
Jofan segera berpisah dengan Daihan dan Nekesha ketika mereka sudah sampai di atas, pasukan PASPAMPRES langsung mengamankan Jofan, dia segera masuk ke dalam mobil, dan segera pergi dari sana.
Hutan yang dilalui oleh Jofan begitu lebat, hingga cahaya bulan pun tak mampu menembusnya, hanya gelap bahkan dia tidak bisa melihat pohon-pohon yang ada di sana. Namun itu bukan masalah, karena sebenarnya pikirannya tidak ada di sana malam itu, pikirannya jauh terbang ke sebuah tempat, sebuah tempat yang sangat ingin dia datangi, tempatnya ingin pulang.
3 bulan ini dia benar-benar sibuk, sama sekali tidak bisa bertemu dengan Sania, dia hanya sempat menghubunginya dari handphonenya, itu pun tak intens, dia selalu menanyakan kabar wanita yang entah kenapa selalu ada di pikirannya sekarang, dan sekarang Jofan merindukannya.
"Tuan Presiden, kita langsung ke istana kepresidenan? " kata Supir pribadi Jofan.
Jofan terdiam, dia tak tahu ke mana dia harus pulang, namun hatinya dan pikirannya sekarang hanya ingin melihat orang yang di cintainya itu.
"Ke Markas Militer," kata Jofan.
"Baik Tuan, apakah saya harus memberitahukan yang lain," kata Ajudan Jofan.
"Tak perlu, katakan saja mereka kembali ke istana, buat seolah-olah aku sudah kembali, aku tidak ingin terjadi masalah," kata Jofan lagi.
"Baik Tuan Presiden," kata Ajudan Jofan, dia segera menghubungi tim Pasukan yang sekarang mengawal mereka, dan dengan cepat mereka memisahkan diri dari kawalan itu, membiarkan mobil Jofan pergi sendiri, sedangkan mereka membentuk formasi yang lain, ke arah yang lain pula.
Mobil Jofan berjalan di gelapnya malam, tak lama dia tiba di markas militer, setelah dilakukan pemeriksaan, Petugas yang berjaga terkejut melihat siapa yang datang malam ini.
"Jangan beritahu siapa pun tentang kedatanganku, itu tugasmu sekarang," kata Jofan pada penjaga itu.
"Siap Tuan Presiden," kata Penjaga itu seraya memberikan hormat.
Mobil mereka segera masuk ke markas militer itu, dan Jofan langsung diantarkan ke daerah terdekat dengan kediaman Pedana Menteri, Jofan turun, mengamati markas militer itu sejenak, untungnya markas militer itu sudah cukup sepi malam ini, Jofan segera menuju tempat Sania.
Dia lalu mengambil beberapa kunci yang selalu dibawanya, salah satunya adalah kunci kediaman ini, dia lalu membuka pintunya dengan cepat, dan segera masuk, sebelum ada orang yang melihat dia ada di sana, dia dengan cepat menutup pintu itu, membuat suara sedikit.
Sania yang sedang membereskan meja makannya sedikit kaget mendengar suara seperti orang yang masuk dan mengunci pintunya, dia bergegas meninggalkan tempat itu dan segera berjalan ke arah pintu utama, tidak mungkin maling bukan? Siapa yang terlalu bodoh mencuri di dalam markas militer seperti ini, lagi pula keamaan di sini sangat ketat tidak mungkin ada pencuri, kalau hantu? Tidak pernah ada sedikit punb rasa mencekam selama dia ada di sini, jadi tidak mungkin itu hantu.
Jofan segera berjalan perlahan, saat ingin menuju ruang tengah, dia terhenti, melihat Sania yang juga terdiam melihat sosoknya, melihat wanita itu dia langsung tersenyum, dari matanya tampak sorot mata kerinduan yang sangat.
"Aku pulang," kata Jofan lagi, dengan senyumnya yang sangat manis.
Sania terkejut mematung hingga tak percaya apa yang dilihatnya malam itu, sosok yang begitu dirindukannya namun tidak pernah dia berharap datang karena dia tahu pria ini sekarang tidak mungkin lagi menemuinya malah berdiri di depannya sekarang.
