
Cara paling bagus untuk membalas sakit hati adalah dengan tertawa bahagia di depan mereka yang menyakiti'
____________________________________________
Sudah 3 hari Bella tinggal di apartemen itu sendiri, dia juga sudah biasa di sana, setiap dia bangun, di tidak perlu lagi melihat kearah jendela,karena seluruh dinding kamarnya adalah jendela yang akan terbuka otomatis jika dia menekan tombol pengaturannya. Selain itu 3 hari ini dia banyak belajar, dia pergi ke tempat Mika sebelumnya bekerja, bertemu beberapa teman baik Mika dan untungnya mereka setuju membantunya, juga lebih dalam mempelajari karakter Mika, tentu banyak bantuan terutama dari kak Daihan yang setia menghubunginya walaupun sekarang dia sedang dinas keluar negeri.
Bella bangun pagi itu, membuka gorden putihnya memperlihatkan pemandangan kota yang masih remang-remang, beberapa tetes embun terlihat di kacanya, sepertinya hari ini akan mendung. Bella melihat ke arah handphonenya, sudah 3 hari pula Angga tidak pernah mencarinya, bahkan memberi kabar pun tidak, ada rasa kecewa di hati Bella melihat tidak ada satupun notifikasi dari Angga, Hah! kenapa sekarang dia malah ingin Angga menghubunginya, toh tak ada alasan Angga memberikan kabarnya? mereka kan tidak punya hubungan apa-apa? hanya pacar sandiwara, itu juga di waktu-waktu tertentu saja, dia lalu kembali meletakkan handphonenya di meja kecil di samping tempat tidurnya.
" Heh! Gaga! kau menyebalkan!" kata Bella menatap Teddy Bear besar yang ada di dekat tempat tidurnya, pagi-pagi saja dia sudah kesal.
Bella lalu mencoba menikmati waktunya sebentar mengamati pemandangan kota itu, lalu dia bangun dan segera ke kamar mandi, mengosok gigi dan mencuci mukanya.
Saat dia membuka pintu kamarnya, Judy sudah setia menunggunya, Bella tersenyum padanya.
"Judy, jika bersamaku, tidak perlu terlalu formal, kau boleh saja bersantai," kata Bella.
"Terima kasih Nona, " kata Judy sungkan.
"Ayo, temani aku makan, " kata Bella.
"Baiklah Nona, " kata Judy.
Mereka lalu duduk berdua di sana, Bella suka mengobrol dengan Judy, walaupun Judy tetap bersikap profesional, tapi memiliki teman untuk bicara, itu sangat menyenangkan.
"Judy, hari ini aku ingin pergi ke bawah, ingin membeli beberapa buku, dan menghabiskan waktu, Angga tidak melarangnya kan? " kata Bella lagi.
"Tidak Nona, nanti saya akan melaporkanya pada Tuan Angga, " kata Judy
"Baiklah," kata Bella tersenyum sambil memakan roti panggang kacangnya.
Sekitar pukul 11 siang, Judy melaporkan bahwa dia sudah meminta izin kepada Angga dan Angga memperbolehkan mereka untuk pergi berbelanja ke bawah, Bella dengan senang segera bersiap-siap, setelah itu dia, Judy dan 2 penjaga yang kemana-mana harus dibawanya ikut dengan mereka.
"Judy, apakah dulu Nona Mika juga selalu di ikuti oleh penjaga?" kata Bella menatap 2 orang penjaga yang ada di depannya sekarang ini, tubuh mereka kekar dan terlihat menakutkan.
"Tidak, Nona Mika orang yang suka kebebasan, jadi dia tidak ingin memakai penjaga, " kata Judy
"Lalu kenapa aku disuruh mengunakan penjaga?" kata Bella pelan dengan nada sedikit mengerutu
"Mungkin Tuan Angga hanya takut terjadi apa-apa dengan Nona, " kata Judy.
"Benarkah alasannya seperhatian itu?" pikir Bella yang sedikit ragu, makin dia kenal Angga, semakin dia tahu, Dorland benar… dia itu pria paling dingin yang penah Bella tahu, dia heran bagaimana Mika dl bisa berpacaran dengannya 5 tahun seperti itu yah?.
Tak lama pintu mereka terbuka, kedua pengawal itu mengikuti Bella dan Judy, 1 di depan mereka dan 1 lagi di belakang mereka, Bella langsung menuju ke toko buku, Bella hanya tidak menyadari bahwa Sania juga baru masuk ke Mall itu, Sania berjalan dengan begitu percaya diri, dia wanita yang cantik, tak kalah cantiknya dengan Bella tentunya sehingga bisa menahlukkan hati Aksa, selain itu dia wanita yang benar-benar pintar mengoda dan menyenangkan pria, perawakannya kurus, wajahnya putih dan lancip, khas dengan riasan make up yang selalu di kenakannya. Sania langsung terdiam ketika dia menangkap sosok Bella yang berjalan melewatinya, langkahnya terhenti, matanya terbelakak, seketika tubuhnya kaku, badannya langsung gemetar, seolah dia seperti melihat hantu, namun saat dia ingin memastikan apa yang dia lihat, Bella sudah pergi dan tak terlihat.
