Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
75



Kadang kau bagai sinar matahari pagi, tapi terkadang kau bagaikan badai, aku yang kecil hanya bisa berdiri, terombang ambing diantaranya.


____________________________________________


"Kenapa tertawa?”kata Angga mendengar tawa kecil Bella, dia lalu melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Bella.


"Tidak, itu pernyataan yang lucu," kata Bella.


"Tidak apa-apa asalkan kau tertawa," kata Angga, hal ini malah membuat tawanya hilang, berganti dengan wajah merah dan jantung yang memburu.


"Satu lagi... " kata Angga terlihat serius menatap Bella.


"Ya?" kata Bella jadi deg-degan dengan apa yang akan dikatakan Angga.


"Kali ini aku maafkan apa yang kau lakukan tadi dengan Daihan, tapi lain kali jangan harap aku memaafkanmu," kata Angga.


"Kalua bergitu, aku juga punya satu syarat, kau harus membantuku memberikan pelajaran untuk Aksa, aku kira masalah Sania pasti sudah kelar, dia tidak akan bisa lolos dari ini, setelah semua ini selesai aku akan menjadi wanitamu," kata Bella.


"Siapa yang memberimu izin membuat syarat?”kata Angga.


"Masa kau saja yang boleh membuat syarat?,"kata Bella menekuk dahinya.


"Ya, aku saja yang boleh membuat syarat," kata Angga dengan seriusnya dan wajah kesal.


"Ya, sudah mungkin kak Daihan mau membantu," kata Bella asal saja.


"Jadi kau mau berhubungan dengannya? Nona Bella kau tidak paham dengan apa yang ku katakan tadi?” kata Angga kesal.


"Soalnya kau sangat jahat, masa aku tidak boleh mengajukan syarat, itu namanya egois," kata Bella pada Angga dengan wajah cemberutnya, membuat dia jadi sangat imut, memandang itu Angga jadi tak berkutik.


"Hah! Baiklah aku mengalah, kau boleh melanjutkannya, dengan satu syarat lagi."


"Apa itu?”


"Aku harus tahu semua rencanamu dan aku harus ada saat kau bertemu dengan Aksa."


"Baiklah, tapi bagaimana jika kau rapat?”


"Aku akan membatalkannya,"kata Angga, ada rasa kesal yang timbul karena Bella seperti mencari alasan agar dia bisa berdua dengan Aksa.


"Bagaimana jika kau sedang di luar kota?”kata Bella yang sebenarnya lagi mengoda Angga. Angga menatap Bella geram.


"Nona Bella, Anda memang segaja ingin di cium lagi ya?”kata Angga kesal, Bella tertawa kecil melihat tingkah lakunya. Angga gemas melihat Bella, mencoba menarik kembali kepala Bella namun Bella menolaknya. Bersamaan dengan itu pintu di ketuk.


“Tuh, ada tamu," kata Bella mencari alasan. Angga melihat pintu ruang rawat Bella, siapa sih yang berani mengganggu momen menyenangkannya ini? Dengan malas Angga membuka pintu.


"Maaf Tuan, saya ingin mengatar makanan untuk Nona Bella," kata Judy yang melihat wajah Angga yang sedikit masam karena merasa sudah di ganggu kesenangannya. Angga tidak menjawab, hanya sedikit minggir dari sana, Bella yang melihat wajah Angga hanya tersenyum geli.


Judy meletakkan makananya di atas meja kecil dan membawanya ke tempat tidur Bella. Angga mendekati ranjang Bella.


"Permisi Tuan dan Nona,"kata Judy meminta izin.


"Terima kasih Judy," kata Bella tersenyum manis.


"Makanlah, mungkin malam ini kau sudah bisa pulang." Kata Angga.


"Ya, kau sudah makan?. "kata Bella.


"Kenapa tidak tidur?" Tanya Bella.


"Menjagamu." Kata Angga singkat, padat dan jelas, dia sudah memposisikan dirinya tiduran, matanya juga sudah terpejam, Bella yang mendengar itu langsung terdiam? Benarkah?.


Bella ingin bertanya lagi, namun karena melihat Angga sudah tampak nyaman sambil memejamkan matanya, dia jadi urung melakukan niatnya dan mulai memakan makanannya.


Setelah makan Bella hanya memainkan handphonenya, dia sama sekali tidak terpejam, mungkin karena mengingat sekarang Angga ada di sampingnya sedang tidur dengan pulas. Setelah menunggu 2 jam, Angga juga belum bangun, dia tidur sangat diam, bahkan posisinya dari 2 jam yang lalu tetap saja seperti itu, bisa ya begitu? Pikir Bella.


