
Bella berjalan dengan perlahan, kaki yang menginjak pasir basah sesekali terterpa air laut, dia bahkan sudah lama tidak bisa melihat kakinya ketika berdiri, perutnya yang buncit menghalangi. Semilir angin menerpa wajahnya, menerbangkan rambutnya hingga menutupi wajahnya. Dia benar-benar menikmati waktu berjalan di sepanjang pantai tanpa harus takut apa pun.
Dari kejauhan dia bisa melihat Angga berdiri, sedang serius berbicara dengan para nelayan yang ada di sana, Bella memperhatikan suaminya, kulitnya yang biasa seputih kapas, kini sudah mulai terlihat sedikit kecoklatan, dari orang yang biasanya bekerja di belakang meja dan memegang pen dan kertas, menjadi orang yang bekerja dengan kapal dan juga jaring, dari pria pemilik kapal pribadi, menjadi orang yang hanya mengunakan kapal penangkap ikan, dari pria tampan yang selalu rapi mengunakan jas ke mana saja, menjadi pria yang mengunakan celana pendek dan kaus santai.
Perubahan hidup Angga tampak sekali, dia benar-benar belajar bagaimana bekerja sebagai pengumpul ikan, juga belajar untuk menangkap ikan. Perlahan namun dia sudah mampu beradaptasi, bahkan panasnya matahari di pantai, bukan lagi masalah untuknya.
"Tuan Devan, ikan kita sangat bagus bulan ini,"kata salah satu asisten Angga memberitahu Angga, Angga memperhatikan beberapa ikan yang sudah di kumpulkan oleh nelayan-nelayan lokal, membelinya dengan harga yang cukup tinggi, dan mendistribusikannya ke kota. Itulah pekerjaan Angga sekarang, dan sekarang namanya berubah menjadi Devan, semua ini agar tak ada satu pun yang bisa melecak mereka.
"Baguslah, perhatikan terus kualitas ikannya sampai di tujuan,"kata Angga.
"Baik Tuan Devan, " kata Asisten Angga padanya.
Angga tersenyum pada Asistennya, ini juga perubahan yang lumayan besar di hidup Angga, dia sudah mulai bisa tersenyum dan bisa mengatakan terima kasih untuk semua orang-orang di sampingnya.
"Tuan Devan, sudah saya bilang, Anda lebih cocok tinggal di kota dari pada menjadi nelayan seperti ini," kata Asisten Angga melirik bosnya. Angga hanya sedikit tersenyum sambil melihat ke arah laporan yang di serahkan oleh asistennya lagi.
"Lihat Tuan, Nyonya Alena datang," kata salah satu pegawai yang tadinya sedang mengangkat ikan. Angga langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh pegawainya itu, melihat Bella sedang berjalan mendekat ke arahnya, sedikit perlahan karena cara jalannya yang sedikit kesusahan, Angga langsung mendekatinya.
"Sedang apa kau di sini?" kata Angga melihat Bella yang tersenyum padanya.
"Mengunjungi suami saat dia bekerja, masa tidak boleh?" kata Bella lagi, Bella lalu mengambil sapu tangan yagn selalu di bawanya, dan mengusap wajah Angga yang penuh dengan keringat.
"Di sini panas, ayo berteduh," kata Angga mengenggam tangan Bella, menuntunnya perlahan-lahan, membawa Bella ke sebuah pondok kecil yang ada di sana. Bella lalu segera duduk di sana.
"Dokter menyuruhku untuk banyak berjalan agar saat melahirkan nanti lebih mudah," kata Bella lagi.
"Begitu yah," kata Angga mengambil minuman yang di bawa oleh Bella, langsung meminumnya.
"Selamat siang Nyonya, wah, Anda tampak sangat cantik hari ini," kata Asisten Angga lagi, Angga dan Bella yang mendengar itu hanya tertawa.
"Ini, untuk makan siang kalian, semoga cukup ya," kata Bella menyerahkan bekal beberapa makanan yang tadi di bawanya untuk pegawai-pegawai Angga.
"Wah, benar kan, Anda tambah cantik jika begini, terima kasih Nyonya Alena," kata Asisten Angga.
"Baiklah, kalian boleh istirahat untuk makan siang," kata Angga lagi, sedikit tersenyum.
"Wah, baik bos, terima kasih," kata Asisten itu dengan senyum senang, dia segera menuju kumpulan pegawai-pegawai yang lain.
"Sudah lapar?" kata Bella lagi mengeluarkan makanan Angga.
