Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
151



"Kau yakin melakukan ini?" kata Daihan dengan tatapan sendunya. Mencoba menyakinkan dirinya, apakah Daihan memang harus membuat hal seperti ini pada Angga?.


Bella menatap kedua mata Daihan, tidak, dia tak yakin, menyakiti hati pria yang dia cintai dan mencintai dia? bagimana dia bisa yakin?. Bella mengigit bibirnya erat-erat.


Daihan melihat reaksi Bella, Daihan tau jawabannya, bagaimana pun wanita ini sudah menentukan pilihannya, Daihan tersenyum manis, sangat manis hingga bisa melelehkan apapun.


"Maaf aku tidak bisa membantumu," kata Daihan.


Bella mendengar itu sedikit kaget, terkejut dengan kata-kata Daihan.


"Kenapa kak? bukannya kakak menyukaiku?" kata Bella.


"Ya, aku juga sempat berpikir ini kesempatanku untuk merebutmu dari Angga, tapi ... Bella, jangan jadi orang yang kejam, kejam pada dirimu sendiri, kejam padaku, kejam pada Angga, bukan begitu wanita yang aku cintai," kata Daihan dengan suara lembut seolah mengurui.


"Maksud kakak?"


"Memaksakan sesuatu padahal kau tak menyukainya sama sekali, itu kejam pada dirimu sendiri, lalu kau akan berpura-pura dekat denganku, melakukan hal yang mungkin lebih dari ini, tapi semua hanya pura-pura, itu kejam padaku, dan saat semua itu Angga lihat, kau kejam padanya." kata Daihan menjelaskan.


"Aku memang mencintaimu, sangat, tapi bukan begini caranya, aku ingin jika kau bersamaku, itu memang tulus darimu, dan aku tak akan pernah mendukung hal yang nantinya membuatmu menderita, karna bahkan rencana ini belum di mulai, kau sudah terlihat sangat sedih, bagaimana aku bisa bahagia melihatmu begini, Bella ... jangan jadi kejam," kata Daihan serius.


"Kakak, kalau tidak aku akan kehilangan ibuku," kata Bella lagi.


"Bagaimana jika kau sudah mematahkan hati Angga, dan Nakesha tetap pergi membawa ibumu pergi? apa yang akan kau miliki? bagaimana dengan mu?"


Kata-kata Daihan seakan petir yang menyambar di siang bolong, membuat Bella tersadar seketika? bagaimana kalau memang benar? apa yang akan dilakukan Bella jika terjadi hal seperti itu.


"A ... ku...?" kata Bella


"Kalau kau mau denganku, tolong jangan berpura-pura, itu benar-benar menyakitkan, " kata Daihan sedikit tersenyum sedih.


"Maafkan aku kak," kata Bella menunduk.


"Baiklah, ehm ... sepertinya kau harus mencuci mukamu agar tidak terlalu merah, Angga akan mencarimu sebentar lagi, masuk lah," kata Daihan tersenyum manis.


"Baiklah kak, terima kasih," kata Bella, menghapus air matanya.


Daihan tak membalas, hanya tersenyum manis, hah ... dia sudah melewatkan satu-satunya kesempatannya mendapatkan wanita itu.


Bella tak lama berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Saat membuka pintu, dia kaget, melihat Angga juga baru keluar dari ruang tengah di ikuti oleh Asisten Jang, Bella langsung berlari kecil masuk ke kamarnya, tidak mungkin bertemu Angga dengan mata merah, sedikit bengkak, pasti dia jadi curiga nanti.


---***---


Angga duduk di ruang tengah, biasanya dia orang yang selalu bisa fokus dalam bekerja, tapi melihat tingkah Bella hari ini, dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi mengurus kertas-kertas dan pekerjaannya.


"Judy," kata Angga memanggil Judy.


"Ya, Tuan?" kata Judy segera mendekat pada Angga.


"Apa yang terjadi pada Nona kemarin sampai sebelum aku datang?" kata Angga.


Judy lalu menjelaskan seluruh hal yang dia tahu, Angga mendengarnya dengan wajah datar dan dinginnya, di akhir cerita Judy, Angga menaikkan sedikit ujung bibirnya, sehingga senyumnya tampak lebih sinis.


"Begitu ya, Baiklah, cari Nona Nakesha, bawa dia kesini secepatnya, pastikan dia ada, dan aku tak suka penolakan," kata Angga sangat dingin, berdiri dari tempat duduknya, merapikan ujung-ujung jasnya dengan wajah marahnya. Angga melirik Asisten Jang.


"Baik Tuan," kata Asisten Jang segera.


Saat dia masuk, kamar itu kosong, kemana Bella? pikir Angga yang perlahan menutup pintu kamar itu, Angga berjalan menuju kamar mandi.


