
Jofan baru pulang dari pekerjaannya, turun dari mobil dengan gayanya, dan langsung menyusuri halaman rumahnya yang luas, di beberapa sisinya tampak ditanami oleh bunga-bunga yang indah, tak lama matanya menangkap sosok wanita yang sedang mengurusi tanaman itu, dia tersenyum dan mengalihkan jalannya menuju wanita itu.
"Selamat sore Nona Sania, sedang apa?"kata Jofan.
Sania yang sedang berlutut sambil mengurus tanaman itu langsung menatap ke arah sumber suara, wajahnya sudah tak lagi pucat, dia juga sudah mengunakan topeng seperti biasanya.
"Selamat datang Tuan Jofan," kata Sania buru-buru bangkit, tapi karena terlalu terburu, dia langsung merasa oyong dan pusing.
"Nona, Anda tak apa?" kata Jofan segera memegangi tubuh Sania agar tak jatuh. Sania menunggu sebentar, tak lama keadaannya kembali normal, dan dia baru sadar dia dalam pelukan Jofan, begitu sadar, Sania langsung cepat-cepat melepaskan diri. Merasa kikuk, pipinya memerah.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak apa-apa," kata Sania secepat mungkin. Jofan yang melihat tingkah Sania itu hanya tersenyum manis.
"Tidak apa-apa, tidak perlu begitu sungkan, Nona Sania, aku sudah mengatur semuanya, besok kau akan mulai masuk kembali ke dalam istana," kata Jofan serius.
"Baiklah Tuan," kata Sania lagi menatap wajah Jofan yang menawan.
"Kau akan mendapatkan posisi sebagai pelayan khusus, aku belum tahu percis apa maksudnya, namun sesuai dengan informan di kerajaan, itu sangat cocok untuk tujuan kita di sana," kata Jofan lagi.
"Aku akan berusaha dengan sebaik-baiknya Tuan," kata Sania.
"Tenang saja, aku pastikan keadaanmu akan baik-baik saja di sana, setelah semua informasi itu cukup, aku akan secepatnya mengeluarkanmu dari sana."
Sania tidak membalas ucapan Jofan, hanya tersenyum manis, sayangnya dia tidak punya rencana untuk keluar dari sana, sebelum dia mati, dia hanya ingin membawa Aksa bersamanya ke neraka, setelah dia bisa mendapatkan semua informasi, yang akan dilakukannya adalah membunuh Aksa.
Jofan mengamati mata Sania yang tiba-tiba penuh dengan amarah dan dendam, perasaan Jofan tak nyaman, namun tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, membuat Jofan dan Sania kaget.
Jofan langsung melihat ke belakang, menemukan seorang wanita yang dengan anggunnya berdiri di belakangnya, wajahnya cantik secantik bunga lili, tubuhnya proposional, kulitnya putih bagai proselen, rambutnya yang hitam tergerai indah, gaun biru laut yang digunakannya cocok sekali dengannya, Sania menatap wanita itu, dulu pun dia bisa secantik itu.
"Joana?" kata Jofan kaget.
"Kakak, aku senang kau masih mengenaliku, aku sungguh merindukanmu, kenapa sekarang kau tak pernah menemuiku lagi?" kata Joana begitu lembut, memeluk kembali Jofan dari arah depan, Jofan tampak kaget, dia lalu melepaskan Joana dari pelukkannya, Joana tampak heran.
"Joana, sekarang aku tak bisa bermain-main lagi, posisiku sekarang tidak bisa membuatku bermain-main lagi," kata Jofan lembut.
Sania mendengarkan itu, ternyata Jofan memang lembut dengan semua wanita, pria memang semua sama, tak Aksa, tak Jofan, semua pintar menarik perhatian wanita, pikir Sania tersenyum tipis.
Joana yang mendengarkan perjelasan Jofan cemberut, dia lalu melihat Sania, memandangnya dengan tatapan aneh, siapa wanita jelek ini? pikir Joana.
"Apa yang kau tertawakan?, dasar aneh!" kata Joana ketus merasa di hina oleh Sania. Jofan melirik Sania, dia tak suka Joana mengatakan itu pada Sania.
"Maaf Nona, saya tidak bermaksud apa-apa, Kalau begitu, saya izin dulu, Tuan dan Nona, permisi," kata Sania sadar diri, dia bukan lagi Sania yang dulu.
Joana yang mendengar itu tersenyum senang.
"Sania, di sini saja, jangan pergi, Joana, aku minta kau yang pergi dari sini," kata Jofan dengan suara beratnya, membuat Joana kaget dengan kata-kata Jofan, dia tak menyangka Jofan akan mengusirnya, dan lebih memilih wanita buruk rupa ini.
"Tapi kakak, kenapa kau malah memilih dia?" kata Joana tak terima.
