
Di sisi kota yang lain, Daihan hanya berdiri di bibir pantai, menantang matahari, melihat jauh ke ujungnya, kedua tangannya dia masukkan ke dalam celananya, menunjukkan sikap dia tak ingin di ganggu.
"Matahari terbenam memang obat bagus saat ada malasah," kata Nakesha entah kapan datang ke sana, hanya tiba-tiba sudah muncul saja.
Daihan mengalihkan wajahnya pada Nakesha yang tampak tak jauh darinya, wajahnya yang cantik berhiaskan cahaya emas dari matahari, rambutnya di ikat separuh, membuat rambutnya yang bebas tampak terbang mengikuti angin berhembus. Daihan hanya menatapnya, pandangannya tampak sendu, senyumannya yang biasa begitu hangat, tak tampak sedikit pun, patah hati memang sangat sakit.
Daihan tak punya ke inginan membalas perkataan Nakesha. Dia kembali menantang matahari.
"Sedang sedih ya?" Kata Nakesha lagi, kali ini lebih mendekat dengan Daihan.
"Tidak," kata Daihan yang cukup malas untuk menangapi kata-kata Nakesha.
"Wah, tapi dari nada bicaramu, kau sedih," kata Nakesha.
Daihan tak menjawab, hanya diam kembali, rasanya semua semangatnya sudah pergi, hatinya tak bisa di ajak kompromi kali ini.
"Ayo, ikut aku!" kata Nakesha menarik lengan Daihan, Daihan yang tidak siap jadi tertarik oleh Nakesha, namun dia segera berhenti.
"Mau ke mana?" kata Daihan lagi dengan wajahnya yang suram.
"Sudah ikut saja, ayo!" kata Nakesha segera menarik Daihan.
Daihan mau tak mau mengikuti Nakesha, Nakesha menarik Daihan berlari di sepanjang pasir putih, di antara emasnya sinar mentari dan gemuruh ombak yang terkadang menghantam kaki mereka, cukup jauh hingga Nakesha dan Daihan kehabisan napas.
"Kau sebenarnya ingin mengajakku ke mana?" kata Daihan tersengal.
"Entahlah, aku hanya ingin mengajakmu berlari, aku pernah baca katanya olaharaga megurangi stress," kata Nakesha polos, dia juga mengatur napasnya, pipinya memerah karena kepanasan
Daihan mengerutkan dahi, tanpa sadar kepolosan Nakesha membuatnya tersenyum.
"Bodoh, di mana kau membaca hal seperti itu?" kata Daihan merasa lucu.
"Entahlah, mungkin dari koran untuk pembungkus sayuran di pasar," kata Nakesha lagi menatap Daihan yang wajahnya mulai membaik, setidaknya dia berhasil.
"Ah, mana bisa sepeti itu," kata Daihan tertawa tak habis pikir.
"Setidaknya aku berhasil, sekarang kau tertawa kan?" kata Nakesha lagi dengan senyuman manis.
Daihan terdiam, selama ini dia selalu mencoba membuat wanita-wanita di sekitarnya tertawa, tapi belum ada wanita yang memikirkan bagaimana caranya dia bisa tertawa, Daihan menatap Nakesha yang masih sibuk mengibas-ngibaskan tangannya kepanasan.
"Ayo kita pulang, kita berlari cukup jauh," kata Daihan.
"Ya benar juga, " kata Nakesha.
Daihan membiarkan Nakesha jalan duluan, baru dia mengikutinya, kembali menyusuri pertemuan antara pasir dan laut yang indah. Matahari tepat menjadi latar di samping mereka.
"Di mana kau akan tinggal nantinya?" kata Daihan menatap Nakesah yany menutupi pandangannya dari silua matahari.
"Kenapa? kau ingin menguntitku?"
Daihan tersenyum lucu.
"Untuk apa aku melakukannya, aku hanya ingin tahu agar bisa membawa Archie nantinya," kata Daihan.
"Oh, ya benar, kata Angga dia menyiapkan apartemen untuk ku nanti, tapi aku belum tahu di mana, aku bahkan belum pernah ke ibu kota, nanti kalau aku sudah tahu aku akan memberi tahumu, aku kan punya nomor handphonemu, " kata Nakesha tersenyum.
"Memangnya kau punya handphone?" tanya Daihan lagi.
Nakesha mengeleng sambil menatap Daihan.
"Nanti aku akan membelikanmu satu begitu tiba di ibu kota, aku akan izin membawamu dulu sebelum kau ke apartermen," kata Daihan.
"Ah tidak perlu, simpan uangmu, kau ini, jangan begitu boros,kalau uangmu tak habis 7 turunan, baru kau boleh menghambur-haburkan uang seperti itu?" kata Nakesha mengerutu, menganggap Daihan hanya orang kaya biasa.
Daihan yang melihat Nakesha hanya diam mengerutkan dahi, Daihan juga termasuk keluarga terkaya di ibu kota, uang sama sekali bukan masalah baginya.
"Aku punya uang yang di berikan oleh Angga, apa dia orang yang sangat kaya ya? memberikan uang 30 juta begitu saja, aku tak habis pikir," kata Nakesha geleng-geleng kepala.
"Ya, dia orang yang sangat kaya, kenapa? kau suka padanya karena dia kaya?" kata Daihan lagi.
