Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
103



Bella bangun pagi-pagi sekali, sebenarnya Bella sama sekali tidak bisa tidur, dia melihat sekeliling kamarnya, langit masih gelap, rintik hujan membasahi dinding kaca di kamarnya, kilatan-kilatan cahaya sambung menyambung, suara gemuruh mengetarkan jiwa terdengar sedikit menyeramkan. Tapi Bella hanya menatapnya dengan kosong, seolah pemandangan di luar itu sama sekali tidak menganggunya.


Bella masih tidak bisa menerima apa yang di dapatnya kemarin, seperti begitu rumit dan membingungkan.


Bella melihat handphonenya, masih jam 5 pagi, Angga biasanya baru bangun jam segini. Apa dia ke sana sekarang saja?. Tapi apa yang akan dilakukan Angga nanti jika tahu Mika ternyata bunuh diri gara-gara mengandung anak Aksa. Bella benar-benar galau memikirkannya.


Rintik hujan bertambah deras, seperti paku yang mulai menghujami, tetesan-teesan air mengalir indah menuruni kaca, seolah mencari jalan untuk mereka turun ke bawah. Bella duduk di sofa dekat dengan jendela itu, sudah pukul 7 pagi, tapi langit masih saja kelabu, tadi Judy mengatakan Angga harus ke kantor, namun pukul 9 dia tidak punya jadwal, jadi Bella masih punya waktu 2 jam untuk berpikir.


"Nona, silahkan, teh panas Anda. "kata Judy meletakkan teh panas itu di menja kecil sebelah Bella.


"Terima kasih. ehm Judy, jika kau mengetahui kenapa seseorang meninggal, dan ada orang lain yang merasa dia sangat bersalah akibat kematian itu? apakah kau akan memberitahukannya apa alasan sebenarnya dia meninggal?”


"Ya, saya akan memberitahukannya, saya tidak ingin orang itu merasa sedih seumur hidupnya karena salah paham, saya rasa saya akan menderita juga melihatnya begitu, lagi pula jika dia sudah tahu kenapa orang itu meninggal, pasti dia akan lebih rela dan melepaskannya."


"Ya, kau benar, baiklah." kata Bella tersenyum, menyerumput sedikit teh hangat yang di buat Judy. Menikmati semerbak wangi melati yang menenangkan, akhirnya kepalanya sedikit terasa lebih ringan.


Jam bergulir, tak terasa sudah hampir jam 9, Bella juga sudah siap, dia langsung mengambil tas dan handphonenya, segera berjalan keluar, Judy sudah membukakan pintu apartemen itu ketika Bella sampai di pintu depannya, Bella lalu berjalan, Judy mengikutinya dari belakang, 2 orang penjaga juga mengikuti. Judy menekan tombol lift, Bella menuggu dengan sabar sambil bermain handphonenya.


Pintu lift terbuka, saat Bella melihat siapa yang ada di depannya, matanya langsung terbelalak, hingga dia mundur kebelakang, wajahnya langsung terlihat pucat, bukan Bella saja yang kaget, Judy pun melihat itu kaget.


Aksa berdiri dengan senyuman puasnya, dia membawa sekitar 6 orang penjaga di belakangnya, dia melangkah, mendekati Bella.


"Tuan Aksa apa yang Anda lakukan di sini? " kata Bella kaget melihat begitu banyak orang yang di bawa Aksa.


Aksa tersenyum manis, melihat Bella dengan tatapan liar seolah ingin memangsa Bella yang sudah ada di depannya ini.


"Masih ingin bermain-main, istriku? "kata Aksa dengan seringai yang menakutkan.


Deg..


Jantung Bella berdetak begitu kerasa, bagaimana Aksa bisa tahu?.


"Apa maksud Anda, aku tidak mengerti, siapa yang Anda sebut istri? " kata Bella mencoba mengelak, mundur sedikit dari sana. Aksa kembali tersenyum. Dia lalu mengeluarkan sebuah surat, dia segera menyerahkannya pada Bella.


Bella yang bingung itu hanya mengambil kertas itu, membukanya dengan wajah sedikit kesal, dia lalu kaget dengan yang terpampang di kertas itu. kertas hasil pemeriksaan DNA, dan di sana terpampang jelas bahwa DNAnya cocok dengan DNA Bella. Bagaimana bisa?


