dia berpindah posisi duduk di sofa tengah agar lebih nyaman, membuka tabletnya dan segara ingin memilih salah satu game, dia bermain beberapa kali namun selalu kalah, hal ini membuat Bella makin frustasi dan emosi, jadi dia memutuskan untuk berhenti bermain gamenya, namun sebelum dia menutup tabletnya, sebuah notifikasi muncul, bertuliskan ‘Keadaan terkini’. Bella menjadi sedikit penasaran, dia langsung membuka notifikasi itu yang mengantarkannya pada sebuah laman berita daring, dia lalu membaca judulnya,
‘Penembakan di depan restoran Golden Dragon dengan sasaran seorang pengusaha muda’.
Bella segera membacanya, semakin dia membaca semakin sesak napasnya, tangannya langsung bergetar, matanya liar mencari nama yang mungkin dari tadi pagi terus menenerus dia pikirkan, matanya nanar menemukan nama Angga terpampang jelas dalam berita itu, seorang tewas? Apa ini? dia tidak ingin percaya, karena itu dia langsung mengeleng-gelengkan kepalanya, Judy yang melihat perubahan wajah Bella segera medekatinya.
"Nyonya ada apa? "kata Judy.
"Judy, di mana Angga bertemu kliennya? " kata Bella menahan dirinya. Suaranya tercekat, begitu juga napasnya.
" Asisten Jang mengatakan mereka menuju ke Restoran Golden Dragon Nyonya,"kata Judy.
Bella diam, tubuhnya seperti tersiram seember air es dari kepalanya, dia langsung mengigil, matanya kosong, dia terlihat bingung, hampa, tiba-tiba kepalanya pusing dan gamang, ruangan itu terasa berputar, kenapa bisa seperti ini?. Dia mencoba berdiri, namun lutunya lemas, hingga dia hampir terjatuh, Judy langsung menangkap tubuh Bella yang lemas dan bergetar, benar-benar tampak syok dengan apa yang baru di bacanya.
Tidak mungkin Angga, tidak mungkin suaminya tertembak, tidak mungkin, benarkan?
"Tidak mungkin kan? Judy, Angga tidak mungkin … aku harus apa? Angga? bagaimana? Aku … " kata Bella bingung, dia kelihatan mencari sesuatu, dia panik, di kepalanya timbul bayangan senyuman Angga, lambaian tangannya tadi pagi dengan senyuman cerah itu, itu kah terakhir kalinya dia melihat senyuman itu?, wajah dinginnya yang malah menghagatkan hati Bella, tingkah pengaturnya, dia sudah merindukannya.
Angga tidak mungkin tewas bukan?. Kabut air mata tampak tebal di mata indah Bella, dia menangis dengan sangat pilu, Judy mengarahkannya agar untuk kembali duduk, tidak ingin ikut panik sepeti Bella, lalu Judy mengambil tablet itu dan membaca berita itu, dia juga kaget.
"Di mana aku harus bertanya tentang ini? Ke mana aku harus mencari Angga? kenapa dia meninggalkan aku seperti ini? dia bilang akan mengahantui aku, tapi bukan seperti ini yang aku mau! Dia bohong! Dia janji dia akan pulang! Angga akan pulang kan! Dia bilang dia akan cepat pulang! Judy katakan pada Asisten Jang dia harus membawa Angga pulang! dia harus kembalikan suamiku ke mari! Angga janji dia akan pulang … dia akan pulang! dia tidak pernah ingkar janji, suamiku tidak pernah ingkar janji!" kata Bella histeris di antara tangisnya, pilu, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya, dia tidak bisa mengontrol semua emosinya, menangis dengan segala rasa sakitnya, seluruh tubuhnya dingin, bahkan suaranya gemetar, di hatinya masih tidak percaya dengan berita itu, mereka pasti salah, yang tewas bukanlah suaminya.
"Saya akan menghubungin Tuan Jofan, Nyonya tenanglah, berita dari daring seperti ini belum tentu benar, jadi saya akan menanyakannya pada Tuan Jofan, " kata Judy buru-buru, dia segera mengambil handphonenya, namun baru saja Judy ingin mencari nomor Jofan, tiba-tiba 3 orang masuk dengan cepat dari pintu utama mereka, orang-orang itu mengunakan pakaian tentara lengkap dengan senjata mereka, mereka segera menuju ke arah Bella.
"Ada apa ini? "kata Judy berusaha menghalangi mereka, mereka melirik Judy, salah satu mereka segera berbicara khas seorang tentara.
"Kami di perintahkan untuk melakukan protokol jika Tuan Angga terluka, karena itu kami akan menjemput Nona Bella, "katanya.
Bella kaget, dia langsung mendekati pria yang kekar.
"Bagaimana keadaannya? Jadi dia benar-benar terluka? Apa dia benar-benar tewas? " kata Bella diantara linangan air matanya, mencoba mencari jawaban yang sesungguhnya, dia melihat ke pria yang hanya terlihat matanya saja karena memakai penutup wajah yang menutupi seluruh wajahnya.
Dari sorot mata tentara itu meredup, tentara itu mengangguk, Bella segera mundur, menutup wajahnya dan kembali menangis tak ingin percaya, Judy yang melihat Bella terhuyung, langsung segera memegangi tubuh Bella, takut majikannya akan jatuh.
"Kami hanya diperintahkan untuk menjemput Anda untuk keselamatan Anda, kita harus cepat Nyonya, "katanya lagi tegas, benar-benar khas seorang tentara
"Bagaimana aku tahu kalian dari Tuan Angga? " kata Judy masih tidak percaya.
"Tuan Jofan yang menyuruh kami melakukan protokolnya," kata mereka menunjukkan lencana pada Judy, melihat itu Judy yakin.
"Tunggulah sebentar, aku harus mengambilkan baju hangat untuk Nyonya, "kata Judy.
Pria itu tampak tidak setuju, namun Judy segera berjalan menuju kamar Bella yang dulu. Tak lama dia mengambil mantel cukup tebal untuk Bella, dia segera memakaikannya pada Bella yang masih gamang.
"Nyonya, kita harus pergi sekarang, "kata Judy sedikit berbisik pada Bella, Bella segera melihat ke arah Judy, dan beberapa tentara yang sudah menunggunya, matanya sudah sembab, merah dan bengkak, dengan tenaganya yang tersisa, dia bangkit dan mulai berjalan.
"Baiklah,"kata Bella.
Bella segera mengikuti mereka masuk ke dalam sebuah mobil militer yang sudah terparkir tepat di depan pintu mereka, Judy juga ikut pada mereka, para penjaga yang ada di rumah Bella membukakan pintu pada mereka, mereka memberikan hormat, para tentara yang menjemput itu langsung bergegas mengemudikan mobilnya, dan meninggalkan areal rumah Angga.