Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
68



Aku yang menjauh, aku yang tersakiti, aku yang memutuskan, aku pula yang merasa hampa, bagaimana ini cinta?.


____________________________________________


Bella mengoleskan lipstick merah darah ke bibirnya yang mungil, memberikan sentuhan tegas pada matanya, dia sedikit berdandan untuk malam ini, dia berdiri dan menatap dirinya, rambutnya yang pendek di biarkan, hanya menambahkan aksen gelombang, dia juga menggunakan baju bodycon berwana nude dengan tangan sesiku, potongannya simple tapi karena Bella yang mengunakannya, tetap saja tampak begitu menarik, dia tidak ingin terlalu menonjolkan kelebihannya, mengingat malam ini adalah malam amal dan dia ingat kata-kata Angga agar jangan keterlaluan.


" Nona, mobil sudah siap,"kata Judy melihat Bella yang sedang memperbaiki penampilannya.


"Bagaimana? "kata Bella tersenyum, tapi kesuraman di matanya masih terlihat.


Sejak pindah ke apartemen ini, Bella masa sekali tidak berhubungan lagi dengan Angga, bahkan Judy pun tak mengatakan apapun tentang Angga, ada perasaan kehilangan, ada perasaan kosong di hatinya, namun dia yakin seiring jalannya waktu, hatinya akan terbiasa lagi untuk merasa kesepian.


"Anda sangat cantik,"kata Judy tersenyum.


"Baiklah, ayo kita pergi,"kata Bella tersenyum, dia lalu berjalan dengan sangat percaya diri. Hari ini akan terjadi sesuatu, Bella tersenyum sinis.


Bella turun dari apartemennya, menuju ke basemen, saat dia sampai di basemen pintu lift terbuka, Angga berdiri dengan wajah dinginnya, di belakangnya ada  Asisten Jang.


Bella tampak terkejut, sesaat hanya menatap wajah dingin Angga, Angga hanya melirik, sadar akan posisinya, Bella lalu bergegas keluar, dan Angga masuk begitu saja, enggan melihat Bella bahkan sampai lift tertutup.


Dada Bella terasa sesak, dan nyeri melihat tatapan dingin Angga itu, seolah mereka sama sekali tidak mengenal dulu, namun dia mencoba menahannya, tidak ada waktu untuk mengikuti perasaannya yang nyeri itu. Dia lalu berbalik dan segera masuk ke  mobil.


" Judy, kau sudah siapkan apa yang ku minta kan? "kata Bella tampak bersiap.


"Sudah Nona, tapi apa Anda yakin? "kata Judy tampak memandang Bella.


" Ya,lakukan saja seperti yang aku katakan," kata  Bella terlihat lebih tegas.


" Baik Nona,"kata Judy.


"Kita benar-benar tidak perlu izin dan laporan dari Angga lagi kan? "kata Bella memastikan, menyakinkan dirinya bahwa Angga tak peduli lagi.


"Ya"


"Baiklah,"kata Bella sedikit menahan pahitnya kecewa, ada rasa sakit saat menyadari, ternyata Angga memang tidak lagi peduli padanya.


Mobil mereka akhirnya sampai di aula kerajaan, di tempat itu sudah lumayan ramai orang yang berdatangan. Supir langsung membukakan pintu untuk Bella, saat dia keluar, tanpa di sangka Aksa sudah berdiri di depannya, Bella saja sampai kaget melihat sosoknya ada di sana. Dia tampak terlihat begitu rapi dengan baju kerajaannya, menampakan aura darah birunya.


" Aku senang Anda datang Nona Mika,"kata Aksa terenyum begitu manis, dia menyodorkan tangannya, Bella mengerti, dia segera menyambut tangan Aksa, Aksa mencium tangan Bella, Bella hanya membalasnya dengan senyuman.


" Silakan masuk Nona Mika, " kata Aksa dengan begitu sopan.


"Baiklah, terima kasih Pangeran Aksa, saya sedikit terkejut mengetahui Anda yang menyambut saya malam ini, saya cukup tersanjung,"kata Bella tersenyum sangat manis, namun tetap menjaga sikapnya. Bella berjalan sedikit di depan Aksa.


