
"Kalian sudah makan siang buatan kakak tadi pagi kan?" kata Nakesha seperti guru TK.
"Ya, sudah habis, " kata Sasa dengan imut tersenyum menunjukkan beberapa giginya yang bolong.
"Aku juga kak,sudah habis semua," kata Rafi mencoba membuat Nakesha terkesan.
"Kalian memang anak yang baik dan imut, karena itu ini makan kuenya, nanti di bawa pulang, beri untuk ibu juga ya," kata Nakesha mencubit sedikit pipi mereka, lalu menyodorkan kue kering pada Rafi dan Sasa.
"Boleh aku minta susunya sedikit," kata Daihan bergabung, Nakesha melihat Daihan, dia langsung sadar.
"Ya, ampun, maafkan aku kak, saat kakak datang aku bahkan belum memberimu minum ya? Maafkan aku, ingin minum apa?"kata Nakesha saking sibuknya dia lupa memberikan Daihan minum.
"Air putih saja," kata Daihan duduk di depan Sasa, Sasa menatapnya malu-malu, sedangkan Rafi sedikit dengan wajah sinis.
Nakesha segera mengambilkan air putih untuk Daihan, dia segera menyuguhkannya untuk Daihan.
"Ini kak," kata Nakesha, dia duduk di samping Daihan.
"Terima kasih," kata Daihan segera meminum minuman itu.
"Rafi? Ada apa?" kata Nakesha yang melihat Rafi terlihat agak cemberut.
"Kakak, kakak Daihan ini pacarmu?" kata Rafi to the point.
Nakesha kaget mendengar kata-kata Rafi, dia langsung menatap Daihan, Daihan hanya diam.
"Oh, bukan, bukan, ini kakaknya kakak, tidak mungkin kakak pacaran dengan kak Daihan," kata Nakesha menjelaskan, Daihan kembali meminum minumannya, perasaannya sedikit aneh.
"Benarkah? jadi kakak tidak punya pacar?" kata Rafi suringah.
"Tentu, kenapa? " kata Nakesha.
"Bolehkah aku menjadi pacarmu?" kata Rafi lagi, Nakesha terkejut, namun dia terkejut sambil tertawa.
"Rafi ingin jadi pacar kakak? kenapa ingin jadi pacar kakak?" kata Nakesha merasa lucu, anak 7 tahun ingin menjadi pacarnya.
"Pertama kakak cantik sekali, kedua kakak baik dan pintar memasak, kakak akan jadi ibu yang baik jika punya anak nanti," kata Rafi, Nakesha tertawa, bagaimana anak umur 7 tahun bisa memikirkan hal ini dan merayunya seperti ini.
Daihan hanya diam, memperhatikan wajah sumringah dan tawa Nakesha yang sangat ceria, ya gadis ini cantik sekali, dan benar, bahkan anak 7 tahun saja tahu, Nakesha bisa jadi ibu yang baik.
"Hahaha, kau lucu sekali," kata Nakesha kembali mencubit pipi Rafi.
"Kak, tunggu 13 tahun lagi, Rafi akan bersama kakak," kata Rafi serius, dia melirik Daihan.
"Ha? kalau 13 tahun lagi, aku akan jadi tua dan keriput, apakah kau masih mau denganku?" kata Nakesha tak habis pikir.
"Aku akan tetap menyukaimu, aku akan menjagamu, bahkan jika kau sudah tak bisa berjalan, aku akan sabar menuntunmu berjalan," kata Rafi.
"Wooo! saat dewasa nanti jika kau terus seperti ini pasti banyak wanita yang ingin bersamamu," kata Nakesha.
"Tapi aku akan setia padamu kak, " kata Rafi serius.
Nakesha tersenyum lembut, menatap Rafi yang tampak sangat serius, seolah menuntut jawaban dari Nakesha.
"Baiklah, saat ini kakak minta Rafi belajar yang baik, soal itu kita akan bicarakan saat Rafi sudah dewasa," kata Nakesha lembut memberikan nasehat pada Rafi.
"Baiklah," kata Rafi kembali meminum susunya, Nakesha lalu melirik Daihan yang ada di sampingnya, ternyata Daihan sedang menatapnya dengan sangat sendu.
"Eh? kenapa kak?" kata Nakesha.
"Tidak apa-apa," kata Daihan, mamalingkan wajahnya, perasaannya sedikit aneh, mungkin hanya terlalu terbawa suasana.
Nakesha kembali ke dunianya bersama Sasa dan Rafi, dia mengajari mereka mengerjakan PR dengan sabar dan cekatan, tak lama setelah selesai, ibu mereka menjemput mereka.
" Kesha, maafkan merepotkanmu," kata Ibu mereka sebelum mereka pulang.
"Tidak apa-apa Kak, besok datang lagi ya," kata Nakesha melambaikan tangan pada Sasa dan Rafi.
Dari tadi Daihan hanya menatap Nakesha, setelah mereka masuk ke rumah, Nakesha menatap Daihan.
"Ada apa?" kata Nakesha yang mulai bingung, kenapa Daihan dari tadi hanya menatapnya?.
"Tidak sedih, pacar kecilmu pulang?" kata Daihan mengoda.
