Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
155



"Bernarkah?" kata Bella meras bukan itu yang terjadi di sini.


"Bella, Apa Angga memaksamu menikah dengannya?" kata Daihan.


Angga yang melihat Daihan seperti itu hanya menaikan sedikit sudut bibirnya.


"Bella yang mengajakku menikah," kata Angga lagi, dalam cinta tak pernah ada yang namanya sahabat, bahkan saudara sekali pun, semua bisa jadi musuh.


Daihan menatap Angga tak percaya, mana mungkin Bella mengajaknya menikah, Angga pasti mengada-ada lagi.


"Benarkah?" kata Daihan menatap Bella yang hanya bisa diam seribu bahasa, berusaha untuk mencari kata yang tepat agar Daihan tak terlalu terluka, tapi bagaimana pun dia pasti terluka.


"Benar kak," kata Bella pelan, dia menunduk, tak berani untuk menatap wajah Daihan. Daihan kembali menelan pil pahit, dia bahkan tak bisa bernapas, sedih, mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Bella, dulu dia pikir jika Bella tak menolaknya, dia akan terus mengejar Bella, dan Bella menolaknya, setelah itu dia mencoba untuk menerima dan menyakinkan dirinya, selama Bella tidak menikah dengan Angga, Daihan akan terus berusaha mendapatkan Bella, tapi jika begini? apa lagi yang bisa di yakinkan Daihan untuk dirinya sendiri? tak mungkin mengharap Bella menjanda, bukan?.


"Sudah mendengarnya langsung kan? aku harap kau sudah mengerti, atau kau masih ingin memukulku?" kata Angga, Bella menatap Angga, Daihan memukul Angga? tak mungkin, seseorang seperti Daihan yang hatinya sangat lembut tak mungkin memukul orang lain.


Daihan masih melihat Angga dengan penuh amarah dan tatapannya di balas dengan dingin oleh Angga.


"Aku harap kalian bahagia," kata Daihan dengan ketus, tak menunggu jawaban, langsung pergi saja dari sana Angga yang melihat itu hanya mematap kepergian Daihan, Bella melihat kepergian Daihan merasa tak enak, dia kembali mematahkan hati pria itu.


"Kau sudah siap?" kata Angga lembut.


"Oh, iya, sudah."


"Baiklah, tunggu sebentar, ada yang harus ku ambil," kata Angga masuk ke dalam kamar, Bella hanya diam saja, masih merasa tak enak karena melihat kemarahan Daihan tadi.


"Sudah, ayo kita pergi," kata Angga mengambil langkah terlebih dahulu.


"Oh, iya," Bella mengikutinya dari belakang seperti biasa.


"Asisten Jang, aku akan pergi dengan Nona Bella, siapkan kendaraan, aku akan mengendarainya sendiri, siapkan semuanya untuk kepulangan, setelah kami kembali, kita akan pulang segera." kata Angga pada Asisten Jang.


"Baik Tuan, saya akan menyelesaikan semuanya," kata Asisten Jang.


Angga tak menjawab, mereka segera keluar dan segera turun ke lobby hotel dan mereka segera pergi.


Angga menekan pedal gas dengan perlahan, membiarkan Jendala mobilnya terbuka agar Bella bisa menikmati pemandangan kota kecil pesisir pantai ini. Wajah Bella masih terlihat tak enak.


"Kau masih memikirkan Daihan?" kata Angga melihat Bella yang belum menikmati perjalanan ini.


"Sedikit," kata Bella mencoba tersenyum, Bella memang seharusnya tak memikirkan Daihan, apalagi dia sedang bersama calon suaminya.


"Aku yakin dia tidak apa-apa, tenanglah, dia hanya kaget dan patah hati," kata Angga menenangkan Bella, Bella menatap Angga, memperhatikan pipinya yang masih memerah.


"Apa ini sakit?" kata Bella mengelus pipi Angga yang merah. Angga memegang tangan Bella, mengenggamnya erat sambil tersenyum.


"Tidak, aku tidak apa-apa," kata Angga.


"Kalau berbekas akan aneh di foto pernikahan besok," kata Bella mengoda Angga.


"Tenang saja Tuan Putri, aku akan tetap terlihat tampan," kata Angga tertawa mengatakannya, bercanda sedikit, sukses membuat Bella terkekeh, seorang Angga bisa juga berkata seperti itu.


Angga memperhatikan tawa Bella, sudah cukup lama sepertinya dia tidak pernah melihat Bella tertawa lepas seperti itu. Bella yang dilirik oleh Angga seperti itu langsung tersipu.


"Lihat jalan, jangan melirik padaku terus," kata Bella.


"Baiklah," kata Angga yang tetap saja kaku.


"Kita sebenarnya mau ke mana?" kata Bella bingung.


"Mengulur waktu, sekarang kita pergi ke suatu tempat, kau pasti suka." kata Angga serius.


