
Rintik hujan terdengar, sayup-sayup menutupi suara demburan ombak yang seolah menambah sendunya malam ini, angin pantai menyelusup diantara dinding-dinding kayu yang hanya dipernis hingga meninggalkan warna alami kayunya, di rumah dengan design minimalis sederhana ini Bella duduk menatap jauh ke arah lautan dari dinding kaca ruang keluarga. Perutnya sudah begitu membesar, bisa di bilang dia hanya menunggu hari-hari untuk bisa bertemu anaknya.
Angga datang menyerahkan secangkir susu hangat untuk Bella, dia lalu duduk di sampingnya, sudah 4 bulan mereka melarikan diri dari semuanya, meninggalkan apa pun yang ada di tempat asal mereka untuk tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran pantai ini, Angga membawa Bella ke suatu tempat di mana Mika dulu pernah ingin tinggal, di sebuh pulau kecil yang jauh dari ibu kota, namun cukup lengkap fasilitasnya, karena dia masih memikirkan fasilitas kesehatan untuk Bella jika dia ingin melahirkan nanti.
Mereka benar-benar memutuskan semua komunikasi, tidak ada yang tahu mereka di mana, mereka hanya bisa mengetahui segala perkembangan dari televisi, hidup jauh dari hiruk pikuknya keadaan kota, perlahan Angga dan Bella bisa menikmatinya berdua.
"Terima kasih," kata bella tersenyum manis pada Angga.
Angga hanya menaikan sudut bibirnya, dia lalu mengelus perut Bella yang sudah sangat besar, jauh lebih besar dari tubuhnya, membuat Bella terkadang kesusahan untuk berdiri sendiri, kakinya pun terlihat sedikit membengkak.
"Kemari," kata Angga.
"Kenapa?" kata Bella.
" Aku akan memijat kakimu," kata Angga yang sekarang kemampuan berbicaranya sudah jauh lebih baik, bahkan sudah bisa di katakan normal.
Bella tersenyum manis, dia lalu menangkat kakiya dan meletakan pada paha Angga yang menjadi tumpuannya. Angga segera mengambil minyak yang ada di sebuah botol di sampingnya, Angga lalu membalurkannya pada kaki Bella yang memang sering terasa pegal sekali sekarang.
"Bibi yang ada di pasar berbicara pada ku pagi ini," kata Angga memulai bercerita pada Bella sambil memijit lembut kaki Bella, karena Angga sudah merasakan bagaimana susahnya tidak bisa berbicara, jadi sekarang dia lebih banyak berbicara, namun hanya pada Bella. Bella hanya tersenyum melihat Angga dari balik gelas susunya.
"Benarkah? apa yang dia katakan? Apa dia mengodamu lagi?" kata Bella sambil mengoda suaminya, Angga melirik Bella yang tampak senang.
"Tidak, dia bilang, aku harus memperhatikan dirimu, katanya kita pasangan yang cocok, dia menyuruhku untuk memijat kakimu setiap malam sebelum tidur agar kau bisa tidur nyenyak," kata Angga tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang dalam, begitu manis. Bella juga tersenyum mendengarkannya.
"Wah, tumben dia mengatakan itu, biasanya dia selalu mengodamu, aku sampai cemburu," kata Bella mengoda suaminya lagi.
Angga kembali tersenyum mendengar perkataan Bella, dia tak punya niat untuk membalas godaan Bella dan hanya fokus memijak lembut kaki Bella yang sekarang terlihat 1 kali lipat lebih besar dari sebelumnya, melihat suaminya hanya tersenyum, Bella hanya manyun, sudah terlalu biasa dengan keadaan ini, dia mengelus perutnya lagi, anaknya menendang keras di dalam, seperti bergulat di dalamnya. Tendangan kali ini benar-benar keras hingga membuat perut Bella nyeri.
"Au," kata Bella kaget karena tendangannya.
"Kenapa?" kata Angga yang juga langsung kaget.
"Anakmu menendang begitu keras," kata Bella manja.
Angga tersenyum, lalu berdiri dan segera berjalan ke dekat istrinya, berjongkok di depan Bella dan segera mengelus perut Bella.
"Jangan seperti itu, mama akan merasakan nyeri, cepatlah keluar, nanti kita akan bermain bersama," kata Angga berbisik pada perut Bella, lalu dia mencium perut Bella. Setelah itu Angga menatap Bella dengan lembut. "Apakah dia sudah tenang?" tanya Angga.
"Ya, dia benar-benar anakmu, dia hanya mendengarkanmu," kata Bella cemberut melihat Angga yang sudah berdiri. Dia yang mengandung, dia yang menjaganya, tapi anaknya hanya mendengar kata-kata Angga. Angga lalu tersenyum dan mencium dahi Bella.
"Tapi aku hanya mendengarkanmu," kata Angga lagi, merayu istrinya.
Bella tertawa terkekeh mendengar rayuan suaminya, Angga kembali duduk di tempatnya, lalu Angga segera memijat kaki Bella yang satunya lagi.
