Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
130



"Aku tidak suka apapun hal mengenai Mika, pokoknya aku tidak ingin mendengarnya lagi." kata Bella wajahnya masih cemberut


"Tapi kau adalah Mika, bagaimana tidak akan mendengarnya, bahkan kartu pendudukmu saja bernama Mika." kata Angga lembut menjelaskan


Bella menatap Angga, benar juga, sekarang seluruh dokumennya bernama Mika, Bella tak pernah ada.


"Bisakah menganti nama lagi?" kata Bella sedikit sedih, Namanya Bella bukan Mika. menangkap kesedihan itu dari nada bicaranya, Angga sedikit menaikkan sudut bibirnya.


"Untuk saat ini sepertinya tidak bisa, jika aku mengantinya, itu akan menjadi senjata Aksa untuk bisa merebutmu kembali, bisakah menunggu hingga seluruh rencana aku dan Jofan berjalan dan selesai. " kata Angga lagi.


Bella sedikit kecewa, dia benci namanya Mika, karena itu sama saja setiap kali Angga memanggilnya, akan mengingatkan Angga pada Mika, tapi apa yang di katakan Angga pun benar, dia tidak ingin lagi berurusan dengan Aksa apapun yang terjadi.


"Aku benci namaku Mika. " kata Bella lagi, membuang wajahnya.


Angga lalu memegang dagu Bella dengan lembut, mengarahkan wajah Bella kembali menatapnya.


"Mau Bella atau siapapun namamu, kau gadis yang aku cinta sekarang." kata Angga.


Angga mengarahkan bibirnya pada bibir Bella yang hangat, menyentuh bibir Bella yang tipis dan kenyal, menahan semua kerinduan walaupun hanya 1 hari rasanya menyesakkan, Angga benar-benar menikmati sentuhan bibir Bella yang manis, serasa mengalir di seluruh tubuhnya.


Terpaan napas Angga menyentuh seluruh pipi Bella yang halus, kehangatan bibir Angga menyengat seluruh tubuhnya, memberikan rasa aman dan nyaman. Hatinya yang berderu, langsung tenang, Memang hanya Angga lah yang dibutuhkannya.


Napas Angga tenang, seolah menikmati momen ini, cukup lama hanya merasakan sentuhan bibir itu, hingga membuat napasya mulai memburu, namun tak ingin memaksa Bella.


Angga melepasakan bibirnya, namun wajah Angga tetap begitu dekat dengan Bella, bahkan Bella tak bisa melihat wajah Angga secara keseluruhan, mata indah Bella bergerak mengamati setiap inci wajah Angga yang benar-benar dekat dengannya, bahkan hidung mereka saling besentuhan, hembusan napas Angga yang hangat membuat Bella tidak bisa bernapas, napasnya terlalu sesak menghadapi Angga yang sekarang benar-benar di depan matanya.


"Aku minta maaf sekali lagi, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Percayalah, aku hanya mencintaimu." kata Angga pelan, lembut bahkan seperti berbisik pada Bella yang hanya terpaku menatap mata Angga yang sehitam semesta.


"Ya. Tapi hanya kali ini saja, lain kali aku tidak akan memaafkanmu." kata Bella juga perlahan dan lembut, mencoba membuat Angga mengerti apa yang dia ucapkan.


"Tidak akan ada lain kali." kata Angga


Begitu dia selesai mengucapkannya, Angga langsung kembali membekap bibir Bella dengan bibirnya, kali ini dia tidak bermain dengan tenang, dia menciumnya dengan panas dan ganas, menekan bibir Bella dengan sangat dalam, seolah benar-benar ingin menumpahkan seluruh perasaannya yang sudah di tahannya 2 hari ini. hampir saja kehilangan Bella 2 kali dalam 2 hari, cukup membuatnya gila.


Sekarang wanita ini ada di depannya, membuat dia bisa melupakan segala hal, bahkan letihnya saja tak terasa lagi.


Bella sedikit kesusahan untuk mengimbangi serangan yang di berikan Angga, kemampuan mencium Bella kurang tapi dia berusaha untuk mengimbanginya. Tapi Angga benar-benar tidak mau melepaskannya, terus menciumnya dengan ganas, Tangan Angga memegang kepala Bella, membuatnya tetap di tempatnya saat Bella ingin melepaskan dirinya.


Tubuh Bella terasa panas sekarang, bukan seperti terbakar api cemburu yang semalam di rasakannya, sekarang dia benar-benar merasakan panas, suhu tubuhnya langsung meningkat.


Angga menghentikan ciumannya pada Bella karena meresa Bella sudah mulai kesusahan bernapas, memberikan waktu sebentar agar Bella bisa menarik napasnya, Bella mengambil napas panjang, berburu di antara wajahnya yang memerah, namun sama seperti tadi Angga tidak membiarkan jarak di antara mereka, Tangannya di biarkan bersandar di dinding tepat di sebalah kepala Bella.