"Benarkah?" kata Bella menaikkan sedikit alisnya.


"Ya."


"Baiklah, aku akan menurut," kata Bella melihat keluar jendela, lagi pula pemandanganya semakin sore semakin indah.


Cukup lama Angga membawa Bella menuju sebuah tempat, saat sampai, Bella sedikit bingung, mereka berhenti di hamparan rumput hijau, seperti padang rumput yang suasananya mulai menguning karena tertimpa cahaya matahari, matahari dari sana pun sangat indah, bulat sempurna, tak lagi terik hingga keindahannya bisa dinikmati secara menyeluruh.


Angin cukup kencang, menyambut Bella saat dia keluar, suara hempasan ombak terdengar mengelegar namun juga lembut.


Bella menatap Angga yang baru saja mendekatinya.


"Aku kira kita akan berjalan-jalan di pantai," kata Bella pada Angga.


"Aku punya yang lebih bagus dari pantai," kata Angga menjulurkan tangannya, Bella mengerutkan dahinya, namun segera mengapai tangan Angga, Angga tak menyia-nyiakan waktunya, membawa Bella ke sebuah tepian, melihat pemandangan yang di suguhkan alam yang ada di depannya, Bella bahkan tak bisa berkedip, dia bahkan kaget melihatnya, hamparan laut luas tak berujung, dengan tarian-tarian ombak yang tenang dan teratur, birunya bersatu dengan cahaya matahari yang ke emasan, indahnya bak lukisan, sekarang ada di bawah mereka, mereka berdiri di tepian jurang.


"Tolong jangan lompat," kata Angga lembut.


Mendengar itu Bella melirik Angga, dan hanya tersenyum.


"Untuk apa aku lompat? dari mana kau bisa menemukan tempat ini," kata Bella tersenyum mengejek.


"Waktu kau dibuat mabuk oleh Sania, siangnya aku mengecek tempat ini, awalnya aku masih belum mengiyakan untuk membeli daerah ini, tapi setelah kita pulang liburan tahun baru, aku langsung membeli semuanya, aku yakin kau menyukainya, aku membeli tempat ini atas namamu, Bella," kata Angga memeluk Bella dari belakang, membiarkan Bella menikmati pemandangan di depannya,


Bella tersenyum, hatinya sangat hangat dan manis,pria ini kapan bisa jadi seromantis ini?.


Cukup lama mereka berdiri, Angga melepaskan pelukannya. dia memegang tangan Bella, tanpa aba-aba, berlutut satu kaki di depan Bella, Bella melihat kaget minta ampun, apa yang di lakukan Angga?.


"Aku belum pernah berlutut pada siapa pun di dunia ini seumur hidupku, aku juga tak pernah berpikir akan melakukan hal ini pada siapa pun, tapi Bella, kau suka pria yang ada di drama bukan, mereka melakukannya seperti ini," kata Angga menatap lembut pada Bella yang sudah tampak terharu, saking terharunya, Bella bahkan berkaca-kaca.


"Apa yang kau lakukan? kau menonton drama?" kata Bella tak percaya.


"Hanya untuk tahu bagaimana cara melamarmu sesuai dengan kesukaanmu, jadi, Aku akan bertanya, Will you marry me, Bella?" kata Angga gugup mengerluarkan sebuah kotak berwarna hitam dari kantongnya, membukanya, memperlihatkan cicin berlian dengan potongan sederhana namun sangat elegan, benar- benar gaya Bella.


Bella semakin kaget, dari mana dan bagaimana Angga sudah menyiapkan ini, bukannya yang mengajaknya menikah tadi Bella?.


"Yes!" kata Bella tak bisa mengatakan apa-apa lagi, Angga tersenyum manis, bangkit, mengambil cincin itu dan melingkarkannya di jari manis Bella, tampak menyilaukan di bawah cahaya matahari.


Bella tak bisa menutupi raut wajahnya yang bahagia, selesai Angga memasangkannya cincin yang begitu pas di tangannya, Bella langsung memeluk Angga, sangat senang bahkan sampai menangis.


"Kapan kau menyiapkan semuanya, kan aku yang mengajakmu menikah?" kata Bella lagi menatap Angga setelah melepaskan pelukannya. menghapus air mata bahagianya.


"Sejak penolakanmu pertama kali, aku selalu membawanya, tidak tahu di mana, mencari momen yang pas untuk bertanya sekali lagi," kata Angga.


"Tapi bukannya kau orang yang tak suka bertanya 2 kali?"


"Ya, tapi untuk menikah denganmu aku akan bertanya 100 kali jika perlu, tak ku sangka kau malah mengajakku menikah," kata Angga sedikit tertawa bercanda.


"Yah, kalau tahu begitu aku tak akan mengajakmu menikah," kata Bella lagi.


Angga tertawa mendengarnya, dia lalu kembali memeluk Bella, menikmati pemandangan indah dengan rasa cinta yang kuat di dalam dada mereka berdua.