
*I**ni aneh? Kau tak melakukan apapun padaku, tapi kenapa aku begitu merindu*?'
____________________________________________
Angga baru sampai di rumah jam 7 malam, dia segera keluar begitu pintu di bukakan oleh pelayan, dia lalu melihat Bella yang sudah menunggunya di pintu masuk, terlihat sangat cantik seperti biasanya, ternyata 3 hari tidak melihatnya membuat Angga sangat senang ketika melihat senyuman Bella yang sangat hangat menyambutnya pulang, dia lalu segera mendatanginya.
Bella pun begitu, begitu melihat mobil Angga masuk dan terparkir di depan pintu utama, dia tampak gugup, senyum manis tak lepas dari bibirnya, entah kenapa? Mungkin karena sudah 3 hari tidak melihat Angga sama sekali, dia begitu antusias, begitu melihat pintu dibukakan, dan melihat Angga turun dengan perlahan, dia malah semakin sesak, apa lagi melihat wajah Angga dan Angga menatapnya, rasanya napasnya langsung berhenti di tengorokannya, begitu gugupnya dan hanya bisa tersenyum, namun matanya tak bisa lepas dari wajah Angga yang tampan dan dingin itu.
"Sudah lama menunggu? " kata Angga pada Bella, ada nada senang di suaranya.
"Baru saja, begitu Asisten Jang mengatakan kalian akan pulang, kami langsung ke sini, " kata Bella menatap mata Angga yang hitam itu.
"Baiklah, tunggu di ruang makan, aku akan datang sebentar lagi, " kata Angga yang
seperti berbicara dengan bawahannya.
"Iya," kata Bella patuh.
Bella menunggu Angga di ruang makan, tak lama Angga turun, tampak lebih santai dengan sweaternya, lalu setelah itu mereka makan seperti biasa dalam keheningan, Bella hanya sesekali curi-curi panjangan pada Angga, karena rasanya dia belum puas menatap pria itu. Setelah itu mereka berkumpul di ruang tengah, Asisten Jang dan Judy juga ada di sana.
"Kau tahu, hari ini aku bertemu dengan Sania, " kata Bella begitu semangat menceritakannya pada Angga, dia sudah menyimpan ini dari tadi, sudah tak sabar untuk menceritakannya pada Angga.
"Sania?" kata Angga yang tetap tenang seperti gayanya.
"Iya, wanita selingkuhannya Aksa," kata Bella dengan mata berapi-api.
"Lalu? Kenapa tidak menghubungiku?" kata Angga menangkap semangat itu dari diri Bella.
"Bukan aku tidak mau menghubungimu, tapi aku ingin melihat apakah aku sudah bisa mengatur diriku, karena itu aku putuskan untuk tidak menghubungimu, lagi pula ternyata aku tadi bisa mempermalukannya, aku puas sekali, awal yang baik bukan? Angga, sepertinya aku sudah siap untuk melakukan pembalasan pada mereka," kata Bella lagi.
Angga mengangkat sedikit sudut bibirnya, lalu menadahkan tangannya ke belakang, Asisten Jang yang mengerti langsung memberikan apa yang Angga inginkan.
"Tadi siang Aksa mendatangiku, dia menyerahkan in penasaran denganmu, karena pertermuan kita saat di Central Park kemarin, " kata Angga meletakkan undangan dari Aksa di meja yang ada di depan mereka, Bella melihat itu langsung membacanya, undangan pesta menyambut tahun baru, Bella pernah mendengar tentang pesta ini sebelumnya, hanya saja dia tidak pernah di undang atau di bawa ke pesta itu.
"Aku rasa itu momen yang pas untuk kau mucul di depan mereka, " kata Angga lagi dengan senyum sinisnya.
"Ya, itu ide yang bagus, " kata Bella setuju.
"Baiklah, Asisten Jang katakan pada pihak istana, aku akan datang, " kata Angga lagi.
"Baik Tuan, " kata Asisten Jang.
Bella masih memperhatikan undangan itu, namun sebenarnya pikirannya terbang jauh, dia membayangkan bagaiman wajah Aksa nantinya ketika melihat dirinya masih hidup, apa akan sama seperti Sania tadi pagi?, Bella akan menikmati setiap eksperesi kaget, cemas dan takut dari mereka.
"Sudah malam, tidurlah di sini jika kau mau? " kata Angga.
"Baiklah, aku akan menginap malam ini, " kata Bella senang, dia memang sedikit kesepian di sana.
" Asisten Jang, Judy, kalian sudah boleh istirahat, " kata Angga lagi.