Mata mereka saling berpaut, tak lama Angga segera menciumnya lagi, tapi kali ini tangan Angga mulai turun menyentuh bagian leher Bella, membuat sentuhan itu terasa menyengat bagi Bella, menegangkan badannya dan seluruh saraf di tubuhnya.


Ciuman angga turun, mencium leher putih Bella yang jenjang. Napas Angga yang memburu, panas menerpa. Bella mengelinjang kegelian, namun seluruh tubuhnya tegang, tak tahan menahan gelinya.


Angga menciumnya perlahan-lahan turun hingga  ke bahu Bella, menghirup wangi tubuh Bella yang semakin membuatnya hilang akal, tangan Angga menyibakkan lengan baju Bella agar dia bisa mencium tulang leher Bella, namun baru saja dia menciumnya, pintu kamar di ketuk. Membuat Bella kaget dan langsung menarik bajunya.


Angga yang terlihat sedikit terganggu itu hanya bisa menahan rasa kesalnya. Menatap Bella yang wajahya sudah memerah.


"Pintu tidak terkunci. Nanti ada yang masuk. " kata Bella yang harus mengatur napasnya, apa yang sudah mereka lakukan tadi? Pikir Bella menatap Angga malu.


" Masuk lah. " kata Angga kesal karena dia benar-benar merasa tanggung melakukan aksinya.


Pintu terbuka. Jofan masuk dan segera melihat Bella dan Angga. melihat keadaan mereka yang gugup dan wajah Bella yang memerah, Jofan jadi tahu apa yang terjadi.


" Eh, maaf, eh… aku hanya ingin bilang, besok aku ingin bertemu denganmu." kata Jofan lagi serasa sudah merusak kesenangan orang lain.


"Tak bisakah kau mengirimku pesan saja? " kata Angga kesal.


Angga melihat Bella lagi, baru saja ingin mendekatinya lagi, tiba-tiba pintu kamar kembali terketuk.


Bella melihat keadaan itu tertawa kecil. Mendengar tawa Bella Angga melihatnya, Angga pun ikut tertawa, padahal dia masih cukup kesal.


"Permisi Tuan, kami ingin memeriksa keadaan Nona, " kata seorang dokter dan perawat yang membuka pintunya.


"Baiklah. " kata Angga benar-benar merasa bingung melampiaskan rasa yang sekarang mengebu di dalam dirinya.


Dokter dan suster segara mendekat ke arah Bella, Bella hanya memperhatikan Angga yang gelisah, melihat tingkahnya Bella jadi tersenyum.


"Aku ke kamar mandi dulu ya. " kata Angga.


"Ya. " kata Bella tersenyum.


Dokter segera memeriksa Bella, semuanya sudah normal, perban di kepalanya pun segera di ganti, lukanya mulai mengering lagi.


"Lukanya sudah kering, tolong jangan terkena air lagi Nona. " kata dokternya.


"Baiklah. "kata Bella


Tak lama Angga keluar dari kamar mandi, tampak rambutnya basah dan wajahnya juga tampak basah, sepertinya dia habis mencuci wajahnya.


"Sudah?" kata Angga dengan suara beratnya, cukup terdengar berwibawa.


"Iya, kata dokter aku tidak apa-apa, lukanya juga sudah kering. " kata Bella lagi.


"Oh, baik lah. " kata Angga, dia lalu duduk di ranjang penunggu di dekat Bella, Bella melihat Angga.


"Ehm, ada yang ingin aku tanya kan? " kata Angga lagi, sepertinya dia sudah tidak memikirkan kejadian mereka barusan.


"Ya, kenapa? "


"Apa pihak kerajaan pernah mengatakan tentang ibumu? "


"Kenapa? "


"Tidak, aku hanya ingin tahu. " kata Angga lagi melirik Bella.


"Ehm, mereka bilang Ibuku menyerahkan aku pada mereka, karena Ibuku ingin yang terbaik untukku. " kata Bella mengingat.


"Lalu? Mereka pernah bicara tentang ibumu lagi? "


"Ya, mereka bilang mereka menjaga ibuku, jika aku sampai gagal menjadi seorang putri, maka kehidupan ibuku akan kembali menderita, ya semacam pertukaran, aku menjadi anak yang baik, maka hidup ibuku akan baik pula. " kata Bella, tampak luka di matanya.


Angga melihat itu jadi mengigit bibirnya, haruskah dia mengatakan sekarang bagaimana ke adaan ibu Bella? Dia pasti sangat terpukul.


"Aksa pasti tahu di mana ibuku. Aku sangat ingin bertemu dengannya. " kata Bella menunduk, bulu matanya yang tebal dan lentik menutupi kesuraman matanya.


Angga memperhatikan Bella


"Jangan bertanya padanya, aku akan mencarikannya untukmu. " kata Angga belum bisa mengatakan hal sebenarnya.


"Benarkah? kau bisa? " kata Bella tidak percaya.


"Akan aku usahakan. " kata Angga lagi, dia benar-benar tidak bisa mengatakannya sekarang, tidak sekarang, dia harus membuat ibu Bella setidaknya lebih baik.