Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
109



Bella meringkuk dalam bath up itu, mengigil karena rasa lembab di kamar mandi itu, di sana terasa mulai pengap karena ventilasi yang cukup kecil, dan dari sana pula Bella tahu hari sudah malam, hujan di luar masih terdengar menderu, entah kapan akan berhentinya, membuat suram suasana kamar mandi itu.


Dia ingat pengasuhnya mengatakan ada banyak hantu bergentayangan yang ada di kastil itu, mengingat itu seketika bulu kuduk Bella naik, dia jadi lebih awas, mengulung tubuhnya dengan selimut tebal itu agar dia tidak terlalu merasa takut.


Suara petir di luar juga membuatnya beberapa kali berteriak, suasanannya benar-benar mencekam, tak di sangka dia akan ada di kastil ini, tidur di kamar mandi pula, merenungkan nasibnya sekarang, tak disangka Bella langsung menangis, air matanya turun hingga masuk ke dalam sela-sela rambutnya, seluruh tubuhnya tertutup selimut, hanya tinggal setengah wajahnya saja, bersiap-siap jika ada yang tiba-tiba muncul di depannya.


Perut Bella berbunyi, dia baru ingat hari ini dia sama sekali belum makan apapun, tadi pagi dia hanya minum teh dan karena semua ini dia melupakan makanan, tapi karena sekarang dia hanya berbaring, dia baru merasakan perutnya mulai perih, bagaimana ini? apa Aksa juga tidak memberinya makan? kenapa pria itu sangat kejam, meninggalkan Bella di kastil sendirian dan membuatnya kelaparan, sepertinya Aksa memang ingin menyiksanya hingga mati pelan-pelan.


Kilatan petir terasa sangat dekat, tak lama datang suara guntur yang rasanya bahkan ada di atas Bella, membuatnya langsung berteriak kaget dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, bersamaan dengan itu, seluruh lampu mati.


Bella gemetar dalam selimut itu, seluruh pandangannya sekarang gelap, namun tak lama matanya mulai bisa beradaptasi dengan keadaan gelap, perlahan-lahan dia mengintip dari balik selimutnya, takut ada yang tiba-tiba muncul, namun tidak ada apa-apa, ruangan itu masih kosong.


Di luar, terlihat kilatan-kilatan petir yang masuk sedikit menerangi kamar mandi itu, kenapa tiba-tiba Bella merasa keputusannya tinggal di kamar mandi itu kesalahan, dia merasa seperti di awasi di dalam sana, dia gemetar tak tahu karena takut atau karena menahan lapar yang sangat, rasanya lambungnya mulai mencerna dirinya sendiri.


Saat Bella mulai menenangkan dirinya, tiba-tiba pintu kamar mandi itu di ketuk lembut, Bella langsung kaget, saking kagetnya Bella langsung masuk ke dalam selimut itu lagi.


"Nona, maafkan saya jika Anda terkejut, saya membawakan makanan." terdengar suara halus wanita dari seberang pintu. Mendengar suara itu dan kata makanan, Bella sedikit memberanikan diri, mengintip dari balik selimut tebalnya. Dia sudah sangat kelaparan hingga badannya lemas dan kepalanya pusing.


"Eh? Kau manusia kan? " kata Bella mencoba meyakinkan dirinya.


"Tentu Nona, saya diperintahkan oleh pangeran membawakan Anda makanan, Anda belum makan kan? " suara itu terdengar lagi.


Bella mencoba menyakinkan diri, dia duduk di bath up itu, perlahan keluar, lalu saat menginjakkan kaki di lantai itu tubuhnya langsung mengigil, dinginnya lantai dan suasananya membuat Bella memeluk dirinya sendiri, lagi pula dia belum makan, mungkin karena itu juga dia jadi merasa di sana sangat dingin.


Bella berjalan perlahan, dia sedikit membuka pintunya, seandainya itu jebakan, dia akan segera menutupnya kembali.


Bella mengintip, ruangan itu gelap, tak lama dia menangkap sosok yang tadi berbicara dengannya, dia sedikit tersentak kaget.


