Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
63



Bella terbangun saat mendegar suara gemuruh yang keras, dia kaget, apa mungkin akan terjadi badai? Pikir Bella kaget.


Dia lalu turun dari tempat tidurnya, melihat jam masih pukul 5 pagi, dia baru saja tidur 3 jam, dia membuka pintu kamarnya, tampak  Asisten Jang dan Judy terlihat panik, apa benar-benar akan ada badai?.


" Judy, ada apa? " kata Bella panik, melihat Judy yang membawa air hangat di tangannya, Bella bahkan lupa memakai kontak lensnya.


" Tuan Angga sakit, tadi malam Tuan Angga berenang di laut, mungkin karena itu dia jadi sakit, dokter sudah datang dengan heli tadi, maaf Nona membuat Anda terbangun, saya harus ke sana." kata Judy tampak cemas, dia meninggalkan Bella begitu saja.


Bella mengerutkan dahi, tadi malam saat berpisah dengan Angga, itu sudah tengah malam, kalau setelah itu Angga berenang, berarti dia berenang di laut dini hari? Apa yang dia pikirkan sampai berenang malam-malam begitu, pikir Bella, ada rasa cemas yang mucul, apakah Angga tidak apa-apa?, dia langsung menuju ke kamar Angga.


Pintu kamar Angga tampak tertutup rapat, Judy terlihat berdiri di sana, Bella ingin masuk, namun dia tidak berani, terakhir kali mereka bertemu, Angga dan dia tidak berpisah dengan baik, ada rasa sedikit canggung, tapi rasa cemas Bella lebih besar.


"Apa dia tidak apa-apa?" kata Bella lagi.


"Dokter sedang memeriksanya Nona, demam Tuan Angga sangat tinggi, terakhir 39 derajat," kata Judy.


"Kenapa dia bisa berenang malam-malam begitu, kenapa kalian tidak melarangnya? " kata Bella sedikit kesal karena kelakuan Angga, kesal dan cemas bercampur satu.


"Itu kebiasaan Tuan Angga, jika dia punya masalah atau sedih, dia akan berenang, jika dilarang, Tuan Angga akan marah besar, makanya kami tidak ada yang berani melarangnya," kata Judy tampak cemas.


Bella terdiam, apa Angga berenang tadi malam karena masalah mereka kemarin, kalau begitu Angga sakit gara-gara Bella, seharusnya dia menyelesaikan masalahnya dengan Angga, bukan malah pergi meninggalkannya. Bella menggenggam tangannya sendiri, dia menunggu dengan cemas di luar.


Tak lama dokter itu keluar bersama  Asisten Jang, Bella langsung bertanya.


"Bagaimana keadaanya dokter? " kata Bella sangat cemas.


"Keadaanya tidak apa-apa, demamnya memang tinggi, tapi sudah di beri obat, dia harus istirahat, jangan izinkan dia berenang dulu, dia hanya terkena flu, Baiklah aku permisi dulu, jika ada apa-apa kalian bisa cepat menghubungi aku lagi," kata dokter itu, Asisten Jang memberikan perintah Judy untuk mengantar dokter itu. Setelah mereka keluar, baru  Asisten Jang berkata pada Bella.


"Nona, Tuan Angga melarang Anda untuk melihatnya."


Bella terdiam sejenak, kenapa? apa Angga tidak tahu kalau Bella juga mencemaskannya? Bella terdiam, dia ingat kata-kata terakhirnya saat dia meninggalkan Angga, dia mengatakan hal yang cukup menyakitkan hati, apa mungkin Angga tak ingin menemui Bella karena perkataanya itu? Apa Angga sakit hati padanya? Entah kenapa sekarang perasaan Bella jadi sedih, dia terlalu marah hingga menyebutkan hal yang tidak pantas. Kemarin dia benar-benar kesal karena Angga seenak saja menciumnya dengan kasar. Sekarang dia tidak mau lagi menemui Bella, bahkan tak mengizinkannya mengetahui keadaanya. Kalau dipikir-pikir Angga sakit juga gara-gara dia, wajah Bella langsung suram.


" Nona, istirahatlah, Anda juga baru tidur beberapa jam kan? " kata  Asisten Jang tampak khawatir karena wajah Bella yang berubah.


"Tidak apa-apa aku akan tunggu di sini, aku ingin tahu kabarnya," kata Bella.


"Anda bisa tunggu di kamar Anda, kami akan memberitahu pada Anda bagaimana keadaan Tuan Angga, " kata  Asisten Jang.


" Asisten Jang, bolehkah aku melihatnya jika Angga sudah tertidur? Aku janji tidak akan melakukan apapun yang membuatnya bangun, dan aku akan keluar sebelum dia bangun," kata Bella lagi.


