Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
141



Bella akhirnya merasa perasaannya lebih membaik, tanpa dia sadar dia sudah berdiam diri 3 jam, dia lalu masuk ke kamar mandi, lalu dia mencuci mukanya agar merasa segar. Lalu tidak lama dia keluar dari kamar itu, dia kaget, melihat Angga yang ternyata menaruh kursi di sana dan menunggunya,


Bella melihat gaya Angga yang hanya tampak bosan menunggu tapi juga enggan beranjak, dia menatapnya, benarkah dia menunggu Bella selama 3 jam?.


"Kau sudah enakan?" kata Angga yang tampak lega melihat Bella sudah keluar.


"Kau benar-benar menunggu ku di sini?" kata Bella.


"Ya, aku kan sudah bilang akan menunggumu, makan siang?" kata Angga.


Mendengar pernyataan Angga, hati Bella sedikit menghangat, pria ini tak bisa berkata-kata manis, tapi terkadang perlakuannya memang membuat wanita merasa istimewa.


"Baiklah."


Angga segera memimpin jalan menuju ruang makan, ruangan hotel mereka mewah, ada 2 kamar tidur, 1 ruang tengah dan 1 ruang makan dan dapur, hampir seperti rumah kecil.


Setelah sampai ke ruang makan, makanan sudah terhidang. Angga langsung duduk, Bella pun duduk di samping kanan Angga dan mereka segera makan bersama.


"Bagaimana perasaanmu?" kata Angga setelah selesai makan.


"Sudah membaik." kata Bella namun sikapnya masih belum seperti biasa, masih terlihat datar.


"Bella ... aku melakukannya bukan karena aku masih punya perasaan dengan Mika, aku hanya ingin tahu kenapa dia begitu melarang kita bertemu dengan Ibumu," kata Angga lagi, dia mengenggam tangan Bella yang ada di atas meja. Angga ingat kata-kata Bella, dia tidak bisa memaafkan Angga lagi jika Angga membuat salah.


Bella diam, melihat wajah Angga yang tampak begitu serius.


"Apa perasaanmu katakan saat melihat Mika?" kata Bella terdengar lembut namun tak bernada.


Angga memperhatikan Bella, mata Angga bergerak-gerak mengamati mata Bella yang terkesan tenang, namun ketenangan itu membuat Angga merasa tak bisa menebak apa yang sekarang ada di pikiran Bella sekarang.


"Aku ..." kata Angga.


"Masih ada rasamu untuknya?" kata Bella lembut, lagi-lagi datar membuat perasaan Angga tak enak.


"Tidak." kata Angga langsung, mantap dan tegas.


Bella menatap Angga, Angga menatap Bella dengan serius, tidak ada keraguan di matanya.


"Jangan terlalu cepat menjawabnya, tanyakan benar-benar, aku tak akan menyalahkanmu, aku tahu dia sudah punya tempat dan sudah lama di hatimu, " kata Bella menarik tangannya dari genggaman Angga.


"Bella ... Aku yakin, aku mencintaimu," kata Angga lagi, benar-benar mantap, dan malah membuat Bella mengerutkan dahinya.


3 jam menunggu dan berpikir, Angga akhirnya sadar benar apa yang dia inginkan dan hatinya inginkan, bersama Mika, walaupun sudah mengenal wanita itu dari kecil, Angga tak bisa sedikit pun mengalahkan egonya, dia tak bisa mengorbankan begitu banyak hal seperti saat dia bersama dengan Bella, bahkan menunggu 3 jam di depan pintu kamar hanya agar tahu bagaimana keadaan Bella pun dia mau lakukan, semua itu hanya Bella yang bisa melakukannya pada Angga.


Bella tersenyum tipis, namun tidak mengatakan apapun, Angga yang melihat reaksi Bella menjadi bingung, percaya kah dia? atau dia hanya menganggap Angga berbual?. Kenapa saat Bella tenang seperti ini malah lebih menakutkan dari pada saat Bella marah padanya, jika Bella marah, dia akan tahu apa yang di inginkan Bella, kalau begini, Angga benar-benar frustasi menembak pikiran dan isi hati Bella.


"Tuan, ada masalah yang harus saya katakan,"kata Asisten Jang tiba-tiba masuk ke ruang makan.


"Katakan saja di sini, agar Nona Bella tahu, mulai saat ini apapun yang kau ingin katakan, katakan di depan Nona Bella juga," kata Angga, dia tak mau Bella merasa Angga menyembunyikan sesuatu, dia tak ingin Bella curiga, apalagi sekarang ada Mika.


Bella kembali menatap Angga, bibirnya terkunci, namun wajahnya menatap Angga dengan kerutan di antara alisnya.


"Ehm, Baik Tuan, Ada masalah di perusahaan, Tuan Robert salah satu rekan bisnis kita meminta untuk bertemu Tuan sore ini," kata Asisten Jang tampak begitu tegang.


"Batalkan saja kerja sama kita dengannya." kata Angga enteng.


