
Bella bangun sendiri, perlahan membuka matanya, melihat ke sebelahnya, Angga sudah tidak ada, dia lalu melihat ke sekeliling, di sebelahnya ada kertas, dia mengambilnya, ada pesan dari Angga, mengatakan dia sengaja tidak membangunkan Bella, dan mungkin saat dia bangun Angga sudah pergi ke kantor. Bella tersenyum sedikit melihat tulisan tangan Angga, rapi dan tegas, seperti orangnya.
Bella memperhatikan jam, jam 8, Angga pasti sudah pergi kerja.
Bella turun dari ranjangnya, lalu berjalan keluar kamar Angga, dia perlahan turun dan ingin kembali ke kamarnya, tapi saat dia baru saja sampai di lantai 1, matanya langsung tertuju pada sosok yang sedang berdiri di ruang tengah itu, seorang wanita, tubuhnya kurus, sepertinya Bella pernah melihat wanita itu.
"Maaf Nona Madeline, Tuan Angga tidak bisa dihubungin, beliau sudah pergi kerja dari jam 7 tadi pagi. " kata Judy yang sepertinya memberikan kabar untuk Mediline.
Mata Bella terbelakak, Medeline? Bagaimana dia bisa datang pagi-pagi begini?, Bella tidak ingin berurusan dengan Medeline, jadi pelan-pelan dengan sedikit berjinjit Bella kembali ingin naik ke atas, tapi entah bagaimana, mungkin instingnya kuat, Mediline langsung melihat ke arah Bella.
"Kau? Siapa kau?" kata Medeline yang membuat langkah Bella terhenti. Bella dengan canggung berbalik dan tersenyum pada Medeline.
"Oh, Hi, kita pernah bertemu di restoran." kata Bella seadanya, menutupi kegugupannya.
Medeline mengerutkan wajahnya. Iya, dia akhirnya ingat dengan Bella. Wajahnya langsung menatap Bella dengan tatapan tidak enak.
"Sedang apa kau pagi-pagi ini di sini?" kata Medeline sedikit galak, Bella mengerutkan dahinya? Kenapa dia yang bertanya? Seharusnya Bella yang bertanya itu padanya, pagi-pagi sudah bertamu di rumah seorang pria.
"Ehm… " kata Bella bingung ingin menjelaskan, kalau dia tinggal di sini.
"Kau kenapa ingin pergi ke atas, kau tidak tahu itu ruang pribadi kak Angga?" kata Medeline sepertinya sangat kesal melihat Bella pagi-pagi ada di rumah Angga.
Bella kembali diam, dia tidak tahu semalaman Bella tidur dengan Angga di atas?.
"Selamat pagi Nona, Tuan Angga mengatakan untuk tidak membangunkan Nona, Tuan Angga juga mengingatkan Anda agar tidak lupa sarapan?" kata Judy sedikit menegahi keadaan itu.
"Oh, iya, terima kasih Judy, aku tidak akan lupa sarapan." kata Bella dengan senyuman manisnya, mendengar itu kerutan di dahi Medeline tambah banyak.
"Kau tinggal di sini? apa hubunganmu dengan kak Angga?" kata Medeline dengan ketus.
"Aku hanya menginap di sini untuk sementara, tentang hubunganku itu bisa di tanya kan saja pada Angga, "kata Bella tidak tahu harus menjelaskan apa dengan Medeline.
"Nona, Tuan Angga baru saja memberikan pesan, dia ingin makan siang bersama Anda, Tuan Angga akan menjemput Anda, beliau mengatakn untuk bersiap-siap." Kata Judy lagi, seakan tahu kesusahan Bella.
"Oh, baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Judy, apakah sarapanku sudah di siapkan?" kata Bella.
"Tentu Nona." kata Judy.
"Baiklah, sekali lagi saya permisi." Kata Bella tersenyum pada Medeline. Medeline hanya terdiam, menggertakan giginya.
"Apa tidak ada pesan untukku?" kata Medeline melihat Judy.