Jofan yang melihat Sania yang mematung, tidak bisa lagi menahan rindunya, dia langsung berjalan dengan cepat, dan memeluk Sania dengan sangat erat, Sania pun yang diperlakukan begitu tanpa sadar membalas pelukan Jofan dengan sangat erat, Jofan benar-benar melampiaskan rasa rindunya dengan mememuluk Sania dengan seluruh perasaannya, apa lagi Sania pun membalasnya, dia tahu wanita ini juga begitu merindukannya.
Terakhir kali dia bisa melihat Sania adalah beberapa hari setelah pelantikannya, saat itu dia berkunjung ke markas militer ini, dia di sambut begitu banyak orang, dan dia hanya ingin melihat Sania, dia menemukan wanita itu, berdiri sangat jauh, hanya memandang padanya, tidak mendekat sama sekali, ketika Sania melihat Jofan dari jauh, dia lalu melambaikan tangan, membuat hati Jofan merasa tak enak saat itu, dan Sania segera pergi masuk ke dalam kediamannya lagi.
"Kenapa kau tidak menemuiku waktu aku ada di sini? "kata Jofan masih enggan melepaskan pelukannya.
Sania tersenyum mendengarnya, dari suaranya bahkan dia tahu betapa Jofan merindukannya. Suaranya bagaikan anak kecil yang merengek karena tidak di berikan sesuatu oleh ibunya.
"Akan sangat tidak baik jika mereka melihat siapa yang kau lihat saat itu, karena itu aku harus segera menghindar, takut ada yang menyadarinya, Kau sekarang seorang Presiden, aku hanya wanita cacat yang tak pantas kau lirik,"kata Sania, ada rasa sakit ketika mengatakannya.
Mendengar itu Jofan melepaskan pelukannya, menatap dalam pada Sania, memperhatikan mata indahnya yang bergerak-gerak mengamati wajah Jofan.
"Jangan berbicara seperti itu lagi," kata Jofan meresa tak suka dengan apa yang di katakan oleh Sania.
Sania tersenyum tipis, menatap dalam-dalam mata Jofan, dia lalu membuang pandangan itu, mengusap bagian dada Jofan yang tertutupi jas formalnya.
"Kau sudah jadi Presiden, sebentar lagi akan ada yang mendesakmu untuk segera menemukan Ibu Negara, karena Presiden tak mungkin sendiri bukan? " kata Sania lagi, Sania hanya tak ingin terlalu larut dengan semua ini, walau pun tahu dia sudah jatuh cinta dengan kelembutan dan semua perhatian Jofan berikan, pria ini sekarang bisa mendapatkan wanita mana pun, bahkan seorang wanita dengan kedudukan tinggi, pendidikan tinggi, dan status sosial yang tinggi, dia tetap saja menemui Sania di sini, wanita cacat yang punya masa lalu yang begitu kelam.
"Aku bisa memilih untuk tidak menikah, jabatan presiden ini tak selamanya, paling lama 10 tahun, tak bisakah kau menungguku saat itu? " kata Jofan lagi pelan dan lembut, tatapan matanya yang penuh rindu dan cinta tulus itu terus memandang Sania, membuat Sania tidak bisa berkutik karenanya.
"Orang tuamu tidak akan menyetujuinya, dengan menikahi kedudukanmu akan semakin baik, " kata Sania lagi.
"Tidak ada yang bisa memaksaku sekarang. "
"Bella masih hidup, kau tidak membunuh siapa pun, lagi pula Aksa lah yang membunuhnya, "kata Jofan pada Sania. Sania mengerutkan dahinya, menatap tak percaya pada Jofan.
"Kau ingat wanita yang bernama Mika yang bersama Angga, dia Bella, Angga menyelamatkannya, Bella ingin balas dendam pada Aksa, namun karena kesalahan, dia malah menyebabkanmu seperti ini, Bella sangat sedih, sehingga Angga melakukan segala hal agar kau bisa di selamatkan, namun kami hanya bisa membantumu seperti ini, " kata Jofan.
"Jadi Mika itu Bella? Jadi dia yang membuat aku seperti ini? " kata Sania kaget.
"Dia tidak bermaksud seperti ini, tapi kau juga ingin membunuhnya bukan saat memasukkan rancun di minumannya? Bella benar-benar berusaha merayu Aksa agar kau bisa selamat, namun Aksa tetap menolaknya, lagi pula tanpa kejadian ini, mata-mataku di kerajaan mengatakan Aksa memang ingin melenyapkanmu, "kata Jofan lagi.
