Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
206



2 bulan berlalu dan 2 bulan pula Aksa tidak pernah datang menemui Bella, dan perlahan-lahan Bella sudah mulai bisa kembali bangkit walau tak pernah sedetik pun dia bisa melupakan Angga, namun keadaanya sudah tak seburuk yang dulu, dia sudah bisa menerima kehidupan barunya yang kembali terkekang oleh sangkar emas.


Dia punya segalanya di sini, percis seperti yang dia alami dulu, segalanya kembali lagi seperti dulu, dia duduk di halaman belakang kastil itu yang langsung berbatasan dengan pasir-pasir halus pantai, Suara ombak yang sekarang menjadi teman setiap harinya, rumah itu megah, bahkan lebih seperti kastil, dengan gaya kastil abad pertengahan, sangat kokoh dan megah di bangun di tepian pantai, di kelilingi oleh tebing-tebing di kanan kirinya.


Shella membantu menyisir rambut Bella yang sudah mulai memanjang, kilau rambutnya tampak memantulkan sinar matahari yang lembut menghangati tubuhnya, wajahnya tak sekacau beberapa bulan yang lalu, namun cahaya di matanya tidak pernah kembali lagi, tetap sendu dan kelabu.


" Nona, Anda sangat cantik, pantas lah jika Anda menjadi putri,"kata Shella.


Bella tersenyum mendengar kata-kata polos yang keluar dari bibir Shella.


"Kalau aku bisa terlahir kembali, aku akan memilih untuk tidak memiliki kecantikan ini, aku ingin bisa hidup seperti biasa, bukan seorang putri, hanya ingin punya seseorang yang mencintaiku apa adanya, punya rumah kecil dan keluarga yang hangat, " kata Bella menerawang jauh, kalau bukan karena kecantikan dan ke unikan yang dia punya, dia tidak akan di pisahkan dari ibunya sejak kecil, hingga ibunya harus mengalami kelainan jiwa, dia tidak akan di kurung hingga harus bertemu dengan seorang pangeran seperti Aksa, dia tidak akan di bunuh dan harus bertemu Angga, di mana karena dia pula, Angga harus merengang nyawanya.


Bella menatap lautan dan langit yang menyatu di ujungnya, sebuah perpaduan yang sangat cocok dan indah pada hari menuju malam ini, walaupun banyak gumpalan awan hitam yang menganggu, namun tetap saja pemandangan ini bagaikan lukisan yang indah, membuatnya seketika ingat bagaimana tampannya wajah Angga.


Tetes demi tetes air hujan perlahan mulai turun, membuat Bella yang tadinya terbang melamun segera tersadar.


"Nona, Anda harus masuk ke dalam, hujan akan semakin deras,"kata Shella.


"Iya,"kata Bella.


Bella lalu segera bangkit dan dengan berlari kecil di antara pasir-pasir yang mulai basah karena hujan, dia menaikkan sedikit gaun panjang yang di pakainya agar lebih leluasa, memperlihatkan kakinya yang putih itu, dia lalu menaiki tangga menuju kastil, Shella segera membuka kan pintu kastil dan Bella segera masuk, ketika dia masuk, Bella langsung terkejut melihat sosok yang sekarang ada di depannya, menatapnya dengan liar, tubuh Bella yang sudah cukup basah membuat gaunnya sedikit menempel di tubuhnya.


"Selamat datang Pangeran,"kata Shella yang segera memberikan salam pada Aksa.


Aksa tersenyum melihat Bella, meninggalkannya 2 bulan sudah sangat menyiksanya, setiap hari Aksa ingin bisa datang menemui wanita yang selalu menghiasi pikirannya sekarang.


"Apa kabarmu, Bella? " kata Aksa mendekati Bella, mencoba menyentuh Bella, namun dengan cepat Bella tepis.


"Untuk apa kau datang? " kata Bella ketus.


Aksa melihat ke arah Shella dan penjaganya, mereka langsung mengerti bahwa Aksa ingin mereka segera pergi dari sana, Shella dan penjaga yang ada di sana segara pergi, melihat itu Bella sedikit keberatan, dia tidak ingin di tinggalkan berdua dengan Aksa, namun dia juga tahu, tidak mungkin menahan Shella di sini, bisa-bisa Shella akan mendapatkan masalah.


"Apa lagi mau mu? "kata Bella.


"Aku tidak ingin apa pun, Aku hanya ingin dirimu,"kata Aksa, dia mengatakan itu dengan mata penuh nafsu laksana serigala yang sudah ingin menerkam mangsanya.


Aksa membuka jasnya dan meleparkannya di salah satu kursi yang ada di sana, Bella melihat itu langsung ketakutan, dia tidak ingin Aksa menyetuh tubuhnya, dia lebih baik mati dari pada membiarkan Aksa menyentuh tubuhnya.


"Kau gila! Aku tidak akan mengizinkan kau menyentuh tubuhku, aku bukan milikmu! Aksa ku peringatkan kau, kalau tidak … " kata Bella mengancam Aksa yang ingin mendekati Bella.


