Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
34



Ah! aku benar-benar minta ampun, kau selalu membuatku tidak bisa melakukan apapun, hanya terperangkap dalam senyuman, yang tarkadang bahkan bisa membuatku gugup dan tak nyaman


____________________________________________


Angga hanya mengangguk, karena respon Angga yang hanya mengangguk, Bella jadi mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya, padahal dia masih penasaran dengan hubungan Mika dan Angga yang menurut Bella semakin aneh dan membingungkan.


Ternyata perjalan ke restauran Red Lotus itu lumayan panjang karena memang tempatnya yang ada di daerah pegunungan, setelah hampir setengah jam, Bella mulai bosan, apa lagi ternyata jalan kesana sedang macet-macetnya dan di mobil itu yang ada hanya keheningan. Lalu perhatiannya jatuh ke Angga, dia melihat Angga yang ternyata tertidur di mobil itu. Angga yang tertidur itu benar-benar pemandangan yang indah, Bella baru kali ini melihat Angga tidur, wajahnya tenang, tak tampak dingin sama sekali, rambutnya yang tertata selalu rapi, bulu matanya panjang, hidung dan bibirnya sempurnah, pipinya pun tampak begitu halus, dia pasti kelelahan sekali karena semalam hanya tidur 2 jam.


"Apa perjalanan kita masih lama?" bisik Bella pada Asisten Jang yang duduk di depan.


"Dilihat dari kepadatannya, mungkin kita akan sampai 1 jam lagi, saya sedang menyiapkan helikopter kita jika jalanan tetap tidak membaik," kata Asisten Jang.


"Jika menunggu 1 jam, kita tidak akan terlambat kan?" kata Bella lagi.


"Tidak Nona, kita janji bertemu pukul 1 siang, tadi Asisten Tuan Raphael juga mengatakan bahwa mereka terjebak kepadatan lalu lintas, " kata Asisten Jang.


"Oh, baguslah, Tuan Angga baru saja tertidur, pasti sangat tidak menyenangkan jika tidurnya terganggu," kata Bella lagi.


“Baik Nona," kata Asisten Jang.


Bella memperhatikan Angga yang tidur dengan begitu tenangnya, dia benar-benar berubah, kalau saja wajahnya bisa setenang dan sedamai ini setiap kali, pasti akan sangat menarik dan…


Tiba-tiba perasaan Bella menjadi tidak karuan, dia merasa jantungnya berdegup lebih kencang hanya dengan memperhatikan wajah Angga, ada apa denganku? Pikirnya, wajahnya terasa panas, apa dia tiba-tiba demam? Karena seluruh tubuhunya sekrang terasa panas, dia lalu memutuskan untuk tidak lagi meperhatikan Angga dan hanya bersandar di kursi menenangkan diri.


Namun baru saja dia bersandar, Angga tiba-tiba memiringkan wajahnya ke arah Bella, membuat Bella mau tak mau menatapnya lagi, wajahnya bersemu merah, jangan-jangan Angga punya kekuatan untuk membuat orang terperangkap dengan dirinya, masa hanya melihatnya tidur aku bisa begini gugup?, pikir Bella lagi.


Mungkin karena gugup, atau memang karena perjalanannya sudah membaik, jadi tak terasa mereka sudah sampai di restauran itu, tapi Angga masih saja tidur dengan tenangnya, Asisten Jang mengatakan agar Bella membangunkan Angga.


Bella kembali menatap Angga, dadanya yang tadinya sudah stabil kembali berdetak kencang, dia jadi gugup sendiri, apa lagi harus membangunkan Angga, aduh, bagaimana ini caranya? Pikir Bella.


Bella lalu mengunakan jari telunjuknya menyentuh sedikit pundak Angga, sekali coba, tidak bereaksi apapun, dua kali, hingga empat kali pun dia tidak bereaksi, mungkin karena sentuhan Bella juga terlalu lembut dan hanya terkena jasnya, makanya Angga tidak merasakannya. Ah… dia kalau tidur susah bangun juga ya? Pikir Bella lagi.