"Bella?" ketuknya.


"Ya?" kata Bella dari dalam, Angga sedikit tenang.


"Ada yang ingin aku bicara padamu,"


"Baiklah, tunggu sebentar ya," kata Bella lagi.


Bella mencuci mukanya, mencoba menghilangkanmatanya yang memerah dan sedikit bengkak itu, dan beruntungnya wajahnya cukup membaik.


Tak lama Bella membuka pintu kamar mandinya perlahan, sedikit kaget melihat Angga yang sedang membuka kancing terakhir kemeja putihnya, Angga membiarkan kemeja terbuka sedikit, menunjukkan pemandangan indah yang di tutupi kemejanya. Angga melirik wajah Bella, Bella yang melihat itu langsung membuang pandangannya.


"Ada apa?" kata Bella berjalan menuju meja riasnya, mencoba menutupi matanya yang masih terlihat bengkak.


"Aku mengundang sesorang, dia akan datang secepatnya, bersiaplah," kata Angga berdiri di belakang Bella, memperhatikan wajah Bella dan dirinya yang terpantul di cermin meja rias itu.


"Oh, Baiklah," kata Bella menatap Angga dari cermin itu.


"Bella ... apa ada yang ingin kau bicarakan padaku?" kata Angga lagi, dia menatap wajah Bella dengan sangat dalam, Bella mendengar itu agak sedikit kaget, dia kembali mengigit bibirnya, apa Bella harus mengatakan tentang Nakesha pada Angga?.


Bella mengeleng, masih ragu membicarakannya pada Angga, Angga yang menerima jawaban Bella tampak sedikit kecewa, dia duduk di tepian ranjang.


"Baiklah, ehm ... kau tidak ingin bertemu dengan ibumu?" kata Angga lagi


"Sebenarnya aku sudah bertemu dengan ibuku tadi pagi," kata Bella merasa tidak perlu menutup-nutupi lagi.


"Ya, aku sudah tahu," kata Angga dingin.


"Kau sudah tahu?" kata Bella memutar tubuhnya menatap Angga.


"Ya, kenapa tidak memberitahukan ku?" kata Angga tanpa melirik Bella.


"Maafkan aku," kata Bella lemah.


"Lalu apa jawabmu pada Nakesha?"


Bella terdiam, apa Angga sudah tahu tentang masalah itu?. Angga berdiri, mendekati Bella, mencondongkan tubuhnya pada Bella, di tumpukanmya kedua tangannya pada meja rias di belakang Bella, seakan mengurung Bella, menatapnya tajam dan dingin, Bella hanya terpaku melihat mata Angga yang tajam itu, tak bisa bergerak sama sekali.


"Aku tahu semua yang kau lakukan saat aku tak ada, Aku tahu sifat keras kepalamu, walau pun aku melarangmu, jika itu kemauanmu, kau pasti tetap melakukanya, tapi dengarkan aku Bella ... , jika di pikiranmu sekarang ingin menyerahkanku padanya, maka bersiaplah, aku akan membuatmu seumur hidup menyesal, dan perasaanku bukan mainan yang bisa di pindah-pindah sesuka kalian," kata Angga dingin, Bella hanya bisa terpaku mendengar kata-kata Angga, Angga tak pernah semenyeramkan ini sebelumnya.


"Aku ... Maafkan aku," kata Bella sedikit bergetar. Mata hitam Angga masih menatap Bella dengan tajam. Angga menarik napas panjang.


"Lain kali, apa pun yang terjadi, katakan padaku, aku akan melakukan apa pun sebisaku, dan hal ini seharusnya tak membuatmu menangis seperti ini." kata Angga lagi.


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik, aku takut ibuku akan di bawa kembali, dan aku tidak mau kehilangan salah satu dari kalian," kata Bella dengan sedikit histeris.


"Aku tau, aku juga tak menyalahkanmu soal itu, aku hanya kecewa, selama ini ternyata kau masih tak mempercayaiku," kata Angga lagi.


"Bukan aku tak percaya, hanya saja, aku tak tahu bagaimana mengatakannya padamu, aku takut kau marah," kata Bella lemah.


Angga menegakkan badannya, menatap Bella dengan senyuman sinis.


"Kau lebih takut aku marah dari pada kehilangan aku? Nona Bella, Jangan ada lagi di dalam pikiranmu yang bodoh itu untuk meninggalkanku, sejauh dan sekuat apa pun kau ingin menjauh dari ku, aku akan mencarimu sampai ke mana pun karna kau sudah terikat padaku seumur hidupmu,"kata Angga dingin dan serius, nada bicaranya ketus dan penuh emosi, tapi entah kenapa perasaan Bella merasa hangat.