
"Hei, kau siapa?" kata seorang dari mereka, tampak benar-benar seperti seorang preman.
Daihan tak bisa membuang pandangannya dari Nakesha, dia bahkan benar-benar terpaku dengan wanita itu, kenapa begitu mirip? Dia yakin Mika sudah meninggal, dia sendiri yang mengangkat tubuh Mika yang sudah tak bernyawa, dia sendiri yang melihat tubuhnya di kremasi, jadi siapa wanita ini?
"Hei! kau tuli! apa maumu!" kata pria itu dengan emosi menatap Daihan.
"Aku hanya ingin tahu, apa salah wanita ini sampai kalian harus menindasnya seperti ini?" kata Daihan santai.
"Kau ingin tahu, dia ini hutang dengan Bos kami, dan dia sudah tidak bayar lama sekali, sekarang kami ingin mengajaknya bertemu bos kami, karna dia berjanji jika dia tidak bisa membayar, dia akan menjadi istri bos kami. kau sudah mengerti? ini urusan kami, maka pergilah," kata salah satu dari mereka.
"Hei, aku tidak pernah bilang begitu, kapan aku ingin jadi istri bos kalian yang jelek itu, " kata Nakesha lantang, seolah walaupun ada 4 pria yang sudah mengepungnya, dia sama sekali tak gentar.
Daihan menatap Nakesha, merasa perbedaan Mika dan dirinya, wanita ini tampak terlihat tegas, keras dan tak takut apapun, beda dengan Mika yang lembut, walaupun tidak suka hal yang tak baik, tapi Mika bukan orang yang frontal seperti Nakesha.
"Kau diam lah!" kata pria itu membentak Nakesha, bukannya takut Nakesha malah melihatnya dengan tatapan memantang, Berani sekali wanita ini, pikir Daihan.
"Ehm, berapa hutangnya?" kata Daihan
4 pria itu langsung saling melempar pandangan.
"Dia hutang pada bos kami 5 juta! kau punya uangnya!" kata pria itu lagi.
"Aku tak punya uang cash, apa kau punya rekening agar aku bisa membayarnya sekarang," kata Daihan lagi.
Mereka kembali melempar pandangan, orang yang paling dekat dengan Nakesha lalu mengeluarkan handphonenya, menunjukkan sesuatu pada Daihan.
"Baiklah," kata Daihan lansung mengeluarkan handphonenya, mengotak atik sebentar lalu tak lama menunjukkan pada mereka.
"Aku sudah mentranfer 10 juta untuk membayar hutangnya, jika berbunga aku rasa itu sudah cukup, kalau tidak, bagikan saja untuk kalian semua, tapi aku minta kalian jangan lagi memganggu dia, kalau kalian menganggu dia, aku tak akan bersabar seperti ini." kata Daihan,
"Baiklah, " kata mereka melirik Nakesha, Nakesha hanya menatap mereka dengan kesal, setelah mereka pergi, Nakesha mendekati Daihan.
"Hei, Tuan!, apa yang kau lakukan!" kata Nakesha membentak Daihan, Daihan yang melihatnya jadi mengerutkan dahinya, sedikit heran, kenapa dia malah marah?.
Nakesha yang melihat wajah lembut Daihan yang tak membalasnya sama sekali, jadi merasa sedikit bersalah, seharusnya dia berterima kasih.
"Terima kasih, tapi karena kau, mereka pasti akan meminta lebih lagi, dan sekarang aku punya hutang lebih besar lagi, ah bagaimana aku akan membayarnya," kata Nakesha mendumel sendiri, Daihan yang menatap itu malah merasa tingkah Nakesha sedikit lucu, dia jadi tertawa kecil.
"Apa yang kau ketawakan? kau mengejekku?" kata Nakesha lagi dengan wajah kesal.
"Oh, tidak," kata Daihan.
"Ah! sudah jam 4, aku terlambat, kemarikan!" kata Nakesha lagi tampak sudah tak sabar.
"Apa?" kata Daihan bingung
"Nomor Handphonemu, aku akan menghubungimu jika aku sudah punya uang." kata Nakesha lagi terburu-buru.
"Tak perlu, aku ikhlas membantumu," kata Daihan menatap lekat wajah Nakesha, terlintas wajah Mika yang ternyata cukup di rindukannya.