" Tapi Tuan ... " kata Asisten Jang tampak keberatan, Tuan Robert adalah rekan bisnis yang sangat menguntungkan dan proyeknya sangat strategis, melawatkan hal ini membuat perusahaan akan sangat merugi.


Tapi melihat Angga menatapnya begitu serius, membuat Asisten Jang mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih lanjut.


Bella yang menatap wajah Asisten Jang yang tampak serba salah itu langsung tahu, pasti ini hal penting karena itu Asisten Jang bisa begitu panik.


"Apakah ini hal yang penting Asisten Jang?" Tanya Bella lagi.


"Jawablah, Nona sudah bertanya padamu," kata Angga serius, dia sedikit merasa kesal, kenapa malah bertanya dengan Asisten Jang, bukan padanya?, apa Bella masih marah?.


"Eh ... Tuan Robert adalah salah satu rekan bisnis yang memiliki bisnis yang sangat menguntungkan untuk perusahaan kita Nona, jika kita membatalkan kerja sama, maka perusahaan kita akan kehilangan kesempatan yang sangat besar," kata Asisten Jang dengan sangat detail.


"Benarkah?" kata Bella menatap Angga.


Angga menatap Bella, lalu mengangguk.


"Kalau begitu kau harus pergi ke sana dan menemui dia." kata Bella lagi.


"Kau harus ikut kembali ke rumah."kata Angga menatap Bella dengan serius.


Bella terdiam, dia tidak ingin pulang dulu, dia harus menuntaskan semua masalahnya dengan ibunya dan Mika, jika dia pulang, dia takut Mika membawa ibunya pergi menghilang dan Bella akan kesusahan lagi mencarinya, dia tidak mau lagi kehilangan ibunya, membiarkan sakit ibunya bertambah parah dan membiarkan hidup ibunya dalam kesengsaraan lagi, dia tidak akan bisa tidur nyenyak selamanya.


"Biasakah aku tidak pulang?" kata Bella lagi.


"Tidak." kata Angga tegas, menatap Bella tajam.


"Tapi kalau aku pulang, aku takut ibu akan di sembunyikan oleh Mika," kata Bella mencoba menjelaskan apa yang dia pikirkan.


"Tapi jika kau di sini, akan sangat berbahaya, Aksa pasti tahu kau di sini,"


"Ehm, apa tidak bisa jika menyuruh orang lain menjaga ku? para tentara, atau Jofan?" kata Bella mencari-cari cara agar Angga bisa kembali dengan tenang.


"Jofan sedang memiliki kesibukan lain, dan aku tak percaya dengan penjagaan yang mengandalkan mereka," kata Angga lagi benar-benar tak bisa di bantah.


Bella diam, dia memutar otak lagi, apa memang dia harus pulang?, tiba-tiba dia ingat seseorang.


"Bagaimana dengan Kak Daihan?" kata Bella nyeletuk begitu saja. Mendengar itu Angga langsung tampak kesal.


"Kau ingin Daihan yang menjagamu?"


"Bukan, bukan itu maksudku, aku hanya ingin tetap bisa memantau ibuku dari dekat, dan aku ingin kau bekerja dengan tenang."


"Aku tak akan tenang jika Daihan di sini."


"Kalau aku bisa mencoba menerima bahwa kau mengatakan tidak punya perasaan dengan Mika lagi, kenapa kau tidak percaya aku dan Kak Daihan tak akan ada hubungan apapun? lagi pula aku tidak punya perasaan apapun pada Kak Daihan," kata Bella menatap Angga lagi, mencoba sekali lagi.


Angga tak suka, tentu saja, dia tahu percis bangaimana perasaan Daihan pada Bella, apalagi Daihan masih belum menyerah walaupun tahu Bella sekarang adalah wanitanya, tapi meninggalkan Bella sendiri pun bukan pilihan yang tepat, jika dia tidak pergi, selain dia akan sangat rugi, Bella pasti kecewa padanya.


Angga mengertakan giginya, lalu melirik Asisen Jang.


"Siapkan heli untuk menjemput Daihan." kata Angga dingin, Angga lalu mengambil Handphonenya, dan menelepon seseorang.


"Daihan ... Aku ingin minta tolong untuk menjaga Bella," kata Angga melirik Bella yang tampak memperhatikan Angga.


"Baiklah, Heli akan datang secepatnya," kata Angga lagi, dan langsung menutup panggilannya.


Angga melempar Hanphonenya di meja dengan sedikit kasar, mukanya kesal.


"Apa kau sudah senang?" kata Angga lagi.


"Terima kasih, aku janji, aku dan kak Daihan tak akan melakukan apapun yang membuatmu marah,"


"Ku harap itu benar," ketus Angga.


Bella hanya tersenyum sedikit, tapi Angga hanya melirik Bella, tak bisa tersenyum.


"Judy, belikan Nona Handphone dan kabarkan apa pun terjadi pada mereka, kau hanya menerima perintah dariku, jika Daihan melakukan hal yang tidak seharusnya dalam menjaga Bella, laporkan semuanya padaku," Kata Angga berdiri tampak tak bisa tenang.