Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
32



Mungkin aku terlihat diam, mungkin juga dingin, namun percayalah, aku orang yang selalu mikirkan cara membuatmu tertawa.


___________________________________________


Angga berjalan dengan cepat di depan Bella, Bella sedikit kesusahan mengejarnya, melihat itu Angga lalu berhenti, agar Bella bisa mengejarnya. Bella lalu tersenyum.


" Kenapa tersenyum?" kata Angga.


"Terima kasih sudah menungguku, dan terima kasih sudah sangat membantuku, akhirnya aku lepas juga dari kacamata dan masker itu, " kata Bella pada Angga.


"Dengan begitu tanggung jawabmu akan lebih berat, jangan terlihat mempermalukan diri sendiri, bersikaplah sesuai dengan yang tertulis di berkas itu," kata Angga menatap Bella tajam.


Benar juga, sekarang dengan tidak mengunakan kacamata dan masker, Bella tidak boleh lagi terlihat memalukan, dia tidak bisa lagi memasang wajah melongonya, dia harus sudah bersikap layaknya seorang Mika, ceria namun juga dewasa.


"Baiklah, akan aku ingat itu," kata Bella lagi.


Angga hanya mengalihkan pandangannya, lalu kembali berjalan, Bella mengikutinya dari belakang.


"Kau harus berjalan di sampingku," kata Angga lagi.


‘Langkahmu dengan ku tidak sama, kau melangkah begitu lebar, aku tidak bisa menyamainya,' kata Bella dengan bahasa Isyarat agar Asisten Jang tidak tahu bahwa dia sedang komplain pada Angga. Angga diam, benar juga...


‘Baiklah aku akan pelan-pelan,‘ Kata Angga membalasnya.


‘Ok‘ kata Bella lagi dengan bahasa isyarat.


Angga mempersilahkan Bella untuk jalan duluan, lalu dia mengikuti langkah Bella. Mereka lalu berjalan menuju ke mobil, dan tak lama meninggalkan rumah sakit itu.


Selama perjalanan mereka hanya diam saja, Bella terus menatap kearah matanya mengunakan ponselnya, jadi seperti ini dia kelihatannya jika matanya sama. Mobil mereka pergi kesuatu tempat yang tampaknya seperti kantor.


Asisten Jang segera membukakan pintu untuk Angga dan lalu membukakan pintu untuk Bella, setelah itu mereka masuk ke dalam kantor itu.


Kantor itu tampak sepi, hanya ada 4 orang yang ada di sana, tentu saja ini kan hari libur, semua kantor seharusnya tutup.


"Selamat Pagi, Tuan Angga," kata seorang pria setengah baya yang langsung menyambut Angga dengan begitu antusias.


"Selamat Pagi," kata Angga dengan wajah dinginnya.


"Apa yang harus saya lakukan pada Anda pada hari libur ini," kata Pria itu dengan senyuman lebar terus ada di wajahnya.


"Aku ingin kalian membuatkan semua dokumen dia atas nama Mika, dan menganti seluruh dokumen Mika dengan fotonya," kata Angga lagi.


Pria itu mendengarkan dengan seksama, lalu melihat kearah Bella, dia lalu menganguk.


"Tenang saja, saya akan melakuan semuanya dengan baik," kata Pria itu yang ternyata Kepala Kantor catatan kependudukan.


"Baiklah, saya akan menunggunya," kata Angga segera duduk di salah satu sofa di sana.


"Iya, Nona, mari ikut saya," kata Kepala kantor catatan kependudukan itu.


Bella mengikuti segala instruksi yang di berikan oleh pegawai yang ada di sana, dia mengisi formulir, menganti tanda tangan, berfoto, memberikan sidik jarinya, semuanya, bahkan dia melakukan pengecekan golongan darah di sana. Setelah menunggu tidak lama hanya 40 menit, semua dokumen itu selasai.


Bella sedikit tercengang, semudah dan secepat itu semua data bisa terganti. Sekarang dia benar-benar menjadi Mika.


"Tuan, Ini semua dokumen yang di butuhkan," kata Kepala itu lagi.


Bella mengikuti Angga yang berjalan menuju keluar ruangan, tapi dia sempat melihat Asisten Jang yang memberikan beberapa lembar kertas kecil pada Kepala itu, dia tampak begitu senang menerimanya. Ternyata, jika kita punya uang, apapun bisa di lakukan, bahkan menganti dokumen seseorang yang sudah tidak ada dan mengantikannya dengan orang lain.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka, di dalam mobil Angga melihat data-data yang di berikan oleh Kepala kantor pencatatan penduduk itu, dia benar-benar orang yang teliti. Setelah dia rasa semua benar, dia lalu menyerahkan semua dokumen itu pada Bella.


"Ini semua data-datamu, simpan dengan baik, sekarang kau sudah benar-benar menjadi Mika, jaga sikapmu," kata Angga lagi berulang kali mengingatkan.


