Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
150



katakanlah sesuatu, ceritakan lah tentang cinta, dongengkan bagaimana pengorbananya, dan aku akan mendengarkan celotehmu tentang hati yang terluka.


____________________________________


Mata Bella nanar menatap langit yang cukup cerah, sinar matahari menyelimuti seluruh permukaannya, membiarkannya bermandikan kehangatan yang terkadang menusuk, tapi perasaan Bella tak secerah itu, jauh di dalam perasaannya serasa diselimuti oleh kabut dan badai. Perasaan bimbang yang mulai membuatnya gila.


Helikopter Angga kian mendekat, terlihat perlahan-lahan membesar dari ujung sana, semakin heli itu mendekat, semakin galau perasaan Bella.


Heli itu berhenti sempurna, pintunya di bukakan oleh para penjaga yang ada di sana, Angga menginjakkan kakinya turun dari sana, tampak bergitu menawan, wanita mana pun yang melihatnya sekarang pasti akan langsung menyukainya, setelan jas semi formal, dasi dan gayanya yang dingin, sungguh cocok dengan dirinya, Ah, pria sesempurna ini, bahkan Bella akan merasa beruntung walau hanya pernah memiliki hatinya sebentar.


Angga menatap Bella yang menyambutnya, Angga menaikkan sedikit sudut bibirnya, membuat wajahnya yang tampan itu seketika berubah menjadi manis, sama seperti hatinya sekarang, manis menatap wanita yang di cintainya sekarang menunggu dengan anggunnya.


Bella tanpa sadar berjalan maju, tak ingin membuang waktu lagi, dia terus maju hingga mereka bertemu di tengah helipad itu, saling menatap sebentar, Bella terus memandangi wajah Angga lekat-lekat, seolah ingin melukisnya dalam ingatan bawah sadar sehingga bagaimana pun dia tak akan melupakan wajah pria ini.


Melihat tatapan Bella yang dalam namun nanar itu, Angga mengerutkan dahinya.


"Ada apa?" suara pria itu berat, ya begitu lah suara Angga, Bella harus mengingatnya lagi.


Semakin Bella melihat Angga, semakin tak bisa dia mengingatnya, susah sekali rasanya melepaskan ....


Tanpa sadar Bella mengukuti perasaanya, langsung memeluk Angga dengan erat, mencium aroma tubuhnya yang khas yang sangat dia sukai, Bella harus mengingatnya. Hangat pulukannya bahkan lebih hangat dari pada sinar matahari siang ini.


Angga yang melihat kelakuan Bella sedikit kaget, Bella bukan orang yang spontan melakukan hal-hal ini, apa lagi di depan orang-orang seperti sekarang, ada apa?, namun dia membalas pelukan Bella.


"Aku sangat merindukanmu," peluk Bella begitu erat, Angga yang mendengar itu langsung tersenyum senang, Bella belum pernah melakukan hal ini padanya, ini mungkin saja artinya dia benar-benar merindukannya.


"Kita baru tidak bersama 1 malam, apa kau benar-benar merindukan ku?" Bisik Angga.


Bella mengangguk kuat dalam pelukan Angga, mendapatkan jawaban itu, hati Angga semakin terasa manis, entah mimpi apa dia semalam. hingga Bella bisa bertingkah begitu manja.


"Baiklah, kita masuk dulu, terlalu banyak sinar matahari siang tak baik untuk kulit," kata Angga mencoba melepaskan pelukan itu, menatap wajah Bella, matanya tampak berkaca-kaca.


"Gadis bodoh, kenapa malah ingin menangis? Aneh sekali."


"Aku tidak ingin menangis, hanya kesusahan bernapas karna kau memelukku terlalu keras," kata Bella mencoba mencari alasan, padahal perasaannya sedang sedih.


"Benarkah? mungkin karena aku juga merindukanmu," kata Angga berbisik, sambil mengenggam tangan Bella. Bella mendengar itu wajahnya memerah, merasa senang namun juga sedih bersamaan.


Angga mengajak Bella duduk di ruang tengah, karena memang ada beberapa dokumen yang masih harus di bereskannya, jika biasaya Bella akan sibuk dengan Handphonenya, hari ini Bella hanya menatap Angga.


Angga awalnya tak memperhatikan hal itu, namun beberapa kali dia melihat, Angga mendapati tatapan nanar Bella, dia segera menutup dokumenmya, memberikan gestur agar orang-orang di sana keluar, semua mengikutinya, setelah hanya ada mereka berdua, Angga langsung menatap Bella.


"Ada apa?" kat Angga.


"Ah, tidak, memangnya aku kenapa?"


