Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
166



Aksa duduk di ruang tengahnya dengan wajah yang ketat, dia masih memikirkan tentang keadaan Bella yang masih belum dia ketahui.


"Selamat pagi Pangeran," kata seorang penjaga.


"Sudah ada kabar?" kata Aksa langsung berdiri menatap penjaga itu.


"Belum Pangeran, namun Raja Leonal ingin bertemu dengan Anda," kata Penjaga itu pada Aksa, wajah Aksanya yang tadinya sudah berharap, langsung berubah menjadi tajam kembali.


"Apa yang dia inginkan lagi?" kata Aksa dingin.


"Saya tidak tahu Tuan, tapi yang mulia ingin bertemu Anda sekarang juga."


"Baiklah, aku akan datang ke sana," kata Aksa mau tak mau datang menemui ayahnya. Dia segera keluar dari istana Pangeran dan langsung menuju ke istana utama.


Dia lalu segera menemui ayahnya di ruang kerjanya yang megah dan luas, karna menemui ayahnya di ruang kerjanya, Aksa lansung bersikap formal dan sopan.


"Selamat pagi, Yang mulia," kata Aksa memberikan hormat pada Raja Leonal.


"Selamat pagi, duduk lah, aku ingin berbicara padamu hanya berdua," kata Raja Leonal dengan sangat formal dan serius, mendengar itu para penjaga dan asisten yang ada di sana langsung keluar.


Setelah pintu di tutup, Raja Leonal menatap Aksa dengan sangat tajam, namun Aksa tak bergeming, tampak santai saja.


"Aku dengar kau melakukan sesuatu lagi, Aksa?" kata Leonal menatap anaknya serius, Aksa menatap Ayahnya, tak terlalu kaget jika ayahnya mengetahui itu.


"Tenanglah, aku pastikan aku tidak meninggalkan jejak kali ini, jadi Anda tak perlu takut akan nama baik kerajaan ini," kata Aksa tampak sangat santai.


"Seseorang dari kita tewas, kau tahu itu? kau hanya beruntung tak ada satu pun yang tertangkap, jika ada, dan dia buka suara, kita benar-benar habis."


"Tenang saja, mereka tidak akan membocorkan apa pun," kata Aksa lagi mencondongkan dirinya pada ayahnya.


Raja Leonal memundurkan tubuhnya hingga menyandarkan dirinya di kursinya, dia mengambil sesuatu dari lacinya, dia lalu meletakannya di depan Aksa dengan perlahan, menunjukkan selembar kertas di sana yang ternyata sebuah foto.


Aksa menatapnya, melihat foto Bella bersama Angga, tampak Angga memegang tangan Bella, melihat itu Aksa mengepalkan tangannya dengan erat.


Aksa tak pernah ingin ayahnya tahu Bella masih hidup, apa lagi ada ayahnya tahu Bella punya hubungan dengan Angga, karna ayahnya yang licik ini pasti punya cara yang tak bisa di bayangkan untuk menghancurkan Angga, dan Aksa takut Bella lah yang akan menjadi sasarannya.


"Jangan berani menyentuhnya," kata Aksa menatap serius pada Ayahnya.


"Aku tak akan mengambil langkah untuk saat ini, mengingat wanita itu adalah putri alexandrite mu, namun jika Angga kembali mengancam keadaan kita, aku tak punya pilihan lain, Jika kau tak bisa menghandle putri Alexasdrite mu, aku yang akan mengurusnya, kau tahu artinya itu bukan? lagi pula, kau lupa peraturan di kerjaan kita? tak boleh ada yang keluar dari sini, jika dia berhasil keluar, dia harus di lenyapkan," kata Raja Leonal dengan keseriusan di wajahnya.


"Cobalah, mungkin aku masih bisa diam atas semua hal yang kau lakukan padaku dan ibuku, tapi jika kau berani menyentuhnya, Aku mungkin bisa mengulingkan tahtamu, Ayah," kata Aksa bangkit dan segera ingin meninggalkan Ayahnya.


"Aksa, perlukah aku memberitahukan mu, dia sudah menjadi istri Angga, dan Angga masih selamat bersamanya setelah aksi gagalmu itu, mungkin sekarang mereka sedang berbulan madu," kata Raja Leonal mengejek.


Aksa mendengar itu langsung menatap Ayahnya, mendengar Bella selamat dia senang, namun mendengar kata-kata ayahnya yang terakhir, emosinya langsung naik.


"Dia istriku!" kata Aksa.


"Kalau kau merasa dia istrimu, bawa dia kembali ke sini, sebelum aku bertindak, dia putri Alexandrite yang tercantik yang pernah ku lihat, Kau terlalu bodoh membunuhnya dulu," kata Raja Leonal tersenyum mengerikan.


