Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
70



Kau boleh pergi, kau juga boleh bilang cinta kita tak mungkin terjalani, tapi maaf tak satupun katamu itu aku percayai, karna aku lebih percaya kata hati.


___________________________________________


Asisten Jang belari masuk ke dalam ruang rapat dengan tergesa-gesa, bahkan dia tidak mengikuti aturan, karena biasanya Angga tidak suka jika ada orang yang masuk ke dalam ruang rapat jika mereka sedang rapat, baginya itu sangat menganggu.


Asisten Jang langsung berdiri di depan  dengan sikap sempurnanya saat dia masuk ke ruang itu, semua orang di sana langsung menatap  Asisten Jang, Angga pun langsung menatapnya dengan tajam, namun melihat wajah  Asisten Jang yang tampak cemas, dia lalu memberikan gestur  Asisten Jang untuk mendekat.


" Tuan, Nona Mika sedang dalam perjalanan di rumah sakit, "kata  Asisten Jang. Angga yang awalnya hanya memandang ke depan tanpa ekspresi, langsung melihat ke arah  Asisten Jang. Wajahnya kaget dan cemas bercampur jadi satu.


" Bagaimana bisa? "kata Angga.


" Sepertinya Nona Mika keracunan Tuan, sedang dibawa ke rumah sakit Anda, " kata  Asisten Jang.


Angga langsung berdiri, melihat ke sekitar, tanpa ada mengatakan apapun pada peserta rapat yang mukanya semua sudah ketat itu, dia langsung keluar dari ruang rapat,  Asisten Jang juga langsung mengikutinya, meninggalkan semua orang yang ada di sana yang saling menatap dengan bingung, mereka harus tinggal atau boleh pulang karena ini sudah hampir jam 9 malam.


Angga berjalan dengan sangat cepat, sesekali bahkan berlari kecil. Mukanya sangat cemas, beberapa orang bekerja di sana pun melihatnya heran.


"Siapkan mobil,"kata Angga.


"Sudah siap Tuan," kata  Asisten Jang yang kesulitan mengikuti langkah Angga. Dia lalu menekan tombol lift untuk turun, dia menekannya dengan sangat tidak sabar, benar-benar kelihatan panik dan cemas, hingga dia kesal sediri dengan lift itu. Kalau tidak memikirkan dia sekarang ada di lantai paling atas, mungkin dia sudah turun dari tangga darurat.


Sebenarnya lift itu tidak terlalu lama sampai di sana, tapi karena Angga ingin secepatnya mengetahui keadaan Bella, dia jadi benar-benar kesal. Begitu pintu lift terbuka, dia langsung masuk,  Asisten Jang pun buru-buru masuk, dia langsung menutup tombol basemen.


Mereka segera turun, untunglah Angga punya lift pribadi yang hanya boleh dia yang memakainya, jadi saat dia mengunakan lift ini, lift tidak akan berhenti di lantai yang lain selain lantai yang dituju.


Setelah pintu lift terbuka, Angga segera menuju ke dalam mobil.


" Keluar!" Kata Angga keras agar supir di dalam mobilnya terdengar, supir dan  Asisten Jang kaget, karena Angga tak pernah mau mengendarai mobilnya sendiri.


Begitu supir keluar, Angga langsung masuk ke dalam mobil, Asisten Jang yang walaupun bingung langsung duduk di kursi sebelahnya.


Begitu melihat  Asisten Jang sudah siap dengan seat bealtnya, dia lalu segera melajukan mobilnya dengan cepat, sangat cepat hingga jantung  Asisten Jang rasanya ingin copot. Walaupun jarang menyetir, Angga termasuk orang yang sangat pintar mengendara, karena itu mereka sampai di rumah sakit itu dengan cepat, dia memberhentikan mobilnya di depan IGD yang sebenarnya merupakan daerah terlarang untuk parkir, tapi siapa yang berani melarangnya.


Angga langsung keluar, masuk ke dalam IGD, dia melihat Judy yang sedang menunggu di luar, beberapa orang di sana awalnya ingin menegur, namun melihat Angga yang datang, mereka malah terkejut.


" Di mana dia? "kata Angga.


" Sedang di tangani dokter, Tuan,"kata Judy sambil memberikan salam.


" Bagaimana ini bisa terjadi? "kata Angga masih dengan bahunya yang terangkat, tegang, wajahnya juga tak kalah tegangnya.


"Nona sedang makan malam bersama Tuan Aksa, setelah itu Nona Sania memberikan Nona minumanan, karena takut minumannya beracun, Nona meminum minuman Tuan Aksa, tidak di sangka ternyata minuman itu juga diracuni," kata Judy mencoba untuk melaporkannya sejelas mungkin.


"Jadi bagaimana keadaannya?" kata Angga lagi.


"Saat ini masih belum ada kabar dari dokter yang menanganinya,"kata Judy.


Angga melihat salah satu tempat di IGD yang tertutup dengan gorden putih itu, di dalam sepertinya dokter sedang melakukan prosedur untuk menyelamatkan Bella, ingin sekali rasanya dia masuk ke dalam melihat bagaimana keadaan Bella, namun di urungkannya karena tidak ingin menganggu.


