Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
240



Jofan menatap tajam ke arah orang-orang yang sudah duduk di meja bundar di depannya, para petinggi di pemerintahan itu ada di sana, semua orang tampak tegang, namun Jofan hanya diam saja melihat ke arah mereka.


"Tuan Presiden, Anda tidak bisa melakukan hal itu! mencabut hak istimewa dari kerjaan bukan hal yang baik untuk di lakukan, mereka itu adalah penguasa di sini beratus-ratus tahun bahkan sebelum Anda bisa menjabat menjadi Presiden," kata salah satu menteri yang ada di sana.


"Saya tahu sebagian dari Anda-Anda di sini lebih berpengalaman dari saya, bahkan saya rasa di ruangan ini umur saya yang paling muda di sini, namun sekarang kedudukan saya adalah seorang presiden yang sudah bersumpah untuk mendahulukan kepentingan masyarakat saya, maka saya akan melakukan hal yang terbaik untuk menjaga masyarakat saya, saya tidak akan membiarkan seseorang memanfaatkan kekuasaanya untuk melakukan kejahatan pada masyarakat saya, lagi pula saya rasa sudah cukup memberikan mereka hak istimewa, sudah tahun-tahun pula menikmati kebebasan itu, saatnya mereka patuh pada pemerintahan seperti masyarakat lainnya," kata Jofan tenang.


"Namun hal itu tetap saja bukan hal yang baik!" kata Seorang menteri lainnya.


"Saya ingin bertanya Tuan Chapel, apakah Anda melakukan hal ini untuk masyarakat? Atau hanya karena Anda merasa harus membela Kerajaan, Sebab Anda ada di sini berkat dukungan dari kerajaan," kata Jofan tampak tegas melihat kearah orang-orang yang dari tadi sudah memprotesnya.


Wajah-wajah masam orang-orang yang usianya jauh dari Jofan itu tampak jelas, mereka hanya diam dengan menunjukkan gelagat kesal.


"Jika sekarang Anda bisa menyakinkan masyarakat untuk mempertahankan hak istimewa keluarga kerajaan, saya akan membatalkan perintah pencabutan hak itu, karena sekarang yang bisa memerintah saya hanya masyarakat," kata Jofan tegas, membuat orang-orang di sana terlihat terdiam. Jofan berani mengatakan hal itu, karena tahu tidak akan ada yang mendukung keputusan pembatalan itu.


Jofan menatap mereka lagi dengan sangat tegas, wajah diamnya yang pentuh dengan wibawa bahkan bisa mengalahkan wibawa ayahnya yang sekarang duduk di sampingnya, menatap bangga pada anaknya.


"Jika memang sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan, lebih baik kita kembali ke pekerjaan kita masing-masing. Selamat pagi," kata Jofan berdiri, lalu memberikan hormat pada mereka semua menimbang memang dia adalah orang paling muda di sana, mencoba untuk tidak melupakan tata kramanya.


Jofan lalu keluar dari ruangan itu, sebagian orang di sana kagum dengan Jofan, yang lain menganggapnya congkak dan sombong, namun hal ini sama sekali tidak menjadi pikiran bagi Jofan, kita tidak bisa menjadi baik dan membuat semua orang senang bukan, selalu ada yang pro dan kontra, walau pun kita merasa sudah melakukan hal yang benar.


Jendral Indra mengikuti Jofan keluar dari ruangan itu, dia lalu berjalan di sampingnya, Jofan tak perlu melihatnya untuk mengetahui bahwa Jendral Indra ada di sampingnya.


"Bagaimana keadaan Aksa?" kata Jofan.


" Luka di kepalanya sudah di tangani, menurut  dokter keadaannya stabil, jadi kami sudah di perbolehkan untuk menahannya," kata Jendral Indra lagi.


"Jadi sekarang dia sudah di dalam penjara?" kata Jofan lagi.


"Ya, benar," kata Jendral Indra.


"Baiklah, aku akan menemuinya malam ini, tolong atur semua itu Ajudan," kata Jofan.


"Baik Tuan Presiden," kata Ajudan yang juga berjalan di belakangnya.