"Sampai sekarang tidak ada Nona, Tuan hanya mengatakan dia sedang sibuk sekarang, permisi Nona, saya harus menyiapkan keperluan Nona, permisi." kata Judy sopan, mendengar itu, Medeline makin emosi, tapi dia dari keluarga terpandang, dia diajari bagaimana cara mengatur emosi dan kelakuannya, karena itu dia hanya diam saja, meredam semuanya.
Bella duduk di tempat biasanya dia duduk, Medeline dengan percaya diri duduk di tempat biasa Angga makan.
"Nona, Anda juga ingin sarapan juga?" kata Bella berusaha basa basi yang tidak perlu.
"Tidak." kata Medeline dengan singkat padat dan jelas, dia cocok sekali menjadi Angga versi wanita, pikir Bella.
"Baiklah, saya sarapan dulu." kata Bella seadanya, mengambil roti yang sudah terhidang, memakannya perlahan.
Medeline memperhatikan Bella lekat-lekat, di perhatikan seperti itu tentu Bella salah tingkah, dia hampir tak bisa menelan makanannya.
Medeline menemukan kemiripan Bella dengan Mika, selain gaya rambut, tahi lalat di bawah matanya pun sama.
"Kenapa Nona, Anda memandang saya seperti itu?" kata Bella yang sedikit kesal oleh tingkah Medeline.
"Sejak kapan kau kenal dengan kak Angga?" kata Medeline tetap dengan tatapanan serius nan sininsnya itu.
"Beberapa bulan yang lalu."
"Oh, kau tahu foto gadis di ruang tengah itu?"
Bella memperhatikan Medeline, dia ingin membuatnya kesal dengan mengunakan Mika ya?.
"Ya, Nona Mika, bukan begitu Nona? " kata Bella.
"Ya, dia sahabatku, dan dia adalah wanita Angga, dari dulu tidak ada wanita yang bisa mengantikannya, bahkan setelah dia meninggal, Angga sama sekali tidak pernah melupakannya, terbukti bahkan sampai sekarang foto itu masih terpampang di sana. " kata Medeline menegaskan agar Bella sadar diri, siapa sebenarnya yang ada di hati Angga.
Bella menarik napas panjang, ada perasaan tidak suka yang timbul, benar kata Medeline, jika di hati Angga sudah ada Bella kenapa foto itu masih saja ada di sana? Bella pun tidak terpikir soal itu, mungkin karena terlalu terbiasa dengan Angga, dia melupakan hal kecil itu, padahal hal kecil itu adalah hal besar yang membuktikan bahwa bagaimana pun wanita itu tetap memiliki tempat spesial di hati Angga.
"Ya." kata Bella hanya tersenyum, menutupi rasa hatinya mulai nyeri.
"Ya, seharusnya kau mengerti, mungkin dia dekat denganmu karena kemiripan kalian, karena di lihat sekilas, gaya kalian memang mirip, tapi apa kau senang dekat dengannya hanya karena kau mirip dengannya? Jika kau tidak mirip dengannya, aku yakin dia juga tidak akan tertarik denganmu." kata Medeline to do point.
Mendengar itu Bella benar-benar tidak bisa menelan rotinya, dia bahkan harus mendorongnya dengan air yang di minumnya, dia mencoba untuk bisa tenang, tapi entah kenapa setiap hal yang berhubungan dengan Angga, dia tidak bisa mengontrol diri dan emosinya.
"Ya, aku sadar itu Nona Medeline, Anda tak perlu memberitahukan saya." kata Bella menatap Medeline dengan tajam, wanita ini ingin menekannya.
"Lalu, kenapa masih dekat dengannya? Apa kau tidak malu? Hanya di jadikan pelarian? Angga itu begitu mencintai Mika, kau tahu, mereka itu sudah ingin menikah, seharusnya mereka menikah di akhir tahun, namun tiba-tiba saja mereka mempercepat pernikahannya, dari 6 bulan lagi menjadi 2 minggu, kau tahu artinya?" kata Medeline tersenyum sinis.
Bella terdiam, soal itu dia tak tahu apapun, yang dia tahu Mika meninggal 3 hari sebelum pernikahan mereka. Tapi soal memempercepat pernikahan, Bella sama sekali tidak tahu.
Melihat reaksi Bella yang terdiam, Medeline cukup puas.