"Maaf Nona, saya membuat Anda takut." kata seorang wanita seumuran dengan Bella dengan wajah yang tampak manis, rambutnya yang hitam terurai indah sebahu, dan pakaian khas pelayan berwarna putih, dengan celemeknya. Bella langsung melihat kakinya, dia ingat jika hantu bukannya dia tidak akan menapak, tapi wanita ini menapak dan memakai sepatu, di tangannya dia membawa nampan, ada sepiring buah-buahan dan roti, juga susu.


"Oh, tidak apa-apa." kata Bella tergiur dengan apa yang di bawanya.


"Maafkan kami Nona, makanan di sini hanya ada ini, besok kami akan membawakan lebih banyak lagi." kata wanita itu, melihat itu Bella membuka pintunya lebih lebar, mencoba melihat kanan dan kiri, takut tiba-tiba Aksa ada.


"Pangeran tidak akan datang hari ini Nona, dia hanya menyuruh saya membawakan Anda makanan, Anda ingin makan di dalam? apakah berselera makan di kamar mandi? " kata wanita itu begitu lembut.


Bella lalu mengikutinya, dia lalu duduk di ranjang. Langsung mengambil susu dan mulai meminumnya, dia juga mengambil roti yang ada di sana, pelayan itu tersenyum melihatnya.


"Aksa menyuruhmu menjadi pelayan di sini?" kata Bella sambil memperhatikan pelayan itu kembali, dia berdiri di dekat Bella, perasaan dingin itu masih ada.


"Ya, saya sangat mengenal kastil ini. Sudah lama aku tinggal di sini, menjaga tempat ini." kata pelayan itu.


"Apa kau tidak takut? tempat ini sangat menyeramkan, Benarkah tempat ini berhantu?" kata Bella penasaran.


"Haha, Anda lucu sekali Nona, tidak ada hantu di sini, aku sudah hidup di sini lama sekali. " kata wanita itu tertawa menampakkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Dia menjulurkan tangannya, " Silahkan Anda menyentuh saya, saya manusia, Nona.”


Bella mencoba menyetuh tangannya, hangat dan bisa dia sentuh, yah, pasti dia manusia, apa sih di pikiran Bella. Mendengar kata-katanya juga Bella sedikit malu, usianya sudah cukup tua untuk berpikir logis tentang keberadaan mahkluk-mahluk yang biasanya untuk menankuti anak-anak. Tapi tetap saja, siapa yang tidak berpikir aneh-aneh, pikir Bella terus makan.


" Nona, mata Anda kenapa? maaf saya lancang." kata pelayan wanita itu lagi dengan perhatian.


" Eh, memang sudah dari lahir mataku berbeda sebelah, tidak apa-apa," kata Bella mencoba mengimbangi keanggunan dan kelembutan pelayan ini.


"Bukan, ada kemerahan di mata Anda, apa pangeran menyiksa Anda?"


Bella melihat ke arah pelayan itu, matanya memang masih nyeri dan sakit dan juga terasa sangat tebal, mungkin bengkak karena pemaksaan Aksa tadi, tapi pelayan ini berani juga menanyakan hal seperti itu, Aksa kan majikannya.


"Saya melihat Anda di paksa masuk oleh pangeran tadi siang, saya juga kasihan melihat Anda, pangeran memang sangat tidak punya rasa simpati." kata pelayan itu lemah, dia menatap Bella, Bella hanya tersenyum lemah.


"Kau harus berhati-hati, jika dia ada di sini, maka kau bisa di hukum jika berkata begitu. " kata Bella tersenyum lembut, pelayan itu hanya menunduk.


" Kapan lampu akan hidup?" kata Bella.


"Entahlah, beberapa penjaga sedang berusaha menghidupkannya." kata pelayan itu lagi.


"Terima kasih, walaupun gelap begini, kau tetap mengantarkan makanan untukku." kata Bella.


" Sama-sama Nona. " kata pelayan itu dengan senyuman indahnya.