Jofan ingin masuk ke dalam rungannya, Jendral Indra memberikan salam pada Jofan sebelum dia pergi dan Jofan masuk ke dalam ruangannya.


Jofan duduk di dalam ruangannya, dia lalu mengambil handphonenya dan mengamati handphonenya, dia membuka kontak, melihat nama Iva yang menjadi nama pertama yang dia lihat, Jofan sedikit ragu, dia ingat kata-kata Sania bahwa dia ingin membalaskan dendam pada Aksa, apakah dia harus memberitahukan Sania dia sudah menahan Aksa?.


Ibu jari Jofan menyentuh layar handphonenya yang menunjukkan nama Sania, dia masih melihat layar handphonenya dengan tulisan menghubungkan, begitu panggilan itu terhubung, dia baru meletakkanya di dekat telingannya.


"Halo? " kata Sania terdengar lembut.


"Oh, aku baik, bagaimana keadaanmu? " kata Sania juga tersenyum mendengar suara Jofan.


"Aku baik, maaf tidak bisa bertemu denganmu akhir-akhir ini, apa kau sudah tahu kabarnya?" kata Jofan sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya.


"Tidak apa-apa, ya, sudah, " kata Sania lagi.


"Aku punya akses untuk bertemu dengannya, apakah kau masih ingin membalas dendam padanya?" kata Jofan langsung saja.


Sania terdiam, tidak menjawab apapun, Jofan juga langsung duduk tegak menanti jawaban Sania, dia jadi penasaran.


"Apakah itu tidak akan menjadi masalah buatmu jika aku datang menemuinya? " kata Sania lagi, membuat Jofan sedikit lega.


"Secara kedudukan, itu tidak masalah, aku berhak memberikan siapa pun akses, tapi secara personal, yah sedikit, siapa yang tenang jika orang yang kita sukai menemui mantan pacarnya," kata Jofan sedikit mengoda Sania, membuat suara tawa kecil di ujung sana.


"Aku ingin bertemu dengannya jika kau izinkan," kata Sania.


Jofan mengigit bibirnya sedikit, entah kenapa keputusan Sania itu malah membuatnya tak senang, tapi bagaimana lagi, toh dia kan yang menawarkannya pada Sania.


"Baiklah, malam ini Ajudanku akan menjemputmu, bersiaplah,"kata Jofan sedikit tegas.


"Ya, terima kasih, ehm … Jofan … " kata Sania lagi sedikit ragu.


"Ya? " kata Jofan sedikit penasaran, dia berharap Sania mengatakan sesuatu yang membuatnya senang, mungkin kata-kata rindu.


"Nanti jika di sana, kita lebih baik bersikap tidak terlalu dekat, karena akan banyak hal yang bisa merugikanmu jika nanti kita telihat bersama, aku juga akan merasa canggung, bisakah kita bersikap seperti tidak ada apa-apa di antara kita?" kata Sania.


Senyuman di wajah Jofan hilang seketika, moodnya berubah menjadi kesal, bagaimana bisa Sania dengan gamblang mengatakan hal itu, seperti orang yang tidak ada apa-apa diantara mereka? Seperti orang asing? Jofan tahu dia tidak bisa menunjukkan perasaannya pada Sania di depan publik, tapi permintaan Sania ini cukup membuat hatinya sakit. Kalau tidak mau dekat, ya sudah, ego Jofan menguasai.


"Baiklah, aku pergi dulu, pekerjaanku masih cukup banyak," kata Jofan dengan nada kesal.


"Terima kasih," kata Sania, Sania lalu memutuskan panggilan itu.


Sial! Pikir Jofan, Sania benar-benar mematikan panggilan itu, bahkan tidak bertanya apakah dia marah atau bagaimana? baru kali ini dia di perlakukan seperti ini oleh seorang wanita, dan buruknya lagi, wanita ini adalah wanita yang sekarang dia sukai, tapi … jika memang Sania ingin melakukan itu, baiklah, dia akan mengikutinya, pikir Jofan yang wajahnya masih tampak begitu kesal.


"Malam ini, tolong bawa Nona Sania ke penjara juga, suruh dia menungguku," kata Jofan pada Ajudannya.


"Baik Tuan, "kata Ajudan Jofan.