
Bella membuka matanya, dia masih di rawat di ruang rawat rumah sakit pinggiran kota, rumah sakit paling cepat di jangkau dari pulau Albaris, rumah sakit itu tidak terlalu besar, ruangan Bella juga begitu, namun pemandangan dari ruangan itu cukup memanjakan mata, sebuah pantai besar terlihat dari jendelanya.
"Kau sudah bangun," kata Aksa tiba-tiba muncul membuat Bella kaget, namun kegetannya segera di ubahnya biasa saja, mencoba untuk tidak menunjukkan emosinya pada pria ini.
Aksa mengambil air minum kemasan, lalu menyerahkannya pada Bella,Bella yang mencoba untuk duduk perlahan itu mengerutkan dahi, sejak kapan pria ini bisa seperti ini? kemarin saja dia begitu kejam, namun sekarang kenapa bisa pura-pura lembut begitu.
"Aku sengaja memberikan minuman kemasan untukmu, karena jika aku memberikan minuman dalam gelas, dan terjadi apa-apa padamu, kau pasti berpikir aku yang melakukannya, "kata Aksa lagi dengan tenang, tak ada wajah seram yang sering di tunjukkannya, Bella merasa seperti melihat Aksa yang pernah di kenalnya saat remaja. Namun hal itu tidak membuatnya langsung percaya. "Segelnya masih tertutup, coba saja buka," kata Aksa yang tahu Bella melihatnya dengan tatapan curiga.
Bella membuka air putih kemasan itu, dan segelnya memang belum terbuka, dia lalu meminum minumannya, namun tetap tidak ingin kecolongan, dia terus memperhatikan Aksa.
"Apa kau benar-benar terus akan mencurigai aku begitu? "kata Aksa melirik Bella.
"Bagaimana bisa aku tidak curiga, kemarin malam kau bahkan masih menyiksaku,"kata Bella ketus.
Aksa tersenyum tipis, dia tak menjawab, hanya diam menatap Bella, tatapannya sendu, bukan tatapan sinis, tajam dan liar itu. Hal itu membuat Bella merasa makin tak nyaman, dia sudah biasa dengan tatapan bengis Aksa.
"Apa yang kau pikirkan? "kata Bella lagi curiga, pria ini bagaikan serigala berbulu domba.
"Memikirkan bagaimana jadinya jika tadi malam kau benar-benar bunuh diri," kata Aksa lagi dengan lembut.
"Kalau begitu kau akan tenang,"kata Bella asal saja.
Aksa cukup lama tak menjawab perkataan ketus Bella padanya, dia tidak marah atau pun kesal sekarang.
"Bella, aku akan menepati janjiku padamu, aku tidak akan menyentuhmu dan anakmu, tapi aku akan mengirimmu ke pulau pengasingan, karena aku tidak bisa membawamu kembali ke ibu kota," kata Aksa menatap Bella, Bella mengerutkan dahinya.
"Kenapa aku tidak bisa pulang ke ibu kota? "kata Bella.
"Karena selain aku yang kau takuti, sebenarnya ada monster lain yang harusnya lebih kau takuti, dia sudah mengincarmu dari lama, apa lagi setelah dia tahu kau adalah milik Angga dan sekarang Angga sudah tidak ada lagi, dia pasti lebih terobsesi padamu,"kata Aksa dengan lembut, hatinya sakit mengakui bahwa Bella adalah milik Angga, dia benar-benar sudah menyia-nyiakan kesempatannya dulu untuk memiliki wanita ini seutuhnya.
"Apa maksudmu? " kata Bella bingung dengan apa yang Aksa bicarakan.
Bella yang mendengar pernyataan Aksa langsung tersentak kaget, dia baru tahu semua tentang itu, dia kira Aksa membunuhnya karena ingin bersama dengan Sania, tapi ternyata …
"Maafkan aku, seharusnya aku melindungimu dengan cara lain, bukan melenyapkanmu,"kata Aksa dengan tatapan penuh penyesalan, saat membunuh Bella, dia belum sadar ternyata wanita ini yang akan menjadi wanita satu-satunya yang dia cintai, yang akan menjadi kelemahannya, seandainya waktu bisa diputar.
