Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
232



Jofan menekan kedua ibu jarinya pada bagian pangkal hidungnya, di areal sekitar alis dan matanya, terasa berat, kepalanya rasanya ingin pecah memikirkan segalanya, namun dia hanya bisa diam, tidak bisa lagi berbicara apa pun, apa lagi mengikuti emosinya, karena semua yang di lakukannya, semua di sorot dan di perhatikan publik, bahkan sekecil apa pun, hidupnya bukan miliknya lagi.


Tak lama mata coklatnya itu menatap ke arah ruanganya yang penuh dengan perabotan mewah namun kosong, rjuangan kerja Tuan Presiden.


Dia terus saja duduk di kursi kebesarannya, hanya duduk termenung, padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, namun dia enggan meninggalkan tempat itu.


Tiba-tiba pintu ruangannya terketuk, membuat perhatian Jofan teralih ke arah pintu itu.


"Masuk," suaranya terdengar berat, sedikit bergema di ruangan kosong itu. Ajudannya membuka pintu, memberikan hormat sebelum dia memberikan laporan.


"Ada apa? " kata Jofan masih menyisakan sedikit wibawanya walau pun tubuhnya benar-benar lelah.


"Tuan Daihan datang untuk menemui Anda," kata Ajudannya.


"Ya, aku sudah menunggunya, bawa dia ke mari," kata Jofan lagi.


"Siap, Tuan Presiden," kata Ajudannya sambil memberi hormat dan berjalan ke pintu keluar.


Tak lama pintu itu terbuka, tampak sosok Daihan masuk ke dalam ruang kerja Jofan, Jofan yang melihat Daihan langsung sedikit tersenyum manis.  Daihan membalasnya, dia lalu dipersilakan duduk di depan Jofan.


"Bagaimana pekerjaanmu Tuan Presiden? " kata Daihan melihat wajah Jofan yang tampak kelelahan.


"Lumayan melelahkan, namun tak sebanding dengan memikirkan semua hal tentang Angga," kata Jofan tertawa kecil.


Daihan terdiam, senyuman yang tersunging hanya senyuman tipis yang bahkan Jofan tidak tahu apa arti senyuman itu, jari-jarinya yang di letakkan di meja Jofan diketukkannya dengan perlahan, berirama, membuat ke duanya hanya terdiam sesaat mendengar suara itu dengan pikiran mereka masing-masing.


"Belum ada kabar sama sekali? " kata Daihan lagi membuka pembicaraan.


"Belum, " kata Jofan yang tubuhnya tegak dari tadi langsung dia senderkan ke kursi kerjanya, sedikit mengistirahatkan punggungnya yang dari tadi terasa tegang, "Aku belum mendapat apa pun, pemeriksaan di bandara juga tidak ada menunjukkan mereka mengunakan paspor mereka, dengan kata lain, Angga dan Bella tidak keluar dari negara ini, atau … " kata Jofan lagi serius.


"Atau apa?" kata Daihan melirik Jofan.


"Atau mereka mengunakan identitas baru agar tidak di lacak, ah, anak itu, benar-benar ingin menghilang ya? bahkan tidak meninggalkan apa pun, jangankan meninggalkan, membawa apa pun yang ada di sini juga tidak dilakukannya, dia hanya membawa Bella dan uang tunai dengan jumlah yang besar, apa maksudnya coba? aku benar-benar tidak bisa lagi membaca jalan pikirannya," kata Jofan.


"Sama, dia juga tidak mengatakan apa pun padaku, hanya email untuk meneruskan perusahaannya, jika aku tidak sanggup, dia menyuruhku memilih salah satu dari pemegang saham untuk melakukannya," kata Daihan tak habis pikir, Angga bukan orang yang seperti itu, dia sangat mencintai perusahaannya yang di rintis dari awal hingga sebesar ini, dan dia sekarang meninggalkannya seperti ini saja, seolah perusahaannya yang bernilai multi-milliar dollar itu tidak berarti baginya.


"Memangnya ada hal apa yang bisa membuat Angga melakukan hal seperti ini? " kata Daihan lagi.