Bella lalu mengambil inisyatif untuk menekan pipi Angga. Baru saja tangannya sedikit menekan pipi Angga, tangannya tiba-tiba di tangkap oleh tangan Angga, Bella bahkan sedikit berteriak kecil karena kagetnya, dia lalu melihat Angga yang dengan perlahan membuka matanya yang indah. Wajah bangun tidur Angga terlihat begitu lembut, matanya tidak dingin seperti biasanya, hanya terlihat kelembutan, di bola matanya yang hitam, terlihat pantulan wajah Bella yang tampak mematung memandang wajah Angga. Sesaat mereka hanya terdiam memandang satu sama lain.


"Apa yang kau lakukan?" kata Angga memecah keheningan mereka, nada bicaranya dingin, namun matanya tetap memandang Bella dengan kelembutan.


"Oh, eh, tadi aku ingin membangunkanmu, tapi aku bingung harus apa, jadi aku menekan tubuhmu," kata Bella yang tangannya masih digenggam Angga, hangatnya tangan Angga menyelimuti jari jemari Bella yang lentik. Sekarang tubuhnya merasa demam lagi, jantungnya berdegup sangat kencang, bahkan napasnya saja susah di aturnya.


Angga tak menjawab lagi, dia memperhatikan Bella yang gugup di depannya sebentar, lalu segera melepaskan tangan Bella, dan membuka pintu begitu saja meninggalkan Bella yang sudah mau pingsan karena kesusahan untuk bernapas, setelah Angga keluar, Bella menarik napasnya dengan sangat kuat, lalu membuangnya perlahan, dia ingat cara menenangkan diri ini dulu di ajari oleh pengajarnya.


Belum selesai dia menengankan diri, Asisten Jang sudah membukakan pintu untuknya.


"Nona, Tuan Angga memanggil Anda," kata Asisten Jang.


"Oh, iya, iya, aku akan ke sana," kata Bella salah tingkah.


Bella segera keluar dengan anggunnya, dia segera menarik napas dalam sekali lagi untuk menenangkan diri lagi, lalu dia segera berjalan dengan anggun, wajahnya tampak ceria dan percaya diri, dia sudah menguasai bagaimana harus bertindak seperti Mika.


Angga yang menunggunya melihat kearah Bella, dia melihat gadis yang tadinya begitu gugup itu berjalan dengan sangat percaya diri, seolah tidak ada apa-apa, Angga benar-benar kagum dengan kemampuan Bella yang satu ini.


Angga berjalan masuk ke dalam restauran itu, ternyata Raphael pun baru saja datang, mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan Angga dan Bella.


Asisten Raphael membukakan pintu untuk Raphael, Bella mengamati, pria itu tinggi, usianya mungkin sama dengan Angga, wajahnya tampan, bahkan sangat tampan dengan wajah terlihat sangat ramah, dia langsung tersenyum begitu melihat Angga dan Bella, Angga hanya membalasnya dengan senyum tipis, Bella membalasnya dengan senyum indah, begitu dia sudah keluar, dia lalu mengitari mobil itu, membukakan pintu mobil yang lain, dia tampak memang sengaja tidak mengizinkan Asistennya membukakan pintu untuk wanitanya, Raphael tampak membatu istrinya keluar dari mobilnya dengan perlahan, ternyata istrinya sedang hamil yang sudah mulai tampak membesar.


Istri Raphael gadis yang kecil, jauh lebih pendek daripadanya, tubuhnya tampak kecil dan kurus, hanya perutnya saja yang tampak membesar, namun bisa di bilang dia wanita yang sangat anggun dan wajahnya begitu keibuan dan tentu saja cantik. Raphael tampak begitu bahagia, dia terus tersenyum, begitu juga istrinya.


Bella melihat pasangan itu ikut tersenyum, hanya saja ada rasa iri melihat mereka, bagaimana seorang wanita bisa mendapatkan cinta yang begitu indah dari prianya?, bahkan pria itu sama sekali tidak malu untuk menunjukkannya. Angga pun hanya memperhatikan pasangan itu, Raphael dengan perlahan mengikuti langkah istrinya yang tangannya di genggamnya dengan erat, setelah dia sampai di depan Raphael baru lah dia mengulurkan tangannya, Angga menyambutnya.