Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
245



"Tuan target bulan ini sudah tercapai," kata Eza melaporkan pada Angga, Angga mengambil kertas laporan itu, melihatnya dengan seksama. Siang ini sangat terik, tapi itu sama sekali tidak menganggu bagi Angga.


"Baiklah, jika memang pemasukannya  melebihi target, berikan mereka masing-masing bonus dari pendapatan berlebihan, berikan Pak Doni lebih banyak, bukannya istrinya juga sedang hamil," kata Angga.


"Wah, terima kasih Bos, pantas saja semua orang mau bekerja di sini, Anda sangat baik, " kata Eza. " Woi, Bos bilang seluruh kelebihan dari target akan menjadi bonus untuk kita! ayo semangat!" kata Eza berteriak pada seluruh pegawai, para pegawai yang sedang sibuk bekerja jadi sumringah.


"Terima Kasih Tuan," kata Mereka hampir serempak.


"Sama-sama," kata Angga tersenyum, semua langsung semangat, karena jika mereka bisa mendapatkan pendapatan yang besar, maka bonus mereka pun tambah besar.


"Tuan! Tuan!" kata seorang wanita yang mungkin masih berusia muda berlari buru-buru ke arah Angga, Angga yang melihat Nadia, seseorang yang biasanya datang untuk menemani Bella saat Angga tidak ada di rumah, sedang berlari dengan tergesa-gesa ke arahnya.


"Ada apa? " Kata Angga langsung tampak cemas, dia bahkan meninggalkan semua pekerjaannya, dia tahu ada sesuatu jika Nadia sudah begini, apa Bella akan melahirkan?.


"Nyonya, nyonya … " kata Nadia mengatur napasnya, "Seorang Pria berdasi mendatangi Nyonya, begitu melihatnya, nyonya menyuruh saya untuk mencari Anda," kata Nadia dengan buru-buru bahkan napasnya begitu tercekat.


Mata Angga langsung membesar, dia langsung dengan buru-buru berlari meninggalkan semuanya,  bahkan dia tidak lagi merasakan panasnya pasir pantai yang membakar kakinya yang memang tidak beralaskan apa pun.


Angga terus berlari, dalam pikirannya hal yang terburuk terjadi, bisa saja Aksa kabur dan menemukan mereka di sini, jika bukan orang yang mengancam, Nadia tidak mungkin sampai berlari seperti itu menemuinya.


Angga akhirnya bisa melihat rumahnya yang tampak sederhana, dia lalu melihat seorang pria berdiri membelakanginya, tampak Bella ada di depannya, Angga sudah ingin mengambil ancang-ancang untuk menhadapinya.


"Angga?" kata Bella melihat ke arah Angga yang berlari di belakang pria itu.


Pria itu langsung berbalik, menatap Angga, Angga yang melihat pria itu langsung berhenti.


"Hai, bro!" kata Jofan tersenyum melihat wajah Angga yang cemas, bermandikan keringat dan wajahnya yang memerah karena panas. Angga yang melihat Jofan tersenyum, rasanya ingin membunuh Jofan jika diizinkan. "Haha, pembantu mu itu benar-benar bisa di ajak kerja sama," kata Jofan lagi tertawa senang melihat Angga yang berhasil dikerjainya.


"Kau! dasar! Mati saja kau!" kata Angga kesal sudah dikerjai oleh Jofan.


"Itu pelanggaran berat karena sudah memaki Presiden," kata Jofan berjalan ke arah Angga, Angga juga sedikit tersenyum melihat sahabatnya yang tak di sangka cukup dirindukannya ini, mereka langsung berpelukkan.


"Ehm, kau berubah sekali, Tanning di mana bro? dan baumu … "kata Jofan yang tidak percaya melihat Angga bisa seperti ini.


"Aku akan mandi dulu, sebentar," kata Angga dengan senyuman dan segera pergi ke dalam rumahnya.


"Baiklah,"kata Jofan.


Bella yang melihat pertemuan dua orang sahabat ini hanya bisa tersenyum, senang juga akhirnya bisa bertemu orang yang di kenal.


"Ayo masuk," kata Bella mempersilakan Jofan.


"Baiklah," kata Jofan yang segera masuk ke dalam rumah Angga.


Dia lalu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu rumah yang tak terlalu besar itu, Bella duduk dengan perlahan, Jofan berinisiatif membantunya karena melihat Bella kesusahan.


"Perutmu sudah besar sekali, kapan akan melahirkan?" kata Jofan duduk kembali setelah membatu Bella.


"Seharusnya sudah, jadi kami menunggu waktunya saja, tidak tahu akan kapan, entah besok atau lusa, atau malam ini," kata Bella lagi.


Nadia yang baru sampai langsung ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk tamu mereka.


"Aku tidak menyangka menemukan kalian di pulau kecil ini, dan ya … ini perubahan yang sangat besar," kata Jofan melihat rumah sederhana Angga, tak menyangka temannya yang dari lahir saja tak pernah kepanasan sekarang bisa tinggal di tempat yang menurut Jofan saja sudah seperti sauna. Padahal jika dia kembali ke ibukota, hampir ½ daerah di sana, adalah miliknya.