"Seorang penyusup berhasil masuk ke dalam tempat perlindungan saat aku dan Angga pergi ke pemakaman Raja Leonal, mereka ingin kembali menculik Bella, untungnya Bella bisa mempertahakan dirinya sendiri dan setelah itu, bebarapa hari kemudian, mereka tak pernah terlihat lagi, hilang bagai ditelan bumi, aku rasa Angga memutuskan untuk pergi dari sini untuk hidup lebih tenang dengan Bella, tanpa harus di kejar-kejar oleh Aksa, tapi seharusnya dia mengatakan sesuatu pada kira, jika dia masih menganggap kita berdua adalah sahabatnya, " kata Jofan lagi masih belum bisa menerima apa pun alasan Angga melakukan ini, dia cukup kecewa.


"Begitu ya, aku pun akan melakukan hal yang sama jika jadi Angga, pergi jauh dan hidup tenang dengan istri dan anakku, aku kira hal ini tidak akan pernah di lakukan oleh Angga, ternyata aku salah," kata Daihan kembali memainkan jari jemarinya di atas meja Jofan, sedikit tersenyum, dengan tatapannya yang kosong menerawang jauh. Sekarang dia benar-benar yakin, Angga mencintai Bella bahkan lebih dari apa pun yang dia miliki.


Melihat ekspresi dan nada bicara Daihan, Jofan akhirnya mengerti.


"Ya, hidup yang tidak bisa kita miliki, kehidupan memang harus memilih," kata Jofan, pikirannya pergi entah kemana.


"Bagaimana dengan rencanamu untuk menghapuskan hak istimewa kerajaan? " kata Daihan.


"Tetap aku lakukan, terlepas dari kasus kematian orang tua Angga, hingga masalah Angga dan Bella, aku tidak ingin lagi ada korban-korban yang tidak bisa berbuat apa pun, hanya karena Aksa kebal hukum," kata Jofan pikirannya jatuh pada Sania, cukup satu orang saja wanita yang di perlakukan tidak manusiawi oleh Aksa.


"Baiklah, jika butuh bantuan atau hanya sekedar butuh teman kau bisa menghubungiku," kata Daihan tersenyum, melihat beban berat yang di pikul oleh Jofan.


"Haha, baiklah, ehm, jadi bagaimana? Kau akan menyerahkan perusahaan Angga pada salah satu pemegang saham di sana? Pekerjaanmu juga sangat menyita waktu kan? Perusahanmu sendiri, belum lagi perusahaan Angga, kenapa kau tidak menyatukannya saja," kata Jofan.


"Tidak mungkin, perusahaan Angga adalah miliknya walau pun secara hukum sekarang itu punya ku, namun aku tidak akan menggabungkannya, suatu saat aku yakin Angga akan kembali," kata Daihan lagi.


"Baiklah, Oh, ya, sebelum dia pergi, aku dan dia pernah berdebat soal Archie, dia benar-benar serius dalam melindungi anak itu, karena itu aku harap kau melindunginya dengan baik dari Aksa," kata Jofan.


"Ya, aku pasti melakukannya."


"Jika butuh bantuan, kau tahu harus menghubungi ke mana kan? Jangan melalui Ajudanku, aku tidak akan menjawabnya, kau tahu kan aku begitu sibuk," kata Jofan tertawa sedikit lepas, membahana di kantornya yang terlihat kaku itu, Daihan hanya tersenyum kecil melihat tingkah Jofan yang ternyata belum berubah.


"Ya, baiklah, sudah malam, istirahatlah jika kau punya waktu," kata Daihan berdiri.


"Baiklah, aku tidak bisa mengantarmu keluar, titip salamku pada Nakesha, Kalian belum jadiankan?" goda Jofan lagi pada Daihan.


Daihan hanya melirik Jofan dengan tatapan yang malas meladeni. Dia langsung saja berjalan ke arah pintu, dan keluar dari ruang kantor Jofan. Jofan kembali mengamati ruangannya yang sekarang kembali hening, mungkin ini saatnya dia pulang. dia mengambil jasnya, memakainya dan segera keluar dari sana.