Asisten Jang tampak berpikir, dia lalu mengangguk, bagaimana pun dia kasihan dengan Bella karena Bella tampak begitu cemas.


Setelah menunggu 2 jam, akhirnya  Asisten Jang mengizinkan Bella untuk masuk, dia membuka pintu kamar Angga pelahan, melihat Angga yang sedang tidur, wajahnya sedikit terlihat pucat, namun dia tampak bergitu damai tertidur.


" Tuan Angga tidur karena efek obat yang di berikan oleh dokter,"kata  Asisten Jang.


Bella berjalan dengan perlahan, mendekati Angga, dia lalu duduk di samping ranjangnya dengan begitu perlahan, dia lalu memegang tangannya, panas… bahkan tangannya aja panas.


Bella melihat mangkuk air hangat yang ada di samping tempat tidur Angga, dia lalu mengambilnya, memerasnya perlahan lalu mengantikan handuk yang ada di dahi Angga.


Bella melakukannya terus menerus, menjaga agar Angga di kompres dengan baik, ketika airnya sudah tak lagi hangat, dia meminta  Asisten Jang untuk mengantikannya,


" Nona, Anda sudah di sini lebih dari 3 jam, apa Anda tidak ingin makan dulu?, Anda melewatkan sarapan Anda." kata  Asisten Jang saat dia membawakan air hangat yang baru.


"Tidak, aku tidak lapar, kata dokter berapa lama Angga akan tidur? " tanya Bella.


"Aku rasa sebentar lagi efek obatnya akan habis."


" Kalau begitu, jangan lupa untuk mengantikan handuknya jika handuknya sudah tidak hangat, nanti jika dia sudah bangun, cepat antar bubur dan sup untuknya, dan obatnya jangan lupa, "kata Bella lembut, memberitahu  Asisten Jang,  Asisten Jang tersenyum lalu mengangguk.


"Saya senang Anda di sini, bahkan Nona Mika yang asli tak sebegitu cemas melihat Tuan sakit," kata  Asisten Jang, Bella mengerutkan dahinya,  Asisten Jang tampak salah tingkah, seperti salah mengucapkan sesuatu.


Bella terus menekukkan dahinya, masa Mika tidak cemas jika Angga sakit? Kan mereka sepasang kekasih, pikir Bella sambil meletakkan air angat di tempatnya, dia lalu memeriksa handuk yang ada di dahi Angga, sudah mulai menghilang panasnya, dia lalu meremas handuk yang lain, dengan perlahan mengambil handuk di dahi Angga, lalu meletakan handuk yang baru, karena memerasnya tidak terlalu kuat, ada sedikit air yang mengalir di dahi angga, turun ke sela rambutnya, Bella melihat itu mengelap air itu dengan jari telunjuknya,  perlahan-lahan, jadi Bella bisa merasakan panasnya tubuh Angga, dia menatap wajah sempurna Angga, tulang hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang biasanya merah, walapun  sekarang agak pucat, Bella sedikit kikuk melihat bibir Angga, kemarin bibir itu yang menempel di bibirnya.


Bella cepat-cepat membuang pikirannya, lalu segera berdiri dari sana, dia takut Angga akan terbangun, dengan perlahan jalan menuju pintu.


" Aku sudah melarangmu untuk masuk ke sini kan? Kenapa begitu keras kepala? " kata Angga dengan suara berat dan seraknya, mendengar itu Bella langsung berhenti, dia lalu melihat Angga, Angga tampak melepaskan handuk kompresnya, lalu duduk, melihat Angga yang menatapnya tajam, Bella jadi takut, dia kan punya salah dengan Angga.


"Maafkan aku, maafkan juga perkataanku yang kemarin, aku benar-benar tidak tahu apa yang aku katakan, aku hanya terlalu terbawa emosi, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu," kata Bella terlihat panik, sambil menunduk, dia menunggu Angga untuk memarahinya, namun Angga tak menjawab apapun, senyap… Bella lalu mengintip sedikit ke arah Angga, Angga masih mengamatinya.


"Kemari! " perintah Angga, nada suaranya seperti tidak bisa di bantah, karena itu Bella mengikutinya dengan patuh.


"Duduklah di mana kau duduk tadi," kata Angga lagi, Bella menurut kali ini, benar-benar mengikutinya dengan perlahan.


Bella duduk, namun tetap saja menunduk, tidak tahan melihat pandangan Angga yang begitu tajam, seolah menghakiminya dengan pedang.


