
Aksa menunggu dengan cemas di dalam mobilnya, matanya yang tajam tampak awas, tangannya mengenggam handphonenya, namun dari gayanya tampak dia cukup tenang.
Tak lama handphonenya berdering. Dia langsung mengangkatnya, ekspresinya datar.
"Bagaimana?" katanya dengan suara berat.
"Maafkan kami Pangeran," suara dari seberang, wajah Aksa seketika berubah marah.
"Ada apa?" katanya lagi tegas seolah siap memberikan hukuman.
"Dalam pengejaran, mobil Angga terguling masuk ke dalam hutan meledak, sekarang mobil itu terbakar habis."
"Apa? bagaimana dengan Bella?" kata Aksa kaget, wajahnya cukup cemas.
"Kami belum bisa memastikan apakah Nona Bella berhasil keluar atau tidak, karena saat ingin memastikan, mobil itu segera meledak dan melukai orang-orang kami, saat ini api masih sangat besar, namun beberapa orang sudah saya perintahkan mencari ke dalam hutan, berjaga-jaga jika Nona Bella atau Tuan Angga masih selamat."
"Aku tidak mau tahu, jika terjadi apa-apa dengan Bella, akan ku pastikan kalian juga menyusulnya," kata Aksa dengan wajah memerah, menahan emosi, matanya memerah namun juga tampak berair, panggilan telepon itu diputuskannya sepihak.
Dia tidak rela Bella meninggal begitu saja, bagaimana Bella bisa meninggal sebelum dia memilikinya? dia benar-benar tak rela, hatinya sakit, sakit sekali memikirkan gadis itu sudah tak ada.
Aksa baru sadar, dia benar-benar sudah jatuh cinta dengan Bella, dari dulu dia selalu menjaganya, merawat wanita itu, dia juga tak pernah menyentuhnya karena ternyata dia sangat peduli dan menjaganya, saat menikah dengannya, Aksa memang ingin melenyapkannya karena dia tak ingin nasib Bella sama seperti ibunya, tapi sekarang dia tahu, yang bisa menahlukan hatinya cuma Bella, hanya wanita itu yang dia inginkan ada di sampingnya sekarang dan seterusnya. Tidak boleh ada yang memisahkan dia dan Bella, bahkan kematian sekali pun.
"Tak mungkin, Bella tak mungkin meninggal," kata nya pada dirinya sendiri, menyakinkan dirinya sendiri.
Tak lama handphonenya kembali berdering, dia segera mengangkatnya.
"Kami tidak bisa melanjutkan pencarian Pangeran, pihak militer sudah datang."
"Dasar kalian semua bodoh! pergi dari sana," kata Aksa lagi dengan penuh emosi, membanting kembali handphonenya. Wajahnya bengis seakan ingin membunuh semua orang yang menganggunya, Asistennya dan supir pun bahkan tak berani bergerak.
Pasti ada cara lain mengetahui Bella sudah meninggal atau tidak, pikir Aksa yang tampak kebingungan, kalau dia pergi ke sana, hal ini pasti jadi bumerang baginya, dia mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan urat-uratnya keluar, tegang.
"Asisten Wan, aku ingin setiap kabar tentang Bella dari kecelakaan itu," kata Aksa cemas.
"Baik Tuan," kata Asisten Wan.
"Sekarang kita pulang," kata Aksa lagi.
"Baik Tuan," kata supir mulai berjalan.
---***---
Jofan keluar dari mobilnya buru-buru berjalan menuju Letnan Faris yang ditugaskan untuk datang ke tempat kejadian perkara. Jofan menatap mobil Angga yang sudah tampak gosong tinggal kerangka, Beberapa petugas pemadam kebakaran masih sibuk di sekitarnya, Muka Jofan sangat cemas, bahkan dia memegang kepalanya, seketika sakit melihat keadaan di sana.
"Bagaimana keadaannya?" kata Jofan tak menyangka keadaannya separah ini.
