Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
208



Bella tersadar saat tubuhnya di pindahkan dari helicopeter ke ranjang dorong untuk pasien, dia melihat lampu-lampu di sepanjang lorong rumah sakit, perutnya masih terasa nyeri namun tak senyeri awalnya, padahal benturan itu tidak terlalu keras, dan untungnya pendarahanya sudah berhenti.


Dia lalu di dorong masuk ke dalam IGD, tampak Aksa yang menemaninya tidak di perbolehkan masuk, dokter langsung memeriksa Bella, dokter itu menatap Bella dengan nanar, melihat pipinya yang bengkak, dan adanya bekas gigitan di bahu kanannya, Dokter itu tahu ada yang tidak beres dengan ini semua, namun dia lebih fokus untuk memeriksa asal pendarahan.


"Ada apa dengan ku? " kata Bella lagi pada dokter yang sibuk memeriksa perutnya,


"Siapkan Alat USG, panggilakan dokter spesialis kandungan,"kata Dokter itu tidak mendegar suara pelan Bella yang bertanya padanya, dia benar-benar fokus.


Para perawat di sana segera menyiapkan semuanya, alat USG segera di dorong dan di tempatkan di samping Bella, Bella yang melihat para dokter dan perawat itu sibuk hanya bisa menatap mereka, air mata yang tersisa terlihat di sudut matanya, Bella tidak tahu harus bagaimana, apa yang terjadi padanya? Dia sangat bingung sekarang.


Tak lama dokter yang tampak lebih tua datang, dia lalu melihat Bella sekilas, tangan perawat yang ada di samping Bella, tanpa sadar Bella genggam, untungnya perawat itu mengerti keadaan Bella yang ketakutan, perawat itu menepuk-nepuk tabgan Bella perlahan, mencoba menenangkan Bella.


"Status? " kata dokter itu.


"Perdarahan pervaginam, " kata dokter itu memberikan laporan pada dokter kandungan.


"Nona, kapan terakhir kali Anda haid? Anda ingat? " kata Dokter itu sambil memasang sarung tangan steril.  Bella yang pikirannya sekarang kacau dan ketakutan langsung mengeleng, tak bisa memikirkan apa pun sekarang.


"Baiklah, aku akan melihatnya dulu, lalu aku akan melakukan pemeriksaan kandungan Anda untuk memastikan keadaan janin anda," kata Dokter itu meminta izin.


Bella kaget? Janin? Jadi dia hamil? Bella tak bisa menahan kekagetannya, namun dokter tidak menunggu persetujuan Bella, dia langsung menguakkan kaki Bella, menilai pendarahannya.


Setelah melakukan pemeriksaan, dokter itu langsung berpindah ke samping Bella, dia lalu segera meletakkan jel ke atas perut Bella. Dan mulai melakukan pemeriksaan pada kandungan Bella, Bella hanya melihat ke dalam monitor yang tidak bisa dia mengerti apa artinya, menatapnya dengan wajah yang tak percaya, dia benar-benar hamil?.


"Kapan Anda tahu Anda sedang mengandung Nyonya? " kata dokter itu sambil mengamati gambar di sana.


"Aku tidak tahu aku hamil,"kata Bella pelan, dokter itu melihat wajah Bella yang tampak ketakutan, dokter itu mengerti.


"Anak pertama? " kata Dokter itu lagi sambil melihat Bella, Bella mengangguk dengan cepat.


Dokter itu tampak sedikit cemas melihat ke dalam monitor itu lagi, ada gambaran kecil di sana, namun Bella tidak mengerti apa arti gambaran yang tampak jelas di layar itu.


"Kandungan Anda bermasalah Nona, namun denyut nadi janin Anda masih terlihat, Anda butuh banyak istirahat, kami akan usahakan untuk mempertahankannya dengan obat-obatan, Nyonya Anda tidak boleh stress ya, istirahatlah, " kata dokter itu.


Bella melihat kantung kecil di layar itu yang berdegup, memperlihatkan bagaimana jantung janin itu terus berdenyut, tak terasa air matanya mengalir, dia sedikit tersenyum, ternyata dia hamil, beberapa bulan ini memang dia tidak mendapatkan haid, namun dia kira itu karena dia sedang tertekan karena kematian Angga, tapi ternyata ada denyut jantung kecil yang sekarang ada di tubuhnya.


Pikiran Bella terbang ke Angga, dia ingat usapan perut Angga yang sangat berharap dia hamil, namun saat dia benar-benar hamil, dia tidak sempat mengatakannya pada Angga dia akan menjadi ayah, seketika perasaan Bella menjadi sangat sedih, dia harus melalui ini tanpa Angga.