Sania terdiam, entah apa yang dia pikirkannya dulu hingga bisa berbuat nekat seperti itu, apa karena tertutup oleh keinginan duniawi dan harta, untunglah dia di beri kesempatan untuk hidup sekali lagi, ternyata bukan untuk balas dendam, namun untuk belajar, apa sebenarnya arti hidup sebenarnya, untuk merasa ikhlas dan menerima kehidupan ini apa adanya, dan kebahagiaan itu tak mampu di beli oleh harta mana pun.
Apalagi sekarang dia diberikan kesempatan dicintai oleh pria seperti Jofan, bagaimana lagi dia tidak bersyukur dengan hidupnya ini?. Sania kembali melihat ke arah Jofan.
"Aku tidak peduli bagaimana dulu, tapi aku ingin kau sekarang menungguku, jabatan ini tidak akan selamanya, 10 tahun memang tak cepat, namun setelah ini kita akan menikah, kita akan memiliki keluarga kecil dan hidup dengan tenang, aku bersumpah padamu," kata Jofan lagi berbisik pada Sania, mencoba menyakinkan Sania, apa pun yang terjadi, Sania adalah tempatnya pulang.
Sania mengigit bibirnya, tak berani menatap mata Jofan yang semakin menusuk hatinya, 10 tahun, entahlah, apa dia punya waktu selama itu untuk hidup?.
"Kau sudah makan, aku tidak membuatkan makanan spesial, tapi mungkin cukup untuk kau makan," kata Sania lembut mencoba untuk mengubah arah pembicaraan.
"Belum, temani aku makan," kata Jofan tersenyum, merasa akhirnya Sania menerima kedatangannya.
"Baiklah, duduk dulu, aku akan memanaskan makanannya," kata Sania melepaskan diri dari Jofan, Jofan tersenyum dan dengan sabar menunggu Sania di meja makannya, tak lama Sania membawakan sup ayam, daging kecap, dan beberapa sayuran, dia segera menghidangkannya di depan Jofan.
"Makanlah, aku sudah makan," kata Sania lagi duduk di depan Jofan, Jofan tersenyum. Dia lalu mengeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Sania, Sania melihat tingkah Jofan hanya bisa tersenyum, dia mengambilkan beberapa makanan untuk Jofan, Jofan senang di perlakukan seperti itu, seperti suami istri yang hangat.
Jofan lalu mengambil makanan itu sesendok, Sania pikir Jofan akan memakannya, namun Jofan malah menyodorkannya pada Sania.
"Tidak, aku sudah makan," kata Sania yang melihat wajah Jofan sangat berharap.
"Aku tidak akan makan, kalau kau tidak memakan ini, lagi pula Nona Sania, menolak perintah seorang presiden bisa membuatmu dalam masalah," kata Jofan bercanda dan langsung bisa membuat Sania tertawa. Sania segera makan makanan yang di sodorkan Jofan, Jofan tampak puas, dia lalu segera makan.
"Apa Bella sekarang baik-baik saja?" kata Sania.
"Hari ini Angga baru membawanya kembali, Aksa menculiknya 5 bulan yang lalu, dan mengasingkannya ke pulau Amaris," kata Jofan lagi.
"Di asingkan? Apa salahnya?" kata Sania kaget.
"Saat Aksa menculiknya, Aksa baru tahu Bella hamil anak Angga, karena itu dia mengasingkannya ke pulau itu. "
"Bella hamil?" kata Sania kaget.
"Ya, Angga dan Bella sudah menikah, bukankah itu biasa? "
"Benarkah?"
Jofan mengangguk, lalu dia terdiam, melihat ke arah Sania seperti mengamati,Sangat dalam.
"Ada apa?" kata Sania bingung.
"Aku tidak bisa menunggu 10 tahun jika ingin punya anak, kita punya anak dulu saja ya," kata Jofan merayu.
"Ha?" kata Sania kaget dengan apa yang dia dengar.
"Atau kita menikah saja diam-diam, dan segera punya anak, aku tidak ingin kalah dengan Angga," kata Jofan dengan gayanya. Sania tertawa melihatnya.
"Selesaikan saja makan malam Anda Tuan Presiden, bukannya Anda tidak bisa menginap di sini?" kata Sania lagi.
"Kata siapa, aku presidennya, tidak ada yang bisa melarangku, "kata Jofan segera mencium Sania dan segera menariknya ke dalam kamarnya Sania.