"Uang bukan segalanya bagiku, tak akan habis di kejar, lagi pula cowok arogan dan sombong begitu, mana aku suka, aku heran kenapa kakakku bisa bertunangan dengannya? bukannya dia menyukaimu?"
"Keluarga Angga mengadopsi Mika, maka dari itu Mika merasa berhutang budi, jadi saat Angga mengajaknya menikah , Mika setuju, walaupun dia menyukaiku dan kami bertiga adalah sahabat awalnya, karena itu aku juga menolak Mika," kata Daihan melihat jauh.
"Dan sekarang kau malah menyukai Bella? cinta kalian rumit ya?"kata Nakesha.
"Benarkah? wah, pantas kau begitu sedih."
Daihan tak menjawab, menatap kakinya yang tersapu air laut. Nakesha jadi merasa bersalah mengatakannya.
"Seharusnya yang di adopsi itu aku," kata Nakesha mengalihkan pembicaraan.
"Maksudmu?"
"Malam hari sebelum kakak di adopsi, mereka mengatakan aku akan di adopsi dan harus bersikap baik, karena saat itu kakakku sedang sakit, maka aku yang di pilih, aku takut meninggalkan kakakku, karena itu malam hingga paginya aku membuat onar di sana, dan di hukum, aku kira aku dan kakakku tidak akan di pisahkan, karena aku dihukum, dan kakakku sakit, tapi ternyata mereka tetap membawa kakakku,untuk mencarinya, aku kabur hingga bertemu ibu Bella," kata Nakesha menerawang jauh.
"Jadi seharusnya kau lah Mika, benar? " kata Angga.
"Haha, ya, ntah bagaimana jika aku jadi Mika,
mungkin 3 hari mereka akan mengembalikan aku lagi ke panti asuhan," kekeh Nakesha membuat Daihan juga tertawa.
"Aku yakin akan lebih seru, kau dan Angga akan terus bertengkar."
"Haha, benar, dia pria paling arogan yang pernah aku temui, heran kenapa Bella malah memilih si arogan itu jadi suaminya."
"Entahlah."
"Kalau aku jadi Bella, aku pasti memilihmu," kata Nakesha mencoba mengoda.
"Haha, kau coba mengodaku ya?"kata Daihan tertawa
"Ya, yang penting kau tidak sedih lagi, tenang saja, kau pria yang baik, nanti juga akan ada wanita yang baik pula untukmu," kata Nakesha menatap Daihan lembut.
Daihan tersenyum tipis melihat wajah Nakesha. Terlalu familiar namun terasa berbeda.
"Kau pernah menyukai seseorang?" kata Daihan
"Belum, aku terlalu sibuk dengan ibuku, masih belum berminat punya pasangan."
"Bena it
rkah?"
"Ya, karna kalau aku punya pasangan, ibuku akan terlantar, dan lagi belum tentu pasanganku akan menyukai ibuku."
"Oh, begitu, kau benar-benar menyayangi ibumu." kata Daihan.
"Kan sudah aku bilang, Ibuku satu-satunya yang aku punya, sekarang tujuanku bertambah 1," kata Nakesha tegas.
"Apa itu?" kata Daihan menekuk alisnya sedikit.
"Membalas dendam dengan Aksa, kakakku meninggal karna dia kan?"kata nakesha dengan penuh emosi.
Daihan terkejut, kenapa semua punya dendam dengan Aksa?.
"Jangan, kau tak tahu apa yang Aksa bisa lakukan padamu, bahkan dia bisa dengan gampangnya membunuhmu, Bella saja yang sudah dilindungi oleh Angga, masih bisa Aksa culik," kata Daihan.
"Bella? apa hubungannya Bella dengan Aksa?" kata Nakesha terkejut.
"Bella putri Alexandrite, sebelumnya dia adalah istri Aksa, namun Aksa membunuhnya sebelum diselamatkan oleh Angga."
"Ha? yang benar? kenapa semuanya begitu rumit."
"Aku sarankan jika kau tidak punya orang yang cukup kuat untuk menolongmu, jangan pernah bersentuhan dengannya."
"Tapi ... "
"Aku yakin, Mika juga tak ingin kau membalaskan dendamnya, Nakesha, jangan coba-coba membalas dendam pada Aksa," kata Daihan dengan serius, dia sampai mengenggam ke dua lengan atas Nakesha. sentuhan itu menjalarkan perasaan aneh bagi Nakesha.
Nakesha terdiam, tak bisa berkata apapun, hanya hanyut menatap kedua bola mata Daihan yang indah. Daihan pun hanya menatap Nakesha, sejenak menghilangkan dunia di sekitar mereka.
"Tuan Daihan!" suara teriakan terdengar, mengalihkan perhatian Daihan dan mengembalikan mereka berdua.
"Helikopter sudah siap, Tuan Angga memerintahkan agar Tuan dan Nona Nakesha pulang duluan, mereka akan menyusul dengan Helikopter yang lain," kata Asisten Jang mendekati mereka.
"Kita pulang," kata Daihan sedikit tersenyum.
"Baiklah," kata Nakesha mulai berjalan, wajahnya sedikit bersemu merah, detak jantungnya tidak beraturan, kenapa dengan ku? pikir Nakesha menatap punggung bidang Daihan.