" Kalau ada orang di depan, lihat lah!" kata Angga lagi terdengar begitu dingin. Bahkan belum melihat wajahnya saja, Bella sudah membayangkan tatapan tajam Angga. dia lalu melihat ke arah Angga, beda dengan apa yang di bayangaknnya, Angga malah menunjukkan senyuman manisnya. Menampakan lesung pipinya yang benar-benar membuat wajahnya terlihat manis, pria ini tak ada kurangnya, saat diam terlihat dingin mempesona, saat tersenyum sedikit saja terlihat sangat manis.


"Gadis bodoh, aku melarangmu masuk karena takut kau tertular flu, kau tetap saja keras kepala masuk kemari, " kata Angga lembut menaruh beberapa rambut yang jatuh menutupi wajah Bella ke belakang telinganya.


"Kau tidak marah padaku, kemarin kata-kataku sangat kejam." kata Bella bingung dengan reaksi Angga. bukannya dia orangnya sangat  dingin, kenapa malah begitu lembut sekarang?. Benar-benar orang yang susah di tebak.


"Kau benar-benar bodoh, untuk apa aku marah? Aku melakukan hal lebih parah padamu saat aku marah," kata Angga.


"Lalu kenapa kau berenang pagi-pagi  di laut? Itu sangat berbahaya," kata Bella lagi.


"Karena aku pikir aku sudah berbuat salah padamu, maafkan aku," kata Angga pelan, dia benar-benar harus mengalahkan egonya untuk mengatakan ini, dia belum pernah mengkui salahnya pada siapapun.


Mendengar itu Bella terdiam sebentar, lalu tersenyum.


"Sekarang siapa yang bodoh?, mana ada orang yang melampiaskan emosi dengan berenang dini hari seperti itu, lihat kau sampai terkena flu," kata Bella.


" Aku sedang menghabiskan jatah sakitku sekarang, mumpung sedang liburan,"kata Angga seenaknya saja.


"Kau sudah bangun, makan lah, aku akan menyuruh  Asisten Jang membawakan makananmu," kata Bella berdiri.


"Aku makan apa?" kata Angga yang ternyata sangat manja jika sakit.


"Makan bubur dan sup agar kau cepat sembuh," kata Bella lagi.


"Aku tidak ingin makan bubur sekarang," kata Angga.


"Sudah sakit jangan mengeluh, makanlah, umurmu sudah 27 tahun, jangan seperti anak-anak, " kata Bella sambil berjalan ingin mengambil bel yang di gunakan oleh Angga untuk memanggil pelayan atau  Asisten Jang, dia menekannya.


"Aku sedang sakit dan kau berbicara seperti itu, kau tipe pacar seperti apa?" kata Angga lagi, mendengar itu Bella langsung menatap Angga dengan wajah berkerut.


"Bicaramu masih ngelantur, apa demammu makin tinggi?" kata Bella menatap khawatir pada Angga. Angga dengan kasar lalu menarik tangan Bella yang berdiri di sampingnya itu, membuat Bella kembali terduduk di ranjang Angga, Angga mendekatinya, Bella memundurkan tubuhnya, dia takut Angga menciumnya lagi.


"Apa mau mu? " kata Bella yang terus memundurkan tubuhnya.


"Kau tanya demamku tambah naik atau tidak kan? Kenapa tidak cek sendiri? " kata Angga, tangannya lalu kembali menahan kembali kepala Bella, tapi kali ini dia tidak menciumnya, Angga hanya menempelkan dahinya ke dahi Bella, membuat mata mereka menatap begitu dekat, napas Angga yang panas menerpa pipi Bella, dia bisa merasakan panasnya dirinya.


"Bagaimana, apa demamku naik? "kata Angga terus menatap mata Bella yang bergitu indah, Bella pun hanya bisa terperangkap dengan mata hitam Angga yang seluas galaxy itu.


"Eh..aku rasa tidak,"kata Bella gugup hingga terbata-bata. Bella pikir dia Angga akan melepaskannya, tapi ternyata dia tetap saja mempertahankan posisi itu, Bella bisa melihat bola mata Angga yang bergerak-gerak.


Pintu tiba-tiba terbuka,  Asisten Jang masuk dan langsung kikuk melihat pemandangan di depannya, Angga dan Bella juga kaget melihat kedatangan  Asisten Jang yang tiba-tiba, sehingga Angga melepaskan Bella, Angga tampak memandang  Asisten Jang dengan wajah masamnya, kenapa datangnya tidak menunggu sebentar lagi, pikirnya.


"Hah, baru saja aku mau menularimu secara langsung." kata Angga tampak kecewa. Bella hanya menatapnya saja, apa maksudnya menularinya secara langsung?.