Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
235



Aksa yang mendengar itu sedikit mengerutkan diri, dia sangat ingin mengendong anaknya, dia ingin bisa dekat dengan anaknya, kenapa malah di halangi?.


"Kemarikan dia, aku ingin mengendongnya," kata Aksa  sedikit memaksa pada Nekesha.


Nekesha yang melihat hal itu tentu kaget, kenapa pria ini begitu memaksa, padahal tadi dia terlihat lembut, sekarang kenapa dia kembali seperti pria yang tadi siang.


"Tidak, kau menakutinya," kata Nekesha buru-buru ingin menutup pintu apartemennya, pengasuh Archie yang ada di sana langsung tanggap, dia segera mengambil Archie yang menangis di gendongan Nakesha dan membawanya pergi masuk ke dalam kamar Nakesha.


Aksa yang melihat anaknya di bawa pergi darinya tidak lagi bisa bersikap manis. Apa lagi melihat tingkah Nakesha yang hendak menutup pintunya, dia segera menahan pintu dengan lengannya.


"Nona, kau ingin main-main rupanya, sayangnya aku tidak punya kesabaran untuk bermain-main sekarang, serahkan Anakku dengan baik-baik atau kau ingin dengan cara kasar," kata Aksa dengan wajah kesalnya, Nekesha yang mendengar kata-kata Aksa langsung kaget, anak? Jangan-jangan pria ini adalah Aksa.


Dengan cepat Nakesha segera menutup pintunya kembali, tentu saja Aksa segera menahannya, para penjaganya yang tadi hanya diam saja langsung menolong Aksa, dan tentu saja keadaan ini tidak sebanding oleh Nakesha yang hanya menahannya sendiri.


Nakesha segera putar otak, dia tidak bisa menahan pintu itu lama - lama, dia segera melepaskan pintu itu, lalu dengan cepat berlari, dan segera mengambil handphoneya yang ada di meja, dan bergegas masuk ke dalam kamarnya, penjaga Archie dan Archie juga ada di sana. Nakesha segera mengunci pintunya sebelum Aksa sempat mengapainya.


"Tolong aku," kata Nakesha yang menarik meja riasnya untuk menutupi pintu itu,  penjaga Archie segera meletakkan Archie di ranjang, dan segera membantu Nakesha, terdengar pukulan keras dari luar, membuat Nakesha terkejut, dia lalu mencari lagi apa yang kira-kira bisa menahan pintu itu.


"Kau, bawa Archie ke dalam kamar mandi, kunci pintu, dan tahan dengan tubuhmu, cepat," kata Nakesha memerintahkan penjaga Archie. Penjaga Archie segera mengendong Archie kembali, dia masuk ke dalam kamar mandi, dan menguncinya.


Nakesha dengan tangan gemetar segera melihat handphonenya, di dalam pikirannya yang pertama ingin dia telepon Daihan, namun dia juga berpikir kalau dia menelepon Daihan sampai kapan Daihan akan bisa sampai di sini, bisa-bisa pintu itu sudah terbuka baru Daihan sampai di sini, jadi dia putuskan untuk melepon keamanan apartemen itu.


"Halo? " kata suara dari seberang.


"Tuan, tolong saya, saya ada di lantai 7, ruangan 7012, saya butuh bantuan, ada orang yang menyusup ke dalam apartemen saya, " kata Nakesha langsung to the point.


"Baik Nona, saya akan segera ke sana, Anda sudah menelepon polisi? "kata penjaga itu.


"Belum, saya mohon, secepatnya datang kemari," kata Nakesha.


"Terima kasih," kata Nakesha dengan suara panik dan gemetar.


Gedoran pintu terus terdengar, membuat Nakesha hanya bisa berdoa, mereka ada di lantai 7,  Nakesha tidak mungkin nekat untuk membawa Archie turun dari gedung begini tinggi. Semoga saja penjaga cepat datang, pikir Nakesha.


Suara tiba-tiba gaduh di luar dan tak lama gedoran itu sudah tidak terdengar, Nakesha yang sedikit penasaran berjalan menuju pintu, mendengar sebisa mungkin apakah ada suara yang terdengar, namun yang ada di sana hanya senyap.


Tiba-tiba handphonenya berdering dan bergetar, membuat Nakesha terkejut setengah mati, dia melihat nomor yang ada di layarnya, itu nomor dari penjaga apartemen.


"Nona, kami sudah mengamankan mereka, Anda sudah aman Nona," kata Penjaga itu. mendengar itu Nekesha mengehembuskan napas leganya.


"Terima kasih," kata Nakesha lega. Dia segera mematikan panggilan terlepon itu, lalu segera mengetuk pintu kamar mandi.


"Keluarlah, semua sudah aman," kata Nakesha.


Penjaga Archie segera membuka pintu, Nakesha segera mengendong keponakannya, menciumnya dengan sangat dalam ke dua pipinya, hampir saja dia kehilangan keponakannya itu.


"Bubu," kata Archie memegang wajah Nakesha dengan kedua tangannya, mungkin Archie mengira ciuman itu karena Nakesha gemas, hingga dia tertawa, dia tidak tahu betapa tegangnya keadaan sekarang.


"Nona apa sudah aman? " kata penjaga Archie lagi masih cemas.


"Ya, ayo kita mengeser meja hias itu lagi," kata Nakesha yang berusaha lebih tenang, dia meletakkan Archie yang untungnya sangat tenang dari tadi, tidak menangis atau pun melakukan apa pun.


Nekesha dan penjaganya segera mengeser kembali meja hias itu, Nakesha segera mengamati, mendengarkan dengan seksama, dan tidak terdengar suara apapun di sana.


Nakesha lalu membuka pintunya perlahan, dia melihat sebentar ke luar sengan cara mengeluarkan kepalanya sebentar, dan tiba-tiba hening dan gelap.