Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
180



"Madeline!" kata Jofan kaget melihat adiknya yang telihat hampir bertelanjang dada, bajunya sudah sampai ke perutnya.


Bella segera memalingkan wajah Angga yang sedang menatap Madeline, Angga langsung sadar, sebenarnya dia tidak tertarik dengan tubuh Madeline, hanya kaget bagaimana  Asisten Jang bisa di sana dengan Madeline yang bahkan hampir telanjang seperti itu. Tapi setelah melihat Bella dengan wajah malasnya, Angga segera pura-pura batuk, lalu baru ingat kalau ada Tuan Robert juga ada di sana.


"Tuan Robert, maaf, sepertinya Anda harus datang lain kali," kata Angga mengarahkan Tuan Robert yang masih tercengang apa yang dilihatnya untuk keluar dari ruangan Angga segera.


Saat Angga mengeluarkan Tuan Robert, Daihan dan Nakesha datang segera.


"Aku mendengar teriakan, " kata Daihan cemas. Angga hanya menatapnya, lalu melihat Tuan Robert yang masih bingung.


"Tuan Robert, maaf, saya harus meninggalkan Anda dulu," Kata Angga, dia memberi gestur untuk Daihan dan Nakesha mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.


Jofan segera membuka jasnya, lalu memakaikanya pada Madeline segera, wajah Jofan benar-benar merah, malu sekaligus marah pada Madeline.  Asisten Jang juga segera bangkit.


"Kita harus bicara!" kata Jofan pada adiknya lalu melihat ke arah  Asisten Jang. Mereka segera duduk di salah satu sofa di sana. Angga membuka pintunya, melihat Bella sebentar sebelum dia masuk.


"Apa sudah di tangani? Daihan dan Nakesha ada di sini," kata Angga pada Bella.


"Sudah, masuk lah, "kata Bella menatap suaminya yang minta izin untuk masuk.


"Baik."


Angga membuka pintu, dia lalu masuk di ikuti oleh Daihan dan Nakesha.


Angga lalu melihat Jofan sedang duduk di salah satu sofa yang ada di sana, menatap marah pada adiknya yang duduk di depannya, sedangkan  Asisten Jang sedang berdiri di depan Jofan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" kata Jofan dengan nada marah dan kesal.


Madeline hanya menunduk di depan kakaknya, tidak berani menjawab pertanyaan Kakaknya, apalagi  Asisten Jang yang merasa dirinya hanya  Asisten di sana.


" Asisten Jang apa yang terjadi di sini? " kata Angga langsung bertanya, dia merasa  Asisten Jang adalah  Asistennya, jadi dia juga harus ikut campur dalam hal ini.


Asisten Jang langsung melihat Angga yang ikut duduk di sofa itu, wajah Angga sangat serius, dia lalu melihat Mediline yang hanya terdiam dan menunduk, dia yakin ini hanya akal-akalan dari Madeline saja.


"Saya masuk untuk mengambil surat perjanjian Tuan Robert … " kata  Asisten Jang mencoba menjelaskan, namun segera dipotong oleh Madeline.


"Dia mencoba menyerangku, hingga membuka bajuku sampai begini, "kata Madeline menatap  Asisten Jang sinis, seolah dia benar-benar marah, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi, dia pikir yang masuk tadi adalah Angga, dia langsung menyergapnya dan menciumnya, mendorongnya hingga  Asisten Jang jatuh ke lantai, dia juga menurunkan baju dalamannya hingga baju itu turun meninggalkan branya saja, saat dia membuka mata, ternyata pria itu bukan Angga hingga dia berteriak keras, akhirnya dia tahu sekarang pria itu adalah  Asisten Jang.


"Tidak Tuan, saya tidak mungkin menyerang Nona Madeline, saya baru masuk karena Anda mengizinkan saya mengambil surat perjanjian untuk Tuan Robert, saat saya masuk, Nona Madeline langsung memeluk saya, dan mencium, juga mendorong saya sampai ke lantai,"kata  Asisten Jang membela diri.


"Dia bohong kak, untuk apa menyerangnya, kakak kan tahu bagaimana sifatku, dan tidak mungkin aku mau menyerang pria seperti dia? " kata Madeline mengebu-gebu.