Aksa mengertakkan giginya, tak menjawab, dan langsung keluar tanpa memberikan salam, semua sekarang kacau, kalau ayahnya sudah turun tangan, dia takut apa yang bisa di buat oleh ayahnya. Dia harus membawa Bella kembali secepatnya.


---***---


Bella membuka matanya, menemukan Angga di sampingnya yang masih tertidur pulas, hangat tubuh Angga terasa mengalungi tubuh atas Bella, Bella seketika ingat apa yang baru mereka lakukan kemarin, mungkin karena kelelahan malah tertidur pulas hingga pagi.


Wajah Bella kembali bersemu merah, menatap suaminya yang tidur bagaikan malaikat, dia perlahan melepaskan dirinya dari pelukan Angga, mencoba untuk keluar dari balutan selimut, mencari pakaiannya yang sudah entah kemana, untungnya dia menemukannya di lantai, Bella segera mengenakan pakaiannya, namun saat dia berdiri, dia merasakan nyeri kembali, ah ... bagaimana mereka bisa suka hal begini, padahal rasanya sakit, apa karna ini pertama kalinya ya? pikir Bella berjalan perlahan ke arah kamar mandinya untuk membersihkan diri.


Bella mengisi bath up dengan air hangat, setelah cukup, dia langsung masuk ke dalamnya, air hangat membuat tubuhnya langsung relax seketika.


"Bella?" terdengar ketukan dan suara Angga dari luar. Bella yang baru saja ingin memejam matanya langsung kaget.


"Ya?" katanya.


"Kau tidak apa-apa?" kata Angga.


"Iya, tidak apa-apa, aku hanya sedang mandi," kata Bella dengan kerutan dahi.


"Ehm ... aku menemukan bercak darah, apa kay benar- benar tidak apa-apa?" kata Angga terdengar khawatir.


Bella kaget, apakah sampai terkena sprai?.


"Izinkan aku masuk," kata Angga lagi dari luar.


"Ha? aku sedang mandi," kata Bella terkejut mendengar kata-kata Angga, masa dia masuk waktu Bella mandi.


Namun, tiba- tiba pintu kamar mandi terbuka, Bella langsung berteriak kaget melihat Angga yang nyelonong begitu saja masuk ke dalam kamar mandinya, dengan hanya mengunakan handuk di pinggangnya.


"Kenapa masuk? kan aku sudah mengunci pintunya," kata Bella sedikit berteriak. Angga menatap Bella dengan wajah polos.


"Kuncinya tergantung di luar, lalu apa masalahnya jika aku masuk?" kata Angga menatap Bella yang masih di dalam Bath up, tubuhnya terlihat samar-samar tertutup busa mandi.


"Aku kan malu, "kata Bella lagi.


Angga tersenyum lucu mendengar perkataan Bella. Bella mengerutkan dahinya.


"Malu apa? kemarin aku sudah melihat semuanya," kata Angga tertawa kecil sambil mengambil sikat giginya, dan mulai menyikatnya.


Benar juga, pikir Bella, tapi dia tetap saja malu kalau Angga melihatnya seperti ini, jadi dia hanya diam kaku di dalam bath up itu.


"Jangan terlalu lama berendam, itu juga tak baik," kata Angga melangkah ke arah shower.


"Kau mau apa?" kata Bella lagi.


"Mandi," kata Angga polos.


"Keluarlah dulu, biar aku selesai mandi dulu, baru kau mandi," kata Bella.


"Eh? memangnya kenapa? kau juga sudah melihat seluruh tubuhku semalam," kata Angga mengoda Bella.


"Tetap saja itu memalukan," kata Bella lagi.


"Gadis bodoh, aku harus pergi mengurus sesuatu, jika menunggumu, aku bisa terlambat," kata Angga tetap saja menuju ke tempat shower yang ada di percis di depan bath up Bella, kalau Angga mandi di sana, akan seperti melihat pertunjukan gratis.


Bella buru-buru keluar dari bath up saat Angga mulai membuka handuknya, mencoba tak melihat pertunjukan gratisnya, Angga melihat Bella yang buru-buru keluar tanpa sehelai kain pun tersenyum dan segera menyergap Bella, menyudurkannya ke dinding kamar mandi di bilik shower itu, dinginnya dinding kamar mandi membuat Bella gemetar. Air shower yang mengucur membasahi tubuh Angga dari kepala turun ke tubuhnya membuat Angga makin terlihat mempesona.


Mata angga menatap Bella dengan liar, kilatan nafsu kembali memenuhinya.


"Ayo melakukannya sekali lagi," kata Angga


"Sekarang? kau akan terlambat?" kata Bella lagi.


"Aku bosnya, tak akan ada yang berani marah padaku," kata Angga kembali menarik Bella ke luar dari kamar mandi, dan menghempaskan tubuh Bella, setelah Angga mengelap tubuhnya dengan handuk dia segera menerkam Bella, dan mereka melakukannya kembali.