"Selamat malam, " kata Angga berdiri lalu meninggalkan Bella begitu saja, Bella menatap kepergian Angga, dia hanya tersenyum sedikit, melihat punggung Angga yang semakin menjauh, ada perasaan hangat di hatinya.
Bella keluar dari kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, dia kira dia akan bisa tidur dengan cepat di kamar itu, nyatanya dia malah tidak bisa menutup matanya sama sekali, dia berjalan menyusuri rumah yang remang-remang, dia lalu berjalan ke ruang tengah, saat sampai di ruang tengah dia kira ruangan itu akan kosong, tapi dia salah, dia menangkap sosok Angga yang sedang berdiri menatap ke arah dinding kaca dan dinding yang di penuhi oleh tumbuhan itu, dia tampak sedang melamun, hingga tak menyadari kedatangan Bella.
Bella awalnya ingin menyapa, namun di urungkannya karena Angga benar-benar tampak menikmati waktu sendirinya, jadi dia putuskan untuk kembali saja ke kamarnya, tapi karena tidak hati-hati kakinya malah membentur kaki sofa yang terbuat dari besi itu, cukup keras terkena mata kakinya.
"Ouw!" kata Bella refleks mengatakannya.
Angga yang mendengar itu langsung melihat ke arah Bella yang sedang kesakitan memegangi kakinya, Angga lalu mendekat, mungkin karena kulit Bella terlalu putih, mata kaki Bella langsung memerah walaupun sekarang sudah tidak begitu sakit lagi.
"Duduklah," kata Angga dengan wajah sedikit cemas. Bella yang melihat Angga begitu langsung menatapnya.
"Oh, ini sudah tidak apa-apa, tidak sakit lagi kok," kata Bella sungkan.
"Duduk saja dulu, aku ingin lihat," kata Angga lagi, mau tak mau Bella mengikutinya.
Setelah Bella duduk, Angga berjongkok untuk melihat ke arah kaki Bella, melihat Angga yang melakukan itu, tiba-tiba Bella menjadi sangat gugup, suhu tubuhnya sepertinya naik lagi, sekarang dia merasa sangat gampang demam dan sesak napas, sepertinya aku harus pergi ke dokter?, itu yang ada di pikiran Bella sekarang. Angga lalu ingin memegang kaki Bella, namun Bella segera menariknya.
"Kemarikan," kata Angga melihat ke arah Bella.
"Ini beneran sudah tidak sakit kok," kata Bella lagi mencari alasan.
Angga tak menjawab, hanya memasang wajah dingin dan kesalnya, kalau dia bilang kemari, seharusnya Bella langsung memberikan kakinya, melihat di tatap seperti itu Bella jadi takut, dia lalu memberikan kakinya.
Kaki Bella tampak memerah, Angga memegang kakinya, menaruhnya di pahanya sebagai tumpuan, lalu dengan sangat perlahan dan lembut Angga menekan mata kaki Bella yang memerah. Bella hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Angga, dia terdiam, setiap sentuhan lembut Angga membuat tubuhnya tersengat, napasnya sekarang sangat berat, membuat dia benar-benar kepanasan, pasti suhu tubuhnya sekarang sudah 40 derajat.
"Apakah sakit?" kata Angga, ada sedikit kelembutan dari nada bicaranya, Angga menatap Bella, Bella pun menatap tepat ke mata Angga yang sekarang tampak cemas, mata hitamnya sungguh indah, pantulan wajah Bella yang terdiam terlihat, Bella seolah terperangkap sangat dalam, hingga tidak bisa keluar lagi, dia benar-benar hanya diam dan menatap Angga.
"Sakitkah?" kata Angga lagi mengembalikan Bella ke sana.
"Oh, tidak, ini tidak sakit, hanya memerah saja, " kata Bella buru-buru dengan gugupnya.
"Baguslah, " kata Angga, lalu dengan perlahan mengembalikan kaki Bella, setelah itu dia berdiri, menatap Bella yang juga terus menatapnya, seolah wajah Angga memiliki daya magnetnya hingga Bella tidak bisa berpaling.
"Kenapa belum tidur, ini sudah larut sekali?" kata Angga lagi.
"Mungkin karena terlalu lama tidur siang," kata Bella mencari alasan, padahal dia tidak tidur siang sama sekali.
"Oh, baiklah," kata Angga duduk di salah satu sofa yang ada di dekatnya.
"Terima kasih ya," kata Bella.
"Lain kali harus hati-hati, jika kau terluka, lusa rencana kita akan gagal," kata Angga kembali lagi menjadi orang yang tampak dingin.
"Baiklah, ehm, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" kata Bella.