"Iya, aku tau," kata Bella melihat Kartu pengenalnya, baru kali ini dia punya kartu pengenal, dan rasanya cukup senang, namun dia tidak bisa mengekspresikannya di depan Angga.


"Dengan begini, jika Aksa mencari tahu latar belakangmu, yang dia dapat hanya latar belakang dari Mik, makanya kau harus tahu betul latar belakangnya," kata Angga lagi.


"Siap Tuan, aku pasti mengingatnya," kata Angga.


"Jangan panggil aku Tuan," kata Angga lagi.


"Hanya kiasan," kata Bella memasang wajah kesalnya, Angga benar-benar kaku.


Tak lama mereka masuk ke sebuah tempat, di bawahnya terlihat seperti Mall yang besar dan ramai sekali, tapi di atasnya ada bangunan yang menjulang sangat tinggi. Mereka masuk langsung ke parkiran khusus di bagian basement.


Asisten Jang membukakan pintu untuk Angga lalu membukakan pintu untuk Bella, di depan pintu masuknya Bella bisa melihat Judy sudah ada di sana.


"Selamat pagi Tuan dan Nona," kata Judy memberi hormat.


"Sudah disiapkan semuanya?" kata Angga lagi.


"Sudah Tuan, Semua sudah disiapkan," kata Judy.


Angga lalu masuk ke dalam lift yang terbuka, Bella yang masih bingung hanya ikut saja masuk, selanjutnya Judy dan Asisten Jang masuk ke dalam, Judy menekan tombol lantai 30 di lift itu, Lantai paling atas dari gedung itu.


Pintu lift itu terbuka, Judy dan Asisten Jang keluar dan diikuti oleh Angga dan Bella, Begitu pintu terbuka, hanya ada 1 pintu lagi tepat di depan lift itu. Judy langsung membukanya dengan menempelkan kartunya.


"Silahkan Tuan dan Nona," kata Judy.


Angga masuk ke dalam lalu di ikuti oleh Bella, Bella langsung takjub, itu ruangan tamu yang di tata sebegitu indahnya, tampak sangat rapi dan elegan. Dindingnya terbuat dari kaca, menampilkan seluruh pemandangan kota, di sebelahnya hanya tersekat oleh diding kaca terdapat ruang tengah yang sangat nyaman, di sebelahnya ada dapur kecil.


"Ini rumah Mika," kata Angga memperhatikan ruangan itu, sebenarnya dia tidak ingin lagi ada disini, karena bagaimana pun rumah ini membangkitkan semua kenangannya dengan Mika.


"Ini rumah Mika?" kata Bella, dia kira Mika itu tinggal bersama dengan Angga selama ini, seperti dia, tapi ternyata tidak.


"Iya, mulai hari ini kau akan tinggal di sini, dan karena secara sah kau sekarang Mika, ini adalah rumahmu, aku sudah menyediakan 2 pelayan, 2 penjaga, dan juga Judy akan selalu ada di sini bersamamu, " kata Angga menjelaskan.


"Benarkah? Wah..." kata Bella, dia sedikit senang bisa tinggal sendiri, akhirnya akan ada tempat dimana dia bisa menjadi dirinya sendiri, tidak mengikuti aturan apapun, hanya aturannya sendiri.


"Iya, Judy... ajak Nona Mika berkeliling," kata Angga, dia lalu duduk di salah satu kursi di ruang tamu itu.


"Baik, Nona, mari saya tunjukkan kamar Anda, " kata Judy.


Bella dengan antusias langsung mengikuti Judy, Judy menunjukkan kamar utama, kamar Mika dulu, kamar itu luas, ranjangnya juga sangat luas, dindingnya di tutupi wallpaper berwarna abu-abu tua dipadukan dengan warna putih, dinding-dindingnya terbuat dari kaca, di tutupi oleh gorden tipis berwarna putih, sebuah kursi kecil tampak di sebelahnya, Bella bisa membayangkan Mika duduk di sana sambil melihat pemanadangan kota yang tampak indah dari sana. Lemari nya pun tampak luas, sama seperti di kamar Bella, dia menyatu ke dinding dan di baliknya ada sebuah kamar mandi yang di dominasi warna putih, tampak sangat minimalis.


Di sudut ruangan dekat dengan ranjang, terlihat boneka Teddy Bear berwarna cream yang sangat besar sekali, sangat besar bahkan lebih besar dan lebih tinggi dari pada Bella, dia di dudukkan di sudut ruangan itu, bulunya tampak begitu halus, melihat hal itu Bella kaget, matanya berbinar melihat boneka itu dan wajahnya tampak begitu kesenangan. Boneka Teddy bear itu benar-benar lucu.


"Mika juga menyukai Teddy Bear?" kata Bella dengan suara begitu kegirangan.


"Tidak, tadi Tuan Angga menyuruh saya untuk membelikan boneka Teddy Bear untuk Anda agar menjadi teman Anda di sini nanti," kata Judy menjelaskan.