
Jofan duduk di dekat ranjang Angga, sudah hampir 2 bulan, keadaan Angga masih sama, dia memang tidak lagi mengalami kejang atau pun melewati masa kritis, namun keadaannya pun tidak ada kemajuan yang berarti, mereka hanya menyambung nyawanya dengan alat-alat yang ada, bahkan untuk bernapas saja dia masih dibantu oleh alat-alat medis.
Jofan menatap nanar ke arah Angga, luka di luar tubuhnya sudah sepenuhnya sembuh, namun dia masih tidak bisa menebak bagaimana dengan luka di dalam tubuhnya. Jofan sudah tidak tahu apa lagi yang harus di lakukannya, dia sudah mencari Bella ke seluruh tempat namun Bella juga bagai ditelan bumi.
Pintu ruangan Angga terbuka, Jofan langsung melihat ke arahnya, melihat siapa yang datang. Daihan masuk perlahan, lalu menutup pintunya.
"Tidak pergi ke perusahaan? " tanya Jofan sedikit tersenyum pada Daihan.
"Sebentar lagi, aku datang melihat Nakesha dan Archie, aku rasa aku akan membawa mereka keluar, mereka juga tidak nyaman ada di sini, aku akan menjaga mereka dengan baik, "kata Daihan melihat Angga yang masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya.
"Ya, aku tidak bisa menahan mereka terus di sini, dan sepertinya keadaan istana juga tenang, mereka sudah mendapatkan apa pun yang mereka mau, jadi anak itu juga sudah aman,"kata Jofan melirik ke arah Daihan.
"Jangan terlalu membencinya, dia hanya anak-anak, bukan salahnya dia terlahir dari siapa? " kata Daihan, dia tahu Jofan membenci Archie karna Aksa.
"Aku harap pepatah 'darah lebih kental dari air' itu tidak benar, jika tidak, sebaik apapun kau menjaganya, dia akan mewarisi sifat ayahnya, aku harap kau bisa mengubahnya, "kata Jofan lagi.
"Aku akan mendidiknya dengan baik, " kata Daihan pada Jofan dengan tatapan serius.
"Baiklah," kata Jofan tersenyum sedikit lalu berdiri dari duduknya.
"Bagaimana perkembangannya? "kata Daihan menatap Angga lagi.
"Masih sama seperti terakhir kau menanyakan hal ini, tidak ada perubahan, jangan tanya tentang Bella, aku belum tahu di mana dia sekarang, aku sangat berharap dia sekarang ada di sini, kalau dia ada di sini, pasti keadaan Angga tidak akan seperti ini,"kata Jofan lagi.
Daihan terdiam, dia bukan orang yang biasa mengurusi hal-hal seperti ini, dia tidak pernah mengerti tentang dunia politik seperti Angga dan Jofan, jadi dia tak tahu harus bagaimana dan yang bisa dia andalkan sekarang hanya Jofan.
"Aksa sangat pintar, dia bahkan tidak lagi pergi ke mana-mana, mereka beraktifitas seperti halnya sehari-hari, aku tidak tahu kapan dia mulai menemui Bella, tapi dia tidak mungkin selamanya tidak menemui Bella, kecuali … " kata Jofan.
"Kecuali Apa? " kata Daihan tidak suka kata-kata yang muncul di kepalanya
"Kecuali dia sudah melenyapkan Bella, " kata Jofan tegas, mendengar itu Daihan kaget.
"Tidak, tidak mungkin, untuk apa Aksa membunuh Bella, karena dari dulu, Bella lah tujuannya, " kata Daihan lagi.
" Kita tidak tahu, Aksa adalah orang yang kejam, dia bisa melakukan apa pun, bahkan pada Sania dia bisa memperlakukannya begitu kejam, tidak tertutup kemungkinan itu juga terjadi pada Bella,"kata Jofan lagi.
Daihan tediam, dia tidak suka dengan kenyataan ini, bagaimana pun, Bella adalah wanita spesial baginya, dia tidak ingin percaya, selama dia belum melihat buktinya, dia tidak akan percaya Bella sudah meninggal.
