
Bella penasaran, dia langsung menggeser layarnya ke bawah, mata Bella terbelalak, wajahnya langsung panas, napasnya tertahan, foto Aksa terpampang di sana, Bella mencoba melihat lebih jelas, semakin di lihat semakin dia yakin itu Aksa, ada sebuah tulisan di bawahnya.
‘Namanya Aksa, dan aku tahu dia adalah sepupu Angga. Bagaimana aku bisa menikah dengan Angga jika anak yang ku kandung sekarang adalah anak sepupunya? Aku juga menemui kak Daihan tadi malam, dia tampak begitu acuh, aku mengatakan bahwa aku butuh bantuannya, aku ingin mengaborsi anak ini, tapi dia marah dan menolakku dengan sangat kasar, aku hanya butuh orang yang menerimaku, tapi dia tetap tidak ingin melihatku, aku mengancamnya aku akan bunuh diri jika dia terus begitu, dia tetap saja tak mengubah pikirannya, Aku ingin mati saja sekarang!!!.
Bella masih tidak bisa menahan keterkejutannya, sekali lagi dia melihat foto Aksa, benar ini Aksa, refleks Bella menutup laptop itu, dia mundur hingga punggunya menyetuh sandaran rajang, Bella kaget setengah mati. Mika tidur dengan Aksa hingga dia hamil? Oh! Kepala Bella langsung ingin pecah rasanya, ini alasan Mika bunuh diri, ini alasannya kenapa dia mengakhiri hidupnya. Dia minta tolong dengan Daihan tapi Daihan menolak, jadi selama ini Daihan tahu apa alasannya Mika bunuh diri? tapi dia menutupinya, mungkin agar menjaga nama baik Mika, Bagaimana ini? apakah Bella harus mengatakannya pada Angga? haruskah? Tapi dia berhak tahu agar selamanya dia tidak merasa bersalah, tidak satupun dari cerita itu adalah karena salah Angga. Tidak ada…
Dan bagaimana bisa hidup ini mempermainkan mereka seperti ini? Angga dan Mika akan menikah, tapi Mika hamil anak Aksa, Bella menikah dengan Aksa, tapi Aksa membunuhnya sehingga dia bertemu dengan Angga. Ya Tuhan, kenapa mereka hanya ada di lingkaran yang sama?.
Ah kepala Bella tiba-tiba sangat pusing dan berat, apa yang harus dilakukannya sekarang?.Bahkan hal ini lebih mengejutkan baginya dari pada suara guntur yang mulai bersaut-sautan, di wajahnya yang tampak terkejut itu tampak cahaya kilatan-kilatan petir yang sekarang tampak begitu jelas di luar dinding kacanya. Bella terdiam beberapa saat, mencoba menenangkan isi kepalanya yang kelut gara-gara ini semua.
Tiba-tiba handphonenya bergetar, membuat Bella kaget hingga refleks menjauh dari handphonenya, namun ketika sadar itu hanya sebuah panggilan telepon, dia lalu mengambil handphonenya, melihat Angga di layar handphoneya, dia sedikit gugup, Bella mengangkatnya setelah mengambil napas dalam-dalam.
"Halo?"kata Bella
"Belum tidur?"kata Angga terdengar sedikit kaget.
"E, aku sedang menonton drama, kau juga belum tidur?" kata Bella mencari-cari alasan untuk Angga, dia mengatur dirnya agar tidak terlalu terdengar gugup.
"Baru saja pulang, berhentilah nonton drama dan tidur."
"Ada apa? apa ingin mengatakan sesuatu?" kata Angga, Bella sedikit terkejut, bagaimana Angga bisa tahu?.
"Ah, enggak, ehm… sebenarnya…" kata Bella mengigit bibirnya.
"Katakan saja."
"Ehm, bisakah besok pagi aku ke rumah?. Aku ingin bicara padamu. " kata Bella.
"Tentu, kau hanya izin 1 malam menginap di sana, selebihnya tidak boleh, pulanglah besok, jika penting katakan sekarang saja. "kata Angga.
"Oh, iya benar juga, tidak ini tidak penting, tidurlah, aku juga sudah mengantuk." kata Bella pura-pura menguap.
"Biaklah. Selamat malam."
"Malam." kata Bella menutup sambungan teleponnya. Mukanya masih cemas, tapi menurut Bella sepertinya memang Angga harus tahu ini.