"Apa maksudnya ini? "kata Bella masih tidak bisa percaya, Aksa dengan tenangnya mengambil lagi hasil itu, bodohnya, kenapa Bella tidak menahannya?, mungkin karena masih begitu gamang.


"Kau ingat pertemuan kita di taman, tanganmu tertusuk duri, aku menghapusnya dengan sapu tanganku, setelah itu aku menyerahkannya untuk di periksa, berbekal beberapa rambutmu yang ada di kastil, tak aku sangka, istriku masih hidup." kata Aksa tersenyum bangga.


"Ikut aku, atau aku akan membuat pelayan pribadimu menjadi pemuas nafsu orang-orang yang ku bawa."kata  Aksa berbisik  pada Bella, membuat seluruh tubuh Bella kaku, bulu kuduknya berdiri, seluruh tubuhnya gemetar, rasa benci dan takut meresap hingga ke seluruh tubuhnya.


"Baiklah, aku akan ikut, tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya dulu. "kata Bella menatap Aksa, berusaha untuk tidak terlihat takut, namum sebenarnya untuk menelan ludahnya saja dia sudah tak mampu.


"Baiklah, lagi pula Angga tidak akan bisa menyelamatkanmu lagi "kata Aksa tersenyum senang.


Bella mengigit bibirnya, matanya suram, ada bulir-bulir air mata yang mulai menumpuk di sudut matanya yang indah. Bella dengan gemetar berjalan ke arah Judy yang di jaga 2 orang dari Angga, bahkan penjaga yang di berikan oleh Angga kalah jumlah, mereka takut jika mereka melawan, Bella yang akan di sakiti.


"Nona… " kata Judy.


Bella mengambil Flashdisk dari tasnya, dia lalu menyerahkannya pada Judy.


"Simpan yang baik, berikan pada Angga, katakan, tanyakan kak Daihan tentang bunga kesukaan Mika." kata Bella dengan suara serak parau seperti orang yang menahan tangis.


"Baik Nona. "kata Judy juga menahan tangis melihat Bella. Bella pun terus menguatkan dirinya, menahan tangis, dia tidak mau menangis di depan Aksa lagi, tapi rasanya ternyata tak semudah itu, bahkan narik napasnya pun rasanya sudah tersumbat di tengorokan.


"Ayo, kita pergi istriku. " kata Aksa merangkul Bella, Bella melihat Aksa dengan tatapan sinis, dia lalu berontak di dalam pelukan Aksa.


"Sudah tahu konseskuensinya jika kau berontak kan? " kata Aksa lagi, mendengar itu Bella langsung terdiam, dia mengigit bibirnya dengan sangat keras, rasanya baru beberapa hari lalu dia sangat bahagia, sekarang rasanya masa depannya akan sangat suram.


Dengan langkah berat, dia masuk ke dalam lift yang terbuka, berdiri di sebelah Aksa, Judy dan yang lain masih di tahan di sana.


"Kau janji tidak akan melakukan apapun pada mereka kan? "kata Bella melirik ke arah Aksa.


"Tenang lah, aku bukan orang yang tidak tepat janji, kau sudah begitu manis, aku tidak akan menyakiti mereka. " kata Aksa, mengangkat handphonenya.


"Lepaskan mereka, dan kembali ke markas. "kata  Aksa tersenyum licik.


Bella menunduk, menutupi kesuraman di matanya, bibirnya sudah berdarah karena terus di gigit olehnya, namun dia berusaha untuk tidak menangis. Hidupnya tamat sekarang.


Aksa segera menarik Bella masuk ke dalam mobilnya, dia di dudukkan secara kasar oleh Aksa, Aksa lalu masuk setelah itu. tak lama mobil itu pun melaju.


Hujan masih turun, langit benar-benar gelap bagaikan mengambarkan hati Bella sekarang, pria yang paling tidak ingin dia temui saat ini sekarang malah ada di sampingnya.


"Tak perlu murung begitu, bagaimana? Bukannya kau dari dulu memintaku untuk kembali padamu?" kata Aksa dengan suara renyahnya, Bella tak tertarik untuk berbicara dengan Aksa jadi dia tidak menjawab, hanya memandang kaca mobil dan air-air hujan membuat pandangannya kabur, sebenarnya pandangannya kabur bukan karena hujan, melainkan air mata yang sudah mengumpul di sana, dari detik dia duduk di mobil yang ada di pikirannya hanya Angga.