"Tidak, aku yakin Bella masih hidup, dia tidak mungkin meninggal,"kata Daihan lagi.
Jofan baru saja ingin membalas kata-kata Daihan, namun tiba-tiba suara alat penunjang kehidupan Angga berbunyi lebih cepat dan keras, mereka langsung melihat Angga, tampak Angga kembali kejang, Mereka baru sadar apa yang sudah mereka bicarakan, kemungkinan Angga bereaksi tentang kematian Bella.
Jofan melihat itu segera cemas, dia segera berlari keluar, memanggil tim dokter yang sedang mengurusi obat dan keperluan Angga, tim dokter itu dengan cepat langsung masuk ke dalam ruangan itu, Daihan segera dipersilakan keluar dari ruangan itu, lagi-lagi Jofan dan Daihan hanya bisa melihat keadaan Angga dari jendela kaca itu.
"Dia mendengar kata-kata kita,"kata Daihan pelan.
"Ya, aku tidak menyangka dia merespon hal itu, " kata Jofan.
Jofan langsung merasa menyesal, dia sudah mengatakan hal yang pasti membuat Angga terpukul, melihat tubuh Angga yang masih kejang, Jofan merasa dia adalah orang paling bodoh di dunia, dia tidak sanggup melihatnya lagi, jadi dia membalikkan tubuhnya.
"Dia tidak akan apa-apa, aku yakin dia orang yang kuat, "kata Daihan.
" Aku harap begitu, "kata Jofan lagi.
"Tuan Jofan, ada hal yang ingin saya laporkan,"kata seorang tentara menghampiri Jofan.
"Ada apa? "kata Jofan dengan wajahnya yang masih berkerut.
"Tuan Aksa siang ini pergi dari istanannya, " kata Tentara itu.
Wajah Jofan dan Daihan langsung berubah, tampak secercah harapan di wajah mereka, jangan-jangan …
"Kemana dia pergi? " kata Jofan.
"Pulau Albaris, " kata Tentara itu lagi.
"Pulau Albaris, itu pulau khusus milik kerajaan, hanya keluarga kerajaan dan relasinya yang boleh mendarat di pulau itu, " kata Jofan lagi.
"Apa kau tidak boleh masuk ke pulau itu? " kata Daihan.
"Tidak, bahkan ayahku tidak bisa memasuk ke sana, hanya presiden yang memiliki hak untuk masuk ke sana,"kata Jofan menatap Daihan.
"Bisakah kau meminta bantuan presiden untuk masuk ke dalam pulau itu? "
"Tidak, dia pasti tidak akan mengizinkan, lagi pula presiden yang sekarang adalah orang yang berpihak pada kerajaan, dia bisa diam karena pernah aku ancam, namun jika aku meminta untuk membantu, dia pasti akan melaporkan masalah ini kekerajaan, dan hal ini bisa membuat posisi kita akan sulit, " kata Jofan memutar otak.
"Tapi setidaknya ini menandakan Bella masih hidup sampai sekarang,"kata Daihan.
Jofan menatap Daihan, dia mengangguk.
"Kau bilang kau calon terkuat menjadi presiden kan? " kata Daihan.
"Ya, Kau benar, mengulingkan seorang presiden lebih mudah dari pada mengulingkan pihak kerajaan, kau seharusnya ikut dunia politik juga Bro, "kata Jofan tampak senang, setidaknya satu kasus ini sudah menemukan titik terang.
"Tidak, ini sudah cukup membuat aku tidak bisa tidur malam hari, " kata Daihan.
Mereka lalu kembali menatap tubuh Angga yang masih di tangani oleh dokter, dia sudah tenang.
Bertahanlah sebentar lagi, jika aku sudah menjadi Presiden, aku akan membawa Bella kembali padamu, pikir Jofan.
"Ajudan! Siapkan mobil, aku ingin pergi ke markas militer sekarang!" kata Jofan tegas, dia segera berjalan dengan gayanya, kali ini dia akan membalaskan semuanya.
Aksa mari kita bertarung!