Angga mondar mandir di sana, bahkan tak sedikitpun dia duduk, menunggu dengan gusar, suara-suara di dalam sana membuatnya makin takut, sangat menganggu.


Tak lama perawat membuka gorden pembatas itu, semua yang melihat Angga langsung kaget, bahkan ada yang seperti melihat hantu. Dokter yang keluar malah terlihat gugup, beberapa perawat langsung pura-pura sibuk mendorong ranjang Bella untuk memasuki ruangan perawatan. Angga tak menunggu lama, dia langsung mengikuti para perawat yang sudah meninggalkan IGD itu. Setelah Bella di pindahkan ke ruangan, barulah Angga mendekati Bella.


Wajahnya pucat pasi, sama percis seperti saat Angga menemukannya di pantai itu, mungkin itu juga kelebihan Bella, jika dia tertidur, dia sangat tampak amat tenang.


" Bagaimana keadaannya? "kata Angga dingin pada dokter yang berdiri di belakangnya, tapi dia tidak menatap dokter itu sama sekali, hanya menatap lirih pada Bella, tangannya yang mulus putih itu kembali tertancap oleh infus, ada rasa khawatir, sedih, cemas dan kasih sayang yang dalam terlihat sangat jelas di matanya. Sebenarnya dia sangat merindukan Bella, namun dia malah melihatnya dengan keadaan seperti ini.


" Dia meminum racun yang membuatnya tidak sadarkan diri, namun keadaan Nona sekarang sudah stabil, saya rasa besok keadaan Nona akan membaik," kata Dokter itu menjelaskan dengan sedikit gugup, mengingat reputasi Angga.


Angga tidak menjawab apapun, hanya terpaku melihat wajah pucat Bella, hatinya benar-benar tak tega melihat keadaan Bella, dokter yang ada di belakang Angga tampak bingung, dia harus tetap disana atau keluar, dia melihat  Asisten Jang,  Asisten Jang lalu mengangguk, mengizinkan dokter itu untuk keluar, melihat itu dokter itu segera keluar,  Asisten Jang mengambilkan kursi  dan di letakkan di belakang Angga. Angga melihat sekilas lalu duduk di kursi yang di sediakan, dia terus menatap Bella, rasanya hatinya perih sekali melihat wanita yang sekarang selalu di pikirannya ini terbaring begitu lemah.


Dia mengenggam tangan Bella, dingin... dinginnya tangan Bella itu pun makin menusuk hatinya, bagaimana dia bisa membiarkan Bella sampai begini? Kalau saja dia bersikeras melarang Bella untuk pergi menemui Aksa, pasti dia tidak akan seperti ini, dan lagi… tadi saat mereka bertemu, Angga sebenarnya ingin sekali untuk mengejar Bella, namun dia ingat kembali kata-kata Bella yang seolah mendorongnya pergi.


Dia terus mengenggam tangan Bella, mencoba memberikan kehangatannya, mengeluskan ibu jarinya di ibu jari Bella berulang-ulang dengan lembut. Hanya duduk diam, memandangnya.


" Tuan,"kata  Asisten Jang mendekati Angga, sedikit mengalihkan padangannya.


" Ya, ada apa? " kata Angga sedikit serak, tenggorokannya sedikit kering  tapi dia enggan meninggalkan Bella.


"Berita tentang percobaan pembunuhan Tuan Aksa sudah beredar, tersangka utama Nona Sania, Tuan Aksa juga masih tidak bisa keluar dari kerajaan, selain itu… " kata  Asisten Jang memberikan tabletnya pada Angga.


Di layar itu ada sebuah video, di sana terlihat Bella, Aksa dan Sania, Angga sedikit penasaran langsung memutar video itu, video itu memperlihatkan Sania yang menampar Bella, melihat itu Angga langsung kaget, dia marah melihat Sania yang begitu berani menampar Bella, namun dia melanjutkannya, melihat Aksa juga menampar Sania.


"Apa komentar publik tentang ini?" kata Angga menyerahkan tablet itu kembali.


"Banyak yang menghujat Tuan Aksa, mereka mengatakan walaupun wanita itu salah, dia seharusnya tidak menamparnya di depan umum, mereka juga tidak bersimpati akan percobaan pembunuhan ini, mereka bilang pantas untuk wanita itu marah seperti itu,"kata  Asisten Jang menjelaskan.


Angga sedikit tersenyum sinis, dia menyandarkan badannya pada sandaran kursi itu, senyum sinis itu masih menghiasi.


" Dengan begitu kita sudah bisa melanjutkan langkah kita." kata Angga melirik  Asisten Jang,  Asisten Jang mengangguk.


Dia kembali mengamati Bella, sebenarnya dia tidak ingin mengambil keuntungan dengan kejadian yang menimpa Bella, bagaimana pun dia tidak ingin Bella seperti ini, tapi ternyata Bella telah membantu sedikit langkahnya. Dia lalu mencondongkan lagi badannya kearah Bella, mengelus kembali wajahnya yang halus, lalu mengulum senyum penuh dengan kasih sayang.