Sania masih terdiam, apa benar yang di lihatnya tadi?, wajahnya yang kecil tampak sedikit pucat, kecemasan tampak di matanya, Apa benar itu Bella? Tapi bagaimana pun yang dia tahu Bella sudah meninggal, dia dan Aksa sudah melenyapkannya malam itu di laut yang dalam dan dingin, bagaimana dia bisa melihat Bella ada di sana? Apa ini hanya manipulasi otaknya saja karena memang setelah mereka membunuh Bella, dia jadi kurang bisa tidur nyenyak, serasa selalu ada perasaan akan terjadi yang tidak baik nantinya, karena itu tubuhnya bergetar.
Bella sedang melihat beberapa buku untuk referensinya untuk lebih mengenal tentang psikologi dan cara mengajar anak-anak disabilitas karena Mika bekerja sebagai guru mau tidak mau dia setidaknya harus tahu sedikit tentang itu. Setelah berkeliling dan mengambil beberapa buku, Bella lalu pergi melihat beberapa buku novel yang ada di sana, melihat beberapa lalu dia memutuskan untuk membayarnya.
"Nona, sepertinya Nona Sania ada di sini juga, Apa saya harus melaporkannya kepada Tuan Angga Nona?" kata Judy yang melaporkan keadaan kepada Bella
Bella terdiam, Sania? Bella mengepalkan tangannya, tampak kebencian yang langsung muncul di matanya yang indah, namun dia mencoba untuk tenang, dia mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan, sepertinya dia sudah mulai mengontrol emosi dan dirinya walaupun mendengar nama Sania maupun Aksa.
Benar, ini sudah cukup lama, sampai kapan dia akan terus terbawa emosi?, jika terus menerus begitu, bagaimana dia akan membalaskan semua sakit hatinya?, lagi pula ini sudah cukup lama, dia harus fokus dengan tujuan utamanya, membuat Sania dan Aksa merasakan penderitaannya.
"Tidak perlu, di mana dia?" kata Bella tenang
"Dia di Café Black Coffee di lantai dasar Nona,” kata Judy
"Baiklah, Judy, aku ingin menemuinya, tolong atur semuanya " kata Bella
"Baik Nona," kata Judy
Setelah membayar semua bukunya, Bella lalu berjalan menuju lift, tak lama lift terbuka dan dia langsung masuk ke dalam liftnya, Judy langsung menekan tombol lantai dasar, Bella memperhatikan angka yang terlihat di sana, semakin lift itu turun, sebenarnya semakin gugup Bella, tapi dengan sekuat tenaga dia berusaha tenang, dia berulang kali menarik dan mengeluarkan napas dalam-dalam, saat pintu lift terbuka, Bella keluar dengan langkah yang mantap dan tenang, seolah tidak terjadi apapun.
Mereka segera menuju ke café Black Coffee, begitu mereka sampai di depan café itu, seorang pelayan langsung mendatangi mereka, Judy lalu membisikkan sesuatu pada pelayan itu, dia tampak kaget, namun langsung tersenyum pada Bella.
Bella bisa melihat Sania yang sedang duduk seorang diri di pojok ruangan, dia tampak sibuk dengan handphonenya, Bella menatapnya dengan sorot mata yang penuh kebencian, wanita itu merebut segalanya dari dirinya.
"Nona, silahkan, apakah ada permintaan khusus?" kata Pelayan itu begitu ramah.
"Aku ingin duduk di dekat wanita itu," kata Bella menunjuk kevarah Sania
“Baik Nona, " kata Pelayan itu
Bella lalu berjalan mengikuti pelayan itu, Judy dan pengawal itu tidak mengikuti, hanya mengawasi dari depan café itu. Bella lalu memasang wajahnya yang ceria, dia duduk tepat di depan Sania, hanya berbeda 1 meja dari sania, tapi karena meja itu kosong, Sania pasti langsung bisa melihat Bella dengan jelas.
"Aku ingin meja di depan kami tetap kosong, " kata Bella berbisik pada pelayan yang melayaninya.
"Siap Nona, tenang saja kami pastikan meja itu kosong, " kata pelayan itu lagi.
"Baiklah, tolong bawakan aku capucino dingin ya, terima kasih," kata Bella tersenyum begitu manis.
Sania melihat beberapa referensi gaun yang akan digunakannya untuk pesta kerajaan karena 2 hari lagi akan ada pesta topeng di sana dan dia harus jadi pusat perhatian, tentu, dia adalah calon istri seorang pangeran, tak ada yang boleh menandinginya kecantikannya nanti.
Saat Sania ingin meminum minuamannya, matanya menangkap sosok yang dia kenal duduk dengan tenang sambil membaca buku tepat di depannya, Sania terdiam, dia bahkan kesusahan meneguk minumannya, matanya terbelalak, seolah tak percaya apa yang di lihatnya, kali ini dia benar-benar bisa melihat dengan sangat nyata, Bella ada di depannya, tubuhnya kembali mematung, bergetar karena ketakutan dengan apa yang di lihatnya.
"Bella?!" Teriaknya kaget.