Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
123



Bella duduk di ranjangannya, dia tidak menangis, hanya menatap kosong ke arah depan, kilasan bayangan wajah penuh amarah Angga terlihat sangat jelas. Semakin dia mengingatnya, semakin hatinya sakit, dadanya terasa sangat sesak sekarang. Apa dia coba untuk tidur saja?.


Bella mulai merebahkan tubuhnya yang lelah, entah kenapa tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terasa sangat letih, tidak… bukan sakit, hanya terasa sangat letih dan merasa kedinginan, bahkan dia mengigil karena rasa dingin yang dari tadi menyergapnya, dia merasakan ujung jemari kakinya dingin bagaikan es.


Bella menarik  selimutnya hingga menutupi seluruh badannya, dari ujung kaki hingga ujung kepala, namun matanya tak terpejam, diam-diam dia menangis, air matanya keluar tidak terbendung, rasa luka di hatinya mencuat begitu saja ketika selimut itu menutupinya, Bella menahan suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun, namun tubuhnya yang mengigil itu tetap tidak bisa dia kontrol.


Sakit, sakit sekali rasanya, melihat pria yang kita cintai, malah begitu menunjukkan perhatiannya pada wanita lain, apa lagi wanita itu adalah wanita yang pernah begitu di cintainya, dan sekarang Bella hanya sendiri, pria itu bahkan tidak tahu betapa pedih luka batin Bella sekarang.


Bodoh, sekali lagi bodoh Bella, bisa-bisa dia kembali ke rasa sakit yang seperti ini, mengganggap di hati Angga dia sudah bisa menggantikan posisi Mika, bodoh bukan?.


Seluruh badan Bella terasa lelah, linu dan nyeri, dia tidak tahu apakah karena kejadian semalam, atau karena nyeri hatinya yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia terus menangis dalam selimutnya, hingga benar-benar lelah, dan tertidur.


-----****-----


Hari menjelang sore, matahari sudah hilang dari pandangan, cahaya pun sudah mulai sayup-sayup hilang dari cakrawala yang bersiap menyambut rembulan, merayunya untuk segera memunculkan wajahnya .


Angga menatap indahnya pergantian yang pasti itu, merasakan semilir angin yang menerpa tubuhnya, dia kembali berdiri di pantai berbatuan itu, menatap kosong, 2 tahun setiap kali hari kematian Mika dia berdiri di batu ini, untuk apa? menyesali semuanya… tapi ternyata tak ada sedikitpun alasan Mika adalah untuknya.


Bahkan ketika dia mengingat detik-detik  kematian Mika, ucapan ‘aku mencintaimu’ itu tidak di tujukan padanya, Angga baru ingat, Daihan berdiri di belakangnya, dia tidak melihat ke arah Angga, tapi melihat kearah cintanya. Daihan.


Lalu untuk apa dia 2 tahun ini bersedih? Terluka, menyiksa diri, menyesal, hah… terasa sangat bodoh. Dan sialnya, teman-temannya membiarkannya bertingkah sia-sia dan bodoh seperti itu, mencintai tanpa di cintai, rasanya jauh lebih sakit dari pada kematian. Jarak terbesar antara dua orang kekasih bukan kematian, tapi adalah perasaan cinta itu sendiri.


Jofan kembali menatap Angga, membiarkan temannya menikmati waktu-waktunya untuk menenangkan diri. Tak lama Angga turun.


"Pulang? " kata Jofan


"Ya. " kata Angga menuju mobilnya. Jofan mengikutinya dari belakang. Dan mereka melaju menuju ke markas militer.


Angga berjalan dengan mantap ke arah ruangan Bella, saat dia di pantai itu, semua sudah di tinggalkannya, tidak ada lagi Mika di hidupnya, itu terakhir kalinya dia akan ke sana, Itu terakhir kalinya dia akan mengingatnya, dan mulai sekarang dia akan melanjutkan hidupnya.


Dia mengetuk pintu kamar Bella, tak lama Judy membuka pintunya. Judy langsung mempersilakan Angga untuk masuk.


"Di mana Nona? " kata Angga yang tidak menemukan Bella dalam pandangannya.


"Nona sedang di dalam kamar mandi, tapi… " kata Judy.


"Tapi kenapa? " kata Angga jadi cemas.


"Sudah cukup lama Nona di sana, dari tadi saya bertanya, Nona hanya menjawab sebentar lagi. " kata Judy.


Angga segera berjalan ke arah kamar mandi, dia mengetuk pintunya dengan cepat, memegang gagang pintu itu.


" Bella? Bella? " katanya mencoba memanggil Bella. Dia menunggu, namun Bella tidak menjawabnya, dia bertambah panik.


"Bella?" katanya lagi, mencoba sekali lagi sambil mengetuk dan memutar-mutar gagang pintu itu, namun pintu terkunci dan Bella tak menjawab apapun.


---***---


Bella duduk dalam bath up rumah sakit yang sudah usang itu, air di isinya begitu penuh, hingga saat dia masuk ke dalamnya air beluber hingga membasahi seluruh lantai.