"Kau membawa makananku juga?" kata Angga tidak menyangka Bella juga membawakannya makan, biasanya dia selalu pulang untuk makan.
"Ya, aku rasa makan di sini akan lebih mengasikkan, di rumah sudah terlalu biasa, " kata Bella lagi sekali lagi menarik napas panjang karena perutnya terasa menyesak paru-parunya.
"Kau yakin tidak apa-apa di sini, di sini sangat panas," kata Angga sambil mulai memakan makanan yang di bawa oleh Bella, sangat berbalik, dulu dia hanya akan makan di meja makan atau restauran mewah dengan suasana sejuk nan nyaman di temani lagu-lagu klasik yang menentramkan, sekarang dia sudah terbiasa makan di mana saja, bahkan di pondok kecil dengan bau amis ikan bercampur air asin, hanya angin sepoi yang menjadi penyejuk, dan lagu dari gesekan-gesekan pelepah daun kelapa yang dihembus angin.
"Tidak, aku sudah makan, Nadia sudah memaksaku makan tadi sebelum dia memperbolehkan aku pergi," kata Bella.
"Vitaminnya sudah di minum?" kata Angga lagi di sela dia mengunyah makanan. Bella melirik ke arah Angga, suaminya sekarang menjadi lebih cerewet, entah kenapa dia jadi rindu dengan sosok Angga yang dingin dulu.
"Sudah," kata Bella seadanya.
"Susu?" kata Angga lagi.
"Hah, sudah, aku sudah meminum semuanya, lihatlah, berat badanku sudah naik 20 kg, kalau aku terus minum susu itu, bisa-bisa aku akan melar terus," kata Bella kesal karena suaminya terus saja seperti itu. Angga yang melihat wajah kesal Bella, langsung tertawa lepas, dia lalu mengusap kepala istrinya, dia suka melihat Bella yang kesal karena dia cerewet seperti itu. Bella tampak memajukan bibirnya, manyun karena tingkah suaminya, ternyata mau Angga pendiam atau cerewet, keduanya bisa membuat Bella kesal.
Pegawai-pegawai yang ada di sana menatap suami istri itu hanya bisa tersenyum-tersenyum sendiri, melihat sepasang orang itu tampak begitu bahagia, walau pun dengan kesederhanaannya.
"Ah, melihat mereka aku jadi ingin cepat menikah," kata salah satu pegawai.
"Haha, jangan menikah cepat-cepat, kau hanya melihat keadaan terbaiknya di luar, kau tidak akan tahu betapa susahnya mendapatkan momen itu, coba saja kalau tidak percaya," kata salah satu pegawai yang lain, yang terlihat lebih tua.
"Itu karena istrimu tak secantik Nyonya Alena," kata pegawai yang lain menimpali.
"Benar, aku ingin cari istri secantik Nyonya Alena," kata Pegawai yang pertama.
"Tapi kau harus merubah wajahmu dulu setampan Tuan Devan," kata Pegawai kedua meledek, mendengar itu semuanya tertawa.
"Baiklah, ayo mulai bekerja lagi," kata Asisten Angga yang bernama Eza bangkit, yang lain mengikuti dengan wajah sumringah.
"Mereka sudah mulai bekerja lagi," kata Bella yang melihat pegawai Angga mulai mengangkati peti ikan ke atas mobil.
"Ya," kata Angga seadanya, mengambil minuman dan segera berdiri.
"Kau juga ingin bekerja?" kata Bella melilhat Angga sudah bersiap-siap.
"Tidak, aku akan mengantarmu pulang dulu," kata Angga menjulurkan tangannya.
"Ehm, aku ingin di sini saja, di rumah kerjaku hanya duduk dan tidur, hari ini aku akan menunggumu pulang," kata Bella.
"Pekerjaan ini bisa sampai sore, apa kau yakin?" kata Angga khawatir.
"Ya, tenang saja aku tidak akan menganggumu kok, aku juga bisa berjalan-jalan santai di pantai ini, ibu yang ingin melahirkan tidak boleh terlalu banyak bermalas-malasan," kata Bella lagi.
Angga melihat wajah Bella yang berharap diizinkan untuk ada di sini, jadi dia hanya mengangguk, Bella langsung tampak senang.
"Baiklah, aku ke sana dulu, akan aku selesaikan secepat mungkin, setelah itu kita pulang," kata Angga.
"Ok, selamat bekerja papa," kata Bella dengan gayanya, Angga jadi tersenyum dan segera berjalan ke arah pegawainya.