"Tentu, karena kedatangan Andalah acara ini akan spesial,"kata Aksa mulai mengoda. Bella tersenyum sedikit sinis, berputar dengan anggunnya untuk menatap Aksa yang ada di belakangnya.


"Anda mencoba mengoda saya Pangeran Aksa? "kata Bella to the point, tersenyum sedikit mengoda pada Aksa.


"Hanya jika Anda merasa seperti itu Nona Mika,"kata Aksa membalas senyuman Bella.


"Baiklah, aku akan anggap itu hanya keramahanmu. Pangeran Aksa, sepertinya Anda harus masuk, mereka sudah menunggu Anda, "kata Bella yang melihat beberapa orang sepertinya mencari Aksa.


"Setelahmu Nona Mika."kata Aksa mempersilahkan.


"Baiklah."kata Bella mulai berjalan dengan anggunnya, Aksa berjalan di belakangnya, seolah menjaga Bella, mempertegas dia adalah undangan khususnya.


Bella masuk ke dalam aula yang megah itu, pada zaman dahulu aula itu adalah tempat para bangsawan akan berkumpul, mengadakan pesta topeng, bersenang-senang hingga pagi. Bella berhenti sejenak, mengamati langit-langit aula itu dengan seksama, ukiran-ukirannya terlihat detail dan sangat bagus, di tengah ruangan tergantung lampu kristal indah yang tampak sangat besar.


Bella mengulum senyumannya, ini tempat pernikahannya dengan Aksa sebelum malamnya dia di lenyapkan, Bella ingat bagaimana senangnya hari itu?, dengan balutan gaun putih pernikahan yang sangat anggun dia berjalan masuk ke dalamnya, sangat naif, polos dan tak menyangka orang yang mengatakan akan menjaganya dalam keadaan apapun, malah membunuhnya. Bella kembali mengingat di dalam ruangan ini saat itu penuh dengan para undangan yang Bella sendiri merasa asing. Tak di sangka dia akan memasuki tempat ini lagi.


" Terasa familiar Nona Mika?” kata Aksa yang ternyata masih ada di belakangnya, sedikit berbisik di telinganya, membuat bulu kuduk Bella berdiri karena kengerian.


"Tidak, ukirannya sangat detail dan tegas, aku rasa dari ukiran ini dapat terlihat bagaimana kekuasaan kerajaan dulu,"kata Bella dengan anggunnya.


"Ya, Anda sangat teliti Nona Mika, saya rasa kita harus masuk,"kata Aksa.


Bella menatap Aksa dengan tatapan heran, dia memiringkan sedikit kepalanya seolah dari tatapannya saja orang tahu bahwa ada yang ingin di tanyakannya.


Aksa menaikkan sedikit sudut bibirnya, menatap wanita yang ada di depannya ini, terlalu angkuh.


"Anda benar-benar pandai berbicara Nona Mika, baiklah, saya permisi dulu," kata Aksa berjalan melewati Mika untuk menuju ke depan, Bella memperhatikan caranya berjalan, sangat percaya diri, benar-benar seorang Pangeran.


Acara berjalan sebagaimana mestinya, tapi bagi Aksa acara itu hanya untuk Bella, ke mana pun dia pergi, seolah dunianya hanya Bella, matanya akan mencari wanita itu, padahal Bella hanya duduk sambil meminum minuman di tempat duduknya.


Sebenarnya acara belum selesai, namun Bella berdiri dan berjalan keluar, seolah akan pulang, melihat itu Aksa menghadangnya, Bella berpura-pura heran dengan apa yang di lakukan oleh Aksa, padahal dia tahu pasti Aksa akan mendatanginya.


" Ada apa Pangeran Aksa? "kata Bella begitu lembut, bahkan gunung es pun meleleh mendengarnya.


"Bisakah kita berjalan-jalan, kita tidak banyak ngobrol malam ini," tawar Aksa. Bella tersenyum sedikit, namun sangat manis.


" Anda ingin ngobrol denganku, bagaimana dengan acara Anda? " Kata Bella.


" Sudah cukup membosankan bagi saya."