Bella mencoba untuk turun lagi, tangan kirinya mengapai tiang infus yang kemudian di tariknya saat dia berjalan menuju tempat Angga.


Bella lalu mendekat, sedikit membungkukkan dirinya, mengamati Angga yang tertidur, seperti biasa, wajahnya sangat tampan, dan tidak ada sama sekali ada wajah dingin yang selalu di tunjukannya.


"Angga… Angga… bangun, sudah siang, kau harus makan siang," kata Bella kembali membangunkan Angga dengan telunjuk tangannya menyentuh bahu Angga, namun Angga tak bereaksi apapun.


Angga ternyata kalau sudah tidur susah di bangunkan ya, pikir Bella, dia lalu mencoba kembali kali ini lebih mendekatkan dirinya untuk kembali menekan pipi Angga, dia ingat waktu dulu di mobil, dia menekan pipi Angga, dan Angga langsung bangun.


Saat jarinya sudah ingin menyentuh pipi Angga, dengan cepat tangan angga menyambar tangan Bella, dia menarik tubuh Bella dengan sangat cepat, seraya Angga mengangkat sedikit kepala dan tubuhnya, mengarahkan bibirnya tepat ke bibir Bella. Bella yang di pelakukan seperti langsung kaget, matanya saja sampai membesar, menatap mata Angga yang juga memandangnya serius seolah Bella sudah membuat kesalahan karena berani membangunkan Angga.


Angga baru melepaskan bibirnya tak berapa lama, langsung terduduk menatap Bella yang mematung dengan posisinya, wajah Bella bersemu merah.


"Sudah jam berapa?" kata Angga biasa saja seolah barusan tidak terjadi apapun dengan mereka.


"Sudah jam 3,"kata Bella langsung sadar.


"Oh, baiklah." Kata Angga datar benar-benar seperti mereka tidak berciuman tadi .


"Kau tidak ingin makan? sudah lewat jam makan siang." Kata Bella juga berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah dengan sikap Angga tadi.


"Bagimana kalau aku memakanmu saja?" kata Angga menatap Bella yang mukanya masih bersemu merah dan terlihat linglung.


"Hah? Maksudmu?" kata Bella bingung dengan perkataan Angga. Angga berdiri, memakai alroji yang tadi di bukanya saat tidur, lalu membenarkannya sebentar sambil melirik ke arah Bella, tersenyum sedikit sinis.


"Jangan terlalu polos." kata Angga lalu pergi ke samping ranjang Bella, Bella yang bingung terus memasang wajah bertanyanya, dahinya saja sampai begitu menekuk, mencoba mencerna apa kata-kata Angga. Angga menekan bel untuk memanggil dokter. Setelah itu kembali mendekat pada Bella yang dahinya masih bertekuk.


" Jangan berkerut begitu." Kata Angga sambil menyentil dahi Bella sedikit agak keras, hingga Bella sedikit kesakitan.


"Kau ini apa-apaan sih?" kata Bella bingung dengan kelakuan Angga, sesaat dia terlihat sangat perhatian dan sayang pada Bella, sesaat kemudian terlihat acuh tak acuh, Bella benar-benar bingung dengan sikap Angga ini, atau malah itu yang membuatnya terpikat.


"Aku sudah memanggil dokter. Ingin menanyakan apakah kau sudah boleh pulang atau tidak, karena sepertinya kau sudah sangat sehat." kata Angga.


"Ya, baiklah." kata Bella


"Jika sudah boleh pulang, temani aku makan siang ya." Kata Angga lagi dengan senyuman manisnya.


"Baiklah, hari ini kau pulang ke mana?" kata Angga mendekati Bella, Bella yang di dekati Angga jadi agak takut, jadinya dia sedikit mundur, tapi kakinya terhalang sofa, membuat dia berdiri dan hanya melihat kedatangan Angga.


"Oh, kemana saja kau suruh." Kata Bella gugup di pandang tajam begitu oleh Angga.


"Memangnya aku siapamu? Hingga kau mematuhi permintaanku?" kata Angga berdiri di depan Bella yang sangat gugup, sangat dekat, hingga hembusan napas pria itu pun bisa Bella rasakan, jangan-jangan Angga pun bisa mendengar suara degup jantung Bella yang sudah seperti pacuan kuda.


"Ya… E…"kata Bella bingung.


Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, Bella langsung ingin bilang, ada orang… tapi Angga langsung mengatakan.


"Kau lolos lagi kali ini, beruntung sekali." Kata Angga yang langsung berjalan menuju ke pintu ruangan Bella.