"Ya," kata Angga seadanya.
"Oh, bagaimana?" kata Bella.
"Jofan sudah berhasil mencabut hak istimewa kerjaaan," kata Angga sambil terus memijat kaki Bella.
"Benarkah? lalu bagaimana Aksa?" kata Bella kaget, Angga langsung melirik tajam pada Bella, Bella melipat bibirnya ke dalam. "Hanya ingin tahu," kata Bella menjelaskan kenapa dia menanyakan itu, salah satu sifat Angga yang tak bisa berubah sama sekali, selalu saja cemburu seperti ini. Bella berpikir, tanpa hak istimewa itu, nasib Aksa pasti menyedihkan.
"Dia segera dipenjara karena beberapa kasus, namun yang paling memberatkan adalah kasus penculikan Archie dan Nakesha," kata Angga kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Aku harap dia selamanya ada di sana dan mendapatkan hukuman setimpal," kata Bella menyerumput kembali susu hangatnya.
Akhirnya Aksa bisa mendapatkan balasan untuk semua kesalahannya.
"Iya."
Bella kembali melihat ke arah luar yang tampak remang-remang bersemu kegelapan, pasir putih di dekat mereka tampak basah, rintik hujan menderas, membuat pemandangannya semakin kabur, Bella lalu menarik napas panjang, keputusan mereka unntuk pindah ternyata keputusan yang sangat tepat, 4 bulan ini semuanya berjalan baik tanpa ada masalah apa pun. Awalnya Bella masih sering mimpi buruk karena sudah melakukan hal yang sampai sekarang tidak sangka bisa di lakukannya, membunuh seseorang walau pun untuk membela diri tetap saja menekan mental.
"Ada apa?" kata Angga melihat Bella yang menghela napas panjang.
"Tidak, terkadang rindu akan suasana di sana, aku juga sudah lama tidak bertemu ibu, aku tidak tahu bagaimana kabarnya? Bahkan belum sempat mengabarkan kalau kita akan punya anak," kata Bella lagi pada Angga. Bella menarik kakinya merasa pijatian suaminya sudah cukup untuk menghilangakan pegalnya. Angga memandang Bella lembut, melihat wajah istrinya yang sekarang jauh lebih tembem.
"Kita akan ke sana jika sempat, keadaan di sana juga belum terlalu kondusif, Jofan juga pasti masih mengalami banyak yang pro dan kontra dengan keputusannya, terutama anggota parlemen, dia sedang bertahan untuk tetap bisa dalam posisinya, untungnya seluruh masyarakat mendukungnya, sehingga dia tidak perlu terlalu khawatir," kata Angga menjelaskan.
"Ya, kita juga tidak akan bisa sekarang, aku rasa yang ini sudah tidak sabar akan keluar," kata Bella menunjuk nunjuk perutnya. Angga hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Dia bisa keluar kapan pun dia mau," kata Angga berdiri, menjulurkan tangannya pada istrinya, Bella lalu mengapai tangan Angga, dia memang kesusuhan bangun saat sudah duduk seperti ini, pinggangnya juga sudah mulai nyeri.
Bella bangkit, anaknya seperti tahu ibunya akan tidur, dia malah lebih aktif di dalam sana, menendang, berputar, seolah tak membiarkan Bella dan Angga pergi ke kamar, dia masih ingin mendengar suara ke dua orang tuanya mengobrol, untunglah Bella sudah terbiasa dengan keaktifan anaknya ini.
"Ehm, apakah menurutmu Aksa bisa keluar dan menemukan kita di sini?" kata Bella saat Angga membantunya untuk menyusun bantal, karena perut Bella yang sudah membesar, dia hanya bisa tidur dengan posisi miring, dan posisi miring terbaik untuk ibu hamil adalah menghadap ke kiri. Angga meletakkan beberapa bantal lebih banyak di bagian pinggang Bella, agar pinggangnya tidak terlalu nyeri. Anaknya masih saja menari di dalam sana. Benar-benar tidak ingin ibunya tidur.
"Aku tidak tahu, tapi jika dia menemukan kita, kita akan handapi bersama," kata Angga lagi menenangkan Bella yang terlihat khawatir.
"Aku ingin hidup seperti ini saja selamanya, tidak perlu penuh dengan harta, tapi tenang dan bisa bersama selalu," kata Bella memengang tangan Angga yang sudah berpindah posisi duduk di ranjang, di samping Bella.
"Ya, sudah, kau sedang hamil tua, banyaklah beristirahat, jangan terlalu di pikirkan," kata Angga lagi.
"Baiklah, selamat malam papa," kata Bella mengoda Angga sekali lagi, Angga hanya tersenyum manis, mengelus kepala istrinya perlahan-lahan, hingga Bella mulai bisa tertidur, sebuah ritual malam yang saat ini selalu dilakukan oleh Angga agar Bella bisa tidur dengan tenang.
Melihat wajah Bella yang sudah tertidur nyenyak, Angga hanya tersenyum. Mematikan lampu tidur mereka, dan segera berbaring di samping Bella.