Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
92



"Jika kau sudah punya orang yang kau cintai, dan kalian akan menikah, apa kau tidak ingin tergesa-gesa?, dari pada menunggu lagi, lebih baik secepatnya menikah. Saat ini jika kau ingin menikah denganku, aku pasti ingin menikah secepatnya denganmu." kata Angga menatap lurus pada Bella, wajahnya benar-benar serius. Bella yang mendengar itu langsung terdiam, alasannya benar juga.


"Jadi bukan karena kalian akan punya anak?" kata Bella lagi.


"Jadi kau menangis hanya karena aku dan Mika punya anak?" kata Angga lagi.


"Oh, bukan itu, kan tadi aku bilang, aku tidak apa-apa, kau saja berpikir yang tidak-tidak." Kata Bella jadi malu, mencari alasan yang terasa konyol bagi Angga, Angga hanya mengeleng-gelengkan kepalanya saja. Susah sekali mengakunya?.


"Masih menolak ajakkanku makan siang?"


"Ehm… baiklah aku akan makan siang denganmu, sekarang pergilah bekerja lagi." Kata Bella, dia takut semakin lama Angga di sini, semakin salah tingkah dia.


Angga berjalan mendekati Bella, berhenti tidak terlalu dekat dengannya, menatap Bella dengan senyuman yang sangat manis.


"Kenapa kau malah tersenyum seperti itu?" kata Bella bingung.


"Aku suka kau begini."


"Kau suka aku menangis? Kau ini kejam sekali."


"Bukan, Aku suka kau begini karena aku tahu kalau kau begini artinya kau cemburu, Nona Bella kau tidak bisa lagi beralasan untuk mengatakan kau tidak punya perasaan padaku, kau sudah milikku." Kata Angga.


"Eh? Bagaimana menyimpulkannya seperti itu?" kata Bella kaget.


"Masih ingin mengelak, mulai hari ini kita pacaran. "kata Angga lagi.


"Ha? Kan aku sudah mengajukan syarat padamu. " kata Bella lagi.


"Ditolak."


"Bagaimana bisa ditolak?, kan kemarin kau sudah menyetujuinya." Kata Bella.


Angga lebih mendekati Bella, Bella langsung mundur, sialnya lagi-lagi tertahan, kali ini dengan tembok.


Angga kembali menekan tubuh Bella, napasnya yang hangat menerpa wajah putih Bella, semerbak wangi maskulin tercium oleh Bella, wangi kesukaan Bella, Bella hanya bisa melihat Angga, mata mereka berpaut, jangan-jangan Angga ingin menciumnya lagi?.


"Kau menyukaiku kan?" kata Angga dengan sorot mata yang sangat tajam, bahkan terkesan mengintimidasi Bella, Bella bahkan sampai takut.


"Ayo, Jawab." kata Angga tak terlalu keras namun cukup membuat gentar Bella. Mata Angga yang dalam dan hitam itu membuatnya terpaku, seolah terhipnotis dalam tekanan.


"Ya." Kata Bella, entah kenapa kata-kata itu meluncur dari bibirnya, dia bahkan kaget dia bisa mengatakan itu.


"Kau sekarang milikku, jangan lagi coba-coba lari dari ku. Mulai detik ini kau wanitaku, kita pasangan kekasih." Kata Angga dengan begitu tegas, Bella seolah tidak bisa menolaknya. Jadi dia hanya bisa mengangguk lemah.


"Dan satu lagi, aku tidak pernah melakukan hal yang sekarang ada di pikiranmu itu, dan jika ada wanita lain yang mengatakan hal yang tidak-tidak, jangan pernah percaya, kau harus memberitahu aku dulu. Selain itu aku menyukaimu karna dirimu, bukan karna kau mirip Mika, kau dan dia sangat berbeda, ingatlah, sekarang yang ada di hatiku hanya kau, Bella." kata Angga, pada akhir perkataannya Angga mengatakan hal itu dengan sangat lembut. Bella yang mendengar itu sangat terhipnotis, diam seribu bahasa, hatinya bergetar mendengarkannya, apa lagi nada lembut Angga itu, benar-benar meluluhkan hatinya, membuat hati Bella begitu hangat.


"Biaklah,  " kata Bella lagi, wajahnya memerah.


Angga menatap Bella sejenak, sebelum akhirnya dia sedikit mundur kebelakang.


"Ayo makan siang." kata Angga.


"Karna aku sudah di rumah, kita akan makan siang sekarang." kata Angga


"Yah, aku masih kenyang." Kata Bella sedikit manja.


"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali lagi saat makan siang, jangan tidur lagi." kata Angga  sambil melihat handphonenya. Dan berjalan ingin keluar, ha? Begitu saja? Tidak ada kata romantis atau apa begitu? Pria ini memang terkadang terlalu dingin, pikir Bella.


Bella berjalan mendahului Angga, dia lalu menutup jalan Angga agar Angga tidak bisa keluar.


"Kenapa? " kata Angga bingung.


"Kau ini gimana sih?  Sudah memaksa orang untuk menjadi pacarmu, dan kau hanya pergi saja begitu?" kata Bella protes.


"Jadi inginnya bagaimana?" kata Angga sambil memasang wajah herannya.


"Biasanya orang pacaran bagaimana?"


"Ehm… kalau aku mau pergi, ya tinggal pergi saja." kata Angga seadanya saja sambil sesekali masih melihat handphonenya.


"Ah, sama sekali tidak romantis, aku heran kenapa aku bisa suka padamu?" kata Bella mengerutu dengan wajah cemberut.


Angga hanya tertawa melihat tingkah pacarnya.


" Lalu, bagaimana romantis itu?"


"Aku ingin yang seperti dalam novel."


"Bagaimana?"


"Ehm…Begini." kata Bella menaruh tangan Angga di atas kepalanya. "Mulai saat ini kalau kau ingin pergi, ingat mengelus kepalaku."


"Memangnya kau ini binatang peliharaan. "kata Angga lagi.


"Biarin, ini akan sangat romatis kalau di lihat orang."kata Bella lagi.


"Kau ingin romantis di lihat orang? atau ingin yang benar dari hati?" kata Angga.


"Ya, aku ingin keduanya." kata Bella lagi.


"Baiklah, aku pergi dulu." kata Angga mengelus kepala Bella sejenak.


Lalu Angga membuka pintu di belakang Bella, pergi begitu saja melewati Bella, Angga bahkan menutup pintunya kembali.


Sekarang kenapa malah Bella tidak puas hanya elusan kepala seperti itu?. Dia lalu membuka pintunya. Saat dia membukanya, bibir Angga mendarat sempurna di bibirnya, menyatukannya secara langsung membuat seluruh badan Bella terasa seperti tersengat listrik, Bella benar-benar kaget hingga matanya terbelalak, dia kira Angga sudah pergi, bagaimana jika ada pelayan yang melihatnya?. Tak lama Angga melepaskan ciumannya.


"Aku lebih suka salam perpisahan seperti ini. "kata Angga tersenyum manis.


"Begini juga boleh." kata Bella tersenyum bahagia. Angga tak menjawab, hanya tersenyum dengan sangat manis, kembali mengusap kepala Bella, berbalik lalu pergi dan meninggalkan Bella yang wajahnya sumringah dan merah. Sekarang mereka resmi sebagai sepasang kekasih. Ternyata kesalah pahaman yang ditimbulkan Medelin malah menguntungkan untuk Angga, Angga hanya tersenyum sepanjang perjalanan.