Tak lama Angga keluar setelah mandi, rambutnya saja masih tampak basah, dia memakai pakaian yang tidak penah Jofan sangka akan bisa di pakai oleh Angga, sebuah kaos biasa dan celana pendek? Jofan sampai tak bisa menahan dirinya untuk tertawa.


"Dari Himalayan Boss menjadi Beach boy, wow, aku tidak pernah menyangka seorang Angga bisa seperti ini," kata Jofan tertawa. Angga hanya tersenyum menerima ledekan Jofan, dia tidak peduli dengan apa pandangan orang tentang dia, asalkan hidup dan Bella bahagia, dia tidak peduli lagi.


"Ada apa seorang Presiden sampai ke mari?" kata Angga.


Jofan yang melihat kegugupan Nadia hanya tersenyum, lalu dia meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, seolah mengatakan, jangan bilang siapa-siapa jika dia ada di sana.


"Ah, tidak apa-apa, hari ini libur nasional, dan aku punya waktu 2 hari untuk libur, setelah melacak dirimu, akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi mu, mencarimu lebih susah dari pada mencari seorang *******, Tuan Devan," kata Jofan tersenyum melihat Angga yang benar-benar tampak berbeda, tampak santai dan tentunya tampak bahagia.


"Sebenarnya aku tidak ingin ada yang tahu," kata Angga datar saja.


Jofan kembali tertawa, seolah kata-kata Angga itu lucu baginya, dia hanya merasa senang ternyata masih ada kedinginan dan kedataran dari diri Angga, hal yang cukup di rindukan oleh Jofan.


"Bella, kau hebat masih bertahan dengannya, apa dia masih sedingin yang dulu?" kata Jofan lagi, Angga melirik ke arah Bella.


"Menginaplah jika kau punya waktu, kau akan terkejut bagaimana Angga bisa menjengkelkan karena cerewetnya," kata Bella mengadu, Angga hanya tersenyum simpul mendengar kata-kata istrinya.


"Wah, benarkah? itu kejadian sangat langka, aku harus melihatnya," kata Jofan dengan gayanya, benar-benar senang bisa bertemu dengan sahabatnya lagi.


"Kau boleh menginap tapi Pasukan penjagamu harus berjaga lebih jauh lagi, aku tidak ingin para warga takut melihat mereka," kata Angga dengan wajah dinginnya.


"Haha, apakah masih belum cukup, padahal aku menyuruh mereka untuk tidak terlihat, baiklah, Bella, anakmu perempuan atau laki-laki?" Tanya Jofan sambil menyerumput teh yang sudah di hidangkan.


"Rahasia," kata Bella sambil mengelus perutnya.


"Oh, ya, Daihan pasti marah jika tahu aku memenui kalian tanpa mengajaknya, dia juga akan marah pada kalian, karena tidak hadir di acara pernikahannya," kata Jofan lagi membuka pembicaraan.


"Kak Daihan menikah?" kata Bella kaget.


"Ya, dengan Nakesha, pesta pernikahan mereka menjadi berita nasional, apa kalian tidak melihatnya?" kata Jofan.


"Wah, benarkah? sayang sekali, aku jarang menonton tv sekarang, apa kau tau kak Daihan sudah menikah? "kata Bella bertanya pada Angga.


Angga hanya mengangguk, wajah Bella langsung berubah kesal, kenapa Angga tidak memberitahukannya?.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?" kata Bella ngambek.


"Nanti kau ingin pulang jika aku beritahu," kata Angga melirik istrinya.


"Oh, ya, benar juga," kata Bella, dia pasti sangat ingin pulang jika tahu Nakesha dan Jofan menikah.


"Bagaimana denganmu Tuan Presiden, bagaimana dengan ibu negara?" kata Angga lagi, nadanya datar.


"Haha, wanita yang ingin ku nikahi, tidak ingin denganku dan pergi begitu saja meninggalkan aku," kata Jofan tertawa, sebenarnya menertawakan dirinya sendiri.


"Benarkah? bagaimana bisa wanita itu menolak seorang presiden? " kata Bella tak percaya.


"Yah, mungkin ini karmaku sebelumnya, saat ini aku hanya ingin sendiri," kata Jofan, dari matanya terlihat kesedihan dan kesepian yang mendalam. Bella dan Angga hanya diam menangkap hal itu.


"Oh, baiklah, kau harus menunjukkan hal-hal yang indah di sini, aku ingin tahu kenapa kau mau tinggal di tempat ini?" kata Jofan mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai mengarah ke arah kesuraman.


"Baiklah, Aku dan Jofan akan pergi dulu, berisirahatlah, apa semuanya sudah di makan?" kata Angga melihat Bella.


"Sudah Bapak suami, cepatlah pulang, kami akan menyiapkan makan malam untuk semuanya, Tuan Presiden, berapa orang yang kau bawa?" tanya Bella.


"Mereka akan makan sendiri, tidak perlu repot-repot, " kata Jofan lagi.


"4 bulan di sini dan baru punya tamu, tentu kami harus menjamunya, tidak apa-apa, berapa orang? "kata Bella.


"Ada 4 orang penjaga dan 1 orang Ajudan," kata Jofan lagi.


"Baiklah, kalian berhati-hatilah," kata Bella.