"Oh, begitu, baiklah, aku juga mulai bosan. "


"Mari, kita berjalan ke taman, Anda pasti menyukainya,"kata Aksa menunjukkan jalannya, Aksa berbeda dengan Angga, Angga jika berjalan akan menunjukkan bahwa dia adalah pemimpinnya, tapi Aksa, pria ini bisa dibilang mengerti cara memperlakukan wanita, dia berjalan di samping dan tetap mengarahkan Bella.


Aksa membawa Bella ke taman yang terdapat di samping aula itu, sangat indah dengan banyak bunga yang berwarna warni, tak terlalu luas, namun cukup untuk berjalan-jalan santai sambil mengobrol, di sana juga tidak terlalu sepi, ada beberapa orang yang tampak juga menikmati malam itu.


"Di sini penuh dengan bunga, apa bunga kesukaan Anda Nona Mika? "kata Aksa basa basi.


"Menurutmu apa bunga kesukaanku Pangeran Aksa?, kau seharusnya sudah tahu jika sudah mencium tanganku,"kata Bella bersikap seperti antara mengoda dan tidak. Aksa tersenyum… dia ingat sekali bagaimana wangi tubuh Bella yang sampai sekarang tetap berhasil membuatnya mabuk, mabuk kepayang.


"Mawar,"kata Aksa seadanya.


"Mawar merah, Kau tahu kenapa aku menyukai mawar?"kata Bella berjalan perlahan, seolah menikmati taman itu, tak memperdulikan Aksa. Dia lalu memetik satu tangkai bunga mawar yang ada di sana, tangannya lalu tertusuk duri.


"Auw," kata Bella sedikit kaget.


"Anda tidak apa-apa? "


"Tidak, hanya sedikit berdarah,"kata Bella, darah segar keluar dari tangannya, Aksa segera mengambil sapu tangannya, mengelap darah Bella dengan begitu pelan dan lembut.


"Inilah yang aku sukai dari bunga mawar, dia tahu dia memiliki bunga yang cantik, dan lihat betapa banyaknya duri yang dia tumbuhkan untuk menjaga bunganya, aku suka tentang itu… bahwa ‘bunga’ harus bisa benjaga dirinya sendiri, tak mengizinkan yang lain memetiknya dengan mudah," kata Bella menatap mata Aksa dengan tajam, seolah menyakinkan apapun yang keluar dari mulutnya, dan Aksa terhipnotis dengan itu.


" Filosopi yang bagus Nona Mika, saya juga setuju," kata Aksa.


Bella menarik tangannya dari genggaman tangan Aksa, membuat Aksa merasa gerakan Bella itu sedikit nakal mengodanya.


"Terima kasih," kata Bella tersenyum.


"Di mana Angga? kenapa dia tidak ikut denganmu?"


"Ehm… hubungan kami sedang tidak baik, kau cukup membuatnya marah, Pangeran Aksa,"kata Bella melirik pada Aksa yang tampak tersenyum licik.


"Kalau memang Angga tak bisa menemanimu, aku akan menemanimu,"kata Aksa mengoda.


Bella tersenyum manis menatap Aksa.


" Katakan Pangeran Aksa, kenapa Anda tertarik dengan saya? Apa ada hubungannya dengan kemiripan saya dengan Nona Bella?” kata Bella


"Ya, mungkin salah satunya."kata Aksa.


" Heh, aku bukan wanita yang suka di mirip-miripkan dengan orang lain Pangeran Aksa, aku adalah aku,"kata Bella mantap, namun hatinya tak sejahtera, kapan sebernarnya dalam hidupnya, Bella adalah Bella?. Saat bersama Angga, Bella disamakan  dengan Mika, saat dia bersama Aksa, dia di anggap Mika yang disamakan dengan Bella. Haha… kapan dia jadi dirinya sendiri? Tawa Bella mengejek dalam hatinya.


" Ya, aku tahu itu,"kata Aksa lagi.


" Ehm… sebenarnya aku tidak tertarik apa sebenarnya hubunganmu dengan Nona Bella, tapi sepertinya dia sangat Anda perhatikan,"kata Bella memancing.


"Dia istriku,"kata Aksa begitu cepat, mantap, dan tegas, sedikit mengejutkan Bella dia mengatakan itu dengan nada seperti itu.


Namun keterkejutannya langsung di tutupi olehnya.