
Senyuman bahagia terus menghiasi wajah Bella, matanya terus menatap Angga dengan tatapan penuh cinta, tangannya terus di genggam erat oleh Angga.
Angga yang melihat tingkah laku istrinya lalu menatap Bella, dan tersenyum.
"Kenapa terus tersenyum seperti itu?"kata Angga.
"Ya tentu aku bahagia, kan kita baru saja menikah, memangnya kau tidak bahagia ya? " kata Bella tampak ngambek sambil memanjukan bibirnya, Angga yang melihat itu tersenyum, dan langsung mencium bibir istrinya dengan cepat, membuat Bella kaget namun dengan cepat menikmati ciuman Angga.
Namun baru saja Angga ingin mencium Bella lebih dalam, mobil mereka berhenti mendadak. membuat semua orang di mobil itu kaget.
"Ada apa?" kata Angga yang tubuhnya terguncang, dia langsung melihat Bella, memastikan Bella tak apa-apa.
Supir Angga tak menjawab, dia langsung membawa mobil itu mundur dengan buru-buru.
"Ada yang memblok jalan penjaga kita yang di depan Tuan," kata supir itu sibuk mundur dan langsung melajukan mobilnya, menerobos blokade yang tampaknya sengaja di buat seseorang, mereka yang melihat itu segera masuk dan mengejar mobil Angga dan Bella. Penjaga di belakang mencoba menghalangi namun gagal.
Bella yang melihat keadaan itu tentu panik dan ketakutan, Angga mencoba menenangkan Bella, mobil mereka melaju dengan cepat, Angga mengambil handphonenya, mencoba menghubungi seseorang.
"Jofan aku butuh bantuan, lacak di mana sinyal handphone ku, kami di kejar sekarang ... " kata Angga.
Belum selesai dia berbicara, sebuah tembakan di lepaskan, mengenai kaca belakang mobil mereka, Bella berteriak histeris, kaca berhamburan di dekatnya, Angga langsung melihat Bella yang meringkuk ketakutan.
"Merunduk," kata Angga, sekilas melihat ke belakang, pistol sudah di arahkan ke arah Angga, Angga bergegas merunduk dengan cepat, dan suara tembakan kembali terdengar. kali ini menghantam sandaran kepala Angga, tampak sekali sasaran mereka memang Angga untunglah Angga cepat-cepat merunduk.
Mata Bella membesar, tubuhnya gemetaran, mobil mereka yang berjalan dengan sangat cepat dan asal-asalan tak lagi dirasakan oleh Bella, Angga menatap mata Bella, tak mampu lagi mengatakan apa-apa.
"Tuan, terus merunduk, ada 2 motor mengarah ke arah kita," kata supir yang sibuk memperhatikan jalan dan spion mobil.
Mendengar itu, Angga menundukkan kepala Bella lebih rendah, mencoba mencari handphonenya yang tadi terlepas namun tak menemukannya.
Angga bisa mendengar suara motor di kedua sisi mobilnya, Bella menatap Angga dengan sorot mata penuh kengerian, Angga pun begitu, mobilnya tak kebal peluru, kalau mereka dari samping menembaki mereka, maka sudah pasti mereka akan terluka.
Supir tetap berusaha menjalankan mobilnya dengan cepat mengambil jalan kecil memasuki kawasan hutan agar dia bisa melajukan mobil mereka dengan cepat.
Salah satu pengendara motor menembak ban mobil Angga, yang lain mencoba menembaki supir yang tempat ada di depan Bella, Bella tak bisa lagi berteriak, hanya berani memutup mata dan telinganya, tapi supir tetap mencoba bertahan, hingga salah satu peluru menembus tepat di kepalanya, darah keluar dan memuncrat membasahi kaca depan dan sedikit terkena Bella, Bella berteriak keras histeris dengan apa yang baru di lihatnya.
Kemudi mobil bergerak liar, berputar dengan tajam, membawa mobil itu keluar jalur, masuk ke dalam pinggiran jalan yang lebih rendah, mengakibatkan mobil terguling masuk ke dalamnya.
Bella memperhatikan, seketika tiba-tiba hening, tubuhnya terombang ambing, pecahan kaca berhamburan terbang, tubuhnya membentur semuanya, dan tiba-tiba terhempas keras begitu saja.
Semua terjadi terlalu cepat namun juga terasa lambat, tiba-tiba Bella sudah ada di atap mobilya, semua terbalik, telinganya berdengung, dia tampak linglung, menatap sekitar yang benar-benar kacau penuh darah.
"Bella,Bella?" kata Angga yang mencoba menyadarkan Bella, walau pun sadar tapi tatapannya tampak syok dan bingung.
"Bella? dengarkan aku," kata Angga agak keras.
"Ya,ya, kenapa? kau tak apa-apa?" kata Bella yang baru sadar akan keadaan, menatap angga yang kepalanya tampak berdarah, namun sorot mata Angga yang tajam membuatnya fokus.
"Kita harus keluar, sebelum mereka kemari,keluarlah dari pintu di belakangmu," kata Angga mencoba mengatakan sejelas mungkin walau pun sebenarnya dia juga masih syok.