"Petugas pemadan kebakaran mengkonfirmasi ditemukan 1 tubuh yang terbakar di dalamnya, sepertinya mayat supir Tuan Angga, Saya sudah memerintahkan anggota yang lain untuk menyebar ke areal hutan, saya rasa Tuan Angga dan Nona Bella berlari ke hutan, kami menemukan potontangan sepatu wanita di dalamnm hutan," kata Letnan Faris dengan tegas.
"Apa tidak ada kemungkinan mereka sudah tertangkap?" kata Jofan lagi menatap awas ke dalam hutan.
"Kami belum tahu, saat tiba, mereka sudah meninggalkan TKP, saat penyisiran hutan juga belum ada laporan penangkapan atau yang lain, kira-kira siapa yang bisa kita curigai melakukan hal ini?" kata Letnan Faris.
"Aku yakin ini semua ulah Aksa, dia pasti tahu tentang pernikahan Angga dan Bella," kata Jofan.
"Pangeran Aksa?" kata Lentan Faris tak percaya.
"Siap Tuan." kata Letnan Faris tegas seraya memberikan hormat.
"Satu lagi, jangan memanggilnya Angga, panggil Xavier, agar dia tahu bahwa kita yang mencarinya," kata Jofan
"Baik Tuan." kata Lentan Faris
Jofan kembali menatap ke dalam hutan itu, berharap Angga dan Bella masih selamat.
---***---
Angga tersentak terbangun mendengar suara gemerisik dari semak, mungkin karena benar-benar lelah, dia dan Bella tak sadar dan tertidur, dia masih melihat Bella yang masih nyenyak di pangkuannya, Angga melihat hari sudah mulai mengelap. Angga membuka jasnya, meletakkannya di atas tubuh Bella.
Suara guntur tiba-tiba terdenger keras, membuat Bella yang tadinya tertidur terbangun kaget, dia langsung terduduk.
"Hei, tak apa-apa, hanya guntur," kata Angga menenangkan Bella, Bella menatap Angga sebentar, lalu melihat ke arah luar, sudah mengelap, dan rintik hujam sudah menghantam tanah dengan derasnya.
"Aku tertidur lama sekali ya?" kata Bella menatap Angga.
"Tidak apa-apa, kau pasti lelah, " kata Angga.
"Ya, sedikit," kata Bella menatap tubuh Angga, kemeja putihnya di beberapa tempat tampak ada noda darah. Bella langsung cemas.
"Kau terluka?" kata Bella yang baru sadar.
"Hanya luka gores, mungkin karena pecahan kaca, bagaimana denganmu?" kata Angga memperhatikan Bella dengan seksama.
"Tidak apa-apa," kata Bella tersenyum manis.
"Baiklah, sepertinya malam ini kita menginap di sini dulu, besok pagi kita akan keluar dari sini, " kata Angga.
"Sepertinya hujannya akan deras," kata Bella lagi melihat ke arah luar.
"Ya, baguslah, setidaknya mereka akan berhenti mengejar kita," kata Angga.
"Ya," kata Bella, perutnya berbunyi keras. Angga mendengar itu langsung tersenyum.
"Kau lapar?"
"Tidak apa-apa, aku masih bisa bertahan sampai besok pagi kok, tidak akan langsung membuat aku kurus," kata Bella bercanda.
"Kau harus banyak makan, tubuhmu sudah cukup kurus, nanti akan susah jika punya anak," kata Angga menatap Bella, nadanya biasa, namun cukup lembut bagi Bella.
Mendengar kata anak, Bella jadi malu sendiri, wajahnya sedikit memerah, kalau di pikir-pikir ini malam pertama mereka sebagai suami istrikan, Bella bahkan lupa hal itu karena masalah ini.
Bella juga bingung, kenapa setiap malam pertama pernikahannya, dia pasti dalam bahaya dan Aksa pasti ingin membunuhnya, dia sampai tak habis pikir.
"Ada apa?" kata Angga menatap perubahan wajah Bella yang terlihat malu-malu.
"Oh tidak, seharusnya ini jadi malam pertama kita sebagai suami istri, tapi kita malah di sini," kata Bella sungkan dan wajahnya makin memerah.
Angga tersenyum mendengar perkataan Bella.
"Kau ingin melakukannya di sini? " tanya Angga mengoda Bella.