"Joana, aku sudah bilang, statusku sekarang sudah bukan yang dulu lagi, aku harus menjaga reputasiku, jika kau ingin tetap berhubungan baik dengan ku, sekarang pergilah, jika kau macam-macam padaku, aku bisa membuat karirmu hancur seketika," kata Jofan menatap Joana serius.
Joana yang mendapat ancaman itu langsung memasang wajah masam, dia langsung pergi dengan tak rela, Jofan memanggil salah satu pengawal di sana.
"Jangan izinkan siapa pun masuk tanpa izinku, walau pun mereka mengaku punya hubungan dengan ku, satu lagi, ikuti dia 1 minggu ini, pastikan dia tidak melakukan hal macam-macam," kata Jofan tegas.
Setelah penjaga itu pergi, Jofan baru megendurkan wajah seriusnya. Berbalik dan melihat ke arah Sania.
"Maafkan soal tadi," kata Jofan.
"Tidak apa-apa Tuan, Wanita Anda akan sangat marah nantinya jika Anda melakukan itu."
"Dia bukan wanitaku, jadi tak usah khawatir, Nona Sania, istirahatlah, pagi-pagi sekali kau akan di antarkan ke istana."
"Baiklah Tuan, saya permisi dulu, kata Sania memberi hormat, lalu berbalik meninggalkan Jofan dengan langkah sedikit terseok-seok.
Jofan menatapnya dengan nanar, kedua tangannya dimasukkannya ke dalam kantung celananya, merasa dia harus mencari cara agar menyembuhkan Sania secara total, tapi kenapa dia harus seperhatian itu pada Sania, entah lah ... dia pria yang mengikuti intuisinya.
Dia mengambil handphonenya, menelepon seseorang.
"Aku butuh pengobatan untuk Nona Sania secepatnya, berapa pun uang untuk penelitiannya, akan aku siapkan," kata Jofan, tak lama menutup teleponnya, masih menatap arah jalan Sania yang tak lama hilang di balik tembok.
---***---
Bella membuka matanya, melihat jam masih pukul 1 pagi, dari semalam setelah sampai di rumah, dia benar-benar tak bisa memejamkan matanya, setiap kali dia memejamkan mata, dia akan segera terbangun tak lama setelahnya.
Ini hari pernikahannya, bagaimana dia bisa tidur, bahkan sekarang rasanya saja masih seperti mimpi, Bella duduk di tempat tidurnya, memasang lampu tidurnya, memperhatikan cincin berlian yang bersinar di jari manisnya, dia merasa lucu, tiba-tiba saja dia dan Angga akan menikah, bagaimana ini bisa terjadi?.
Bella ingat bagaimana dia dulu menikah dengan Aksa, malam itu dia juga gugup dan takut, takut akan apa yang akan di hadapinya, dia tak punya pilihan untuk membatalkan pernikahan itu, walau tahu Aksa memiliki wanita lain. pengasuhnya pun menekannya, bahkan dia tak bisa tersenyum di acara pernikahannya sendiri yang di penuhi oleh orang-orang yang tak dikenalnya, hanya Aksa yang dia kenal, dan pria itu menatapnya dengan sangat sinis. Foto di surat pernikahan mereka saja menunjukkan betapa Aksa marah padanya.
"Belum tidur?" kata Angga tiba-tiba muncul di pintu, entah sejak kapan.
"Oh, tidak bisa tidur, sejak kapan di sana?" kata Bella sedikit tersenyum.
"Cukup lama untuk melihatmu melamun, apa yang kau lamunkan?" kata Angga menutup pintu Bella lalu segera menuju ke arah Bella, Bella yang tadinya duduk di tengah ranjang, bergeser sedikit ke samping, Angga duduk di sampingnya.
"Tidak ada, aku rasa aku tidak bisa tidur karena terlalu gugup," kata Bella.
"Ya, aku juga. kemarilah," kata Angga mengarahkan Bella agar dia bisa ada di dalam pelukan Angga, Bella pasrah mengikuti kemauan Angga, dan benar Bella langsung menemukan kenyamanannya.
"Jam berapa kita harus ke kantor catatan pernikahannya?" kata Bella lagi sambil menutup matanya, cukup lelah ternyata.
"Jam 9 pagi, karena itu tidurlah."
"Ya, akan tidak bagus di foto jika aku punya kantung mata."
Angga tersenyum, Bella masih saja memikirkan tentang foto pernikahannya.
"Fotonya mau bagaimana pun tak masalah, asalkan surat pernikahan kita selesai dan kau resmi milikku seutuhnya."
"Ya," kata Bella dengan suara mengantuk.
Angga memperhatikan Bella yang sudah memejamkan matanya, napasnya mulai teratur, Angga tersenyum, mengendong Bella sebentar untuk mengubah posisinya dari duduk menjadi terlentang, mengecup dahinya sebentar lalu tidur di samping Bella.
Bella yang setengah sadar hanya tersenyum menerima perlakuan Angga, hingga dia bisa tertidur lelap.