Bella kembali melihat ke arah Aksa, pantas saja selama di kastil, Raja Leonal benar-benar lembut padanya walau pun pembawaannya tegas, dia sering membelai Bella kecil, namun karena Ratu di kabarkan meninggal, dia tidak bisa datang lagi ke sana, dan Bella tak pernah lagi bertemu dengannya.
"Tetap saja walau pun alasanmu membunuhku adalah untuk melindungiku, aku tetap tidak bisa lagi jatuh cinta pada siapa pun kecuali Angga, lagi pula, aku tidak akan pernah lagi jatuh cinta padamu sebaik apa pun kau memperlakukan aku nanti," kata Bella kembali menegaskan perasaannya pada Aksa, seluruh cintanya sudah di serahkannya pada Angga.
Aksa mendengar itu hanya bisa tersenyum kecut, benar-benar sudah tertutup rasa hati Bella padanya, dia memang kasar, dia memang memperlakukannya tidak baik, itu karena dia sangat cemburu, dia cemburu Angga yang mendapatkan cinta Bella, dia cemburu melihat cinta yang terpancar setiap kali Bella menyebutkan nama Angga, dia cemburu karena hanya Angga yang bisa menyentuh Bella, dia benar-benar cemburu akan hal itu, membuat dia memaksa untuk bisa mendapatkan Bella lagi, namun hal itu pula yang membuat wanita ini makin tak bisa menerimanya, walau pun Angga sekarang sudah tidak ada.
" Aku akan melakukan semua yang aku sudah janjikan, tapi aku juga punya permintaan,"kata Aksa pada Bella.
"Apa? "kata Bella bahkan tidak terdengar sedikit pun kelembutannya.
"Jika anakmu lahir, katakan itu anakku, berikan namaku padanya, jangan sampai ada yang tahu dia anak Angga, " kata Aksa lagi dengan serius.
"Bagaimana bisa? Dia anak Angga, aku tidak akan memberikan namamu padanya,"kata Bella keberatan.
"Jika ada yang tahu dia adalah anak Angga, seharusnya kau tahu bagaimana keselamatannya nanti, sebelum aku jadi raja, tidak akan ada yang bisa menghentikan ayahku,"kata Aksa.
Bella terdiam, benar juga, jika dia memberitahukan bahwa anak ini anak Angga, bisa saja Raja Leonal akan menghabisinya, lagi pula Angga tidak ada untuk melindunginya, dan Bella juga tidak akan bisa melindunginya sendirian. Dengan enggan Bella mengangguk.
"Baiklah, aku akan mengirimmu ke sana, aku akan memberikanmu uang yang cukup untuk hidup di sana, kau tahu kan peraturannya, bahkan pihak kerajaan tidak boleh menginjakkan kakinya di sana, jaga dirimu,"kata Aksa merasa tidak rela namun tidak tahu harus bagaimana, dia tidak ingin mengubah keputusannya lagi, sehingga dia langsung keluar dari ruangan Bella, takut egonya kembali menguasainya, benar-benar tak rela, namun kejadian kemarin membuatnya sadar, seberapa pun dia tak rela, asal Bella masih hidup itu sudah cukup.
Bella sedikit merasa tersentuh dengan keputusan Aksa, benar, pulau pengasingan itu tidak ada yang tahu di mana, hanya beberapa orang yang tahu, dan keputusan Aksa itu benar-benar menunjukkan dia menepati janjinya. Namun hal itu lebih baik, sekarang dia akan hidup sendiri dengan anaknya. Akhirnya dia bisa hidup tenang.
Angga aku akan membesarkan anak kita sebaik yang aku bisa ... tunggu lah kami di sana.