
"Makanlah duluan," kata Nakesha pelan. Daihan hanya patuh, dia langsung makan sambil sesekali melihat Nakesha yang masih melakukan tugasnya. Dia lalu cepat-cepat menghabiskan makan malamnya agar Nakesha bisa makan malam.
"Sudah, biar aku yang mengendongnya sekarang," kata Daihan lembut dan pelan.
"Oh, baiklah, hati-hati ya, " kata Nakesha ingin memberikan Archie pada Daihan, namun belum Archie sampai di gendongan Daihan, dia langsung menangis keras, Nakesha yang melihat itu segera mengambil lagi Archie, segera melakukan seperti yang tadi dia lakukan, Nakesha tersenyum pada Daihan. Daihan juga hanya bisa tersenyum kecut. Baru saja bertemu dengan Nakesha, dia sudah lupa dengan Daihan.
"Biarlah, aku makan nanti saja, mungkin badannya sakit, " kata Nakesha lembut, Daihan hanya menganggukan kepalanya. Tak lama Archie sudah tampak tidur nyenyak.
"Coba dibaringkan ke tempat tidur, dia sudah tampak lelap," kata Daihan.
"Baiklah, " kata Nakesha.
Dengan sangat perlahan dia meletakkan Archie dan untungnya Archie tetap bisa tidur nyenyak, Daihan segera menyelimuti Archie.
"Lelah?" kata Daihan pada Nakesha yang masih memandang wajah Archie yang sangat tampan.
"Tidak, punya anak begitu tampan, bagaimana aku bisa lelah, " kata Nakesha memandang Daihan.
"Ya, baiklah, apa mau makanan yang lain, makan itu pasti sudah dingin, aku akan menyuruh Asisten Yu untuk membawakan makanan yang lain."
"Oh, tidak perlu, aku makan ini saja," kata Nakesha sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinganya, membuat wajahnya makin manis.
"Ya, biar aku yang menjaganya sekarang, " kata Daihan.
Nakesha mengangguk, lalu segera menuju ke meja makan, dia segera mengambil makanannya, namun baru saja dia makan beberapa suap, Archie kembali menangis, Daihan yang ada di sana langsung berusaha untuk menenangkannya, namun Archie tetap menangis dengan kuat, Nakesha segera meneguk air minumnya, dan segera menghampiri Daihan.
"Cup, cup, cup, anak tampan, sini sama ibu," kata Nakesha lembut, dia segera mengambil Archie yang berontak di dalam pelukan Daihan, Nakesha kembali mengendong Archie, mengayun-ayunkannya dalam pelukannya, mendendangkan irama-irama yang menenangkan, awalnya Archie tetap menangis, namun lambat tapi pasti Archie kembali tenang dalam pelukan Nakesha, Daihan melihat makanan Nakesha, dia pasti belum makan banyak.
"Makanlah, kau juga butuh makan, aku takut kau yang sakit nanti, " kata Daihan dengan wajah dan suara yang lembut, membuat Nakesha cukup lama terpaku pada wajah tampannya itu, namun secara refleks membuka mulutnya, dengan perlahan-lahan Daihan menyuapkan nasi itu pada Nakesha, Mata Nakesha masih tak bisa berpindah dari wajah Daihan, matanya yang sendu itu yang membuatnya tidak bisa berpaling sama sekali.
"Coba duduk di ranjangnya, pangku dia, mungkin lebih baik dari pada harus berdiri terus," kata Daihan lagi, Nakesha menuruti apa yang di katakan oleh Daihan, Dia naik perlahan meletakkan Archie di dalam pangukannya, Daihan juga membantu sebisanya, dia lalu meletakkan bantal di belakang punggung Nakesha. Mata Nakesha mengikuti segala pergerakan Daihan.
"Apa sudah nyaman?" kata Daihan.
"Ya, sudah," kata Nakesha lagi.
Daihan lalu mengambil lagi piring Nakesha, dia duduk di ranjang Archie menghadap Nakesha, lalu dengan sabar mulai menyuapi Nakesha, Nakesha yang melihat perlakuan Daihan seperti ini, rasanya hatinya luluh, meleleh entah bagaimana, hatinya seketika hangat, jika ada orang yang melihat mereka seperti ini, akan terlihat bagaikan sebuah keluarga yang harmonis.
"Sudah?" kata Daihan yang melihat Nakesha yang sudah geleng-geleng kepala saat dia menyuapinya.
"Iya," kata Nakesha yang merasa perutnya sudah cukup kenyang, sebenarnya yang membuatnya takut itu keadaanya, dia takut kalau begini terus, bisa-bisa dia benar-benar akan menyukai sosok pria di depannya ini.
"Aku akan mengambilkan air, sebantar," kata Daihan segera mengambilkan air minum untuk Nakesha, Daihan juga menyediakan sedotan untuk Nakesha, dengan perlahan-lahan mengarahkan sedotan itu pada bibir Nakesha. Nakesha terus saja melihat wajah tulus Daihan, setelah itu Daihan mengelap bibir Nakesha dengan sangat lembut, membuat wajah Daihan terasa sangat dekat, Nakesha sampai menahan napas karena perlakuan Daihan ini. Siapa pun yang nanti menjadi wanitanya, hidupnya akan sangat bahagia, pikir Nakesha lagi, sayang sekali, pria ini sudah menutup dirinya untuk Nakesha hanya gara-gara kembarannya.
"Kakak, istirahatlah, kau telihat lelah, " kata Nakesha lagi.
"Ehm, baiklah, bangunkan aku jika aku tertidur telalu lelap, kita akan gantian menjaganya," kata Daihan yang memang merasa cukup lelah, semenjak dia pergi menjemput Archie dia bahkan tak ingat kapan dia tidur.
Nakesha mengangguk, Daihan segera mengambil posisi di tempat tidur penunggu, tak lama terlelap karena lelahnya.
Nakesha kembali meletakkan Archie di tempat tidurnya, namun Archie langsung merasa terganggu, dengan cepat Nakesha tidur di samping Archie, tangan mungil Archie seolah mencari-cari, Nakesha segera meletakkannya pada pipinya, di saat itu Archie langsung merasa nyaman, Nakesha tersenyum melihat tingkah Archie ini, dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama melihat keponakan pertamanya ini.