"Ehm ... tidak apa-apa, aku ingin mengambil Handphone ku, kau masih ada pekerjaan kan? aku tak akan menganggu," kata Bella dengan canggung, melihat tingkah Bella, Angga makin merasa ada yang aneh.


"Baiklah, aku akan menemuimu setelah ini ss


emua selesai, aku janji," kata Angga menahan tangan Bella sebentar, membuat sengatan kecil di hati Bella,tapi kali ini rasanya nyeri.


Bella tak menjawab, hanya tersenyum manis, namun sebenarnya itu senyuman getir, Angga melepas tangan Bella, entah kenapa Bella sangat sedih ketika Angga melepaskannya, dia lansung berjalan keluar dari ruangan itu, keluar dari kamar hotelnya, berdiri di sudut ruangan, menangis entah kenapa? yang pasti sekarang hatinya sedih sekali.


Bella ingat kata-kata Nakesha, benarkah dia harus memilih Ibunya atau Angga? kenapa harus begitu? bukannya kedua orang itu adalah milik Bella. Tapi jika Nakesha benar-benar membawa ibunya pergi bagaimana? Bella akan menyesal seumur hidupnya, dan dari sifatnya, Nakesha bukan lah orang yang suka main-main. Saatnya kah merelakan Angga sekarang?.


"Bella? kenapa menangis?" kata Daihan yang baru keluar dari kamarnya, mendapatkan Bella sedang menangis.


"Ah, tidak, aku hanya, yah terlalu terbawa perasaan kak, terlalu banyak membaca kisah sedih," kata Bella menatap Daihan yang sekarang ada di depannya, matanya yang indah basah dan terlihat sedikit memerah, Daihan hanya memandanganya sendu, mengamati wajah Bella, ditatap seperti itu Bella malah jadi salah tingkah, jangan-jangan Daihan tahu Bella berbohong.


"Angga sudah datang bukan?" kata Daihan.


"Ya, dia masih mengurus pekerjaannya di dalam," kata Bella mencoba tersenyum.


"Ada apa? kau gadis yang kuat, menangis hanya karna membaca kisah sedih tak mungkin juga matamu penuh dengan kesedihan seperti itu," kata Daihan lembut, Bella mengigit bibirnya, Daihan tahu isi hatinya. Bella menunduk, menutupi sorot matanya yang suram dengan bulu matanya yang lentik.


"Ini tentang Ibumu?" kata Daihan lagi.


Setetes air mata Bella turun, jatuh mengenai karpet di lantai itu, hati Bella kembali gundah, sedih memikirkan ibunya.


Bella mengangguk pelan namun lama-lama kuat, lalu melihat ke arah Daihan dengan mata yang sudah berkabut.


"Kau bisa katakan padaku apa pun yang kau rasakan sekarang, aku pasti akan mendengarkannya, jika aku bisa, aku akan membantumu," kata Daihan mengelap jejak air mata di sudut mata kiri Bella,kelakuan Daihan malah membuat tangisnya tak terhenti.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, kakak ... bisakah kau membantuku? Berjanjilah kau akan membantuku," kata Bella di antara isak tangis,Daihan menatap Bella, tak mengiyakan namun juga tak menolak, namun dia memberikan tatapan peduli, membuat Bella merasa Daihan menerimanya.


"Nakesha tak suka padaku, dia berpikir kedatanganku untuk mengambil Ibunya darinya, karena itu dia melarangku menemui Ibuku. Dia juga mengatakan, kalau aku mau Ibuku, maka aku harus menyerahkan hidupku sekarang padanya, termasuk Angga," kata Bella meluapkan isi hatinya, air matanya berbulir, membasahi pipinya yang sekarang memerah dan memang hanya pada Daihanlah dia bisa mengatakan segalanya.


"Benarkah? dia mengatakan itu? setauku dia gadis yang baik, walaupun tempramental, namun dia gadis yang menyenangkan," kata Daihan kaget mendengar pengakuan Bella.


"Entahlah, mungkin karna dia memang tidak menyukaiku, karena itu ... kakak bantu aku, aku ingin membuat Angga benci padaku, karena Nakesha begitu mirip Mika, aku yakin Angga akan cepat menyukainya," kata Bella, bagaimana pun Ibunya menderita dan gila karenanya, dan dia hanya punya 1 ibu di dunia ini, bagaimana bisa dia memilih yang lain, cinta bisa saja padam, jika pun tidak ... Bella akan mencoba terbiasa, dia yakin dia bisa.


Daihan kaget dengan permintaan Bella, apa maksdunya?.


"Bella, apa maksudmu?" kata Daihan.


"Mari kita berpura-pura punya hubungan," kata Bella tercekat.


Daihan kembali mengamati wajah cantik Bella, tawaran yang cukup mengiurkan bagi Daihan, kesempatan emas yang datang tiba-tiba.