"Haha, setidaknya ada pria yang bahkan mau padaku 13 tahun nanti, jadi aku tak akan khawatir soal jodoh," kata Nakesha bercanda.
"Baiklah," kata Daihan seadanya.
"Tidak." kata Daihan mengerutkan dahi.
"Yah, padahal aku ingin bertemu dengannya, ingin mengajaknya bertemu ibu hari ini," kata Nakesha.
"Kau ingin bertemu dia? biar aku menelepon Judy."
"Ya, aku minta tolong ya."
Daihan tak membalas, segera mengambil handphonenya dan menelepon Judy.
"Bella sedang ada di rumahnya, Judy bilang Bella mengundangmu ke rumah dulu sebelum pergi," kata Daihan.
"Benarkah? aku memeng ingin berkunjung ke rumah kak Bella, baiklah," kata Nakesha semangat.
"Baiklah, aku akan mengantarmu, rumah Angga tak sembarangan bisa dimasuki oleh orang lain."
"Ok, tunggu ya kak, aku harus mandi dulu," kata Nakesha segera beranjak dari sana.
"Aku akan menunggu di sini," kata Daihan.
Tak lama setelah siap,Nakesha segera keluar, Daihan menatap Nakesha yang keluar dengan setelan gaun yang simpel berwarna lavender, tampak anggun namun manis.
"Ayo, aku sudah siap," kata Nakesha, dia lalu menuju ke pintu utama, Daihan mengikuti Nakesha dari belakang, mereka turun dan segera menuju ke rumah Angga.
Mobil Daihan masuk ke dalam area rumah Angga hingga berhenti di depan gerbangnya yang di jaga beberapa orang tentara.
"Ini rumah Kak Bella?" kata Nakesha kagum sekaligus bingung, kenapa banyam sekali tentara.
"Ya, Angga merasa Bella harus di jaga ketat," kata Daihan.
"Angga benar-benar mencintai kakakku," kata Nakesha bicara untuk dirinya sendiri, namun menyinggung perasaan Daihan, membuatnya merasa nyeri.
Setelah mereka diperiksa, mereka di persilakan masuk, kedua pintu mobil mereka dibukakan oleh pelayan. Bella menyambut mereka, Bella cukup kaget melihat perubahan Nakesha, apalagi dia datang dengan Daihan.
"Judy bilang Nakesha akan datang, tapi tidak mengatakan akan bersama Kakak," kata Bella tersenyum manis menyambut mereka, Daihan membalas senyuman manis Bella, ternyata cukup merindukan senyumannya. Nakesha menangkap itu semua.
"Apa aku sudah masuk daftar orang yang dilarang datang ke sini?" kata Daihan tersenyum.
"Oh, bukan, hanya kaget saja," kata Bella melirik Daihan dan Nakesha bergantian, merasa ada sesuatu pada mereka.
"Kakak,ini rumah atau markas militer, penjagamu banyak sekali," kata Nakesha kumat dengan sifatnya.
"Hahaha,Angga tidak tenang jika tidak begini, masuk yuk," tawa kecil Bella.
Nakesha masuk dan mulai kagum dengan mewahnya rumah itu, dia lalu di bawa Bella ke
ruang tengah rumah itu.
"Wow! rumah ini rumah paling bagus yang pernah aku lihat, bagaimana bisa ada tumbuhan seperti itu?" kata Nakesha tampak terpukau, namun tak malu mengungkapkannya. Dia mengamati Jendela kaca dengan tumbuhan yang selalu menyita perhatian semua orang yang melihatnya, Bella hanya senyum-senyum melihat tingkah Nakesha.
"Bagaimana kabarmu?" kata Daihan memecah kecanggungan mereka.
"Baik kak, bagaimana dengan kakak?" kata Bella.
"Aku baik juga," kata Daihan.
"Kapan kalian akan melangsungkan resepsinya kak?" kata Nakesha 'nimbrung' dengan obrolam Bella dan Daihan.
"Bulan depan, masih di persiapkan semuanya, menyiapkan hal itu saja sudah memusingkan," kata Bella pada Nakesha yang sekarang duduk di sampingnya.
"Ya benar, nanti kalau kakak butuh sesuatu, aku siap membantu," kata Nakesha. Daihan hanya mendengar perbincangan mereka.
"Ya, tentu, " kata Bella senang.
"Nyonya, Tuan Angga mengatakan dia mengajak Anda untuk makan siang bersama, namun saat saya melaporkan Nona Nakesha dan Tuan Daihan ada di sini, Tuan Angga memerintahkan untuk mengundang mereka makan siang bersama," kata Judy memberikan laporan.
"Memerintahkan? seperti kita karyawan dia saja," kata Nakesha sewot.
"Haha, kau juga merasa seperti itu? aku juga dulu berpikir seperti itu, baiklah, ayo makan siang bersama," kata Bella menatap Nakesha dan Daihan, Daihan tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Ya sudah, ayo," kata Nakesha semangat.
"Sebentar aku siap-siap dulu ya," kata Bella bangkit dan segera menuju kamarnya.
Setelah selesai, Bella keluar, dan mereke segera pergi menuju kantor utama Angga.