"Namun yang di katakan oleh  Asisten Jang masuk akal, dia ada bersama kita di luar, dan tidak lama suara Madeline berteriak, bagaimana  Asisten Jang dengan sangat cepat menyerang Madeline? " kata Angga menatap Madeline tajam.


"Kak Angga, kau tidak percaya denganku? untuk apa aku menyerangnya, kau tahu kan selama ini pria yang aku inginkan hanya dirimu? " kata Madeline merasa sakit hati karena Angga ternyata tidak mendukungnya. Malah mempercayai  Asisten Jang.


"Madeline apa yang kau lakukan di sini? kenapa kau berdandan seperti ini? apa sebenarnya kau ingin menjebak suamiku? " kata Bella masuk dalam pembicaraan ini, dia berdiri di samping sofa Angga, Angga dan Jofan menatap Bella.


"Apa maksudmu? kenapa kau malah menuduhku yang bukan-bukan, kau memang wanita yang licik! " teriakan Madeline mengisi seluruh ruangan kerja Angga, Angga membenci suara keras, namun dia mencoba meredam kesalnya karena masih menghargai Jofan, namun mendengar istrinya di sebut wanita licik, emosi Angga jadi tidak bisa terbendung,


"Madeline jaga bicaramu pada istriku!" kata Angga mengelegar, namun dia hanya duduk tenang, mendengar itu Madeline terdiam, Bahkan Nakesha yang hanya melihatnya saja begitu emosi melihat Madeline.


"Madeline, aku tidak menuduhmu, kau ada di dalam sebelum  Asisten Jang masuk, sedangkan  Asisten Jang masuk ke dalam hanya beberapa menit sebelum kami mendegar suara teriakanmu, selain itu dia tidak akan punya waktu banyak untuk melepaskan bajumu hingga seperti ini, dan lagi, bagaimana  Asisten Jang bisa menyerangmu di sini, tapi baju dan tasmu ada di meja Angga? " kata Bella perlahan-lahan menjelaskan pada Madeline dan semua orang yang ada di sana.


Jofan langsung berdiri, melihat ke arah meja kerja Angga, di atas meja kerjanya terlihat baju Madeline dan tasnya. Jofan langsung melihat adiknya dengan tatapan kesal.


"Madeline, sebenarnya yang ingin kau serang adalah suamiku kan? " kata Bella lagi. Mendegar kata-kata Bella, Angga merasa senang tapi dia hanya menaikkan sudut bibirnya saja, istrinya pintar sekali.


"Kau hanya asal berbicara, mana mungkin aku melakukan hal murahan begitu walau pun aku sangat ingin memisahkan kalian berdua, " kata Madeline tetap mengelak.


" Asisten Jang, buka rekaman CCTV ruangan ini, aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, " kata Angga dengan sangat dinging.


" Ruangan ini punya CCTV? " kata Madeline berubah menjadi pucat.


"Tentu, tidak mungkin aku membiarkan ruanganku tidak memiliki CCTV," kata Angga, Asisten Jang segera melangkahkan kakinya.


"Tidak perlu, aku tidak ingin melihat apapun, aku akan pergi sekarang. " kata Madeline mengambil blazer dan tasnya dari meja Angga lalu segera meninggalkan ruangan itu, tak menatap sama sekali pada mata-mata yang menatapnya heran di dalam sana, bahkan dia membanting pintu ruangan Angga.


" Asisten Jang maafkan kelakuan adikku, Angga dan Bella, aku sungguh minta maaf soal ini, aku pastikan hal ini sampai kepada orang tuaku, " kata Jofan yang hanya bisa meminta maaf melihat kelakuan adiknya.


"Tidak apa-apa," kata Bella dengan senyuman.


"Ah, aku tidak habis pikir, kepalaku langsung sakit sekarang, " kata Jofan menghempaskan tubuhnya kembali ke sofa,


"Kau harus menjaga adikmu dengan baik, dia mulai bertindak nekat, "kata Daihan baru berani masuk dalam pembicaraan, dia segera duduk di depan Jofan.


"Hei, kau juga melihatnya? " kata Jofan menatap Daihan. Jofan baru sadar Daihan ada di sana.