"Kau pikir aku bodoh! mana ada orang di dunia ini mau memberikan uang secara cuma-cuma, apalagi sebanyak itu," kata Nakesha lagi menyipitkan matanya pada Daihan.
"Baiklah, Tuan, eh ... Tuan Daihan, aku akan menghubungimu," kata Nakesha sambil membaca kartu nama itu, setelah itu dia berlalu saja seperti tidak ada apa pun tadi, Daihan menatap ke arah wanita itu lagi, dia bahkan tak memperkenalkan diri. Daihan hanya geleng-geleng kepala lalu pergi kembali ke mobil.
"Bagaimana? kenapa begitu lama kak?" kata Bella yang dari tadi sudah sangat penasaran, menahan dirinya untuk keluar dari mobil itu.
"Dia punya masalah keuangan dengan para pria itu," kata Daihan menatap Bella, dia tersenyum melihat mata indah Bella.
"Jadi dia memiliki masalah keuangan? " kata Bella, hatinya jadi sedih, tentu, dari penampilannya saja Bella tahu pasti Nakesha punya masalah itu, Bella merasa tak enak, seumur hidupnya, dia tak pernah punya masalah dengan uang, dan wanita itu pasti berjuang menghidupi dirinya dan juga ibunya. Sorot mata Bella menyuram.
"Kau benar, dia mirip sekali dengan Mika," kata Daihan lagi.
"Ya, kalau benar Mika sudah meninggal, apakah dia kembaran Mika?"
"Aku belum tahu, Mika berasal dari panti asuhan, tentang bagaimana dia dulu, aku tak tahu,"
"Kita harus cari tahu,"
"Ehm, aku akan menyelidikinya sendiri, kau pulang lah, jika Angga tahu kau keluar begini, semua akan bermasalah, pikirkan Judy dan penjaga yang lain," kata Daihan lembut.
"Ya, kakak benar, sebentar lagi mungkin dia akan menghubungiku," kata Bella sebenarnya masih sangat penasaran.
"Baik kita pulang, besok aku akan pergi mencari tahu tentang dirinya," kata Daihan lagi.
"Ya." kata Bella.
Mobil mereka melaju, lalu kembali ke hotel tempat mereka menginap.
"Istirhatlah, kau butuh banyak istirahat dengan kondisimu yang begini." kata Daihan sebelum berpisah di depan pintu kamar masing-masing, Bella menatap Daihan, kenapa dengan kondisinya?
"Memangnya aku kenapa kak?" kata Bella tak bisa lagi menahan penasarannya.
Daihan yang tadinya sudah hendak masuk, dia lalu kembali melihat ke arah Bella.
"Ya, istirahat sangat diperlukan untuk ibu hamil."
"Hamil?" kata Bella kaget, "Siapa yang hamil?"
"Ehm, bukannya kau sedang mengandung? Angga mengatakannya tadi padaku," kata Daihan menatap Bella dengan wajah bertanya.
"Dia bilang padamu aku hamil?" kata Bella sedikit keras, dia lalu menatap ke sekeliling, ada Judy dan beberapa pengawal di sana yang tampak pura-pura tak mendengarnya.
"Kakak, aku tak hamil, Angga hanya mengada-ngada, apa lagi yang di katakannya?" kata Bella, pantas saja tadi raut wajah kak Daihan terlihat tidak enak, Bella pikir karena masalah penolakan, ternyata gara-gara Angga mengatakan yang tidak-tidak.
"Eh ... dia bilang ... " kata Daihan tak enak mengatakannya karena ada Judy dan lain-lain di sana, Bella tahu apa yang sudah dikatakan oleh Angga.
"Baiklah, tidak perlu di katakan di sini, aku akan menanyakannya langsung pada Angga, dan aku tidak hamil," kata Bella menekankan kata terakhir agar Judy yang lain juga mendengar. Bella langsung masuk saja ke dalam ruangannya, dan berjalan langsung menuju kamarnya, Judy yang lain juga mengikutinya.
Mendengar pengakuan dari Bella, Daihan tersenyum, ternyata masih ada harapan untuknya, dari tadi dia mencoba menjaga jarak dari Bella, tak ingin membuat hatinya sakit lebih dalam, tapi mendengarkan kabar ini, di hatinya kembali semangat. Dia tersenyum manis lalu masuk ke dalam kamarnya.