
Hangat tubuh Angga kembali terasa, Bella yang ada di atas tubuh Angga saat ini merasa gugup, wangi segar tubuh Angga yang baru saja mandi tercium, Bella lalu menatapnya dengan salah tingkah.
"Eh... Maaf, kapan aku bisa bertemu ibuku?" Kata Bella malu-malu, Angga tak bergeming hanya menatap terus mata Bella, membuat Bella semakin salah tingkah.
Bella yang bingung berusaha untuk menegapkan badannya, namun baru saja dia ingin terduduk, Angga menarik kembali tubuhnya, sekali sentak saja tubuh Bella jatuh kembali ke atas tubuh Angga.
"Sudah berani mengodaku, sekarang ingin melarikan diri?" kata Angga dengan suara berat namun coba mengoda.
Wajah Bella yang memerah, menatap kembali wajah Angga, sekarang bahkan jarak mereka lebih dekat dari yang tadi. Angga dengan cepat merangkul belakang kepala Bella, membuat bibir mereka kembali bertemu, Bella tentu kaget, dia sudah membangunkan macan tidur, pikirnya.
Angga tampak tak terkendali, mencium Bella dengan ganas dan dalam, menyapu semua yang ada di dalam mulut Bella, segarnya rasa pasta gigi yang digunakan Angga menyeruap di dalam mulut Bella. Angga menyedot seluruhnya, hingga membuat Bella kehabisan napas.
Angga tak puas, dia lalu membalikkan tubuh tanpa melepaskan pautannya dari Bella, Nafsunya yang sudah di tahannya dari tadi siang menguasainya lagi. tak di sangka Bella juga mulai terbawa suasana itu.
Cukup lama berciuman, Angga melepaskan Bella sejenak, sama-sama mengatur napas, Angga tampak terengah, begitu juga Bella, wajah Bella bersemu merah, pipinya terasa sangat panas, apa demamnya naik lagi?.
Angga berada di atas Bella, tak membiarkan Bella untuk bisa kabur, dia membuka sweater creamnya, melemparkannya ke lantai, menunjukkan lekuk tubuhnya yang proposional, Bella yang melihat itu sedikit kaget, apa mereka akan melakukannya? pikir Bella sudah melayang entah kemana-mana, rona wajahnya tambah memerah.
Usia Bella sudah 25 tahun, tahun ini akan bertambah setahun lagi, sudah pernah menikah, tapi untuk melakukan kontak fisik, dia sama sekali belum pernah melakukannya, jadi melihat Angga yang bertelanjang dada di atasnya, Bella jadi gugup bercampur malu. Pantas kan dia memikirkan hal itu sekarang kan?
Angga tak menyia-nyiakan waktu, dia lalu kembali menerkam Bella, menciumnya lebih lembut dari yang tadi, sekarang Bella bisa merasakan hangat nya kulit halus Angga, dengan lekukan lekukan otot yang menghiasi, wangi khas Angga yang membuatnya bisa begitu merasa nyaman.
Tangan Angga menyusuri tubuh Bella dari luar, sedangkan ciumannya berpindah ke telinga, turun menyusuri jenjangnya leher Bella, wangi mawar membuat Angga makin kehilangan akal sehatnya, Bella menegang, sedikit mendesar menerima kelakuan Angga, sangat pelan namun Angga bisa mendengarnya, Angga jadi tersenyum manis, menghentikan sedikit kegiatannya, Bella tadi yang memenjamkan matanya membukanya perlahan, manatap wajah prianya yang begitu tampan, tersenyum manis dengan lesung pipinya.
"Menikahlah dengan ku." Kata Angga sedikit serak, masih memeliki sedikit akal sehat untuk mengatakanya.
Bella menatap Angga, dia ingin lansung mengiyakannya, tapi di otak muncul bayangan yang langsung mengusiknya yang menahan kata 'iya' itu meluncur dari bibirnya.
"Menikah? artinya aku harus mengunakan dokumen dengan nama Mika?" kata Bella kembali ke alam sadar.