"Jangan stress nyonya, Anda akan baik-baik saja,"kata Dokter itu lagi mencoba menyakinkan Bella. Bella mengangguk dengan keras, namun air matanya masih saja mengalir. Mereka langsung keluar dari tempat pemeriksaan Bella yang berbatas gorden dengan ruangan lain di IGD itu.


"Bagaimana? " suara aksa terdengar di balik gorden itu.


"Tuan, untungnya kandungan nyonya cukup kuat, walaupun mengalami pendarahan,  janinnya tetap bertahan, namun dalam banyak kasus, janin dengan perdarahan sebanyak ini tidak bertahan di dalam kandungan ibunya, sekali lagi dia mengalami perdarahan kemungkinan besar janinnya tidak akan lagi bertahan, kami sarankan untuk nyonya di rawat intensif di sini hingga kandungannya dinyatakan aman,"kata Dokter itu pada Aksa.


Aksa yang mendengarkan penjelasan dokter itu, wajahnya langsung berubah, Bella hamil? Pasti anak itu anak Angga, seketika emosinya kembali naik.


"Dia hamil? "kata Aksa tak percaya, dokter yang melihat itu sedikit terkejut, dia lupa bahwa Bella pun tidak tahu kalau dia sedang hamil, pria ini pasti juga tidak mengetahuinya.


"Ya, selamat ya Tuan, Istri Anda hamil,"kata Dokter itu lagi.


"Gugur kan anak itu," kata Aksa, membuat dokter itu tambah terkejut dengan apa yang di dengarnya.


"Maaf Tuan, Maksud Anda? " kata dokter itu merasa mungkin dia salah mendengarnya.


"Aku ingin anak itu di gugurkan,"kata Aksa lagi.


"Maaf Tuan kami tidak bisa, kami sudah di sumpah untuk tidak meleyapkan kehidupan bahkan dari awal proses pembuahan,"kata dokter itu tidak percaya apa yang di pikirkan oleh Pria yang di depannya ini.


"Itu bukan anakku, dan aku mau kau mengugurkannya! "kata Aksa kesal, suaranya mengema di seluruh ruangan.


"Tidak bisa Tuan, saya tidak tahu apa masalah Anda dengan nyonya itu, namun selama detak jantung janin itu berdenyut, saya tidak akan melenyapkannya," kata Dokter itu tegas, beberapa perawat dokter yang ada di sana menatap pada Aksa.


"Kalau begitu aku tidak izinkan kalian merawatnya di sini, itu hak ku ingin dia di rawat di mana, Bawa Nona pulang,"kata Aksa menyuruh beberapa orang pengawalnya masuk ke dalam tempat penanganan Bella tadi, para perawat pria dan dokter umum yang mengangani Bella mencoba untuk menahan para penjaga Aksa, namun salah satu penjaga itu segera mengacungkan pistol revolver pada dokter itu, dan dokter itu hanya mengangkat tangannya, lalu bergeser dari tepat itu, takut mereka membuat keributan dan mencelakai pasien yang lain.


Bella yang mendengar semua percakapan tandi hanya bisa menangis miris, bagaimana dia bisa membesarkan anaknya jika ada Aksa di sampingnya, Aksa tidak akan membiarkan anak ini lahir ke dunia, kalau dia pun harus kehilangan anaknya, dia tidak akan bisa hidup lagi di dunia ini, untuk apa dia hidup? Suami dan anaknya akan di renggut darinya, hidup dengan penuh kesedihan, bukanlah lebih baik mati. Bella tak ingin hidup lagi.


Penjaga itu segera masuk, dia segera mendatangi Bella, dia ingin menyimpan pistol itu pada tempatnya, namun Bella yang sudah kalap mata, dia langsung mengambil pistol itu dari tangan penjaga yang sedang lengah, dengan mudah pistol itu dia rebut, dan dengan cepat Bella menempelkannya di samping kepalanya,tangannya siap menarik pelatuk itu.


Penjaga itu kaget, Bella menatap penjaga itu dengan sangat tajam membuat penjaga itu mundur perlahan-lahan.


"Tuan, " kata penjaga itu ketika dia mundur perlahan- lahan, Aksa yang melihat itu kaget, kenapa penjaganya sampai seperti ini, dia lalu membuka gorden pembatas di sana.


Mata Aksa segera membesar, melihat pemandangan yang terpampang di depan mata kepalanya sendiri, Bella menatapnya tajam dengan pistol di samping kepalanya, seolah dari tatapannya mengatakan dia sedang tidak main-main. Bahkan para dokter yang ada di sana pun kaget melihat apa yang di lakukan oleh Bella. Semua orang di sana terdiam.