"Kalau tidak apa? kau ingin teriak? Silakan, ingin lari, lari lah sekuat tenaga mu, aku akan mengejarmu! "kata Aksa dengan wajah yang sangat menyeramkan. Dia segera menyergap tubuh Bella, Bella langsung berontak dengan keras, dia tidak ingin Aksa melakukan hal itu padanya.


Bella sebisa mungkin berontak, namun kekuatan Aksa lebih besar, melihat Bella terus saja berontak, Aksa lansung menampar Bella dengan keras, membuat Bella terhuyung jatuh ke lantai, telinganya langsung berdengung, kepalanya terasa cukup sakit, panas di pipinya sangat terasa. Namun belum sempat dia sadar, Aksa langsung memgendongnya dengan kasar, Bella tentu berontak, namun tetap saja tidak bisa mengimbangi tenaga Aksa, Aksa segera membawa Bella ke tempat tidur tamu di lantai 1 itu.


Setelah mengunci pintu, Aksa yang di penuhi oleh nafsu segera membawa Bella ke ranjang di sana, menghempaskan tubuh Bella dengan kasar ke ranjang itu, tak menunggu lama, dia menyeret tubuh Bella, Merobek gaun bagian atas Bella, Bella terus saja berontak, namun Aksa benar-benar sudah dikuasai oleh hasrat yang sudah di tahannya sangat lama ini, dia memaksa mencium bibir Bella, dangan sekuat tenaga Bella mengatupkan bibirnya, tak ingin menerima ciuman kasar itu, tangannya terus saja mendorong tubuh Aksa yang sudah menempel dengan tubuhnya.


Aksa segera memindahkan ciumannya menyusuri jenjangnya leher putih Bella, Bella menangis sambil terus mengeliat mencoba melepaskan diri dari Aksa, melihat Bella yang terus saja berontak, Aksa merasa sangat kesal, dia lalu mengigit pundak Bella.


"Ahkkk!!! " teriak Bella ketika Aksa mengigitnya dengan sangat kuat, meninggalkan jejak-jejak gigi Aksa di kulit Bella yang putih, beberapa bahkan terlihat mengeluarkan darah, memerah. Air mata Bella keluar merasakan nyeri di pundaknya. Melihat itu Aksa terlihat makin bengis, dia ingin mencium dada Bella, namun Bella akhirnya bisa menaik kakinya dan menendang bagian bawah Aksa, membuat Aksa langsung kesakitan, Melihat itu Bella langsung secepat kilat ingin pergi dari sana, namun sialnya, pintu itu di kunci, dan kuncinya entah ke mana.


Bella melihat Aksa yang masih mengeliat ke sakitan, namun mata Aksa masih saja menatap Bella dengan tatapan kesal, Bella tak ingin menyia-yiakan waktu sedikit pun, dia lalu berlari ke arah jendela kaca, mencoba mencari cara membukanya, namun sialnya, karena jendela itu, dia harus berlari mendekati Aksa, dan Aksa ternyata sudah bisa kembali menyerang Bella, dia menarik Bella dan menghempaskan tubuh Bella, Bella yang di hempaskan itu langsung terhuyung dan bagian perut bawahnya langsung membentur pinggiran tempat tidur yang memiliki ukiran-ukiran dari kayu.


Bella terdiam, perutnya terasa sangat sakit, benar-benar sakit hingga membuat kakinya bahkan terasa lemas, Aksa yang berjalan ke arahnya pun tak lagi di hiraukannya, cairan hangat terasa mengalir di kakinya yang putih, Bella lansung melihat ke bawah, dari gaunnya, darah kental keluar. Aksa melihat darah yang keluar itu sedikit terkejut, kenapa tiba-tiba Bella bisa mengeluarkan darah begitu banyak, hingga mengalir ke lantai.


Bella yang melihat itu kepalanya langsung pusing, tak lama terhuyung pingsan. Aksa yang melihat simbahan darah Bella menjadi panik, kenapa bisa begini? Apa yang terjadi pada Bella, dia langsung membuka pintu yang ternyata kuncinya di simpan di celanannya, dia langsung memanggil pelayan yang ada di sana.


Shella datang dan kaget melihat keadaan Bella, dia langsung menolong Bella, sedangkan pelayan yang lain mencoba memanggil dokter. Shella tak habis pikir apa yang sudah di lakukan pangeran ini pada Bella, apa lagi melihat bekas gigitan di pundak Bella, Shella langsung menutupi tubuh bagian atas Bella.


Aksa yang melihat Bella yang pucat pasi menjadi bingung, dia hanya bisa mondar mandir, dia sedikit menyesal, dia belum juga bisa mengatur dirinya, bagaimana jika Bella Meninggal? Dia tidak akan membiarkan Bella meninggal,Bella tak boleh meninggal!, tidak! dia tidak akan mengizinkan siapa pun merebut Bella lagi, dia akan memberikan apa pun, asalkan Bella tidak meninggal.