"Ya, karna pasti tak bisa menggunakan nama Bella, Bella sudah pernah menikah, dia juga sudah meninggal," kata Angga lagi dengan napas yang masih memburu, mencoba menahan nafsunya sebentar lagi, tak ingin memaksa Bella.
"Kalau begitu aku tak mau." kata Bella tegas, menatap Angga.
Angga mengerutkan dahi, dia mengigit bibirnya, apa yang baru dia dengar? Bella menolaknya, tiba-tiba dia merasa nafsunya hilang berganti amarah, dia kecewa, tak menyangka Bella dengan cepat menolaknya.
Bella yang merasa sudah melukai ego Angga juga langsung terduduk.
"Angga, aku bukan tidak mau menikah denganmu." kata Bella menjelaskan
"Lalu apa? masih ragu dengan ku? atau masih ingin kembali pada Aksa atau Daihan?" kata Angga dengan sorot mata marah.
"Bukan, Aku hanya tidak ingin menikah dengan mu mengunakan nama Mika, aku sudah pernah bilangkan aku benci menjadi Mika." kata Bella lagi bergegas turun dari ranjangnya, menghadapi Angga yang berdiri menatapnya, Bella menghapus ke dua pipinya yang masih terasa panas.
"Lalu apa maumu?" kata Angga lagi, nada bicaranya dingin.
"Aku hanya tak ingin menikah dengan mu mengunakan nama Mika, bagaimana jika kita sudah menikah, Mika kembali, jadi siapa yang kau nikahi? Aku atau Mika? " kata Bella lagi dengan sedikit sedih, dia sudah pernah menikah, jika aka menikah lagi, dia ingin menjadi yang terakhir kalinya, kalau dia menikah dengan Angga mengunakan identitasnya sekarang, entah mengapa Bella merasa bukan dia yang nikahi Angga, dan bagaimana jika benar Mika kembali?.
"Mika sudah meninggal, dia tak akan kembali."
"Aku saja bisa hidup walau terombang ambing di laut lepas, bagaimana lagi dengan dia yang sudah terbiasa dengan laut? kemungkinan dia hidup juga masih ada. Aku ingin menikah untuk yang terakhir kalinya, kalau dia sampai kembali, aku hanyalah orang ketiga."
"Siapa yang akan mengatakan kau orang ketiga? setelah selama ini, kau masih tidak percaya padaku, aku sudah mengatakannya, bahwa walaupun Mika kembali, aku akan tetap memilihmu."
"Kau hanya belum bertemu dengannya, jika dia tiba-tiba ada di depanmu, memelas padamu, apa kau tega untuk menolaknya?" kata Bella dengan keras.
"Baiklah, memang tak cukup hanya mengatakannya padamu, akan aku buktikan nanti jika memang dia kembali." kata Angga dengan tatapan mantap, matanya memerah, ucapan Bella tidak ingin menikah dengannya terngiang terus di pikirannya, hatinya cukup sakit.
"Tidurlah, besok aku akan membawamu menemui Ibumu." kata Angga mencoba meredam rasa sakitnya.
"Angga..." kata Bella sedikit memelas.
"Selamat malam." kata Angga dingin keluar dari kamar Bella, pintu tertutup dengan cukup keras membuat Bella sedikit terkejut.
Salahkah dia tidak ingin menikah dengan nama Mika? dia tidak ingin seumur hidup Angga akan memanggilnya Mika, nama wanita yang pernah ada di hatinya. Bella terduduk di ranjangnya, mengingat sifat Angga yang tak akan bertanya dua kali jika seseorang sudah menolaknya, apa Angga tidak akan mengajaknya menikah lagi?. Tak di sangka air matanya turun begitu saja.
Bagaimana hal bisa berubah dengan sangat cepat, baru saja mereka begitu dekat dan penuh cinta, sekarang hanya ada amarah dan jarak di antara keduanya.
Angga berjalan ke ruang tengah, foto Mika masih tergantung di sana, Angga segera mengambil foto itu dengan emosinya, menatapnya sebentar, lalu mencampakannya sembarang, membuat suara yang cukup gaduh.