"Ya, iya" kata Bella gemetar, terbata-bata, dia mulai membalikkan badan, dan merangkak di antara pecahan-percahan kaca yang bertaburan, dengan gemetaran hebat, Bella berhasil juga merangkak keluar.
"Tetap merunduk, jangan berdiri, pergi ke semak," Perintah Angga, Bella yang mendengar itu hanya mengangguk dan mengikuti kata Angga tanpa bertanya. Angga pun mengikuti Bella dari belakang, segera mereka bersembunyi di semak.
"Kau tak apa?" kata Bella lagi melihat Angga yang sudah ada di sampingnya.
"Ya, kita tidak aman jika di sini, mereka akan segera turun, Bella kita harus pergi dari sini," kata Angga melihat mereka.
"Iya," kata Bella.
"Ayo," kata Angga segera berdiri, Bella pun mengikuti, mereka segera memjauh dari sana, tapi tak lama terdengar suara ledakan, membuat Angga dan Bella kaget, ternyata mobil mereka meledak. Bella sampai terdiam melihatnya, jika mereka tak sadar, mereka berdua pasti sudah terpanggang sekarang.
"Kita harus cepat, ayo, sebelum mereka sadar kita tidak di dalam, mereka pasti mencari kita ke sini," kata Angga langsung menarik Bella yang masih terpaku, terdiam lemas.
Angga dan Bella berlari ke dalam hutan, tapi karena memakai high heels Bella jadi kesusahan.
"Berikan sepatumu," kata Angga berhenti sebentar. Bella hanya mengikutinya, menyerahkan sepatunya, Angga langsung mematahkan ke dua heelnya.
"Cobalah, mungkin lebih nyaman untuk berlari," kata Angga yang matanya awas memperhatikan hutan itu, Bella langsung memakainya, tak nyaman tapi lebih baik dari pada memakai high heels dan bertelanjang kaki.
"Sudah? kita harus cari tempat bersembunyi dulu, aku yakin mereka masih mencari kita," kata Angga masih melihat ke semua arah.
"Iya," kata Bella.
Angga segera memengang tangan Bella lagi, segera berjalan menunju ke semua arah yang menurutnya tepat, menuruni tanah yang terjal, beberapa kali harus hampir jatuh karenanya.
"Coba cari di sana," teriakan terdengar, membuat Angga dan Bella kaget, mereka rasa mereka sudah berjalan jauh, tapi mereka masih mengejar, bahkan terdengar sangat dekat.
Angga memberikan sinyal pada Bella untuk kembali berlari, Bella mengangguk.
Matahari sudah di atas kepala mereka, menandakan waktu sudah cukup siang, Angga dan Bella sudah tidak berlari lagi, mereka berjalan menyusuri hutan lebat itu, mereka bahkan tak tahu di mana tujuan mereka dan bagaimana cara keluar dari sana, tapi dari pada tetangkap, mereka lebih baik berjalan terus.
Setelah cukup lama berjalan, Angga melihat sebuah goa di sana. Dia segera mengarahkan Bella ke sana.
Goanya tak dalam, bahkan hanya seperti cekungan, Angga melihat ke dalam dan untungnya kosong.
"Kita di sini saja, beristirahatlah," kata Angga yang tahu Bella pasti lelah berjalan terus menerus, bahkan Angga pun sudah cukup lelah.
"Iya," kata Bella, Dia lansung masuk, perlahan duduk namun tetap siaga, Angga memperhatikan sekitar, mudah-mudahan mereka sudah cukup jauh dari mereka.
Angga masuk dan duduk di samping Bella, tubuhnya cukup lelah, namun dia lebih prihatin melihat Bella.
"Lelah?" kata Angga.
Bella mengangguk, Angga meperhatikan wajah Bella, cipratan darah tampak sudah mengering di wajahnya yang putih.
"Kemarilah, " kata Angga kembali menarik Bella dalam pelukannya.
"Siapa mereka?" kata Bella, dia baru bisa menangis.
"Aku tidak tahu, tapi aku rasa ada hubungannya dengan Aksa, sudah ... aku akan menjagamu, jangan khawatir," kata Angga menenangkan, padahal dia sendiri tak tahu, apakah mereka sudah aman atau tidak.
Bella mendengar nama Aksa langsung sedih, ya pasti ini ulahnya, dan ini karena Bella, kalau Bella tak bersama Angga, Aksa tak mungkin ingin membunuh Angga.
"Maafkan aku," kata Bella menegakkan badannya, menangis tersedu-sedu.
"Kenapa denganmu?" kata Angga bingung.
"Pasti ini gara-gara Aksa, dia pernah mengatakan bahwa dia akan membunuhmu jika aku tetap bersamamu, jadi ini semua salahku," kata Bella.
Angga menatap Bella, dia tersenyum lucu melihat Bella, Bella yang tadinya menangis hanya bisa melihat Angga tersenyum.
"Bodoh, aku suamimu sekarang, tugasku menjagamu, aku juga akan marah jika kau menjauhi ku, lagi pula tak semudah itu membunuhku, jadi tenanglah," kata Angga kembali merangkul istrinya. Bella mendengar itu cukup merasa nyaman. cukup membuatnya tak menangis lagi.
Angga menatap langit-langit gua itu, dia sendiri masih tak tahu harus apa sekarang, berharap mudah-mudahan Jofan tahu keberadaan mereka.