Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
225



Bella terbangun dengan gulungan selimut yang menutupi tubuh polosnya, dia lalu ingat kemarin dia bertemu dengan Angga, dia segera melihat ke sebelahnya, menangkap wajah Angga yang masih dengan tenang tertidur, ternyata semua ini bukan hanya mimpi, Bella tersenyum senang melihat wajah suaminya, hangat tubuh Angga masih terasa menyelimutinya, Napasnya teratur menandakan dia masih tidur, Bella terus melihat wajahnya, rasanya tak jemu-jemu melihatnya.


Dia tidak tahu, apakah karena memang sedang mengandung seorang ibu jadi susah untuk tidur, atau karena memang dalam 5 bulan ini dia tak bisa tidur karena memikirkan Angga, namun Angga sekarang di sampingnya, dia tetap tidak bisa tidur dengan lelap. Bella menggapai sweater Angga yang kemarin dia pakai, lalu memakainya kembali, setelah itu kembali berbaring mengarah wajah Angga.


Bella lalu menyentuh wajah Angga, seolah sekali lagi ingin memastikan, pria di sampingnya ini bukan hanya halusinasinya semata. Wajah tampan itu terpahat sempurna, lekuk mata, hidung, bibir hingga betapa halus dan putihnya wajah Angga, Bella sangat berharap jika nanti anaknya lahir, wajahnya akan sesempurna ayahnya.


Angga tampak sedikit terganggu oleh ulah istrinya, hingga wajahnya yang tadinya tenang tertidur, jadi sedikit mengerut, melihat itu Bella merasa sedikit lucu, dia jadi tertawa sendiri, mendegar tawa kecil Bella, Angga membuka matanya perlahan, melihat wajah senang istrinya karena sudah berhasil menganggu tidurnya.


Angga hanya menatap Bella, setiap kali dia ingin membuka mata, pemandangan ini lah yang selalu menjadi bayang dan angannya, tidak di sangka dia akhirnya bisa benar-benar bisa melihat wajah indah ini sekarang.


"Sudah … pagi? " kata Angga mencoba melihat ke arah jamnya.


"Belum, masih terlalu pagi untuk bangun, mungkin masih jam 3, "kata Bella. Angga yang baru selesai melihat jam mengerutkan dahi, benar masih jam 3 lebih, kenapa Bella sudah bangun?


"Kenapa … aa," kata Angga berusaha melanjutkan kata-katanya, namun terasa sulit, bahkan tidak ada kata-kata yang keluar, Bella mengerutkan dahi, berusaha untuk mengetahui apa yang di katakan oleh Angga.


"Kenapa aku sudah bangun? " tanya Bella mencoba mengkonfirmasi.


Angga segera mengangguk, melihat kedua bola mata istrinya yang indah, tetap menawan walau pun dengan wajahnya yang sembab, khas baru bangun tidur.


"Tidak tahu, semenjak hamil, aku selalu kesusahan untuk tidur nyenyak," kata Bella lagi meringkuk lebih dekat dengan Angga.


Angga melihat gelagat manja Bella menjadi tersenyum, memeluknya lebih erat, namun hanya sesaat, Angga melepaskan Bella membiarkannya dia tidur di dadanya, tangan Angga kembali mengelus pelan perut Bella, merasa ketagihan untuk mengelus perut buncit Bella, merasakan elusan itu Bella menjadi tertawa, dan untuk pertama kalinya dia merasakan gejolak kecil di dalam perutnya, Bella kaget langsung bangkit dan melihat perutnya, lalu melihat Angga.


"Kenapa? " tanya Angga yang juga kaget karena Bella tiba-tiba terduduk.


"Dia bergerak," kata Bella kaget memegangi perutnya, Angga jadi ikut terduduk, melihat ke arah perut Bella yang lebih kelihatan jika dia sedang duduk seperti ini.


"Kemari," kata Bella, mengambil tangan Angga, lalu meletakkannya ke atas perutnya, sekali lagi bayi di dalamnya bergerak kecil, membuat Bella kaget dan tersenyum bahagia, sayang Angga belum bisa merasakan apapun.


"Terasa?" kata Bella menatap Angga.


"Aku rasa dia senang karena kau mengelusnya, dia senang ayahnya ada di sini, dia belum pernah melakukan itu sebelumnya," kata Bella benar-benar senang, dengan tawa dan senyuman sumringah.


Apa aku boleh melihatnya?, kata Angga mengunakan bahasa isyarat.


"Ya, kalau di sini ada USG kita bisa melihatnya," kata Bella senang, dia sudah bisa membayangkan ekspresi Angga nanti ketika melihat anaknya.


Nanti aku akan memerintahkan untuk menyiapkan mesinnya di sini, gerak tangan Angga kembali.


"Baiklah, apa kita akan tinggal di sini seterusnya?" kata Bella lagi melihat ruangan ini, tempat ini senyap, bahkan hanya terdengar suara dengungan sepi.


Di luar sana aku sudah meninggal, sengaja di akukan seperti itu agar kerajaan sudah tidak merasa terancam padaku, dan mereka bisa lebih longar dalam penjagaan, sehingga kami bisa mencarimu dengan mudah, kata Angga lagi dengan bahasa isyaratnya.


"Jadi benar kau sudah dikabarkan meninggal, jadi bagaimana semuanya?  Pekerjaanmu?  Asisten Jang ?" kata Bella yang tidak melihat  Asisten Jang di penyambutan mereka kemarin.


Raut wajah Angga sedikit berubah sedih, Bella sepertinya tahu apa yang terjadi.


Asisten Jang sudah tewas dalam kecelakaan, kata Angga lagi memberitahukan Bella, Bella langsung terlihat muram, ternyata benar.


"Judy juga sudah tidak ada, aku bahkan tak tahu kemana mereka membuang jasadnya," kata Bella sedih, kedua orang yang selalu membantu mereka itu meninggal mengenaskan karena Bella.


Jangan bersedih, mereka sekarang sudah tenang, aku pastikan keluarga mereka mendapatkan yang sepantasnya, kata Angga lagi dengan bahasa isyaratnya.


"Ya, lalu perusahaan bagaimana?" kata Bella lagi.


Aku mengurusnya dari sini, dan Daihan yang menggantikan aku di sana, aku harap kau bersabar untuk tinggal di sini, setelah semua selesai, aku pasti membawamu pergi dari sini, Angga kembali menjawab dengan bahasa isyaratnya.


"Oh, seperti itu, baiklah, aku akan mengerti, setelah ini ayo hidup tenang, aku sangat menyukai pulau di tempat aku di asingkan, tempatnya tenang dan jauh dari hiruk pikuk dunia, di sana sangat bebas, aku selalu bermimpi kita berdua membesarkan anak kita di sana, bisa kah kita tinggal di sana nantinya," kata Bella menatap Angga.


Angga tersenyum, dia lalu mengangguk dengan mantap. Bella pun langsung tersenyum sumringah, lalu memeluk  tubuh suaminya yang polos, dan menikmati masa-masa mereka berdua, Bella juga membantu Angga untuk melatih kata-katanya, mecoba mengulangi beberapa kata, hingga pagi menyingsing di atas permukaan bumi.