Airnya beriak, walaupun airnya terasa dingin, tapi tetap rasa terbakar itu tak juga reda, Bella jadi kesal, dia baru kali ini merasakan seperti ini, dulu saat tahu Aksa bersama Sania, dia bahkan tak merasa begitu tersiksa, rasanya semua salah, hingga Bella kesal sendiri.


Bella memukul-mukul air di Bath Up itu, dia menangis lagi, lagi-lagi hany bisa menangis, sedikit meraung, terus memukul air itu hingga rasanya dia puas, namun bukannya puas,.dia malah terus menangis.


Hah! sekarang kepala Bella yang pusing dan sakit, karena itu dia lalu manarik napas panjang, dan segera merosotkan seluruh tubuhnya ke dalam air, hening.. Bella membuka matanya di dalam air, melihat cahaya lampu yang pudar. Keheningan ini yang di butuhkannya.


---***---


Angga tak sabar, dia segera mendobrak pintu itu dengan kuat, setelah 2 kali mencoba pintu itu akhirnya terbuka paksa juga, dia langsung melihat ke dalam, melihat bath up di sana sudah terisi penuh dengan air dan Bella ada di dalamnya, membenamkan dirinya.


Angga dengan cepat langsung mengangkat tubuh Bella dari dalam air, Bella juga langsung memegang tangan Angga, seluruh tubuh Bella yang terendam basah kuyup dengan baju tidur putihnya, Angga hanya memandangnya dengan sangat cemas.


" Apa yang kau lakukan? " kata Angga dengan nada bicara sedikit tinggi karena cemas.


"Sudah pulang? " kata Bella ketus.


Angga melihat wajah Bella, wajah wanita itu dingin, hanya ekspresi datar yang muncul di sana, dari matanya terlihat kemerahan, Angga tak tahu itu karena menangis atau karena dia baru saja melihat Bella di dalam air dengan mata yang buka.


" Lukamu tidak boleh basah, bukannya kau tahu itu? " kata Angga lagi.


"Kenapa kau harus peduli? " kata Bella menatap wajah Angga yang tampak cemas.


Bella tak ingin melihat wajah Angga terlalu lama, telalu sakit, takut akan membuat dirinya kembali meneteskan air mata, bahkan hingga sekarang seluruh tubuhnya merasa sangat lelah, pegal hingga menusuk sendi-sendinya.


Bella melangkahkan kakinya keluar dari Bath up tua itu, menapakkan kakinya ke ubin kamar mandi yang lagi-lagi terasa dingin, membuat seluruh tubuhnya mengingil, namun panasnya tak juga reda, apalagi sekarang Angga ada di sini. Dia benar-benar tak ingin melihat pria ini.


Angga memperhatikan ekspresi dan tingkah Bella yang jauh dari biasanya, seolah dia tidak mengenal wanita itu, dingin dan acuh, selama dia mengenal Bella, dia tidak pernah melihat Bella begitu, Angga hanya mengerutkan wajahnya.


"Bella… " kata Angga lagi, namun Bella yang sudah sampai di pintu kamar mandi itu hanya melirik ke arah Angga. lirikannya menusuk hati Angga.


"Aku ingin ganti baju, bisakah kau keluar sekarang?" kata Bella tanpa eskpresi apapun. Hanya suara datar dan lirikan dingin menusuk Angga. Angga mengerutkan dahi. Namun dia tidak membantah, Angga hanya kembali melirik ke arah Bella, lalu berjalan keluar dari kamar mandi itu.


Bella menutup pintu itu dengan cukup keras, dia mengigit bibirnya, tak terasa air matanya jatuh kembali saaat dia menunduk. Kenapa? bukannya saat ini harusnya Bella merasa senang bisa marah dengan Angga. tapi melihat wajah pria itu menatapnya begitu, yang ada hati Bella kembali sakit.


Kilasan bayangan tadi siang, bagaimana emosinya Angga mengetahui tentang keadaan  Mika, membuat Bella kembali menyeka air matanya dengan kasar, meninggalkan jejak merah di bawah matanya, untuk apa menangis? Bukannya Bella sudah tahu siapa sebenarnya yang ada di hati Angga, Angga tak mungkin bisa berpura-pura saat dia marah seperti itu. Bahkan dia tidak melirik pada Bella sedikitpun. Dia melupakannya ketika ada yang menyinggung Mika. Saat semua sudah selesai, dia baru mencari Bella. Memangnya Bella apa?


Dia menganti bajunya dengan cepat. Udara di kamar mandi itu terasa cukup dingin hingga Bella memutuskan untuk segera keluar, perbannya akan digantinya nanti di kamar.


Bella membuka pintu kamar mandi, dia melihat sekitar, Judy tidak ada, saat dia menoleh ke kanan, dia kaget, melihat Angga yang ternyata menunggunya, bersender di kusen pintu. Menatapnya dengan tatapan datarnya.


Bella cepat-cepat berjalan, mencoba menghindar dari Angga, berjalan menuju tempat di mana seluruh barang-barang ke perluannya di susun oleh Judy.


Dia mengambil sisir untuk menyisir rambutnya yang masih basah.


"Kau tahu menyisir rambut saat basah tidak baik. " kata Angga mengikuti Bella.


Bella melirik ke arah Angga, dia tahu soal itu, tapi dia hanya bingung harus melakukan apa, dia sedang tidak ingin berbicara dengan pria ini.